
Deg! Deg!
Jantung Jia Li seakan bergetar bak genderang perang bangsa Han yang ingin bertempur. Ia masih menanti jawaban yang akan diberikan oleh Saray dengan pikiran harap-harap cemas dan takut juga ngeri
Xiao Ling tidak bisa membayangkan bagaimana respon semua orang, ia juga tidak bisa menjawab jika ditanya siapa bapak jabang bayinya.
'Jika benar Jia Li hamil lalu, siapa bapaknya? Tidak mungkin anak setan!' batin Xiao Ling cemas.
"Oh, maaf, Anda tidak hamil. Ini hanya gejala keracunan dan kelelahan akibat Anda belum makan selama 17 jam lebih.
"Sepertinya tubuh Anda tidak bisa tidak makan lebih dari 12 jam," balas Sarah, ia tersenyum.
"Oh, syukurlah!" ujar Xiao Ling langsung memeluk Sarah, ia merasa baru saja terbebas dari hukum penggal dan cambukan juga hinaan serta gosip.
'Memang di zaman ini ada gosip? Ck, di zaman apa pun pasti gosip selalu ada! Bukankah gosip itu makanan sehari-hari bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan?' benaknya.
"Apa maksud Anda dengan tubuhku keracunan?" tanya Xiao Ling, ia bingung.
'Apakah Jia Li meninggalkan karena keracunan atau karena pertempuran?' benak Xiao Ling, 'andaikan aku bisa bertemu dengan jiwanya … aku pasti bertanya banyak hal,' batinnya.
"Eh, Nyonya …," lirih Saray, ia sedikit malu dipeluk begitu akrab.
"Maaf, saya … eh, bukannya aku tidak ingin memiliki anak. Hanya saja, pada saat sekarang … zaman masih kacau …," balas Xiao Ling, ia seakan-akan memahami kekacauan yang sedang terjadi dan melanda di kehidupan mereka.
"Um, iya Anda benar! Apakah Anda berasal dari Han?" tanya Saray, ia melihat pakaian yang dikenakan oleh Xiao Ling.
"Oh, iya … kami ingin ke Donglai, tapi … badai pasir malah mengantarkan kami ke hutan perbatasan Mongol hingga kemari," lirih Xiao Ling, 'aku dan suamiku adalah pedagang,' papar Xiao Ling.
Xiao Ling hanya ingin menguatkan alasan mereka yang sedang menyamar dan tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh mereka.
"Oh, kalian nanti bisa mengikuti jalan di lembah ini dan akan tiba di perbatasan Donglai dan Mongol. Tetapi …," lirih Saray, ia termenung.
"Ada apa?" tanya Xiao Ling, "jangan bilang jika daerah itu juga rawan dengan bandit begitu?" tanya Xiao Ling, ia merasa tidak ada tempat yang aman di dunia mimpinya.
'Ke mana pun aku pergi,sepertinya musuh selalu mengincar. Apalah jika mereka tahu bahwa aku telah melukai dan mengalahkan Zhu Tong? Itu akan menjadi bumerang bagiku?' pikir Xiao Ling, ia mulai was-was kembali.
"Iya, antara Donglai dan Mongol sedang terjadi kerusuhan karena bandit-bandit tadi bukan pasukan Mongol dan juga bukan Donglai, sehingga kedua kerajaan saling tuding dan tuduh tanpa berusaha untuk mengamankan daerah perbatasan.
"Um, Nyonya … ayo, sebaiknya kita ke rumahku. Aku ingin memasak untuk kita semua dan merawat yang luka. Penyerangan bandit kali ini, membuat kehancuran di desa kami sedikit lebih parah dan banyak korban," lirih sedih Saray.
"Apakah pasukan kerajaan Mongol tidak memberikan bala bantuan?" tanya Xiao Ling, ia menerka dan merasa jika suatu negara di mana salah satu provinsi yang dimiliki diserang maka pusat pemerintahan akan melindungi.
"Terkadang bala bantuan datang tetapi pada bandit tidak muncul sehingga jika bala bantuan pulang mereka kembali menyerang," balas Saray, ia sendiri tidak tahu menahu mengapa hal itu begitu secara kebetulan.
