Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Pangeran dingin vs jendral cantik cerewet


__ADS_3

Namun, di saat Xiao Ling ingin memukul dan menyerang Liu Bei, keduanya mendengar langkah kaki seseorang, mereka melihat Saray memasuki tenda membuat Liu Bei dan Xiao Ling langsung berpura-pura saling menggenggam tangan dengan duduk di sisi tempat tidur.


"Sayang … bagaimana dengan barang dagangan kita?" tanya Xiao Ling berpura-pura dengan tatapan penuh cinta.


'Huek, muntah! Sayang-sayang dari Hongkong!' benak Xiao Ling, 'ck, ntah sampai kapan sandiwara ini berakhir,' lanjut benaknya.


"Aku harap saja, tidak terjadi apa pun, Sayang …," balas Liu Bei, 'hadeh! Siapa juga yang mau punya istri seperti ini?' pikinya, ia sama sekali tidak berharap jika Jia Li atau siapa pun yang mirip dengannya akan menjadi istrinya kelak.


'Punya istri begini, bisa mati cepat!' benaknya, ia merasa jika jendral Jia Li adalah istri bertangan besi dan bukan idamannya.


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Saya sudah mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan Tuan Shunyuan ingin bertemu dan makan bersama dengan Anda berdua di tendanya," ujar Saray, ia sedikit membungkuk.


"Tuan Shunyuan?" tanya Liu Bei, ia tidak mengenalnya.


"Apakah dia kepala suku di lembah Orkhon ini?" tanya Liu Bei, ia ingin tahu.


"Iya, Tuan! Tuan Shunyuan baru kembali dari Karakorum (Ibu kota Mongol pada masa itu) untuk melaporkan semua kejahatan yang dilakukan oleh perampok yang selalu menyamar menjadi prajurit Mongol maupun Donglai," ucap Saray.


Saray sedikit membungkuk dan meletakkan tangan di dada, "Lagian, sudah waktunya kita makan malam," ujarnya.


"Oh, baiklah! Kami akan datang memenuhi undangan Tuan Shunyuan," jawab Liu Bei dan Xiao Ling dengan meletakkan tangan kanan di dada sebagai rasa hormat kepada kepala suku di lembah Orkhon.


'Syukurlah, pada akhirnya bisa makan juga!' batin Xiao Ling bahagia, ia sudah menanti berjam-jam hanya untuk makan.


***


Liu Bei dan Xiao Ling telah tiba di sebuah tenda yang sangat luas dengan beberapa dayang juga istri dari kepala suku Shunyuan juga pengawal.


"Selamat datang di suku Elang Tuan dan Nyonya Liu!" ujar Shunyuan, ia pun meletakkan tangan di dada yang langsung dibalas Liu Bei dan Xiao Ling dengan cara yang sama.


"Terima kasih, Yang Mulia!" jawab Liu Bei dan Xiao Ling serempak.


"Jangan terlalu sungkan Tuan dan Nyonya! Saya malah berterima kasih karena pendekar berdua sudah menolong penduduk suku Elang di lembah Orkhon ini," ujar Shunyuan.

__ADS_1


Shunyuan sudah mendapatkan kabar penyerangan dan berusaha untuk pulang secepatnya bersama prajurit Mongol. Akan tetapi, mereka harus terhambat karena perjalanan yang cukup jauh dan serangan-serangan perampok di perjalanan.


"Kami hanya kebetulan lewat, Yang Mulia! Kemungkinan esok kami akan kembali ke Donglai, kami tidak tahu jalan menuju Donglai, jika dari sini," ujar Liu Bei.


"Besok saya akan memandu Anda tapi, saya tidak bisa mengantar Anda berdua hingga ke perbatasan," ujar Shunyuan, "mari, kita makan!" ajaknya.


Mereka makan sambil berbicara banyak hal mengenai lembah Orkhon, Liu Bei dan Xiao Ling undur diri untuk istirahat agar esok secepatnya bisa tiba di Donglai.


Xiao Ling memilih tidur di tempat tidur di lantai, ia tidak ingin bertengkar dengan Liu Bei. Xiao Ling merasa lelah, ia juga tidak ingin jika para prajurit dan orang-orang suku Elang mengetahui jika mereka bukanlah pedagang yang tersesat akibat badai pasir.


"Jia Li, tidurlah di tempat tidur. Bagaimanapun aku tidak ingin calon permaisuri di masa depan akan terserang encok!" sindir Liu Bei, 'selain Jia Li seorang wanita dia juga tunangan kakakku dan dia akan menjadi permaisuri Han kelak,' batin Liu Bei.


