
Zhaozhao, Lin Wei, dan semua prajurit di bawah komando Jenderal Jia Li kebingungan tidak mengerti mengapa komandan mereka malah menyamar menjadi prajurit rendahan.
"Ta-" ujar Lin Wei, ia ingin membuka mulutnya dan mencoba mencari tahu alasan di balik semua itu.
"Sttt, jangan mengatakan apa pun. Berlakulah jika aku bukan jendral Jia Li, aku mohon! Nanti aku akan mengatakan apa tujuanku," sela Xiao Lin, ia berbisik kepada Zhaozhao dan Lin Wei yang menganggukkan kepala.
Mereka kembali ke barisan dengan teratur dan tidak mengatakan apa pun seperti biasa menunggu perintah selanjutnya, Liu Bei dan Liu Fei menatap kepada semua orang.
"Selamat datang prajurit bayangan Phoenix merah yang agung! Aku mewakili ayahanda Kaisar Liu Bang, mengucapkan ribuan terima kasih.
"Tanpa kerja keras kalian, Aku yakin jika pemberontakan di perbatasan tidak akan mungkin mudah untuk dihancurkan," ujar Liu Fei, "aku sangat ingin bertemu dengan komandan hebat kalian, yang telah berhasil mengemban semua tugas yang diberikan oleh ayahanda.
"Selain itu, aku juga ingin bertemu dengan beliau berhubung jendral Jia Li adalah calon permaisuri masa depan Kekaisaran Han," lanjut Liu Fei.
Ucapan Liu Fei membuat secuil hati Liu Bei merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa, ia tak mengerti mengapa perkataan Liu Fei membuat jiwa dan perasaan Liu Bei merasa terluka.
'Hah, andaikan ayahanda tidak mengeluarkan dekrit pernikahan tersebut, aku rasa … akan lebih baik ke depannya bagi Jia Li tanpa harus terjebak dengan pernikahan.
'Paling tidak Jia Li masih bisa memilih pria yang disukai dan dicintainya dengan mudah. Ck, bagaimana ini?' benak Liu Bei, ia merasakan kesedihan kepahitan yang sedang dirasakan oleh Jia Li.
'Jika mereka melanggar perjodohan tersebut, aku sangat yakin … ayahanda dan Liu Fei akan mengatakan, 'Jika mereka memberontak!' keluarga mereka pasti akan menghadapi musibah,' batin Liu Fei, ia terdiam merenungi banyak masalah yang akan dihadapi Kekaisaran dan keluarga Tan Xi Kin ke depannya.
"Liu Bei, bukankah kamu sudah berulang kali bertemu dengan Jia Li? Apakah kamu merasa sangat tidak aneh jika Jia Li tidak ingin bertemu denganku?
"Apakah Jia Li sengaja menghindari diriku? Apakah dia tidak berpikir akan masalah yang akan ditimbulkan olehnya?" ketus Liu Fei, ia ingin tahu apa pendapat Liu Bei.
"Yang Mulia, saya rasa jendral Jia Li bukanlah orang yang demikian! Saat menghadapi Zhu Tong, aku merasa dia memiliki kebaikan dan ketulusan dengan musuh.
"Jendela Jia Li juga menyelamatkan orang-orang di lembah Orkhon. Malangnya perampok yang berkedok dari kekaisaran Han dan Donglai berhasil kabur dan memusnahkan lembah Orkhon selain Saray, putri kerajaan Mongol yang terbuang!
"Anda bisa bertanya kepada Selir Sarnai siapa Saray yang sebenarnya?" ucap Liu Bei, ia tak ingin Liu Fei hanya menyalahkan Jia Li sedangkan Sarnai begitu menikmati peran ganda yang dimainkan olehnya.
"Selir Sarnai?!" ucap Liu Fei, ia tidak mempercayai hal itu.
__ADS_1
Liu Fei merasa jika selirnya begitu luar biasa baik dan sangat dermawan dan tidak bisa beladiri dan tidak mungkin melakukan sesuatu.
"Jangan bawa-bawa selir Sarnai di dalam semua ini, Liu Bei. Aku bisa menjamin jika selir Sarnai tidak pernah keluar dari istana selain bersama diriku.
"Xiao'er!" panggil Liu Fei kepada Xiao Ling yangblangsing maju dan melakukan penghormatan.
"Saya Yang Mulia!" balas Xiao Ling dengan jantung sedikit berdebar tak karuan.
Xiao Ling merasakan jika cepat maupun lambat penyamarannya akan terbongkar.
"Pergilah! Cari Jendral Jia Li, katakan kepadanya, 'Untuk datang menemuiku di sini!' jika dia melawan aku akan membuat dirinya kehilangan keluarganya," ancam Liu Fei, ia menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.
"Baik, Yang Mulia!" balas Xiao Ling, ia undur diri setelah melakukan penghormatan dan meninggalkan semua orang.
Di luar perbatasan Xiao Ling melesat kembali ke penginapan di mana dirinya dan Liu Bei memesan kamar, ia langsung mengganti bajunya dengan seragam jendral Jia Li.
"Sialan! Apa yang aku katakan mengenai Xiao'er? Aduh, memusingkan saja!" umpat Jia Li di depan cermin, suara kecapi di lantai bawah dan para penari yang sedang menarikan sebuah tarian bergema.
