
Tan Yu Ji masih memerhatikan wajah prajurit tersebut, ia sedikit curiga tetapi tak ingin terlalu ketara, Tan Yu Ji tak ingin jika Liu Fei akan mengenali Tan Jia Li.
'Aku tidak ingin Putra Mahkota mencari tahu keberadaan Kak Jia Li. Bagaimanapun Ayahanda kurang setuju jika Kak Jia Li menikah dengan Liu Fei,' benak Tan Yu Ji, ia pun mendukung keputusan ayahnya.
Namun, mereka seakan terpasung karena mereka harus memiliki penyerahan diri dan pengabdian yang mutlak tanpa syarat kepada penguasa kekaisaran selanjutnya.
"Baiklah, kamu bisa menemaniku berjalan-jalan, Xiao'er! Selain itu, aku ingin bertanya mengenai calon permaisuri masa depanku! Bukankah begitu Yu Ji?" tanya Liu Fei, ia tersenyum menyindir Tan Yu Ji yang tercekat.
"Silakan Yang Mulia!" balas Tan Yu Ji, ia berusaha untuk tidak terlihat jika dirinya tidak begitu menyukai putra mahkota tersebut.
'Heh! Putra Mahkota hanya tahunya bersenang-senang bersama para selirnya,' benak Tan Yu Ji, 'aku rasa keputusan Kak Jia Li sangat tepat untuk menolak hal itu. Tapi ….
'Bagaimanapun Kak Jia Li berusaha sekeras mungkin untuk menolak Liu Fei itu artinya kematian akan terjadi pada keluarga kami,' benaknya gusar, ia semakin kacau.
'Tak seornag pun yang berani dan menentang kekuasaan seorang penguasa. Lagian, ini hanyalah aliansi pernikahan,' benak Tan Yu Ji, ia terdiam.
Apalagi, ibundanya Lin Fu Xi'er sangat menginginkan kedekatan keluarga mereka dengan kekaisaran sebagai pengaruh di kehidupan sosial mereka di antara para pembesar kekaisaran.
Tan Yu Ji menyadari jika ibu kandungnya sangat menginginkan pernikahan tersebut, Lin Fu Xi'er merasa jika Jia Li wajib melaksanakan titah kekaisaran demi nama baik keluarga mereka.
Tan Jia Li hanya diam menatap kepada Tan Yu Ji yang hanya diam termenung menatap ke arah kolam di seberang di paviliun di mana para anggota kerajaan Donglai sedang bercengkrama dengan raja Mongol, dan raja-raja tetangga.
Liu Fei tidak peduli dengan hal itu, ia merasa semua kerajaan berada di bawah pengaruh kekaisaran Han sehingga para raja tetangga yang akan tunduk kepada kekaisaran apalagi semua telah menyerahkan plakat sebagai tanda penyerahan total dari setiap bawahannya.
'Liu Fei benar-benar angkuh! Ck, sangat berbeda dengan Liu Bei. Um, jendral panglima dingin itu sedang apa ya?' benak Xiao Ling, ia mengingat Liu Bei dan ingin tahu kabarnya.
__ADS_1
Xiao Ling tidka menduga jika dirinya malah mengingat jendral muda dan pangeran kedua dari kekaisaran Han yang memiliki pesona yang sangat luar biasa. Xiao Ling merasa jika Liu Bei memiliki kharisma yang sangat luar biasa berbeda dari Liu Fei.
"Xiao'er … bisakah kamu mengatakan bagaimana keadaan calon permaisuri masa depanku? Aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya.
"Ayahanda Kaisar mengatakan, 'Jika Jendral Jia Li sangat cantik,' benarkah demikian?" tanya Liu Fei.
Deg!
Jantung Xiao Ling tercekat ia pun terdiam tidak menyangka akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Liu Fei mengenai dirinya.
'Jadi, Putra Mahkota hanya tertarik dengan kecantikan? Bukan kualitas yang dimiliki seorang wanita? Ck, Malang sekali!' benak Xiao Ling mendesis pelan dan tidak ketara.
'Pantas saja, dirinya terjebak pernikahan dengan wanita sekelas Sarnai. Dasar lelaki hidung belang, ia pasti tidak bisa menemuka wanita yang bisa meluluhkan hati dan keegoisannya selama ini,' batin Xiao Ling.
