
"Tentu saja, itu masalah!" ketus Xiao Ling, "sabar, Xiao Ling. Kita tidak tahu kedudukannya apa?
"Sejarah mengatakan, 'Jika dia adalah seorang kaisar dan panglima perang,' kita tidak tahu saat ini kedudukan Liu Bei sebagai apa?" batin Xiao Ling, ia mengingatkan dirinya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, apakah namaku membuat masalah untukmu, Putri?" tanya Liu Bei, ia merasa geli melihat mimik wajah sang putri merangkap jendral yang terlihat sangat cantik menawan di bawah keremangan cahaya lilin.
"Tentu, saja, namamu jadi masalah buatku! Gara-gara kau- eh, maaf maksudku, gara-gara nama itu aku …." jawab Xiao Ling bingung, "aku tidak sopan sama sekali! Bisa dipenggal ini," benaknya khawatir.
"Tidak akan ada yang percaya, jika aku datang dari zaman milenial, jika aku mengatakannya bisa-bisa dikira aku adalah mata-mata yang dikirim oleh Qin. Bukan itu saja, bagaimana aku menjelaskan di mana Jenderal Jia Li yang sebenarnya?" batin Xiao Ling semakin bingung.
"Mana wajah kami juga sana?" benaknya semakin gusar.
Sementara pria yang bernama Liu Bei terus mengawasi dirinya sambil tersenyum manis, "Ck, sialan! Ngapain sih, harus pakai senyum-senyum segala?
"Memang senyumnya sih, manis tapi nggak gitu juga kali!" lanjut benak Xiao Ling kesal dan keki.
Jantungnya bergemuruh tak menentu seakan ia sedang berada di rolling coaster yang penuh dengan tantangan.
"Katakan masalahnya di mana, Putri?" ujar Liu Bei, ia bergerak secepat angin langsung menarik pedang dari tangan dan meletakkannya ke leher Xiao Ling serta memeluknya dari belakang tubuh Xiao Ling.
Deg!
Jantung Xiao Ling seakan runtuh, "A-apa yang kau lakukan?" teriak xuao Ling, ia berusaha untuk mencari cela melepaskan diri.
Xiao Ling langsung memutar kaki dan tangan untuk melepaskan diri, Xiao Ling menendang Liu Bei dengan kaki tetapi, Liu Bei benar-benar lihai. Walaupun Xiao Ling terlepas akan tetapi, keduanya semakin berkelahi dengan menghancurkan semua isi tenda.
Xiao Ling melompat menghindari sabetan pedang Liu Bei, "Sial, bisa-bisanya pedang milikku sendiri yang menghajarku, masa aku mati di mata pedangku sendiri?
"Memangnya ini harakiri apa?" batin Xiao Ling, ia terus menghindar dengan menarik tirai-tirai kelambu dan menggulung menjadi senjata untuk membebat pedangnya.
"Baru tahu, di zaman ini para lelaki pun tetap sama sadis dan tidak memiliki hati nurani persis buaya darat di zaman milenial," gerutu batinnya.
Keduanya yang semakin asyik bertempur tidak menyadari jika sabetan demi sabetan dan tangisan dari keduanya membuat kaki mereka bertautan dan bergulung di tirai-tirai yang berserak di lantai tenda.
Bruk!
__ADS_1
"Aaa!" teriak Xiao Ling, ia terjatuh telentang di tempat tidur bersamaan dengan tubuh Liu Bei tepat di atasnya.
Sementara tirai kelambu langsung menutup tubuh mereka, "Kau! Pergi dari sisiku!" teriak Xiao Ling tertahan, ia malu jika semua prajurit mengetahui hal itu.
Cup!
Tanpa sengaja saat Liu Bei ingin berbalik malah tersangkut akan belitan tirai yang dilemparkan Xiao Ling kepadanya, sehingga ia kembali terjatuh dan mencium bibir Xiao Ling.
Kedua Mata Xiao Ling hampir meloncat keluar bersamaan dengan jantungnya yang terus bergemuruh tak menentu.
"Kau!" teriak Xiao Ling geram, ia melayangkan tangan ingin meninju tapi langsung ditangkis oleh Liu Bei.
"Jangan pernah berlaku kurang ajar kepadaku!" teriak Liu Bei, "aku juga tidak sengaja!" ujarnya bangun dan menarik belitan lali selimut dari kakinya.
Liu Bei merasa harga dirinya sebagai seorang pangeran dan panglima perang sedikit terhina akan perbuatan seorang jendral Jia Li.
