Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
sepotong hati yang cemburu


__ADS_3

Liu Bei hanya menyipitkan mata ia merasa jika gadis di depannya bukan saja tidak sopan tapi rada gila dan tidak tahu malu. Liu Bei juga merasa jika jendral Jia Li selalu senang akan sebuah tantangan dan ingin berniat menggoda Liu Fei dan dirinya.


'Wanita ini mengerikan! Apakah dia sengaja dan merencanakan sesuatu? Apakah dia memang menginginkan dua kekuatan yang berasal dari diriku dan putra mahkota di dalam jiwanya begitu?' batin Liu Bei, ia mulai menebak-nebak jalan pikiran jendral Jia Li yang lebih mirip penggoda.


"Apakah kamu tidak puas setelah menggoda suamimu saja? Tak perlu menggoda adiknya juga!" ujar Liu Bei kesal, ia merasa jika Li sengaja menaburkan jaring di lautan lepas untuk menjaring semua ikan agar masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan olehnya.


"Hah?! Hahaha, hm …," balas Xiao Ling berpura-pura berpikir sejenak.


"Masa sih? Perasaan aku sama sekali tidak berniat untuk menjerat salah satu dari kalian," jawab Xiao Ling, ia memang tidak memiliki niat apa pun.


"Oh, ya?! Heh!" cibir Liu Bei, ia merasa apa yang dikatakan oleh Jia Li bukanlah sebuah kebenaran ia tidak bisa percaya begitu saja.


"Tidak ada seorang penjahat akan mengakui kejahatannya begitu mudah, bukan? Apalagi, penjahat cinta?" sindir Liu Bei, ia merasa wanita di depannya begitu mudah menjerat seorang pria dan meninggalkannya begitu saja setelah bunga cinta bersemi indah.


"Apa? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" balas Xiao Ling, ia merasa jika Liu Bei cemburu buta sekaligus salah menafsirkan setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya.


"Apakah kamu merasa aku telah menggoda kalian berdua begitu? Aku sama sekali tidak merasakan hal itu? Mungkin bagi kebanyakan wanita kalian berdua adalah yang luar biasa. Tapi, tidak bagiku!" tegas Xiao Ling.


"Phih! Itu tidak akan mungkin. Aku tidak percaya!" tegas Liu Bei mencibir. 


Ia benci harus mengakui jika dirinya pun sudah terjerat dan tergoda oleh senyum, kepribadian, juga kepintaran serta segala yang dimiliki Jendral Jia Li bak sebuah paket komplit yang tak bisa dicerna oleh akal pikirannya.


"Hahaha, kenapa? Kamu nggak percaya gitu? Emang gue pikirin!" ujar Xiao Ling dengan gaya di zaman modern yang membuat Liu Bei, mengerutkan kening.

__ADS_1


"Eh, hm … apakah kita tidak sebaiknya pergi menyelinap ke istana Donglai begitu? Aku masih penasaran ada apa dan bagaimana tujuan yang sebenarnya.


"Aku penasaran mengapa putra mahkota Liu Fei dan banyak raja dari kerajaan lain berkumpul di istana Donglai?" ucap Xiao Ling, ia ingin tahu.


"Heh! Bukan karena kamu ingin mengejar calon suamimu?" sindir Liu Bei, lagi-lagi ia merasa cemburu meskipun ia tak ingin mengakui semua itu.


"Apa?! Kamu gila! Jika kamu keberatan ya, sudah tidak usah? Sebaiknya aku mencari ke-20 orang keluargaku yang hingga kini ntah di mana," balas Xiao Ling, ia merasa lebih baik jika dirinya berjalan sendirian daripada bersama pangeran yang cemburu buta.


Liu Bei menatap ke arah Jia Li, ia merasa jika jendral di depannya akan lebih senang bepergian sendirian daripada bersama dengannya. Liu Bei menarik napas dan tidak ingin mereka terpisahkan.


"Sudahlah! Ayo, kita menyusup ke istana?" ujar Liu Bei, ia mengalah.


