Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Cara pandang dan pola pikir seorang Jia Li


__ADS_3

"Tentu saja, kamu akan menikahi Pangeran mahkota Liu Fei. Apakah kamu lupa atau sebagian pikiranmu sudah dipenuhi pasir saat terjadinya badai itu?


"Tiada seorang pun yang boleh menentang kekuasaan seorang kaisar! Andaikan ada maka, hukuman penggal atau sejenisnya yang akan bicara.


"Apakah kamu mau, jika keluargamu akan dihukum pancung semua? Hanya karena kamu menolak titah seorang kaisar?" tanya Liu Bei, ia menatap ke arah Xiao Ling dengan tatapan bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh jendral hebat di depannya.


"Apa?! Yang benar saja! Itu artinya kaisar telah melanggar hak asasi manusia. Ck, itu sangat- sangat tidak diperbolehkan! 


"Apakah kaisar tidak takut jika seluruh dunia akan menentangnya?" tanya Xiao Ling semakin tolol, ia berargumentasi seakan di pengadilan tinggi Boston di saat menjadi jaksa penuntut umum yang sedang menuntut si terdakwa di persidangan.


"Apa?! Apa maksudmu dengan melanggar hak asasi manusia? Titah seorang kaisar adalah mutlak sebagai hukum itu sendiri. Bagaimana bisa ada yang menentangnya? 


"Hei, Jia Li! Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud?" tanya Liu Bei, ia bingung dengan cara pandang Xiao Ling.


'Pantas saja, Yang Mulia Ayahanda ingin menentang dan melemahkan kekuatan juga cara pikir jenderal Tan Jia Li yang teramat maju dan tidak sesuai dengan kekaisaran Han.' Liu Bei termenung membenarkan rumor yang sedang beredar.


Xiao Ling hanya terdiam, 'Sialan! Pangeran bodoh ini, pasti tidak tahu akan kemajuan zaman di masa depan! Aduh, bagaimana ini?


'Aku terlalu banyak bicara … bisa-bisa ucapan yang terlontar dari mulutku akan menjadi bumerang untuk kematianku sendiri,' keluh batin Xiao Ling getir, ia hanya menarik napas yang terasa sesak.


'Aku harus berhati-hati bicara, mulai sekarang!" batinnya kacau.


Xiao Ling melihat Liu Bei pun masih mengawasi dirinya. Keduanya saling diam dan bicara dengan batin masing-masing.


'Aku mendengar jika jendral Jia Li ini orang yang sangat cerdas, cekatan, dan luar biasa hebat! Tapi, mengapa kenyataan sangat berbeda dengan yang aku dengar?' batin Liu Bei, ia mengerutkan kening.


'Aku sudah melihat jika dia begitu hebat dan sangat luar biasa di dalam memainkan pedang, bumerang, dan bertempur. Tapi,' benaknya bingung.


"Um, apakah menurutmu putra mahkota pun akan mau menikah denganku?" tanya Xiao Ling, ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh.


"Tentu saja! Sesuai titah kaisar Liu Bang maka tidak seorang pun di kekaisaran Han akan berani menolaknya, termasuk putra mahkota.


"Lagian, aku rasa hanya pria bodoh yang akan menolak dirimu! Kamu cantik, baik, dan sangat hebat!" puji Liu Bei setulus hati.

__ADS_1


"Heh?! Nggak salah?" cibir Xiao Ling, ia mengerutkan dahi menatap ke arah Liu Bei yang masih menatapnya.


Xiao Ling merasa ia tidak terlalu cantik bahkan, ia melihat di cermin untuk terakhir kali sebelum tiba di Yuzheng jika dirinya sama sekali tidak pernah mengenakan riasan wajah apa pun.


"Andaikan dia tahu … kalau tubuhku dipenuhi luka … apakah dia tetep mau juga?" tanya Xiao Ling, ia ingin pangeran mahkota yang bernama Liu Fei itu akan menolaknya.


Deg!


Jantung Liu Bei tercekat, ia tidak pernah menduga jika gadis di depannya begitu mudah bicara apa saja kepadanya seakan dirinya juga seorang wanita bukan pria.


'Apakah Jia Li ini menganggapku sebagai wanita atau pria sih? Jangan-jangan karena selama ini dia selalu bersama pria hingga ia pun menganggapku seperti Lin Wei atau anak buahnya yang lain,' batin Liu Bei bingung.


"Ehm!" Liu Bei merasa tenggorokan mulai kering dan ia membutuhkan air minum.


Namun, ia tahu jika kantung air minum mereka sudah hilang tersapu badai pasir. Liu Bei bergerak ingin menampung sisa air hujan yang sudah berubah menjadi rintikan.


"Eh, kamu mau ke mana?" tanya Xiao Ling, ia merasa ngeri jika harus ditinggal sendirian di hutan gelap dan angker tersebut.


