
"Iya, nama penyakitnya adalah amnesia. Orang yang lupa ingatan disebut amnesia, begitu?" ujar Xiao Ling, ia tersenyum menatap ke arah Liu Bei yang masih mengawasi wajahnya.
"Lalu, apakah kamu mengingat pasukanmu?" tanya Liu Bei, ia ingin tahu.
Liu Bei merasa apa yang dikatakan oleh jendral cantik di depannya adalah sesuatu hal yang sangat tidak masuk akal. Walaupun demikian, ia berusaha untuk mempercayai apa yang dikatakan gadis cantik dan tangguh tersebut.
"Ya, aku hanya mengingat ke-20 orang anak buahku saja! Memang ada apa?" tanya Xiao Ling, 'itu pun karena Lin Wei dan Zhaozhao yang saban hari memberitahukan segalanya,' benak Xiao Ling.
Xiao Ling sedikit bersyukur dengan adanya kedua bawahannya yang sangat luar biasa hebat dan jujur juga memegang rahasia yang sangat luar biasa.
Xiao Ling tidak tahu jika jendral Jia Li dan ke-20 anggotanya telah bersumpah dengan darah untuk saling melindungi hingga ajal menjemput. Siapa pun yang berkhianat maka, hanya kematianlah sebagai hukumannya.
Liu Bei terdiam menikmati dan mencerna semua apa yang dikatakan oleh jendral hebat tersebut.
Suara derap langkah kuda dari kejauhan terdengar, keduanya saling pandang dan langsung melesat mencari asal muasal suara. Mereka berdiri di atas dahan pohon rindang dan bersembunyi mengintai apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah itu pasukan Donglai?" tanya Xiao Ling, ia masih buta akan warna dengan pakaian yang dikenakan oleh musuh.
"Um, bukan! Itu pasukan kerajaan Qin," lirih Liu Bei, ia merasa Qin benar-benar bekerja sama dengan pasukan Donglai.
"Pasukan Qin? Oh," balas Xiao Ling, ia merasa tubuhnya bergetar marah seakan telah terjadi sesuatu dengan jendral Jia Li kala melihat seorang pria di atas pelana kuda di barisan paling depan.
"Um, Liu Bei … apakah kamu tahu siapa pria itu?" bisik Xiao Ling, ia menoleh bersamaan dengan Liu Bei yang menoleh hingga keduanya saling bersitatapan dengan bibir yang saling menempel.
Keduanya hanya tertegun tidak ingin bersuara karena derap langkah kuda pasukan Qin sudah melintasi pohon di mana mereka bersembunyi. Keduanya hanya diam menahan napas dan tak ingin bergerak bak patung.
Derap langkah kuda menjauh sehingga keduanya langsung menarik tubuh masing-masing dan melesat turun dengan diam. Xiao Ling menggigit bibirnya, ia masih merasakan rasa bibir Liu Bei di sana.
'Sialan! Mengapa selalu saja sih, kecelakaan terjadi antara aku dan Liu Bei? Phih! Najis!' benak Xiao Ling, ia semakin kesal.
__ADS_1
Xiao Ling mengusap bibirnya dengan punggung tangan secara kasar seakan ingin menghapus bayangan bibir Liu Bei di sana.
'Apakah Liu Bei di dunia modern sama gila dan mesumnya dengan pria ini?" batin Xiao Ling, ia penasaran.
'Syukurlah aku menolak dijodohkan dengannya! Tapi, bagaimana dengan Liu Fei? Apakah dia sana gila dan mesumnya dengan Liu Bei?
'Andaikan iya? Aduh, Malang sekali nasibku! Tidak di dunia nyata dan mimpi, aku malah terjebak di perjodohan. Lepas dari mulut singa masuk ke mulut keong racun!
'Ck, sampai kapan sih harus begini? Jia Li seharusnya kamu muncul dong!' lanjut batin Xiao Ling, ia berharap si pemilik tubuh akan hadir dan membuat jiwanya terlempar ke dunia nyata kembali.
"Jenderal Tan … aku … aku minta maaf, itu-" lirih Liu Bei, ia merasa tidak enak hati.
"Jangan khawatir! Aku merasa itu tidak disebut dengan ciuman! Itu … hanya menempelkan bibir pada dinding dan ya, anggap saja sedang terjadi kecelakaan!" sela Xiao Ling, ia merasa sakit hati jika Liu belakang meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka.
'Enak aja, si buaya darat ini minta maaf?! Setelah ia malah menyesap lidah dan menggigit bibirku! Phih!' umat batin Xiao Ling kesal dan mencoba menahan amarah dengan mengepalkan kedua tangan.
