
Setelah puas berkulat dua ronde di kamar mandi, Wulan dan Niko akhirnya bersiap-siap untuk ke kantor.
"Sayang, aku pengen sarapan bubur ayam," kata Wulan manja.
Niko mengangguk sambil mengelus kepala Wulan.
Saat ini mereka dalam perjalanan menuju kantor. Darius sebagai supir mengarahkan mobil menuju tempat yang disebutkan Niko.
Sebelum menikah sudah menjadi rutinitas Wulan untuk mampir ke warung bubur ayam langganannya dan Fanny.
Niko yang awalnya tak suka bubur pinggiran akhirnya ketagihan setelah diajak Wulan.
Mobil mereka pun berhenti di depan warung bubur paling enak dipinggiran kota. Wulan mengambil posisi pojok luar, di samping jendela. Darius berada tak jauh dari mereka, di meja yang lain. Sedangkan Niko duduk berhadapan dengan sang istri tercinta.
Wulan senang melihat aktivitas pagi hari di tempat bubur yang suasananya begitu ramai oleh pengunjung.
"Selamat pagi. Mau pesan apa, Pak, Bu?" tanya si pelayan.
"Aku bubur ayam komplit satu sama teh panas, ya."
Niko terkejut. "Tumben Sayang makan bubur komplit."
"Lagi suka aja."
Pelayan menatap Niko. "Bapak ingin pesan apa?"
"Sama dengan istri saya."
"Baik," si pelayan membaca kembali menu pesanan mereka, "Itu saja Pak, Bu?"
"Iya."
Begitu pelayan pergi Niko menatap Wulan. Ekspresinya bingung, membuat Wulan terkikik-kikik.
"Kamu kenapa, kenapa menatapku seperti itu?"
"Biasanya kamu tidak mau bubur ayam komplit. Kenapa sekarang kamu ingin memakannya?"
Sebelum menikah Wulan sering makan di warung itu, tapi pesanannya selalu bubur ayam biasa. Ia paling tidak suka kuah kaldu bubur tersebut, karena menurut Wulan rasanya aneh.
Jelas sebagai suami Niko terheran-heran melihat istrinya yang tiba-tiba ingin menikmati kuah tersebut.
Setelah sarapan bubur selesai, Niko mengantar Wulan ke kantornya. Sebelum turun ia tak lupa mencium pipi kanan, kiri, dahi, serta bibir istrinya.
"Sore aku jemput, ya? Darius sudah buat janji dengan dokter."
Wulan mengangguk.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku," kata Niko, "Kalau ingin makan apa pun beritahu aku."
Wulan menyipitkan mata. "Kenapa kamu tiba-tiba perhatian sekali?"
"Salah aku perhatian pada istriku sendiri?"
Wajah Wulan merah padam. "Ya sudah, aku masuk dulu. Kabari aku kalau sudah di kantor."
__ADS_1
"Iya, Sayang."
Niko mencium Wulan lagi kemudian menyuruhnya masuk. Setelah memastikan istrinya masuk, ia menyuruh Darius menjalankan mobil.
"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan istriku, Darius?"
"Dari sikap memang tidak biasanya. Tapi, dari postur tubuh, sepertinya nyonya naik badan, Tuan."
Niko merasakan hal yang sama. "Semalam Inem bilang padaku Wulan sedang sakit. Aku mendapati dia tidur dengan botol minyak angin di tangannya. Wajahnya juga pucat. Tapi begitu aku tanya padanya dia tidak mengaku."
"Mungkin nyonya tidak ingin membuat Anda khawatir, Tuan."
"Aku sudah membujuk Inem untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata Inem semalam mengeluarkan semua isi perutnya begitu dia tiba di rumah."
"Apa nyonya merasa pusing, Tuan? Sudah tepat pilihan Anda untuk pergi ke dokter. Dari gejala yang disebutkan Inem, bisa saja nyonya sedang hamil."
"Hamil?" perasaan dan ekspresi Niko menjadi senang, "Apa benar istriku hamil, Darius?"
"Dari gelaja besar kemungkinan iya, Tuan. Untuk kepastian, kita tunggu saja hasil dokter nanti."
Mobil mereka pun tiba di Bebbi Group. Niko turun diikuti Darius di belakangnya. Begitu mereka tiba di lantai atas milik ruangan Niko, pria itu hanya mengangguk ketika Imenk memberikan salam kepada mereka.
Masalah kapan hari Niko tak ingin memperpanjang. Ia tak butuh penjelasan dari Imenk karena menurutnya itu tidak penting. Selama Wulan tak marah dan mengungkit masalah itu, Niko anggapa kejadian itu tidak terjadi.
Niko sudah memperingatkan Darius untuk tidak menyuruh Imenk masuk ke ruangannya lagi. Sekalipun darurat apa pun, ia tak mau wanita itu masuk ke ruang kerjanya dan berbuat masalah seperti kemarin. Ia tak mau hal itu terulang, apalagi sampai menyakiti istrinya.
