
"Aku akan baik-baik saja, Kak! Jangan khawatir! Yang Mulia harus selamat, pergilah! Lu Yan! Bawa Yang Mulia ke tempat yang aman! Jangan biarkan sesuatu terjadi padanya!" pesan Liu Bei, ia mengasihi Liu Fei dengan tulus.
Meskipun, Liu Bei tahu jika Liu Fei selalu saja menaruh curiga jika dirinya akan mengambil alih tahta sesuatu saat nanti. Walau demikian ia merasa sebagai seorang adik dan seorang panglima jendral Kekaisaran Han ia berkewajiban untuk melindungi calon kaisar masa depan.
"Tidak! Aku tidak boleh kabur, Liu Fei! Bagaimana aku bisa mempertahankan kekaisaran jika aku kabur?" tanya Liu Fei, ia pun memutuskan untuk tetap tinggal.
Liu Fei memiliki kemampuan beladiri hanya tidak sebagus Liu Bei karena ibunda ratu Zhao Li Mei selalu memanjakan dirinya sehingga ia menjadi pribadi yang arogan.
"Yang Mulia, saya tahu. Tapi, aku mohon untuk sekali ini … tolong dengarkan aku. Jika terjadi sesuatu kepada Yang Mulia, bagaimana aku bertanggung jawab? Aku mohon, ikutilah saranku kali ini ….
"Kita berdua tidak boleh di satu tempat pertempuran, harus ada yang tetap hidup untuk meneruskan Kekaisaran dan dinasti Han," tegas Liu Bei, "Lu Yan pergilah!" perintah Liu bei.
"Baik, Yang Mulia!" balas Lu Yan, ia langsung membawa Liu Fei dengan menunggangi kuda melesat melewati hujanan anak panah dan batu cadas.
Liu Bei berusaha untuk melindungi Lu Yan dan Liu Fei yang menerobos kekacauan hingga melewati jalanan sempit tebing dengan menghalangi hujan anak patah dan serangan batu yang tiada habisnya terus menggelinding menghujam ke arah mereka.
'Dasar sial! Musuh benar-benar luar biasa! Siapa sangka mereka menggunakan cara licik untuk membuat jebakan ini!' umpat tebak Liu Fei, ia masih terus menghancurkan batu dan mematahkan serangan anak panah dengan tongkat Shaolin miliknya.
Liu Fei melihat Lu Yan semakin menjauh meninggalkan mereka bersama Liu Fei di belakang punggung Lu Yan. Liu Bei sedikit lega, ia melihat ke arah Xiao Ling yang masih bertempur di puncak bukit melawan musuh yang semakin banyak.
'Aku harus naik dan membantu Jia Li, kalau tidak ini akan sangat bahaya sekali! Bisa-bisa kali ini, Jia Li akan tewas beneran!' batinnya, ia langsung melesat berusaha untuk semakin naik ke atas.
***
Sementara Xiao Ling yang mulai berhasil mencapai puncak berusaha untuk menghancurkan bebatuan dan serangan anak panah, ia sudah melesat dengan cara menaiki satu demi satu batu yang bergelinding hingga ke puncak, ia langsung melontarkan bumerang membunuh penyerang.
Trang! Tring!
Xiao Ling menerjang musuh dengan pedangnya dengan cepat, "Bajingan! Kalian sengaja membunuh Xu Zhu Ping, bukan? Dasar biadab!" umpat Xiao Ling, ia langsung menebaskan pedang.
"Hahaha, Xu Zhu Ping tahu apa yang akan terjadi padanya, jika dirinya gagal menjalankan misi maka, hanya kematian balasannya!" balas Wu Yao tanpa belas kasih, ia melesat menghindari tebasan pedang Xiao Ling yang menyerangnya dengan kecepatan penuh.
"Aku tidak menduga jika engkau masih selamat, Wanita Iblis! Apakah pria yang bersama denganmu sudah mati karam, heh?!" hina Wu Yao, ia berusaha menangkis pedang Jia Li yang membuat tangannya kesemutan.
'Sial! Pedang wanita ini hebat sekali! Apakah pedang ini … tidak mungkin?! Bukankah Jendral Jia Li sudah tewas?' batinnya curiga.
Namun, Xiao King tidak memberinya kesempatan untuk terus berpikir, ia terus saja menyerang ke arah Wu Yao. Xiao Ling ingin membunuh Wu Yao untuk mengurangi salah satu pendekar hebat beraliran hitam yang selama ini membuat onar.