Xiao Ling terdiam, ia kembali melesat melalui bubungan dan atap rumah kembali ke perbatasan. Ia beruntung karena kuda putih miliknya masih menanti di perbatasan seakan ia tak ingin mengikuti semua sahabat mereka yang pergi.
Wenwen hanya menggelengkan kepala dan mendengus kesal, "Ayolah, bekerja sama denganku! Kau tahu, aku bukanlah Jia Li. Maksudku jiwaku, aku juga ingin Jia Li kembali agar aku bisa pulang ke duniaku.
"Tapi, aku tidak bisa! Aku tak mengerti di mana Jia Li sekarang? Kau harus bekerja sama denganku jika kau pun ingin tubuh Jia Li selamat!" ujar Xiao Ling, ia membelai sisiwajah wenwen dengan penuh ketulusan dan rasa belas kasih.
"Kau tahu, aku telah menyamar memasuki istana Donglai dan bertemu dengan Liu Fei, aku tidak tahu. Aku … tidak menyukai Liu Fei, kamu tahu … dia arogan sekali.
"Menggunakan kekuatannya untuk mengancamku agar kembali. Apa yang harus aku lakukan, Wenwen?" tanya Xiao Ling, ia hanya membelai wajah wenwen meminta jawaban.
Xiao Ling merasa lebih aman berbicara kepada wenwen yang tak akan mungkin bicara kepada siapa pun mengenai rahasia besarnya.
Bola mata besar wenwen menatap dan terus mengawasi Xiao Ling, ia hanya menggelengkan kepala dan mencium puncak kepala Xiao Ling seakan memahami apa yang sedang dirasakan oleh tuannya.
Wenwen memutar tubuhnya menginginkan Xiao Ling naik ke punggungnya, "Apakah aku harus naik ke punggungmu, Wenwen?" tanya Xiao Ling, ia ingin tahu.
__ADS_1
Blerr! Blerr!
Sahutan Wenwen seakan ia mengatakan iya, agar Xiao Ling menaiki punggungnya. Wenwen mempercayai tuan barunya meskipun wajah dan bentuk tubuh tuannya masih sama dan tak ada yang berubah.
Derap langkah kaki wenwen menembus malam dan terus berlarian di sepanjang perbatasan seakan ingin menghilangkan jejak agar mengecoh Jia Li tidak bertemu dengan Xiao'er di perjalanan.
"Um, Wenwen! Aku punya ide! Aku akan mengatakan kepada mereka jika Xiao'er sudah aku perintahkan untuk pergi menyelidiki Zhu Tong! Lagian semua anggotaku sudah lengkap.
"Aku tidak ingin jika Liu Fei curiga, sebelum semua orang mengetahui kebenaran siapa Xiao'er sebenarnya," ucap Xiao Ling pada wenwen.
Lagi-lagi wenwen hanya mendengus sambil terus berlari berputar-putar sebelum ia kembali ke perbatasan dan mengarah ke barisan prajurit Liu Bei dan Tan Yu Ji.
Semua orang memandang ke arah Xiao Ling yang mengendarai kuda putih dengan gagah membelah sinar fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur.
Semua prajurit di bawah komando Tan Yu Ji langsung bersiap-siap menarik senjata dan panah membentuk brikade untuk melindungi Liu Fei.
"Tenanglah! Turunkan senjata kalian! Apakah kau ingin membunuh saudara kandungmu, Yu Ji?!" teriak Liu Bei, ia menatap Jia Li yang melesat dengan cepat dan gagah di atas punggung kuda putihnya.
"Apa?! Jendral Jia Li? Benarkah?!" tanya Yu Ji, ia langsung mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan serangan anak panah kepada Xiao Ling.
Kuda semakin mendekat dan seorang wanita cantik mengenakan dandanan prajurit pria melesat turun dengan sebuah keringanan yang luar biasa berjalan di depan semua orang.
"Salam Yang Mulia Jendral Tan Jia Li! Semoga Dewa melindungi dan selalu panjang umur!" ujar semua anak buahnya beserta bawahan Liu Bei memberikan sambutan dan kehormatan.
Jia Li hanya tersenyum manis dan menganggukan kepala membuat semua anak buahnya terkesiap. Mereka tidak menduga jika jendral kesayangan mereka sekarang banyak berubah lebih hangat dan ceria juga mudah tersenyum.
"Wah, ternyata senyum jendral kita sangat manis … sayang sekali, aku sudah menikah!" keluh Lin Wei tersenyum.
"Ngaco! Siapa juga yang mau dengan gentong kayak kamu, Wei!" ujar Zhaozhao.
Lie Feng hanya tersenyum, "Hush! Jangan keras-keras! Apakah kalian mau dihukum, Yang Mulia Putra Mahkota Liu Fei?" bisik Lie Feng.
Perkataan Lie Feng membuat semua orang terdiam. Semua orang memperhatikan Jia Li yang terus berjalan menghampiri Liu Fei, Liu Bei, dan Tan Yu Ji yang masih terpesona memandang jendral hebat yang bertahun-tahun menjadi buah bibir di kekaisaran Han.
__ADS_1