Xiao Ling mulai mengukur setiap perkataan yang diucapkan oleh Liu Fei, Xiao Ling merasa jika Liu Fei terlalu naif mengenai urusan perempuan dan cinta.
'Padahal mereka hanya butuh satu wanita yang luar biasa sebagai tiang negara di dalam rumah tangganya untuk selalu mendukung mereka untuk maju,' benak Xiao Ling.
Xiao Ling merasa miris dengan keadaan para wanita pada zaman tersebut di mana wanita hanya digunakan dan dimanfaatkan sebagai alat pemuas dan tujuan sesuatu yang diinginkan bagi mereka yang memiliki kekuasaan.
"Um, ampun Yang Mulia, kecantikan itu relatif, setiap wanita pastinya cantik bukankah kodratnya demikian?" ujar Xiao Ling, ia ingin meluruskan apa yang sedang dipikirkan oleh Xiao Ling.
Liu Fei memandang ke arah Xiao'er dan tersenyum, "Hahaha, kamu benar! Wanita pada dasarnya semua cantik tapi, ada yang lebih dari semuanya.
"Kamu benar, kecantikan itu relatif! Aku hanya penasaran dengan jendral Jia Li karena kekuatan dan kehebatannya yang dimilikinya selain ia juga cantik," ujar Liu Fei pelan.
__ADS_1
Liu Fei selama ini tidak begitu peduli selama dirinya di istana tetapi semenjak ia keluar dari istana kekaisaran ia merasa jika sepak terjang jendral Jia Li begitu dielu-elukan bagi semua orang terutama penduduk Han.
Bahkan, musuh pun begitu memuja dan membencinya bak dua mata koin yang bersisian. Hal itu membuat Liu Fei semakin penasaran mengenai calon permaisuri masa depannya.
"Um, saya rasa melihat sepak terjang Nona Jia Li, ia lebih senang menghabiskan diri sendirian di perbatasan. Kemungkinan, ia hanya bermimpi untuk menghabiskan masa tuanya di salah satu desa dengan pasangannya hanya sebagai petani," balas Xiao Ling, ia ingin menyampaikan apa yang diinginkan oleh seorang Jia Li yang sederhana.
"Apa?! Dia hanya ingin hidup di sebuah desa? Hahaha, aku tidak percaya dengan semua itu!" tegas Liu Fei, ia tak percaya jika impian seorang jendral hebat itu hanyalah sebagai petani biasa.
"Ya, begitulah adanya Yang Mulia. Nona jenderal tidak begitu menginginkan semua itu, meskipun ia harus terjebak di semua kemasyhuran yang tak pernah terbayangkan olehnya," balas Xiao Ling.
Xiao Ling berdiri memandang ke depan kepada semua prajurit Donglai yang masih berjaga di sekitar mereka.
"Apakah kamu bisa menjamin jika Jia Li, tidak akan menggunakan kekuatannya untuk melakukan kudeta?" selidik Liu Fei, ia melirik kepada Xiao Ling.
"Ampun Yang Mulia, saya rasa tidak! Ia sudah lelah dengan pertempuran dengan segudang luka yang dideritanya.
"Apalagi, ia pun sudah semakin berumur, ia hanya ingin hidup dengan ketenangan dan menghilang suatu saat nanti!" ujar Xiao Ling, ia yakin akan hal itu.
'Aku rasa jika aku kembali ke duniaku, kemungkinan jiwa Jia Li akan kembali tapi, bagaimana jika Jia Li pun sebenarnya sudah mati? Apakah jiwanya tertukar denganku di duniaku sana?' benak Xiao Ling, ia berusaha untuk mencari jawaban yang tak pasti.
Xiao Ling termenung, ia tak menduga terlalu berat apa yang sedang dirasakannya. Liu Fei menatap kepada Xiao Ling, ia merasa jika bawahan Jia Li memiliki kerumitan dan rahasia yang sulit untuk dijelaskan dengan nalar.
"Apakah kamu bisa melukis?" tanya Liu Fei, ia ingin tahu.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa!" balas Xiao Ling jujur, 'mengapa Liu Fei bertanya demikian?
__ADS_1
'Apakah dia ingin aku melukis wajah Jia Li? Mampus aku! Dia pasti akan tahu jika dirinya pernah bertemu dengan Jia Li,' benaknya galau.