
"Hahaha, kau tahu apa?!" teriak pria tersebut langsung menyerang Liu Bei dengan cepat tetapi Liu Bei pun menangkis serangan tidak kalah cepat hingga pedang dan tombak saling beradu.
Liu Bei melesat dengan menggunakan tenaga dalam langsung menusuk ke jantung musuh secepatnya membuat si pria tewas seketika. Liu Bei tidak ingin terlalu lama mengulur pertempuran, ia tak ingin bala bantuan musuh akan kembali datang.
"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Liu Bei kepada gadis yang diculik pria Mongol tersebut.
"Ti-tidak Tuan! Terima kasih," balasnya ia berusaha untuk berdiri dan masih ketakutan.
"Bersembunyilah! Coba selamatkan beberapa orang yang bisa kamu selamatkan. Aku akan membantu istriku untuk membebaskan kalian!" ujar Liu Bei, ia pun melesat ke arah bandit yang ingin merampok penduduk di lembah Orkhon.
Di tempat lain Xiao Ling bergerak dengan tangkas memenggal dan membunuh musuh. Liu Bei tersenyum menatap jendral Jia Li, ia masih saja terkesan dengan stamina yang dimiliki jendral cantik tersebut.
'Istriku … ckckck aku terlalu berani mengatakan itu. Dia calon istri abangku. Andaikan … ah, sudahlah!' batin Liu Bei, ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa berpikir sejauh itu.
Liu Bei bergidik jika dirinya harus bertarung dengan sang abang hanya demi seorang wanita.
Trang!
"Woy! Kamu menghayal apa sih? Ini masih bertempur! Nanti saja, jika kau ingin berkhayal. Aku tidak sanggup harus melindungi dirimu juga!" umpat Xiao Ling, ia melemparkan bumerang ke arah pedang dan tombak yang menyerang Liu Bei.
Liu Bei terkesiap ia sama sekali tidak menduga jika dirinya pun masih berkhayal sambil menatap ke arah Xiao Ling yang masih menyerang dan menangkis musuh di depan beberapa depa darinya.
'Sial! Ada apa denganku? Mengapa wanita ini bisa membuatku tidak bisa berpikir dan waspada akan keselamatanku sendiri?' batin Liu Bei, ia merasa jendral Jia Li mampu mengalihkan perhatian dan dunianya dari apa pun hanya sekedar mengingat bayangannya.
Liu Bei kembali mengangkat pedang dan menebas beberapa musuh dengan cepat, "Jangan biarkan salah satunya selamat!" teriak Liu Bei, ia merasa akan mengakibatkan bencana lain lagi bagi penduduk lembah Orkhon kelak.
Pertempuran tak seimbang karena kekuatan Liu Bei dan jendral Jia Li begitu luar biasa, "Siapa Kalian?! Kerajaan Mongol tidak akan tinggal diam!" teriak seseorang.
"Tidak! Jangan percaya! Mereka bukanlah dari kerajaan Mongol!" teriak seorang pria tua yang tak lain adalah penduduk desa lembah Orkhon.
Pria tua itu muncul dari tumpukan mayat yang berjatuhan di tanah dengan bersimbah darah, Liu Bei dan Xiao Ling melihat jika pria tersebut terluka begitu parah.
"Tuan, bertahanlah! Makanlah dan balurkan ini di luka Anda!" teriak Liu Bei, ia langsung melemparkan satu kendi kecil ke arah pak tua dan langsung melesat meninggalkan pria tua tersebut.
'Jika mereka bukanlah prajurit Mongol, lalu siapa?' benak Xiao Ling, ia tak tahu dan tidak bisa membedakan mereka, hanya saja Xiao Ling melihat jika pakaian yang dikenakan para penduduk lembah Orkhon berbeda dengan yang dipakainya dan wanita di penginapan.
'Um, pakaian mereka sangat berbeda dan mencolok,' batin Xiao Ling, ia langsung menarik salah satu pedang di punggungnya tapi bukan pedang berpendar biru yang mengerikan tersebut.
Xiao Ling tidak ingin membuat kehancuran dan kemusnahan lembah yang indah tersebut.
Trang! Trang!
Xiao Ling melesat dengan cepat membabi buta membunuh musuh hingga beberapa bandit berusaha untuk kabur.
