
"Lin Wei! Usahakan kalian selamat dan tiba di Donglai!" teriak Xiao Ling, "jangan hiraukan kami!" pesannya hingga lenyap bersama Liu Bei bersama pusaran badai.
"Tuan! Nyonya!" teriak Lin Wei dan semua prajurit Han, mereka tidak menyangka jika Liu Bei dan Xiao Ling terbawa arus putaran badai yang menggulung ke angkasa berjalan terus hingga ke tengah gurun.
Lin Wei dan yang lainnya hanya berusaha untuk bertahan dengan pedang dan tombak yang tertancap di reruntuhan dinding penginapan.
"Zhaozhao! Lie Feng! Bagaimana keadaan kalian dan yang lain?" teriak Lin Wei, ia melihat semua temannya masih selamat dengan bergelantungan di dinding dan atap penginapan dengan menutup wajah dengan kain agar pasir tidak masuk ke mata, hidung, dan mulut.
"Kami masih bernapas! Bertahanlah beberapa jam lagi! Semoga badai cepat berlalu!" teriak lie Feng.
"Ya!" teriak semua prajurit Han dibawah komando Xiao Ling.
'Bagaimanapun kami harus tiba di Donglai dengan selamat sesuai dengan rencana Jenderal Xiao Ling dan pangeran Liu Bei,' batin semua prajurit kekaisaran Han.
***
Sementara Xiao Ling dan Liu Bei terus terseret badai pasir berputar dan mengambang di gulungan badai mengikuti putaran badai yang terus berjalan ke sana kemari menerbangkan mereka.
Liu Bei berusaha untuk menggapai tangan Xiao Ling hingga keduanya saling berpegangan dan berusaha untuk melindungi wajah dan tubuh mereka dengan terus mengerahkan tenaga dalam untuk mencapai batas gurun.
Beberapa menit kemudian badai melemparkan dan menimbun mereka berdua di gurun. Badai telah usai, tanpa menyisakan sesuatu kerusakan di sana karena tidak ada satu pohon atau bangunan yang terlihat.
Di sepanjang mata memandang hanya terlihat gurun tandus. Beberapa jam telah berlalu tanpa mereka sadari hingga Xiao Ling menjulurkan tangan berusaha untuk ke luar dari timbunan pasir.
'Aduh, di mana aku?' batin Xiao Ling, ia merasa kepalanya pusing dengan sekujur tubuh dipenuhi dengan pasir.
Xiao Ling menatap sekitar yang terlihat hanyalah sebuah gurun tandus tanpa ada sebatang pohon pun selain kaktus. Xiao Ling meraba pedangnya yang masih terselip di punggung. Ia bersyukur karena pedangnya masih berada di sana paling tidak ia merasa memiliki senjata untuk mempertahankan dan membela dirinya dari serangan hewan buas maupun musuh.
'Liu Bei?! Bukankah dia terseret badai pasir bersamaku? Lalu di manakah dia?' pikir Xiao Ling, ia mengingat dan berusaha untuk mencari di sekitar.
'Apakah aku bisa menemukan di mana Liu Bei berada?" benaknya, ia sedikit khawatir.
Xiao Ling melihat sebuah sepatu bot kulit yang dikenakan oleh Liu Bei menyembul dari tumpukan pasir, "Liu Bei?!" teriak Xiao Ling, ia berlari ke arah Liu Bei dan berusaha mengeluarkan tubuh pangeran dan panglima tertinggi Jendral Han tersebut.
__ADS_1
Xiao Ling terus berusaha untuk menyingkirkan pasir dari sekitar tubuh Liu Bei dengan menggunakan kedua tangannya.
"Yang mulia?! Yang mulia!"teriak Xiao Ling, ia berusaha untuk memeriksa denyut nadi dan debar jantung Liu Bei.
"Syukurlah, dia masih hidup! Jika tidak?! Aku tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana mempertanggungjawabkan semua ini, di hadapan kaisar Han," lirih Xiao Ling, ia berusaha menggendong tubuh Liu Bei di punggung mencari oase di tengah gurun.
Perjalanan yang dilalui oleh Xiao Ling begitu jauh ia sendiri pun tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan di tengah gurun pasir tandus tersebut. Matahari semakin tinggi menyinari bumi membuat segalanya semakin panas. Rasa haus dan lapar kembali menyerang membuat cacing di dalam perut Xiao Ling meronta meminta untuk diberi makanan.
"Apakah di sana ada oase?" pikir Xiao Ling, ia merasa Tuhan benar-benar memberkati dirinya.
Xiao Ling langsung mempercepat langkah menuju oase tersebut karena burung-burung berterbangan di depan juga binatang-binatang liar lainnya yang berjalan ke arah sesuatu yang sedikit memiliki rerumputan yang mulai terlihat.
"Ya, Tuhan! Ini benar-benar mukjizat yang Engkau berikan kepada kami. Akhirnya …," lirih Xiao Ling.