"Um, kita menyamar sebagai apa?" tanya Xiao Ling, ia tak ingin jika dirinya akan salah kaprah dan ia masih enggan bertemu dengan Liu Fei.


"Um," balas Liu Bei, ia menatap kepada Xiao Ling, ia juga sedikit bingung peran apa yang cocok bagi mereka berdua.


"Biasa sebagai suami istri saja!" balas Liu Bei, ia pun tak begitu mengerti caranya menyusup ke sana dengan mudah.


Namun, ia bisa saja dengan mudah menemui Liu Fei sang kakak atau jendral Tan Yu Ji agar memasukkan mereka ke istana Donglai sebagai pengawal utusan dari kekaisaran Han.


Akan tetapi, Liu Bei tak ingin jika Liu Fei dan Jia Li akan bertemu. Ia mengingat kala seseorang pria menyelamatkan jendral Jia Li dari banteng yang mengamuk, Liu Bei merasa khawatir dan tidak menduga jika Liu Fei-lah yang menyelamatkan Jia Li hingga ia pun mengurungkan niat untuk menyelamatkan jendral cantik tersebut.


Liu Bei mengingat jika hatinya merasa perih menyayat kalbu, ia tak menduga jika Liu Fei yang telah menyelamatkan calon istrinya di masa depan. Ia sendiri tidak mengerti ada lubang kosong yang menganga di jiwanya kala Liu Fei memeluk tubuh Jia Li.

__ADS_1


"Um, apakah kamu ingin bertemu jendral Tan Yu Ji?" selidik Liu Bei, ia ingin tahu.


"Apa?! Tan Yu Ji siapa?" tanya Xiao Ling tidak tahu, ia merasa tak mengenal siapa pun di dunia mimpinya selain ke-20 orang anak buahnya yang hingga kini ntah di mana terdampar.


Xiao Ling merasa khawatir, 'Apakah mereka tidak selamat? Mengapa hingga kini aku tidak bertemu dengan mereka?' benak Xiao Ling, ia mengingat ke-20 anak buahnya.


Liu Bei memandang kepada Jia Li dengan tatapan masih tidak percaya, 'Apakah Jia Li tidak juga mengingat saudaranya?' benak Liu Bei.


"Hei, mengapa kamu malah melihatku demikian? Sungguh aku tidak mengingat siapa Jendral Tan Yu Ji?" sela Xiao Ling, ia membuyarkan lamunan Liu Bei.


'Tan Yu ji … Tan … apakah ada hubungannya denganku?' batin Xiao Ling penasaran, ia mengingat nama marga keluarga yang sama dengannya dan mulai berpikir tentang hubungan itu.


"Apakah …?" lirih Xiao Ling, ia tak mampu untuk meneruskan kalimatnya, ia takut jika salah menafsirkan apa yang ingin dikatakan olehnya adalah sebuah kebenaran yang akan membuatnya semakin kacau.


"Apakah kamu juga tidak mengingat adik lelakimu yang lain ibu?" tanya Liu Bei, ia semakin ngeri mengingat penyakit amnesia yang sedang diderita oleh jendral cantik tersebut.


"Apa?! Adik? Yang benar saja! Jadi, adikku juga seorang jendral?" tanya Xiao Ling, 'inilah yang aku takutkan! Lebih baik aku mengembara di dunia persilatan yang tak memiliki hubungan dengan siapa pun.


'Jika begini, bagaimana coba? Apa yang harus aku lakukan? Jia Li … mengapa jiwamu tidak kembali juga sih? 


'Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak mengenal Tan Yu Ji?' benak Xiao Ling semakin galau dan kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Eh, Liu Bei …," ujar Xiao Ling, ia memutar posisi duduknya menghadap pangeran tampan tersebut.

__ADS_1


Xiao Ling ingin mencari tahu siapa, bagaimana rupa dan sifat Tan Yu Ji yang notabene adalah adiknya. Xiao Ling semakin bingung harus bersikap bagaimana sedangkan tubuhnya tidak merespon apa pun selain sebuah ketegangan yang tengah melanda dengan sejuta keraguan dan keengganan untuk bertemu dengan Tan Yu Ji.


__ADS_2