Namun, Xiao Ling mengingat titah pangeran bersamanya hingga ia pun melemparkan bumerang ke arah bandit tersebut membunuh mereka tak tersisa.
__ADS_1
'Ish! Aku begitu sadis!' batin Xiao Ling bergidik melihat darah yang mengucur kala bumerang miliknya menebas dan memenggal kepala dan anggota tubuh musuh hingga tewas, bumerang kembali lagi ke tangannya dengan lumuran darah.
Glek!
Xiao Ling merasakan jijik dan mual melihat darah segar menetes dari bumerangnya. Seketika ia pun tertegun dengan perasaan yang bercampur aduk di jiwanya.
Xiao Ling hanya berdiri terdiam di antara tumpukan mayat, ia merasa tidak terlalu sulit melawan mereka. Akan tetapi, lagi-lagi ia harus merasakan suatu beban mental dan kengerian dengan apa yang telah dilakukannya, ia muntah melihat dan mencium aroma amis dari darah tersebut.
"Huek! Huek!" Xiao Ling kabur, ia berlari secepatnya menghindari mayat-mayat yang terbunuh dan bersujud di antara bunga-bunga lembah yang indah dengan memegang perutnya.
"Siapa kau?!" ucap Xiao Ling dingin dengan menghunuskan pedang ke arah seseorang yang mendekat kala ia mendengar langkah kaki ke arahnya.
Xiao Ling langsung menurunkan tangan kala melihat seorang anak perempuan berumur 10 tahun membawa satu kendi tempat air minum yang terbuat dari perak.
Si anak terkejut dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar, "Oh, maafkan aku … aku mengira musuh yang tadi ingin membunuhku," lirih Xiao Ling, ia langsung menyelipkan pedang ke punggung dan pinggangnya.
Xiao Ling merasakan ketakutan dan rasa terkejut yang jelas terlihat di wajah sang anak membuat Xiao Ling merasa semakin membenci dirinya.
'Mengapa aku jadi begini?' batinnya miris, ia ingin menangis dan berteriak.
Xiao Ling mulai membenci diri sendiri dan tubuh yang dihuninya, ia merasa jika tubuh cantik dan indahnya bagaikan sebuah robot yang tidak memiliki jiwa dan perasaan.
Xiao Ling bisa merasakan jika tubuh itu sama sekali tidak merespon apa pun, tubuh Jia Li begitu angkuh dan dingin juga arogan bak sebatang kayu.
"Ada apa?" lanjut Xiao Ling, ia masih bersujud di antara bunga-bunga indah yang sedang bermekaran di pagi hari dengan kicau burung juga sinar mentari indah.
Xiao Ling beringsut mengambil kendi dan berniat ingin meminumnya, 'Aneh, mengapa air ini beraroma manis dan wangi? Apakah ada racun di dalamnya?
'Aku sama sekali tidak bisa mendeteksi racun. Bagaimana ini? Jika di zamanku, tinggal bawa saja ke laboratorium, selesai.
'Tapi di dunia anta beranta ini? Aku pernah melihat dan membaca di novel juga film jika pada masa ini terlalu banyak racun yang digunakan.
'Apalagi, di daerah Mongol, bukankah Mongol daerah Barat? Atau … aku yang salah? Ntahlah ….
'Tapi, ini … mengapa tubuh Jia Li tidak merespon? Apakah ini memang tidak beracun atau Jia Li pun tidak bisa mendeteksi racun? Mampus!' benak Xiao Ling kebingungan.
Xiao Ling masih terus memandangi kendi tersebut tanpa berniat meminumnya, ia masih menimbang dan berpikir mengenai komposisi dari isi kendi tersebut.
"Minumlah, itu adalah air dicampur madu dan sari bunga-bunga untuk meredakan muntah dan keracunan yang selama ini kamu derita," ujar seorang wanita setengah tua penduduk Mongol tersenyum.
"Apa?! Apa maksudmu dengan tubuhku mengidap racun?" tanya Xiao Ling, ia tidak mengerti.
Xiao Ling merasa jika dia baik-baik saja dan tidak terlalu ada yang aneh, ia menatap curiga kepada wanita setengah baya tersebut.
"Percayalah itu tidak beracun! Jika engkau meminumnya, segala racun tidak akan bisa membunuhmu," ucap si wanita tersebut tersenyum sambil meletakkan tangan kanan di dada.