Xiao Ling merebahkan tubuh Liu Bei, ia pun meminum air sepuasnya dan mengambil air dengan membasahi ujung bajunya dan diperaskan ke wajah dan mulut Liu Bei.
"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau lakukan?" tanya Liu Bei tidak mengerti, ia melihat Xiao Ling sudah berlutut di hadapannya dengan memeras ujung baju yang dikenakan sehingga memperlihatkan sebagian tubuhnya.
Deg! Deg! Deg!
"Woi! Sudah beruntung aku menolongmu, daripada aku meninggalkanmu di tengah gurun sana. Kamu pasti sudah menjadi santapan burung bangkai!" umpat Xiao Ling kesal.
Xiao Ling merasa jika pangeran di depannya sangat arogan tidak bisa menghargai perjuangan dan pertolongan dari dirinya.
$Dasar sialan! Andaikan kau tahu, begitu jauh aku menggendong tubuhmu yang berat macam batu itu. Apakah kau masih komplain juga?' umpat batin Xiao Ling kesal.
"Jika aku tahu begini, lebih baik aku biarkan kau mati di sana!" ketus Xiao Ling.
Deg!
"Woy, aku ini seorang pangeran dan kewajiban kamu untuk menolongku!" teriak Liu Bei.
"Oh, ya?! Apakah aku harus bilang, 'Wow!' gitu? Pret!" tandas Xiao Ling makin kesal, ia meninggalkan Liu Bei seorang diri dengan seribu pertanyaan di jiwa.
__ADS_1
"Ya, benar juga … seharusnya aku bersyukur. Jendral Tan, sudha menolongku …," batinnya, "ooo, maaf … di mana ini?" tanya Liu Bei, ia berusaha untuk mencerna semua kalimat yang dilontarkan dari bibir mungil Jenderal cantik di depannya.
"Aku tidak tahu!" jawab Xiao Ling acuh, ia kembali ke oase dan menceburkan diri.
Liu Bei berusaha untuk berdiri dan melihat sekitarnya ia melihat kawanan rusa liar. Liu Bei bertanya-tanya dari mana kawanan rusa tersebut berasal, ia terus mengamati sekitar dan melihat jika di seberang gurun terdapat sebuah hutan lebat yang tidak jauh dari oase tersebut.
'Um, aku berharap itu kerajaan Donglai bukan Mongol. Andaikan itu perbatasan antara Donglai dengan Mongol? Itu akan semakin kacau! Peperangan tidak akan bisa terhindari lagi antara kekaisaran Han dengan Mongol.
"Kerajaan Mongol pasti mengira kekaisaran Han mengirimkan mata-mata untuk menyelidiki mereka. Perang akan kembali terjadi …," lirih batin Liu Bei, ia merasakan segalanya semakin kacau.
Kriuk!
Liu Bei merasa jika cacing di dalam perutnya memberontak ingin diberi makanan. Ia pun langsung menarik pedang melompat dengan cepat membunuh salah satu rusa yang sedikit lebih kecil.
Sejam kemudian ….
Keduanya sudah makan dengan seadanya, Xiao Ling merasa ingin muntah karena memakan daging rusa yang tidak memakai bumbu apa pun bahkan dibakar tidak terlalu matang akibat kurangnya kayu bakar.
'Andaikan ini di duniaku, Aku tidak akan pernah memakan makanan seperti ini. Mengerikan sekali!' batin Xiao Ling getir.
"Apakah kau tidak berselera Tuan Putri? Apakah kau tidak terbiasa memakan makanan yang seperti ini?
"Bukankah selama hidupmu kamu menghabiskan semua waktu masa remajamu di perbatasan?" sindir Liu Bei, ia mencibirkan bibirnya menghadapi Jenderal manis di depannya yang hanya menatap ke arah daging rusa di genggaman tangan.
"Cih! Siapa bilang aku tidak mau memakannya?! Aku hanya berpikir …kita tidak memiliki kuda ataupun para prajurit juga barang niaga yang ingin kita dagangkan ke Donglai."
Xiao Ling berusaha untuk menekan rasa mual dan jijik melihat daging rusa tersebut, ia berusaha memakannya sesuap demi sesuap.
'Wah, ternyata sangat nikmat!' benak Xiao Ling, ia pun langsung memakan seiris demi seiris daging rusa tersebut hingga tak tersisa.
Liu Bei masih memperhatikan cara makan Xiao Ling yang menurutnya sangat aneh dan terlalu cepat untuk ukuran Putri bangsawan.
"Apakah kau tidak pernah memilih makanan?"ujar Liu Bei, ia makan dengan cara sedikit demi sedikit dengan kewibawaan dengan berbagai peraturan yang sudah diterapkan sejak dia terlahir menjadi salah satu anggota kekaisaran Han.
__ADS_1
"Tidak! Dewa telah menciptakan berbagai makanan. Mengapa harus repot-repot memilihnya?" jawab Xiao Ling lugas.