'Bagaimanapun aku masih seorang wanita. Semandiri apa pun dan sehebat-hebatnya seorang perempuan dia pasti masih membutuhkan kasih sayang dan perlindungan dari seorang pria.


'Apalagi, Lin Wei dan Zhaozhao tidak bersamaku,' benak Xiao Ling resah.


"Aku hanya ingin mencari air minum. Memang ada apa?" tanya Liu Bei, ia tak mengerti.


"Bukankah hujan sudah berhenti? Aku rasa petir pun sudah tidak ada lagi. Aku akan segera kembali. Jangan khawatir!" balas Liu Bei, ia tersenyum.


'Apakah mungkin Jendral Jia Li takut berada di sini? Bukankah selama ini, ia pun selalu bertempur dan pastinya selalu menghadapi medan yang lebih mengerikan dari ini?' pikir Liu Bei bingung.


Namun, Liu Bei dengan cepat berusaha mencari air setelah mendapatkannya ia kembali ke pondok di mana Jia Li berada.


Trang! Tring!


'Di mana pertempuran itu? Apakah …?' benaknya, ia pun langsung melesat dengan cepat ke arah pertempuran.

__ADS_1


Liu Bei melihat Jia Li sudah berjumpalitan di udara dengan kedua pedang di tangan bergerak dengan lincah menebas musuh.


'Sialan!' umpat Liu Bei langsung melesat membantu Xiao Ling yang masih bertempur dengan luar biasa di tengah malam buta di bawah rinai hujan melawan segerombolan musuh.


Trang!


"Awas, kepalamu!" teriak Liu Bei, ia menangkis anak panah yang melesat ke arah kepala Xiao Ling.


"Apa?! Dasar biadab! Karena mereka tidak sanggup melawanku. Jadi, mereka menggunakan cara licik ini begitu? Mereka menggunakan trik murahan!" umpat Xiao Ling, ia pun melesat ke udara  melontarkan bumerang dari musuh yang mereka bunuh sebelumnya ke arah anak panah yang menyerang dirinya.


Teriakan bergema di balik pepohonan kala bumerang Xiao Ling membunuh para musuh yang menyerang dengan menggunakan anak panah.


"Siapa Kalian? Mengapa kalian menghadang kami? Kami hanya ingin ke Donglai untuk berdagang tapi, badai pasir telah membuat kami terdampar di sini!" ucap Liu Bei, ia berdiri dengan pedang di tangan menatap ke arah musuh yang telah mengepungnya.


"Hahaha, Donglai? Kau kira kami bodoh, begitu? Ini bukanlah jalan menuju Donglai tapi, Mongol!" jawab seseorang.


"Kalian pasti mata-mata yang dikirim Han ke Mongol bukan?" tuduh salah satunya, dengan tubuh jangkung dan kumis serta brewok memenuhi wajah.


"Apa?! Kami adalah pasangan pedagang yang ingin berdagang ke Donglai. Maaf Tuan-tuan sekalian! Anda pasti sudah salah mengartikan kedatangan kami yang tersesat ini.


"Lalu, jika kami ingin ke Donglai, kami harus melalui jalan mana? Kami tidak pernah ke Mongol!" ujar Liu Bei, ia ingin tahu.


'Apakah mereka penyamun atau tentara Mongol yang menjaga perbatasan?' benak Liu Bei penasaran.


Liu Bei mulai khawatir, jika terdamparnya mereka di hutan perbatasan tersebut akan memicu Mongol dan Donglai bekerja sama untuk menyerang Han.


"Omong kosong! Serang dan bunuh mereka! Jangan biarkan mereka memasuki Mongol!" teriak pria tersebut, ia langsung menyerang ke arah Liu Bei yang langsung menangkis setiap serangan.


Pertempuran pun tidak lagi bisa terelakkan, Liu Bei berusaha untuk secepatnya mengakhiri pertempuran agar bala bantuan musuh tidak kembali datang menyerang mereka.


Xiao Ling menebas musuh dengan bumerangnya hingga seorang pria yang tak lain adalah Zhu Tong melesat ke arah Xiao Ling dengan pedang hampir saja menebas leher Xiao Ling.


Trang!

__ADS_1


"Woi! Apa yang kau lakukan Zhu Tong? Apakah begitu kelakukan seornag pendekar hebat di dunia persilatan? Phih! Tahunya menyerang dari belakang lawan!" umpat Xiao Ling, ia pun menangkis pedang Zhu Tong dengan cepat.


"Hahaha, aku sudah menduga jika kau adalah Jendral Jia Li. Kau kira kalian berdua bisa menipu mataku ini, hah?!" hardik Zhu Tong murka, ia ingin membalaskan dendam kesumat yang sudah mendarah daging di jiwa raganya.


__ADS_2