
"Baik Yang Mulia!" jawab semua orang langsung melakukan titah pangeran kedua Han tersebut, mereka langsung mengubah formasi dengan mengelilingi kereta Liu Fei.
Sedangkan Xiao Ling bergerak Langsung ke belakang kereta kuda Liu Fei, ia berjaga di sana sedangkan Lu Yan di barisan paling depan sedangkan Liu Bei di bagian tengah di depan kereta kuda Liu Fei.
"Berhati-hatilah! Kita memasuki jalanan curam lereng gunung!" teriak Liu Bei, ia memiliki firasat jika musuh akan menyerang mereka di sana karena letak jalanan yang sangat menguntungkan bagi musuh.
'Jika aku jadi musuh pun, aku pasti akan menggunakan jalan ini untuk menyerang dan menghancurkan musuh. Hm, apakah mereka berniat ingin membunuh Liu Fei atau ingin membebaskan tahanan?' benak Liu Bei, ia memiliki keyakinan akan hal itu.
'Aku harus melindungi Putra Mahkota Liu Fei sekaligus para tahanan ini. Jika tidak akan sulit bagi Jia Li untuk bebas ke mana pun,' benaknya.
Liu Bei melirik ke belakang di mana ia melihat Xiao Ling telah berada di bagian belakang berjaga di sana, 'Jia Li memang seorang jendral yang sangat bisa diandalkan!' puji Liu Bei.
Sedangkan kereta yang membawa para tahanan tepat di depan Xiao Ling, ia memiliki ide konyol dan sangat kejam yang bertentangan dengan kemanusiaan.
'Apakah itu diizinkan? Rasanya mengerikan! Aku sangat yakin jika para penyerang ini ingin membebaskan para tahanan. Um, jika aku memakai mereka sebagai pion untuk dijadikan sebagai tameng senjata ….
'Tapi itu sangat mengerikan dan melanggar hak asasi manusia. Tapi, mereka juga tidak pernah berpikir mengenai hak asasi tersebut,' benak Xiao Ling, ia hanya memiliki pikiran konyol tapi ia sendiri pun tidak berani melakukan hal itu.
Kuda mulai berjalan beriringan dengan santai dan seakan tidak terjadi apa pun. Mereka berjalan dengan diam dan Xiao Ling bisa memahami debar jantung para prajurit Han, ia seakan mendengar degupnya begitu cepat menanti serangan yang akan terjadi selanjutnya.
Xiao Ling bersiap dengan bumerang di pinggang seandainya para penyerang akan menggunakan anak panah atau apa pun. Mereka berjalan menelusuri jalanan terjal di antara lereng gunung Kunlun yang cadas dan di sisi mereka ada jurang menganga yang mengerikan.
'Hadeh, jika tidak mati diserang senjata musuh maka, mati mengenaskan masuk ke jurang!' benaknya, ia melongok ke sisi jurang di kiri mereka.
Xiao Ling berusaha untuk mengukur seberapa dalam jurang tersebut, ia tidak menemukan jawaban karena ia hanya menemukan pepohonan dan hijau hutan di bawahnya.
'Semoga saja penyerang kali ini, bukanlah para pendekar tingkat tinggi. Jika mereka ikut serta, prajurit Han akan semakin kacau. Aneh, mengapa Liu Fei pergi ke luar istana malah ditemani prajurit rendahan begini?
'Mana lagi tidak menggunakan penyamaran. Dasar arogan! Ck, hidup dengan pria aneh ini pasti sangat menyulitkan sekali, aku jamin itu!' benaknya, ia masih berpikir dan tersenyum lucu membayangkan Liu Fei di dalam sebuah kartun animasi berkepala botak.
__ADS_1
Gluduk! Gluduk!
Suara kencang dan berat juga getaran dari bumi yang mereka pijak serta dinding gunung Kunlun seakan bergetar.
Ngik! Ngiiik!
Kuda mulai panik akibat sernagan mendadak dan mengguncangkan bumi.
"Awas, serangan hujan batu!" teriak Liu Bei, ia langsung melesat dari kuda yang ditunggangi menarik tongkat besi Shaolin miliknya di sisi pelana kuda dan memukulkannya dengan cepat ke arah bongkahan batu yang mulai bergelinding berjatuhan sengaja dijatuhkan musuh dari atas lereng gunung yang tinggi.
Liu Bei berusaha untuk menyelamatkan para prajurit dari serangan batu-batuan yang berhamburan melayang dari atas lereng gunung Kunlun menyerang mereka di bawah.
