
"Dasar Bajingan! Mereka salah apa? Apa salah para wanita dan anak-anak pada kalian, Bangsat!" cecar Xiao Ling, "aku … aku berusaha untuk menjaga integritas keamanan kekaisaran di perbatasan … tapi, kalian malah membuat segalanya menjadi kacau-balau!" kecam Xiao Ling.
Ia benci, ia marah, dan muak dengan sikap prajurit yang semena-mena terhadap rakyat yang telah memberikan kontribusi kepada Kekaisaran.
"Jika tidak ada rakyat Han maka, Kekaisaran tidak akan pernah ada! Tugas prajurit adalah memberikan rasa aman, bukan menjadi bara api ketakutan!" ujar Xiao Ling, ia merasa harga diri para penduduk tidak ada artinya di mata mereka.
"Hahaha! Hei, Perempuan! Kau … apakah kau tidak sabar untuk menunggu giliran kamu untuk ditiduri begitu?" ucap si pria.
"Hahaha! Dia ingin merasakan pisang kita, Tuan Pin ao!" sambut salah satu prajurit.
"Kau sudah tidak sabar ya, Sayang? Ayo, kemarilah!" ajaknya.
Ucapan penghinaan kalimat demi kalimat bak sembilu mengiris kalbu membuat darah Xiao Ling semakin bergemuruh murka, ia semakin tak bisa membedakan hitam dan putih segalanya semakin tak berwarna bagi Xiao Ling.
"Hyat! Ayo, nikmati permainan ini, Bangsat!" teriak Xiao Ling, ia sudah muak bicara dengan orang-orang bejat.
Kras! Kras!
Xiao Ling memutilasi tubuh prajurit tua dengan uban di sela rambut yang merasa paling hebat, tubuh prajurit yang bernama Pin Ao tersebut terpenggal satu per satu hingga menjadi serpihan bak kertas.
"Aaa!" teriak kebencian Xiao Ling bergema, ia memuntahkan amarah kepada Pin Ao dan bawahannya, ia tak lagi ingin menyelidiki siapa Pin Ao, ia tak lagi ingin berkompromi dengan tubuh Jia Li.
Jiwa Xiao Ling hanya menginginkan sebuah keadilan yang hakiki, bukan hanya sekedar kata dan janji bagi para penduduk Han. Ia benci, ia mengingat segala perjuangan Jia Li di perbatasan dan nyawa prajuritnya yang telah tewas, ia merasa menjadi orang yang paling dungu dipermainkan oleh kekuatan dan kekuasaan orang-orang sebagai petinggi Kekaisaran.
Byur!
Darah muncrat dari setiap tebasan membasahi wajah dan tubuh Xiao Ling, ia seperti bukan manusia melainkan seorang iblis yang berhati malaikat. Xiao Ling tak peduli lagi, ia bak iblis yang sudah harus darah.
Semua prajurit Han yang melihat hal itu terkesiap dan ketakutan langsung kabur. Akan tetapi, mereka semua kalah cepat dengan pedang Xiao Ling yang langsung menebas dengan kecepatan yang mengerikan membunuh semua musuh hingga tewas tak bersisa dengan tubuh tercerai berai tak dikenali lagi.
"Aaa!" teriak Xiao Ling, ia benci darah dan kini darah musuh telah membasahi sekujur tubuhnya, rasa mual dan alerginya lenyap seketika ia hanya menjerit bak serigala yang melolong menjerit pilu dengan kepedihan menggerogoti jiwa raga.
Xiao Ling masih mengangkat tangan kirinya di mana bumerang masih melayang mengitari tubuhnya seakan bak perisai mengerikan dengan pendar cahaya biru dari pedang terus bergulung menyelimuti tubuhnya yang sudah di ambang normal.
Xiao Ling mendesis murka dengan pandangan marah ke balik pepohonan rimbun, "Bajingan! Di sana kau ternyata biadab!" umpat Xiao Ling, ia langsung mengayunkan bumerangnya ke arah pepohonan menebas semua dahan dan ranting.
__ADS_1
Siluet tubuh mungil dari semak tebasan ranting dan dedaunan yang berserakan muncul akibat serangan bumerang Xiao Ling yang terus mendesak tubuh pria yang muncul ke permukaan.
"Hahaha! Akhirnya kau muncul juga, Zhu Tong!" umpat Xiao Ling, ia mengenali pria tersebut.
Pendekar nomor satu di dunia yang telah membuat seorang Xiao Ling menjadi iblis, "Rasakan ini!" teriak Xiao Ling marah, ia telah berulang kali mengampuni nyawa Zhu Tong tapi selalu digunakan untuk kembali menyerangnya dengan kejam.
Xiao Ling langsung melesat menyerang Zhu Tong yang kewalahan akibat tiga bumerang ditambah si pemilik yang kesetanan terus menyerang dirinya tanpa ampun.
'Sialan! Mengapa Jia Li semakin hebat?' batin Zhu Tong, 'aku harap Xu Zhu Ping secepatnya muncul!' batin Zhu Tong, ia merasa kewalahan dan tak lagi mampu bertahan.
Kras!
Xiao Ling berhasil melukai kaki Zhu Tong, "Aaa! Bajingan kau!" teriak Zhu Tong, ia tak menduga jika kaki sebatas lutut hingga mata kaki telah jatuh bergedebam di tanah terpenggal.
Zhu Tong melayang berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya akan tetapi, kembali tiga bumerang Xiao Ling malah telah memenggal kedua tangan dan kakinya.