Hingga pada akhirnya Xiao Ling dan Saray juga beberapa penduduk lembah memasak dan menggiling obat-obatan. Mereka memasak kambing seperti kambing guling membuat cacing di perut Xiao Ling langsung berontak ingin diisi.
__ADS_1
Ia sudah berulang kali menelan air liurnya menatap kambing guling tersebut. Xiao Ling tidak menyadari jika Liu Bei sudah berada di sisinya sambil menggelengkan kepala melihat Xiao Ling yang ingin menerkam kambing guling tersebut.
"Apakah kamu tidak bisa menahan sedikit saja rasa laparmu itu?" sindir Liu Bei, ia tak mengerti dengan cara makan jendral cantik tersebut.
"Dasar cerewet! Aku sudah tidak makan selama 17 jam, wajarkan jika aku kelaparan?! Um, lagian aku sudah menghabiskan beberapa kalori di setiap pertempuran.
"Jika aku tidak makan, bagaimana aku bisa kuat mengangkat pedangku!" sungut Xiao Ling, ia tidak mengerti mengapa pangeran muda di sisinya selalu saja mengomentari cara makannya.
"Sebaiknya kamu urus saja para penduduk lembah ini, daripada mengomentariku!" desis Xiao Ling, ia ingin mengusir pangeran tersebut.
Namun, ia masih memiliki hati nurani dan tak ingin dipenggal karena hanya bersikap kurang ajar, 'Andaikan ini di zamanku! Aku pastikan sudah membenamkan tubuhnya ke dasar sungai Mississippi!' benaknya.
"Hahaha, aku tidak menyangka jika istriku begitu rakus akan makanan! Apakah …," ujar Liu Bei, ia terdiam seketika.
Liu Bei merasa dirinya sudah kurang ajar terhadap tunangan kakaknya, ia hampir saja menanyakan soal hubungan ranjang si jendral tersebut.
'Ya, Dewa … aku benar-benar sudah tidak waras! Jika tiba di Han aku akan meminta ayahanda untuk mengirimku kembali ke perbatasan … aku tidak ingin berada di sisi wanita ini.
'Aku juga tidak ingin berada di istana kekaisaran,' benak Liu Bei, ia merasa ngeri dan takut dengan imajinasi liar yang tiba-tiba muncul di benaknya.
'Sangat tidak sopan, jika seorang adik ipar malah berkhayal mengenai iparnya sendiri …,' batin Liu Bei, ia tidak mengerti mengapa ia ingin mendekati tunangan kakaknya.
"Eh, apa yang kau pikirkan? Jangan bilang, kau berpikiran mesum terhadapku! Ck, tampangmu itu susah mewakili siapa dirimu!
"Ternyata kamu adalah pangeran mesum! Sana! Jangan ganggu aku!" ketus Xiao Ling, ia merasa Liu Bei menganggu khayalannya untuk menyantap daging kambing yang belum matang tersebut.
"Aku tidak berani! Tapi, kalau kamu merasa keberatan, biar aku yang pergi! Bodo' amat!" umpat Xiao Ling, ia pun beranjak untuk meninggalkan Liu Bei.
Namun, ia tak menyangka jika Liu Bei malah menarik tangannya hingga mereka berdua jatuh ke tanah saling tindih dengan bibir keduanya saling berciuman.
"Aaa! Dasar otak udang!" teriak Xiao Ling, ia ingin menendang Liu Bei ke angkasa.
"Diamlah! Jangan membuat keributan!" pinta Liu Bei, ia tidak ingin sandiwara mereka akan terbongkar.
"Eh, ma-maaf! Saya … saya tidak melihat!" ujar Saray yang muncul dengan para wanita Orkhon yang ingin melihat kambing guling mereka.
"Oh, tidak apa-apa! Aku dan istriku hanya terjatuh …," ujar Liu Bei, ia berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Xiao Ling berdiri.
'Phih! Menjijikkan!' batin Xiao Ling, ia pun menyambut uluran tangan dan berdiri di sisi Liu Bei.
"Sebaiknya kalian istirahat saja di tenda itu! Nanti jika susah matang aku akan mengantarkan kepada kalian," usul Saray, "terima kasih, Tuan dan Nyonya sudah menolong kami.
"Obat itu sangat manjur! Para penduduk yang terluka sudah mulai bisa bergerak sedikit," lanjut Saray dan para perempuan Mongol dengan meletakkan tangan kanan di dada sebagai penghormatan pada pasangan di depan mereka.