__ADS_1
'Oh, salam mereka seperti itu? Berbeda dengan orang-orang Han,' batin Xiao Ling, ia mencatat di dalam hati.
'Bukankah orang-orang Mongol … menurut sejarah yang kubaca, jika mereka adalah keturunan Turki dan beberapa daerah terdekat yang menikah antar negara dan suku dengan penduduk Cina setempat pada ratusan atau ribuan tahun silam?' batin Xiao Ling, ia meneguk air tersebut.
'Jika air ini beracun, ya … baguslah! Mungkin aku mati sekali lagi dan aku bisa kembali ke tubuhku yang asli di duniaku,' batin Xiao Ling, ia tak lagi peduli dengan keselamatannya.
Xiao Ling merasa air itu begitu dingin seperti baru saja dari kulkas, "Wah, ini enak dan segar sekali! Terima kasih, Nyonya! Saya … maksudku … aku Xiao Ling, siapa nama Anda?" tanya Xiao Ling, ia ingin beramah-tamah dengan si penolongnya.
"Saya Saray, Nona Pendekar. Terima kasih, sudah menolong kami. Mari!" ajak Saray, ia sedikit menggeser tubuhnya dan mempersilakan Xiao Ling untuk maju duluan.
"Terima kasih, Nyonya. Um, apakah Anda melihat-"
"Suami Nyonya? Dia sedang merawat para penduduk lembah Orkhon yang terluka.
"Kalian adalah pasangan serasi … dan sangat baik. Suami Anda yang meminta putriku untuk memberikan air itu!" balas Saray, ia tersenyum menatap Xiao Ling.
"Hah?!" balas Xiao Ling, ia tak menduga begitu nyata respon Saray.
Xiao Ling ingin tertawa terpingkal-pingkal dan bergulingan di rerumputan, ia malah mengira antara dirinya dan Liu Bei sama sekali tidak pantas menjadi pasangan melainkan sebagai atasan dan bawahan saja.
"Ada apa Nyonya? Apakah Anda sedang hamil?" tanya Saray, ia melihat wajah pucat Xiao Ling yang berjalan di sisinya.
Gubrak!
Xiao Ling tersandung belitan rerumputan karena ia tidak bisa fokus mendengar kalimat yang begitu saja terlontar dari bibir Saray.
"Apa?! Ha-hamil? Tidak mungkin …!" balas Xiao Ling cepat.
'Hahaha, ciuman saja tidak pernah, bagaimana bisa hamil? Kecuali … saat pertama kali di tenda Yuzheng, itu bukan ciuman! Itu hanya … kecelakaan yang tidak disengaja dan diinginkan!
'Apakah Jia Li memiliki kekasih? Mampus! Makanya Jia Li tidak ingin menikahi Liu Fei? Beugh! SIALAN! Apakah Jia Li dan kekasihnya saat berhubungan intim tidak mengenakan pengamanan?
'Apakah di zaman ini tidak ada pengaman untuk mencegah kehamilan?' batin Xiao Ling, ia sudah membayangkan seluruh alat kontrasepsi yang pernah dilihatnya di apotek di dunia modern.
'Mengapa jadi begini? Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus menanggung dan mengandung satu bayi lagi … oh my God!' benak Xiao Ling, ia ingin membunuh dirinya sendiri.
"Nyonya! Nyonya! Ada apa denganmu?" tanya Saray, "bolehkah aku memeriksa nadi Anda?" tanya Saray.
"Eh, silakan!" balas Xiao Ling, ia pun ingin tahu.
Saray langsung berlutut di dekat tubuh Jia Li yang sudah terkapar terlentang menatap hamparan langit biru dengan pikiran serba kacau.
Saray langsung memegang lengan dan memeriksa denyut nadi tubuh Jia Li, Saray mengerutkan kening.
"Bagaimana? Apakah aku beneran hamil?" desak Xiao Ling, ia merasa semakin ngeri membayangkan hal itu.
__ADS_1
'Bagaimana respon ayah Jia Li Tuan Tan Xi Kin? Kaisar Liu Bang, Putra Mahkota Liu Fei, dan ya, ampun … Liu Bei? Matilah aku! Aku seperti wanita murahan saja!' pikiran Xiao Ling semakin tak karuan bak benang kusut.