"Bajingan! Seharusnya kekuatan dan kehebatan yang kau miliki bisa kau gunakan untuk menolong sesama bukan hanya untuk keuntunganmu secara pribadi!" hardik Xiao Ling, ia tak mengerti.
__ADS_1
"Hahaha, hidup adalah pilihan Nona! Aku memilih jalanku dan engkau memilih jalanmu! Jangan ajari aku! Hei, apakah kami sudah berhasil membunuh pria itu, heh!
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Jangan-jangan kau ingin membalaskan dendam atas kematian pria itu begitu?! Jangan-jangan kau mencintainya, ya?" ejek Wu Yao, ia sengaja memancing kemarahan wanita iblis di depannya agar berbuat sembrono.
"Bajingan Kau?! Enak saja lidahmu bicara! Kau tidak akan mungkin semudah itu membunuh jendral Tan Yu Ji!" teriak Xiao Ling, ia kesal dengan apa yang terjadi.
Seketika darah Xiao Ling mendidih, ia marah jika ada yang menginginkan kematian salah satu keluarganya. Xiao Ling langsung menyerang dengan cepat mengarahkan pedang ke tubuh Wu Yao.
Wu Yao langsung melesat menghindari tebasan pedang, "Apa?! Hahaha, jadi pria itu adalah Jendral Tan Yu Ji? Jika aku tahu, aku tidak akan pernah melepaskannya begitu saja!" umpat Wu Yao, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.
'Sial! Padahal Qin Chin Kun memintaku untuk membunuh Jendral Tan Yu Ji, karena Tan Jia Li sudah tewas. Jika kedua anak Tan Xi Kin mampus, maka akan mudah menghancurkan Kekaisaran Han dari dalam.
'Selir Sarnai akan mudah memegang kendali!' benaknya, ia merasa menyesal karena tidak mengetahui akan hal itu.
"Jika aku tahu, pemuda itu adalah Tan Yu Ji aku pasti mengirimnya ke neraka, untuk menyusul kakaknya! Sekarang, kau yang akan menggantikannya karena kau telah mengacaukan segalanya, wanita iblis!" umpat Wu Yao murka.
Tebasan demi tebasan pedang berkelebat membelah tengah hari yang terik, batu berhenti bergelinding karena para penyerang terlalu sibuk untuk menangkis bumerang yang dikendalikan oleh Xiao Ling.
"Kalian pergilah ke perbatasan Luoyang, temui Zhaozhao atau Liu Fei. Katakan keadaan di sini, minta mereka untuk membantu!" teriak Liu Bei memerintahkan kepada prajurit yang masih selamat.
"Sisanya, tolong bawa prajurit yang lain untuk dirawat!" perintahnya cepat.
"Baik Yang Mulia!" jawab semua prajurit langsung melaksanakan perintah Liu Bei.
Pertempuran semakin sengit kala beberapa pendekar dunia aliran sesat pun kembali datang satu per satu seakan memang sengaja ingin menjebak mereka.
"Dasar kurang ajar!" umpat Xiao Ling, ia terpukul mundur di pinggir tebing dengan berlutut menyeka darah yang mulai merembes di sudut bibirnya.
Xiao Ling harus berusaha untuk mempertahankan cadarnya agar tidak terlepas dari wajah, 'Apakah mereka berniat ingin mengetahui siapa aku begitu?' benak Xiao Ling, ia melirik ke bawah tebing di mana sisa pertempuran masih terjadi.
Keadaan sunyi menyisakan darah dan kematian dari para prajurit, apalagi mereka terlalu jauh dari biara Shaolin dan Luoyang. Sehingga tidak memungkinkan bala bantuan datang cepatnya dari Shaolin mau pun Luoyang.
'Paling tidak kami harus bertahan, agar para prajurit yang luka segera tiba di perbatasan Luoyang,' benak Xiao Ling, ia masih berusaha untuk mengerahkan kekuatan.
Xiao Ling memandang ke arah musuh yang baru saja tiba, Gong Yu dan beberapa orang yang tidak dikenali Xiao Ling, ia melihat Liu Bei masih bertempur dengan para pasukan iblis dari tengkorak merah.
"Hahaha!" tawa Xiao Ling membahana membuat semua orang terkesiap bingung menatap ke arahnya.