"Aaa! Aaa! Bajingan! Dasar wanita iblis!" teriak dan kutukan Zhu Tong, ia tak menduga akan menemui ajal di tangan jenderal wanita iblis yang digelari olehnya sendiri.
"Bukankah kau yang memberiku gelar itu, Zhu Tong? Maka, kaulah korban pertama dari wanita iblis ini!" ujar Xiao Ling dingin.
Bruk!
"Sudah saatnya kau pergi ke neraka, Zhu Tong!" ujar Xiao Ling, ia tak lagi ingin memberikan pengampunan pada musuh bebuyutannya.
Kras!
Xiao Ling memenggal kepala Zhu Tong dengan dingin tanpa perasaan. Akan tetap, Xiao Ling langsung jatuh terduduk, ia menarik semua bumerang yang langsung mengikuti arahan kekuatan Xiao Ling melesat ke pinggangnya berkumpul di sana dengan anggun tanpa melukai sedikit pun tubuh Xiao Ling.
Bruk!
Xiao Ling terjatuh berlutut sambil bertumpu pada pedang menghadap serpihan mayat Zhu Tong yang tewas mengenaskan. Ia menangis dengan rasa yang sulit untuk dikatakan.
Semua rasa kecewa, penyesalan, dan sakit menyelinap memenuhi sekujur jiwa membasuhnya dengan rasa yang tak pernah dirasakan selama ini. Kerinduan dan kebencian menjadi satu menempa jiwanya semakin kacau, Xiao Ling tak lagi mengenali di mana dirinya berpijak.
"Papa … maafkan aku! Aku telah menjadi pembunuh …," lirih Xiao Ling, ia menengadah ke langit dan percikan tetes darah musuh terus merembes membasahi wajah, rambut, dan tubuhnya.
__ADS_1
"Jia Li!" teriak Liu Bei, ia terlambat muncul karena menolong para warga yang terluka.
Liu Bei tak menduga jika musuh terbabat habis dengan tubuh tak lagi utuh, baju putih yang dikenakan Jia Li telah berganti menjadi merah semerah darah, akibat darah musuh yang sudah mewarnai baju putih bersih yang dikenakan olehnya.
Liu Bei terperanjat menatap Jia Li yang sesenggukan menangis sambil bertumpu pada pedangnya. Kedua tangannya mencengkeram pedang dengan erat dan ia tak ingin melihat ke arah Liu Bei lagi.
Xiao Ling merasa malu karena telah menjadi iblis, ia tak ingin luluh kembali hancur dan semakin jatuh tak tertolong menatap wajah dingin tersebut, ia merasa berdosa dan tak ingin menyeret Liu Bei semakin dalam akibat ulahnya.
"Yang Mulia, maafkan aku! Jia Li sudah mati! Katakan pada semua orang aku telah tewas malam ini!" teriak Xiao Ling, "aku bukan lagi jendral Jia Li.
"Aku adalah pendekar wanita iblis! Aku telah memutuskan untuk tidak kembali ke Chang An dan kekaisaran Han! Maafkan aku! Tolong urus semua prajuritku!" teriak Xiao Ling bergema dan menjauh.
Xiao Ling melesat bak angin, ia kabur menembus malam dan memutuskan untuk menjadi pengembara selamanya.
***
Awal mula munculnya, pendekar wanita iblis di dunia persilatan yang dingin dan gila. Xiao Ling berubah menjadi wanita iblis yang membela kebenaran dan tidak memandang status apa pun, ia terus bergerak di dalam bayang-bayang kegelapan.
Meninggalkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Liu Bei, Xiao Ling yang tak pernah ingin menjadi seorang ratu atau permaisuri kekaisaran Han. Xiao Ling melanglang buana melintasi waktu dengan kesepian dan kesedihan berharap suatu hari ia mati dan kembali ke dunia modern.
"Aku akan menepati janjiku, Jia Li! Bukan, Xiao Ling," ujar Liu Bei, ia lebih damai memanggil Jia Li dengan sebutan Xiao Ling, dimana mereka pernah menjadi suami-istri di saat penyamaran.
Liu Bei terpaku menatap malam dan menepati janji pada jendral Jia Li, ia kembali ke Chang An melaporkan segalanya dan mengatakan, "Jika Jendral hebat Tan Jia Li telah tewas."
Masa berkabung dilalui kekaisaran Han selama sebulan penuh begitu juga dengan para prajurit yang ditinggalkan Jendral Tan Jia Li bergabung dengan Liu Bei menggantikan Jia Li menjaga perbatasan.
"Di manakah kamu berada Xiao Ling?" lirih Liu Bei, ia selalu mengingat senyum manis wajah cantik Xiao Ling.
Liu Bei Merakan kerinduan yang tak pernah diimpikannya selama ini, ia begitu kehilangan wajah lembut dengan senyum kekanak-kanakan dan setegas juga sekaku pohon kala amarah memuncak.
***
Berbeda dengan Liu Fei yang masih tak percaya dengan kematian Jendral Tan Jia Li, ia merasa semua itu hanyalah kamuflase yang sengaja diciptakan oleh Liu Bei dan Tan Jia Li yang meninggalkan dirinya di perbatasan Donglai.
Prang!
__ADS_1
Liu Fei membanting apa saja yang ada di kamarnya, "Bohong! Itu tidak benar!" ujar Liu Fei, ia berulang kali membaca pesan yang dibawa kurir utusan kaisar Liu Bang.