"Sial, sekali! Ciuman pertamaku! Brengsek," omel Xiao Ling, ia langsung bangun dengan tergesa dan berdiri memakai baju perangnya.
Xiao Ling selalu merasa aman dengan baju zirahnya, "Aku merasa tubuh ini lebih menyukai baju ini," batin Xiao Ling, ia dengan mudah memakai semuanya seakan tubuhnya membimbing semua itu, tanpa adanya kesalahan.
Sementara Liu Bei merasa aneh melihat Xiao Ling yang tergesa pergi seakan ia telah melakukan kesalahan yang teramat besar.
"Sialan! Apa dikiranya, itu juga bukan ciuman pertamaku begitu?" benak Liu Bei, ia menggerutu tak jelas.
"Dayang!" teriak Liu Bei.
"Iya, Yang Mulia!" beberapa dayang langsung membungkuk.
"Bereskan semua ini!" perintah Liu Bei, ia langsung ke luar tenda.
Liu Bei melihat Jia Li telah berdiri di anjungan menara dengan posisi tangan di belakang punggungnya melihat ke arah pekat malam dengan rambut yang sudah diikat ke atas kepalanya bak seorang prajurit lelaki yang gagah perkasa.
"Wanita itu luar biasa kuat dan tangkas," batin Liu Bei, "sial, baru sekali ini ada wanita yang berani mengumpat dan marah kepadaku!" gerutunya kesal.
Liu Bei menarik napas ia tidak menduga akan terjebak bersama calon kakak iparnya di benteng Yuzheng, "Apakah Putra Mahkota Liu Fei sanggup menghadapi permaisuri seperti ini?" batin Liu Bei, ia tersenyum membayangkan kesulitan yang akan dihadapi abangnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini, Jendral Tan Jia Li?" tanya Liu Bei, ia sengaja menyebut nama lengkap jendral tersebut.
Xiao Ling tercekat, ia masih membayangkan bibir Liu Bei di bibirnya yang lembut dan dingin bak ice krim rasa coklat, sehingga dirinya tidak menyadari kedatangan Liu Bei di belakang punggung.
"Seperti yang kau lihat," balas Xiao Ling ketus, "sial! Mengapa aku bisa lengah?" benaknya.
Namun, sebelum Liu Bei menjawab sarkasme yang dilontarkannya. Xiao Ling melihat deretan anak panah berkilau ke arah mereka.
"Berlindung!" teriak Xiao Ling, ia langsung menarik pedang dan memutarnya untuk melindungi Liu Bei dari serangan mendadak tersebut.
Hujan anak panah mengarah ke arah mereka, "Bersiaplah! Tembakkan meriam!" teriak Liu Bei berjumpalitan menarik salah satu pedang milik Jia Li di punggung yang digunakan sebagai senjata.
Keduanya melesat ke sana kemari menangkis anak panah, Lin Wei dan bawahan Liu Bei Jendral Lie Cheng menyerang dengan meriam ke arah datangnya anak panah.
"Apakah kau tidak apa-apa Panglima?" tanya Xiao Ling, ia menoleh ke arah Liu Bei.
"Aku tidak apa-apa! Kebakaran dan ledakan terjadi di seberang. Jangan biarkan mereka lolos! Kejar mereka!" perintah Liu Bei pada semua prajurit.
Semua tentara berkuda langsung melesat ke arah ledakan, derap langkah kuda bergerak di tengah malam dengan kilatan pedang tertimpa cahaya rembulan.
"Suit!" Xiao Ling langsung memanggil kudanya yang langsung meringkuk di bawa menara.
"Tunggu!" teriak Liu Bei.
Namun, ia kalah cepat. Xiao Ling sudah melompat dari tembok benteng mendarat di kudanya yang meringkik dan melesat menembus malam mengejar musuh dengan sebilah pedang di tangan.
"Sial! Wanita ini cepat sekali!" batin Liu Bei, ia pun langsung melakukan hal sama seperti Xiao Ling.
"Suit!"
Kuda putih milik Liu Bei meringkik saat Liu Bei mendarat di punggungnya dan berlari kencang mengejar Xiao Ling dan yang lain.
Pertempuran terjadi di antara api yang membakar juga ledakan yang terus dilontarkan Lin Wei dan Lie Cheng juga Lie Feng.
"Jenderal Jia Li benar-benar luar biasa hebat!" batin Liu Bei, ia memperhatikan Jia Li yang berdiri di atas kuda menghindari sodokan tombak dan mata pedang.
__ADS_1