
Liu Bei tidak ingin melihat ketidakadilan terjadi di lembah Orkhon. Sehingga ia pun membantu suku Elang untuk mempertahankan wilayah mereka.
"Mau tidak mau kita pun harus menolong mereka, tidak mungkin kita membiarkan mereka akan dibinasakan oleh perampok di depan mata," balas Liu Bei, ia menarik pedangnya dan melesat ke area pertempuran.
'Hadeh, jika terus-terusan begini, kapan aku istirahatnya sih? Kacau banget di kehidupan ini,' benak Xiao Ling, ia pun melesat ke tengah pertempuran untuk menyelamatkan suku Elang.
Xiao Ling berusaha untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan olehnya, hingga ia pun terus melesat secepat ia bisa.
'Aduh, tubuh ini terlalu menyukai pertempuran! Mengapa sih, Jia Li tidak bisa sedikit saja tidak menarik perhatian orang lain?' batin Xiao Ling, ia merasa tubuh Jia Li seakan telah menguasai dirinya.
Xiao Ling melesat dengan kedua belah pedang di tangan dan langsung menebas musuh yang berada di depannya tanpa pandang bulu dan tidak merasa kasihan sedikit pun.
"Jendral perang Jia Li?!" teriak seseorang, "kalian telah bersekutu dengan Han!" teriak seseorang di atas pelana kuda, ia berpakaian Mongol tetapi memakai penutup wajah.
"Siapa yang kau maksud dengan Jendral Jia Li? Aneh! Mengapa semua orang selalu memanggilku demikian sih?" sanggah Xiao Ling, ia sudah berada di tengah kepungan para perampok.
"Raja Batukhan akan menghukum semua suku Elang yang bersekutu dengan Han! Bunuh mereka semua!" teriakan bergema.
Anak panah api semakin menghujani mereka semua, membakar tenda-tenda suku Elang. Jeritan dan tnagis anak-anak yang terbakar dan terluka akibat anak panah begitu menyayat hati.
Kekacauan semakin mengerikan, jeritan kematian bergema, Xiao Ling melihat semua itu dengan marah. Ia tidak menduga perang begitu kejam menghancurkan dan membunuh setiap nyawa yang tidak berdosa.
"Bajingan! Kalian telah menghancurkan suku Elang yang indah ini! Aku tidak akan mengampuni kalian!" teriak Xiao Ling, ia merasa kehadirannya membuat keadaan semakin mengerikan.
Trang! Trang!
Xiao Ling menangkis hujan api dengan pedang birunya membuat semua anak panah langsung terjatuh di tengah rerumputan menancap di tanah.
Semua orang terperangah dengan tenaga dalam yang dimiliki oleh Xiao Ling, "Dia adalah wanita iblis! Bunuh dia! Dia yang kita cari!" teriak seseorang bergema di malam pekat tersebut.
Xiao Ling melesat dengan amarah membabi buta mengejar san menyerang musuh, Liu Bei memperhatikan Xiao Ling mulai menebas musuh seakan ia bagaikan bayangan di gelepan malam.
Shunyuan dan semua orang yang masih tersisa hanya menatap kengerian juga kebengisan seornag wanita iblis yang tak lain adalah Xiao Ling.
'Wanita Iblis! Bukankah aku mendengar rumor jika di perbatasan, prajurit Mongol dan Zhu Tong telah dikalahkan oleh seorang wanita yang memiliki kekuatan iblis?
'Apakah wanita iblis itu adalah jendral Jia Li? Bukankah dia Nyonya Xiao Ling? Tapi, mengapa dia dia membantu kami?' batin Shunyuan, ia penasaran.
Rasa ngeri dan lega dibantu oleh wanita iblis yang sedang menjadi pembicaraan di dunia persilatan mulai santer. Shunyuan tidak menyangka jika wanita iblis tersebut malah berada di sukunya.
__ADS_1
'Bagaimana jika raja Batukhan malah mengira kami yang telah bersekutu dengan wanita iblis yang tidak lain adalah jendral Jia Li?
'Ya, Dewa tolong selamatkan kami! Aku tidak mau jika klan elang akan dicap sebagai pengkhianat di Karakorum dan lembah Orkhon ini,' benak Shunyuan.
Ia semakkn merasa kekacauan akan terjadi kepada mereka semua, Shunyuan berusaha untuk kembali fokus untuk menghancurkan musuh. Shunyuan tidak ingin jika klannya akan hancur tak tersisa.
Xiao Ling masih terus membunuh musuh, tetapi kali ini musuh semakin banyak.
'Bagaimana musuh secepat ini datangnya? Apakah mereka sudah merencanakan untuk menghancurkan klan elang?
'Jika hanya perampok tidak mungkin bisa begitu banyak,' benak Xiao Ling, ia berusaha untuk tetap fokus dan mengabaikan darah yang tertumpah di sekitarnya.