"Phih! Kau menganggap ciuman bibir milikku itu hanya sebagai …," ketus Liu Bei, ia merasa harga dirinya direndahkan dan dipertanyakan.
"Sementara rasa nikmatnya masih saja nempel di bibir dan kamu mengatakan hanya begitu saja? Tapi, aku merasa lidahmu dan lidahku dengan jelas saling membelit di dalam rongga mulut kita!" ketus Liu Bei, ia merasa tersinggung akan ucapan Xiao Ling.
Liu Bei marah, ia melesat dan menarik tengkuk Xiao Ling yang tidak menduga akan perbuatan gila Liu Bei yang kembali mendaratkan ciuman yang lebih panas di bibirnya.
"Apa yang kau lakukan ! Sialan!" gumam Xiao Ling di antara ciuman keduanya.
Namun, tak seorang pun yang berusaha untuk melepaskan ciuman tersebut, keduanya seakan ingin membuktikan jika ciuman itu hanya sebuah kecelakaan bagi Xiao Ling dan memaksa agar Liu Bei mengerti.
Sebaliknya Liu Bei ingin menunjukkan jika ciuman yang mereka lakukan begitu nikmat dan membara bukan hanya sekedar kecelakaan.
Xiao Ling dan Liu Bei lupa dengan masalah yang sedang mereka hadapi dan tujuan mereka ke Donglai. Masing-masing menunjukkan keegoisan hingga bergulingan di rerumputan hingga byur!
__ADS_1
Keduanya terjatuh ke sungai dan masih saja terus berciuman, 'Sialan! Apa yang telah kulakukan? Ini gila! Jendral Tan … adalah calon iparku?' batin Liu Bei, ia mulai tersadar kala dingin air sungai mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Liu Bei melesat ke luar dari dalam sungai dengan membawa Xiao Ling yang terhuyung seakan kehabisan napas terbuai oleh ciuman membara sang pangeran dinasti Han yang rada gila.
"Jia Li …," lirih Liu Bei, ia tidak tahu harus berkata apa pun lagi.
Liu Bei merasa untuk sekali ini ia tak ingin meminta maaf, baginya jendral Jia Li pun menikmati ciuman darinya. Xiao Ling menggelengkan kepala berusaha untuk berpikir secara logika dan mencerna apa yang terjadi.
Buk!
"DASAR KAMPRET?! Aaa!" teriak geram Xiao Ling, ia menendang Liu Bei yang tidak waspada hingga terjatuh di pinggir sungai.
"Woy! Aku bisa memerintahkan agar kau dihukum pancung!" umpat Liu Bei kesal.
"Masa bodoh! Apakah kamu tidak ingat, jika aku adalah calon iparmu? DASAR …!" geram Xiao Ling, ia merasa semakin hina dan rendah.
Keduanya hanya terdiam, Liu Bei menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya sehingga ia pun tidak ingin berdebat apalagi, bertarung.
Liu Bei hanya menarik napas sedalam-dalamnya, ia menatap ke arah jenderal Jia Li yang terdiam menatap ke air sungai yang mengalir.
"Jendral Tan, tadi … kamu bertanya soal pria yang tak lain adalah panglima tertinggi angkatan perang kerajaan Qin.
"Um, namanya Qin Su Yong. Apakah kamu mengingat sesuatu?" tanya Liu Bei, ia pernah mendengar jika jendral Jia Li yang mempertahankan benteng Suchang kala Qin Su Yong ingin memberontak.
Namun, pemberontakan itu gagal karena kehebatan jendral wanita tersebut yang hanya berjumlah 100 orang mampu menghalau 1000 orang pasukan Qin. Meskipun prajurit dan saudara seperjuangan jendral Jia Li hanya tersisa 20 orang bersama dirinya.
Sehingga kaisar Liu Bang memberi dan mengangkatnya sebagai jendral wanita pertama di kekaisaran Han dan memberinya kedudukan istimewa sebagai komandan tertinggi pengawal keamanan kekaisaran yang bergelar Bayangan Phoenix Merah bersama pasukannya.
Namun, Jendral Jia Li tidak ingin mengangkat anggota atau prajurit baru, ia hanya menjaga perbatasan seperti bayangan bersama ke-20 saudara seperjuangannya hingga kematian seperti sumpahnya, sebagai penghormatan terhadap 80 orang saudaranya yang telah gugur dan berkorban di perbatasan Suchang.
__ADS_1