Liu Bei merasa ia harus melindungi calon permaisuri masa depan kekaisaran Han. Itu merupakan harga mati baginya sebagai seorang ipar dan panglima tertinggi penjaga keamanan kekaisaran Han.


"Tumben, Anda berbaik hati!" balas Xiao Ling, ia pun menyindir Liu Bei yang biasanya tidak mau mengalah kepadanya.


"Apakah seorang pangeran terbiasa tidur di lantai? Aku takut jika besok kutu-kutu dari permadani itu akan menggerogoti tubuh Anda dan menghabiskan banyak darah dari tubuh Anda yang sangat mahal itu!" cibir Xiao Ling.


Liu Bei menatap ke arah Xiao Ling dengan pandangan kesal, 'Wanita ini? Ya, ampun! Diberi hati malah makin ngelunjak!' benaknya semakin kesal.


"Apakah itu yang Anda inginkan Putri?" tanya Liu Bei, ia mencebikkan bibirnya.


"Phih! Menjijikkan!" umpat Xiao Ling, ia pun langsung menarik selimut dan tidur dengan memunggungi Liu Bei yang masih berdiri menatapnya sambil tersenyum.


Liu Bei langsung merebahkan tubuh di permadani yang terbuat dari kulit bulu beruang, ia masih menatap langit tenda. Ia melirik ke arah tempat tidur diana Jia Li memunggunginya.


"Jia Li …," lirih Liu Bei, ia memiringkan tubuh melihat siluet tubuh Jia Li yang miring kaku bak kayu.


"Aku sudah tidur!" ketus Jia Li, ia menjawab tanpa sadar.


"Oh, sudah tidur ya? Kenapa bisa jawab?" tanyanya.


"Aku … lagi bermimpi!" balas Xiao Ling tidak mau kalah.

__ADS_1


"Xixixi," Liu Bei tertawa geli.


"Eh, kau bisa tidur nggak sih?" umpat Xiao Ling ia memutar tubuh secepat kilat dan melemparkan bantal kepada Liu Bei yang langsung menangkap dan memeluknya.


"Jia Li … setelah dari Donglai, ayahanda pernah memintaku untuk membawamu pulang ke Chang An." Liu Bei menatap wajah Jia Li yang langsung mendadak pucat pasi.


"Aku … tidak mau! Tidak bisakah engkau memalsukan kematianku?" tanya Xiao Ling, ia masih merasa berat menikah dengan Liu Fei.


"Kenapa? Bukankah malah bagus jika kamu menikahi Liu Fei?" tanya Liu Bei, ia masih tidak mengerti.


Xiao Ling hanya diam, "Ssttt! Diamlah … ada yang menuju ke mari!" bisik Liu Bei, ia langsung melesat dan berbaring di sisi Xiao Ling.


Keduanya berpura-pura tidur, "Tuan! Tuan! Jangan lupa matikan lampu! Musim kemarau terkadang sering terjadi kebakaran!" teriak seseorang dari luar tenda.


"Baiklah!" balas Liu Bei, ia langsung melemparkan sebuah anggur untuk memadamkan lampu.


"Mengapa kau tetap di sini? Pergilah ke tempat tidurmu?!" bisik Xiao Ling, ia merasa gerah karena Liu Beiakah sudah mendekap tubuhnya dengan erat.


"Sttt, apakah kau tidak mendengar jika para prajurit Mongol berkeliling dan berjaga-jaga di sekitar tenda kita? Aku merasa aneh dan curiga?" bisik Liu Bei.


"Apakah maksudmu mereka akan melakukan sesuatu kala kita tertidur?" tanya Xiao Ling berbisik.


Keduanya semakin saling merapat hanya pakaian di tubuh masing-masing yang memisahkan mereka.


"Aku tidak tahu! Tapi,sebaiknya kita waspada! Aku tidak mengerti mengapa Shunyuan begitu cepat kembali setelah perampokan usai," ujar Liu Bei, ia sedikit curiga.


Liu Bei mengingat obrolan mereka di mana Shunyuan bertanya banyak hal mengenai Luoyang dan kekaisaran Han juga tujuan mereka ke Donglai.


Xiao Ling terdiam, ia pun berusaha untuk mengingat setiap percakapan yang mereka lakukan saat di meja makan tadi.


Duar! Duar!


Suara meriam bergema dengan membakar tenda-tenda dan lumbung padi juga istal kuda juga kandang domba.

__ADS_1


Rakyat suku Elang berteriak berlarian ke sana kemari, para prajurit Mongol telah bertempur dengan pasukan pemanah dan kuda yang berusaha untuk menghancurkan Suku Elang.


"Yang Mulia! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xiao Ling, ia tidak ingin gegabah kali ini.


__ADS_2