Xiao Ling telah berdiri dengan sigap, ia memutar dan menarik bumerangnya. Xiao Ling tak ingin memecah kekuatannya untuk melawan para pendekar hebat sekaligus mengarahkan dan mengendalikan bumerang miliknya.
__ADS_1
"Baguslah, kalian datang! Aku sudah menantikan ini sangat lama! Aku ingin membunuh kalian semua!" ujar Xiao Ling, ia merasa seakan bukan dirinya yang bicara.
Bayangan-bayangan pertempuran demi pertempuran kembali terlintas. Xiao Ling merasa jika Jia Li memiliki dendam kesumat dengan pria-pria yang baru datang tersebut.
'Siapakah mereka? Mengapa Jia Li begitu murka dan ingin membunuh mereka semua?' batin Xiao Ling tak mengerti.
"Hahaha, kau?! Kau hanyalah pendekar yang baru saja melek di dunia persilatan. Jangan mengira karena engkau bisa melukai beberapa teman kami, itu artinya kau bisa membunuh kami!" dengus seseorang dengan pakaian yang sangat mewah menatap kepada semua teman-temannya termasuk Wu Yao.
"Hahaha! Dasar terlalu angkuh! Baru saja bermain pedang, sudah berani menantang kita! Hahaha," tawa kembali membahana dari musuh.
"Hei, wanita iblis! Kami tidak akan takut denganmu! Bagi kami, kau hanyalah cecunguk liar! Kau tahu, Jendral Jia Li saja sudah kami lumpuhkan!
"Kau tahu, wanita tengik itu saja tidak berhasil menumpas kami!" teriak seorang pria berkepala botak berpakaian biksu hanya saja memakai pakaian berwarna hitam.
'Oh, jadi mereka adalah musuh Jia Li? Hm, pantas saja tubuh ini sedikit beraksi aneh!' benak Xiao Ling, ia mulai memahami apa yang telah terjadi di masa lalu.
"Ayo, kita hajar dan bunuh wanita iblis ini!" teriak seorang wanita berpakaian dan berpenampilan mirip pria dengan rambut sangat pendek.
Xiao Ling hanya diam di balik cadar sambil mengamati segalanya, ia merasa tubuhnya bereaksi mengumpulkan kekuatan di kepalan tangan seakan ingin menyerang wanita tersebut.
Blush!
Seberkas sinar melesat ingin menghantam tubuh Jia Li akan tetapi, tubuh Jia Li yang sudah mengantisipasi keadaan langsung berkelebat ke udara bersalto dan langsung mengumpulkan kekuatan di pedang.
"Aaa! mampus kau, ******!" teriak Jia Li, ia langsung menebas putus leher wanita tersebut hingga ambruk.
Bruk!
Kepala wanita itu menggelinding dan tubuhnya jatuh ke tanah tak berdaya dengan darah mengucur deras dari urat nadi di leher. Semua orang terperanjat tidak menduga akan hal itu.
"Siapa Kau yang sebenarnya?" tukas pria yang memakai baju biksu berwarna hitam.
"Hanya jendral Jia Li yang bisa menaklukkan cakar iblis milik Zhao Xue'r! Jia Li sudah mampus! Katakan siapa kau?!" teriak biksu aliran sesat tersebut.
"Aku adalah aku! Kau tak perlu tahu siapa aku Bangsat! Ayo, serang dan lawan aku tantang Xiao Ling.
Xiao Ling sudah tak ingin bermain-main lagi, ia ingin menumpas segala kejahatan yang dilakukan oleh musuh, ia tak ingin lengah dan menjadi bodoh seperti dulu lagi.
'Jika dulu mungkin aku kalah tapi, tidak sekarang! Tak ada sandera yang akan mereka gunakan untuk menaklukkan diriku!' benak Xiao Ling, ia merasa musuh pernah dikalahkan oleh Jia Li, hanya saja mereka menggunakan cara licik dengan menggunakan sandera dari anak-anak petani di daerah Limen Barat.
__ADS_1
Tubuh Jia Li benar-benar mengendalikan tubuhnya sehingga Xiao Ling hanya mengikuti semua keinginan tubuhnya. Xiao Ling merasa terkadang Jia Li tidak tewas hanya saja mereka menyatu di dalam satu raga.
"Kau?! Kau adalah Jia Li?" ujar pria yang berpenampilan rapi dan terlihat bagaikan seorang bangsawan yang masih terus memperhatikan setiap gerakan Xiao Ling.