Begitu duduk Niko menatap Darius yang sedang menghidupkan laptop. "Apa sebaiknya aku sudahi saja kerjasamaku dengan Gloriana? Aku takut terjadi apa-apa pada Wulan."
"Menurut saya juga demikian, Tuan. Untuk kesetiaan dan ketulusan, saya rasa Anda tak perlu meragukan nyonya. Buktinya selama Anda lebih memilih wanita lain Nyonya Wulan tak mempermasalahkan."
"Kamu benar, Darius. Caraku ini memang konyol, tapi aku senang melihat istriku cemburu."
Niko tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu kamu hubungi Gloriana, suruh dia ke sini, aku ingin biara dengannya."
"Baik, Tuan."
Di sisi lain Wulan sedang menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Fanny.
"Tidak salah lagi, kamu pasti hamil. Apa suamimu tahu soal ini?"
"Aku tidak menceritakan secara detail. Tapi, dia curiga ... dia mendapati botol minyak angin di tanganku saat tidur dan wajahku pucat."
"Terus apa katanya?"
"Dia sudah menyuruh Darius membuat janji dengan dokter. Sore ini kita berdua akan ke sana."
"Baguslah kalau begitu, sudah tugasnya sebagai suami untuk hal-hal demikian."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu ruangan yang terbuka membuat Wulan dan Fanny menoleh. Mereka sama-sama tersenyum dan menyapa sosok yang tersenyum kepada mereka.
"Selamat pagi, Pak Deril."
"Selamat pagi, Pak."
__ADS_1
"Pagi, pagi. Maaf sudah mengganggu. Sepertinya kalian begitu serius," canda Deril. Ia sempat melihat kedua wanita itu begitu serius di depan komputer mereka.
Mereka berdua hanya tersenyum.
"Aku ingin memberikan ini spesial untuk kalian," Deril menyondorkan dua undangan kepada Fanny dan Wulan, "Aku harap kalian hadir, Viona ingin sekali kalian datang."
Fanny dan Wulan terkejut. "Besok malam?" kata mereka bersama, "Bukannya kemarin Bapak bilang ...," lanjut Wulan.
Fanny mengangguk, menunggu jawaban.
"Mamaku tak mau menundanya lagi. Selama Viona tak keberatan, aku setuju saja. Lagi pula semua sudah siap. Pestanya juga rahasia. Jadi, tidak perlu banyak mempersiapkan segala sesuatu."
Wulan tersenyum. "Akhirnya Bapak akan meninggalkan masa lajang. Wah, selamat ya, Pak."
Deril tersenyum malu. "Terima kasih, ya. Jangan lupa datang, ya?"
"Kami pasti datang kok, Pak. Iya kan, Lan?"
"Iya, dong."
"Kalau begitu aku kembali dulu, ya."
Fanny menatap Wulan. "Apa Niko sudah tahu?"
"Aku belum cerita. Semoga saja besok malam dia tidak sibuk."
Fanny skeptis. "Bisakah aku mengajak Darius?"
"Kita berdoa saja, semoga besok mereka berdua tidak sibuk, agar bisa menemani kita ke pestanya Viona."
"Amin."
***
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Karena ada masalah dalam bisnis butiknya yang harus segera diselesaikan, Gloriana sedikit terlambat mendatangi gedung Bebbi Group milik Niko Lais.
Karena sudah pernah datang sebelumnya, Gloriana masuk tanpa hambatan apa pun. Namun, begitu ia mendekati pintu ruangan pimpinan Bebbi Group, Imenk dengan cepat segera menahannya.
"Maaf, ada yang bisa dibantu? Apa Anda sudah buat janji dengan tuan Niko?"
Gloriana ingin bersikap sopan. Namun, ia takut kalau kedoknya akan terbongkar. Niko dan dirinya sedang berakting untuk membuat istri pemilik perusahan itu sakit hati. Toh, tidak ada salahnya kalau karyawan itu mengadu ke istri Niko, bahwa suaminya punya selingkuhan.
"Kamu siapa, kenapa aku tidak melihatmu sebelumnya?" mata Gloriana sinis.
Imenk jengkel, tapi penasaran. Dalam hati ia berkata, "Siapa wanita sombong ini, ya? Kenapa dia begitu berani padaku?"
"Anda tidak perlu tahu siapa aku," jelasnya, "Itu tidak penting buat Anda, bukan?"
"Kata siapa tidak penting?" ketus Gloriana, "Aku pacar bos kalian. Wanita seperti kamu kan tampang-tampang penggoda. Jadi, aku harus memperingatkan pacarku, agar menjauhi wanita-wanita seperti kalian."
Imenk tercenang. "Pacarnya pak Niko? Hei, apa kamu tidak tahu kalau pak Niko sudah menikah?"
"Tentu saja sudah," balas Gloriana, "Maaf, aku tidak punya waktu denganmu. Aku sarankan kamu jangan coba-coba mendekati pacarku, ya."
Tanpa menunggu balasan wanita itu Gloriana masuk dengan langkahnya yang seksi.
__ADS_1
Imenk tersenyum. "Wah, ini akan menjadi episode menegangkan. Ulan, Ulan harus tahu soal ini."
Bersambung____