'Bajingan! Batu-batu ini begitu besar!' umpat Xiao Ling, ia pun mau tidak mau melesat mengikuti apa yang dilakukan Liu Bei dengan menebas batu dengan kekuatan pedang miliknya.
'Aku tidak mungkin menggunakan bumerang, bisa-bisa bumerang ini malah membunuh teman sendiri,' batinnya, ia terus berusaha untuk melepaskan diri dan melindungi semua orang.
Gretak! Keretak! Gratak!
"Dasar kurang ajar!" umpat Xiao Ling marah, ia langsung melesat berusaha untuk menyelamatkan Xu Zhu Ping. Ia tak ingin jika Xu Zhu Ping akan tewas sebelum diadili semua kesalahannya.
Trang! Trang!
Pedang Xiao Ling berusaha untuk menebas dan mematahkan serangan anak panah sekaligus bebatuan yang terus menggelinding ke arah mereka.
"Hei, Wanita Iblis! Lepaskan totokan ini. Aku akan membantumu!" teriak Xu Zhu Ping, ia merasa jika musuh bukan ingin menyelamatkan dirinya melainkan ingin membungkam mulut mereka semua agar tidak sampai ke pengadilan Kekaisaran Han.
"Apa?! Apakah kata-katamu bisa dipercaya, Xu Zhu Ping?!" teriak Xiao Ling, ia masih berusaha melindungi tawaran dari anak panah dan hujan batu.
Xiao Ling menebaskan pedang ke sana kemari sambil berjumpalitan di atas batu dan menghancurkan dengan tenaga dalam melalui kaki dan pedang di tangan.
__ADS_1
"Percayalah kepadaku! Aku akan menolong kalian! Aku bersumpah demi matahari! Jika aku berdusta maka Dewa akan menghukumku!" teriak Xu Zhu Ping, ia melihat sebagian temannya sudah tewas dengan cara mengenaskan.
'Bajingan selir Sarnai dan Qin Chin Kun pasti berniat ingin membungkam mulut kami! Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi!' geram benak Xu Zhu Ping, ia tidak menyangka akan dikhianati oleh temannya sendiri.
"Baiklah!" ujar Xiao Ling, ia tidak berpikir panjang.
Xiao Ling tidak ingin jika nyawa yang begitu berharga dan tidak bisa diperjualbelikan akan lenyap begitu saja.
"Setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua di dalam hidup meskipun, ia seorang penjahat sekalipun!" Itu adalah motto hidup Xiao Ling sebagai seorang pengacara.
Xiao Ling berusaha mencapai kurungan di mana Xu Zhu Ping duduk diam, akan tetapi anak panah dan batu semakin gencar menyerang kepada Xiao Ling seakan melarangnya untuk menyelamatkan Xu Zhu Ping.
Ia terlambat untuk menyelamatkan Xu Zhu Ping yang sudah terpanah hingga sekujur tubuhnya hak sebuah tameng.
"Aaa!" teriak kesakitan Xu Zhu Ping, kala anak panah menembus tubuhnya.
"Xu Zhu Ping! Bertahanlah!" teriak Xiao Ling, di antara serpihan batu dan serangan anak panah.
"Maafkan aku …!" lirih Xu Zhu Ping sebelum ia meregang nyawa karena anak-anak panah telah menancap di tubuhnya begitu juga dengan kaki tangan teman mereka.
'Bajingan! Jadi, mereka sengaja ingin membunuh Xu Zhu Ping begitu? Kemungkinan mereka tidak ingin jika pengadilan akan menyelidiki siapa dalang di balik semua insiden ini begitu?' benak Xiao Ling.
"Xu Zhu Ping … Aaa!" teriak Xiao Ling, ia benci kepada kehidupan di mana kini dirinya berada.
Sementara ringkikan kuda yang ketakutan dan kebingungan semakin membuat kekacauan lain lagi kusir langsung terjatuh akibat tubuh kuda yang tertimpa batu hingga kuda terperosok ke jurang.
"Kakak?!" teriak Liu Bei, ia melesat secepatnya berusaha menarik tangan Liu Fei yang bergelantungan di bibir jurang dan langsung bisa diselamatkan.
"Jendral Lu Yan! Bawa Putra Mahkota dari sini! Kita akan bertemu di Luoyang!" teriak Liu Bei, ia berusaha mencari jalan, untuk menyelamatkan Liu Fei yang sudah ditarik daei bibir jurang.
__ADS_1
"Kakak pergilah!" ujar Liu Bei.
"Bagaimana denganmu?!" teriak Liu Fei, ia sudah naik ke punggung kuda bersama Jendral Lu Yan.