"Sama-sama, kami hanya kebetulan lewat sebelum ke Donglai," balas Liu Bei, ia sudah berulang kali menjelaskan mengapa mereka terdampar di sana.
__ADS_1
"Silakan Tuan dan Nyonya, istirahatlah! Sebentar lagi senja akan datang," ujar Saray, ia tahu jika seharian pasangan tersebut sudah menolong dan menyelamatkan mereka.
"Kami usahakan agar kambing dan nasi juga lauk-pauknya secepatnya matang," janji Saray, ia tersenyum.
"Nyonya Saray, tolong … aku sudah sangat lapar …," lirih manja Xiao Ling, ia tidak peduli cacingnya lebih berarti dari apa pun.
'Aku tidak ingin musuh datang lagi dan aku belum makan apa pun,' keluh benak Xiao Ling.
"Jangan khawatir, Nyonya! Silakan istirahatlah," saran Saray.
Seorang wanita Orkhon langsung mengantarkan Xiao Ling dan Liu Bei ke tenda yang lumayan luas dan rapi juga bersih.
"Ah, enak sekali!" ujar Xiao Ling, ia tidak peduli dengan keadaan Liu Bei.
Xiao Ling langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur, ia bergulingan di sana. Xiao Ling merasa jika tubuh Jia Li sama sekali tidak pernah melepaskan senjata yang ada di tubuhnya.
'Gadis yang aneh! Bukankah seharusnya seorang jendral dan putri dari penasehat kerajaan memiliki rasa malu dan segan? Seharusnya seorang putri kerajaan bisa menahan diri,' batin Liu Bei, ia masih berdiri di tengah ruangan sambil menatap ke arah Xiao Ling yang bergulingan.
"Wei, apa yang kau lihat?! Itu masih ada tempat tidur, pergilah tidur! Aku ingin tidur sejenak!" balas Xiao Ling.
"Enak aja, kau menyuruhku tidur di lantai! Seharusnya sebagai jendral kaulah yangdi lantai dan aku di tempat tidur!" umpat Liu Bei, ia tak mau mengalah.
"Wei, ingat aku adalah calon kakak ipar dan juga permaisuri masa depan! Kau harus patuh!" ujar Xiao Ling, ia menggunakan kekuasaan itu.
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Xiao Ling membuat Liu Bei terdiam, 'Sialan! Dia pintar dan licik sekali!' batinnya.
Namun, Liu Bei tidak kehilangan akal. Liu Bei tersenyum dengan akal liciknya, "Memang kau kira aku peduli?! Di sini jauh dari kekaisaran dan istana Han!
"Di sini engkau adalah istriku! Ingat, kita berada di mana? Jika mereka tahu, kamu bukanlah istriku, apa yang akan mereka lakukan?" bisik Liu Bei, ia mencondongkan wajah ke arah wajah Xiao Ling.
"Apa yang kau lakukan?" umpat Xiao Ling, ia geram setengah mati melihat kelakuan Liu Bei yang semakin kurang ajar.
"Aku?! Aku ingin menciummu! Bukankah itu adalah hal yang wajar sebagai suami-istri?" gertak Liu Bei, ia hanya menakut-nakuti Xiao Ling.
"MENJAUHLAH DARIKU!" geram Xiao Ling, ia berusaha untuk memelankan suaranya agar tidak ke luar dari tenda.
Sret! Bruk!
Liu Bei tidak menduga jika kakinya malah terpeleset kulit beruang di lantai membuatnya benar-benar jatuh di atas tubuh Xiao Ling dan kembali mendaratkan ciuman.
'Bajingan!' benak Xiao Ling, ia ingin melepaskan diri dan memukul Liu Bei yang secepat kilat menangkap tangan Xiao Ling.
Liu Bei semakin membenamkan ciuman di bibir seksi Xiao Ling, ia sendiri tidak tahu mengapa ia pun tak ingin menyudahi ciuman tersebut.
Buk!
__ADS_1
Xiao Ling memiting kaki Liu Bei membuat Liu Bei langsung melepaskan bibirnya dari bibir Xiao Ling.
"DASAR MESUM! Aku akan membunuhmu, Bangsat!" umpat Xiao Ling marah, ia pun langsung menerjang Liu Bei.