"Nona Xiao Ling! Berhati-hatilah!" teriak Saray, ia berlari untuk berlindung dengan membawa anak panah di tangan berusaha untuk melumpuhkan musuh.
Saray ingin melindungi Xiao Ling dan Shunyuan, "Yang Mulia! Berlindunglah!" pinta Saray, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kepala suku mereka.
"Tidak sore jika aku berlindung atau bersembunyi. Bagaimana aku bisa menunaikan kewajibanku dan janjiku kepada suku elang? Aku rela menyerahkan nyawaku hanya untuk suku kira!
"Saray, berhati-hatilah! Mereka terlalu banyak," ujar Shunyuan, ia merasa bahwa musuh bukanlah perampok.
'Siapakah mereka? Apakah raja Batukhan telah mengkhianati suku elang?' benaknya, ia sedikit curiga.
Saray langsung memanah musuh secepatnya sambil berlari tetapi, Saray terkepung oleh para perampok yang menghunuskan pedang kepadanya. Saray berusaha untuk melawan dengan mencabut pedang di punggungnya.
"Ayo, lawan aku!" tantang Saray, ia berusaha untuk sekuat mungkin menghadapi kenyataan.
"Serang!" teriak seseorang langsung menyerang ke arah Saray yang berusaha untuk melawan.
Shunyuan bergerak cepat ke arah Saray dan berusaha untuk melindungi adik lain ibunya yang masih tersisa.
"Yang Mulia!" teriak Saray, ia tidak menduga Shunyuan langsung menangkis serangan musuh.
*Pergilah Saray! Bangun kembali suku elang! Jangan biarkan kita semua tewas!" teriak Shunyuan, ia kalah jumlah karena musuh sudah mengeroyok dirinya.
Shunyuan masih berusaha melawan musuh yang ingin menghancurkan klan miliknya, ia tidak mau mengalah hingga tetes darah penghabisan.
"Aaa!" teriak Shunyuan, ia tidak menduga pedang musuh menancap di punggung dan perutnya.
"Hidup elang?" teriak Shunyuan, ia terjerembab jatuh.
__ADS_1
"Kakak!" teriak Saray, ia berlari memeluk Shunyuan yang terkapar memegang dan berusaha untuk menahan darah yang merembes dari luka Shunyuan.
"Saray … maafkan aku! Cobalah untuk terus hidup …," ujar Shunyuan, ia menghembuskan napas terakhirnya di panggung sang adik.
"Kakak … jangan tinggalkan aku," teriak Saray, ia menangis tersedu memeluk jasad sang kakak.
"Bunuh pewaris terakhir suku elang! Jangan biarkan satu pun hidup!" teriak seseorang di antara gerombolan pria bertopeng tersebut.
"Bajingan! Kalian telah membunuh keluargaku!" umpat Saray murka, ia mencoba untuk bangkit dan mengambil pedang Shunyuan mencoba mempertahankan nama sukunya.
Pertempuran kembali terjadi, akan tetapi, Saray bukanlah tandingan para perampok. Saray terdesak ia sudah menjadi bulan-bulanan musuh yang terus menebaskan pedang ke arahnya yang sudah terdesak.
Saray sudah jatuh ke tanah hingga beberapa pedang dari musuh yang ingin menusuknya.
Trang!
Bumerang Xiao Ling langsung menebas putus leher musuh hingga darah menghujani tubuh Saray yang terperanjat bersimbah darah.
"Apakah engkau tidak apa-apa Saray?" tanya Xiao Ling, ia menarik tubuh Saray yang terdiam membeku.
"Aku … aku baik-baik saja, Nyonya …," ucap Saray, ia tersadar kala melihat darah yang sudah membanjiri tubuhnya.
Mereka melihat seluruh klan elang telah tewas yang hanya menyisakan Saray. Liu Bei melesat mendekati keduanya, "Bagaimana dengan kepala suku?" tanyanya.
"Kakakku telah tewas,"lirih Saray, ia melihat mayat Shunyuan.
"Apa?! Kakak?!" tanya Liu Bei dan Xiao Ling tak percaya.
"Bunuh mereka bertiga!" teriakan kembali bergema.
"Bajingan!" teriak Liu Bei, ia melesat menerjang musuh dan mengambil tombak panjang dengan mata pisaunya yang lebar.
Liu Bei dengan mudah menghalau dan membunuh musuh, Xiao Ling masih berusaha untuk membawa Saray untuk berlindung.
Syut!
Hujan anak panah kembali menyerang, "Dasar sialan!" umpat Xiao Ling, ia hampir saja terpanah di bahu jika tidak mengelak dengan refleks.
Sesosok bayangan langsung berdiri di depan Xiao Ling dan Saray, "Kau?!" teriak Saray.
__ADS_1