
"Tentu, dan om pasti sudah tahu apa yang ingin kubicarakan."
Nada yang terdengar tegas itu membuat Jefry menatapnya. Pandangannya terkejut, melihat Niko masih berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Ia bisa menebak apa yang ingin dibahas melaluo ekspresi Niko. Namun, ia berpura-pura tidak tahu, agar Niko tak mencurigainya. Bukan kah Niko tidak tahu kalau Jefry otak di balik meninggalnya Benny Irawan.
"Pasti tentang Wulan, kan? Om sudah mendengar berita itu dari mamanya. Ayo, duduklah dan kita bicara baik-baik."
Niko setuju sebagai bentuk penghormatan. Ia menarik kursi di depan, duduk, menatap Jefry dengan datar.
Jefry menatapnya, tersenyum paksa, dan memulai bicara, "Om tidak keberatan kamu menjalin hubungan dengan Wulan. Lagi pula yang salah tempo hari papamu, kan? Salah papamu mengatakan ingin menjodohkan dirimu dengan Ulan. Tenang saja, om tidak mempermasalahkan itu."
'Benar-benar manusia keparat. Di depanku dia masih bersandiwara? Seandainya bukan orang tua, aku akan memukul wajahnya sampai berdarah,' batin Niko.
Jefry melanjutkan, "Ngomong-ngomong ada satu hal yang ingin om sampaikan dan kamu harus tahu."
Ekspresi Niko tak berubah. Ia terus menatap Jefry dalam diam dengan mimik wajah yang sangat datar.
"Sebenarnya sudah lama sekali om ingin mengatakan ini kepada papamu. Sayangnya papamu terlalu asik menjalani kehidupannya di luar negeri, sehingga om tidak bisa mengatakannya. Tidak sopan bukan kalau membicarakan hal sepenting ini melalui telepon?"
Niko lagi-lagi tak menggubris, tapi ia sudah menebak apa yang ingin dikatakan Jefry.
"Mamanya Ulan ingin dia menikah denganmu, Nak. Sebelum meninggal dia sudah berpesan, kalau Ulan sudah besar, dia ingin Ulan dijodohkan denganmu. Makanya waktu papamu bilang ingin menjodohkanmu dengan putriku, aku sangat bahagia mendengarnya."
"Aku rasa Om pasti tahu siapa wanita yang sangat kucintai."
"Om tahu, tapi om sudah berjanji pada ibunya, bahwa om akan menjodohkanmu dengan Ulan," Jefry menunduk sesaat lalu berkata, "Om juga sudah bicara dengan tante Angelina. Dia tidak keberatan, karena pada awalnya yang dia tahu kamu akan dinikahkan dengan putriku, bukan putrinya."
Niko kesal dengan drama yang dimainkan Jefry. Tak mau berlama-lama lagi, Niko segera berdiri menghadap Jefry.
"Aku minta maaf, Om. Sampai kapan pun aku tidak akan menikahi Ulan. Aku harap Om bisa mengerti apa yang kurasakan. Sekeras apa pun usaha Om untuk menikahkan aku dengan Ulan lebih baik dihentikan saja, aku tidak akan pernah menjadi suami Ulan dan Ulan tidak akan pernah menjadi istriku."
Tanpa berkata apa-apa Niko segera bergegas keluar.
"Tunggu!" cegah Jefry.
Langkah Niko terhenti tepat di dekat pintu. Ia berbalik dan menatap Jefry.
Jefry berdeham. "Kamu yakin tidak akan menikahi Ulan?"
"Aku tak perlu menjawab."
"Kalau begitu mana kau pilih, menikahi Ulan atau papamu meninggal?"
Wajah Niko langsung berubah.
Jefry terkekeh lalu berdiri. Senyumnya semakin lebar melihat wajah tampan Niko tampak pucat.
"Kau lupa siapa aku, hah?" kata Jefry sombong, "Aku bisa melakukan apa saja, Niko."
Niko marah. Saking marahnya rasa hormat pada Jefry pun hilang.
__ADS_1
"Kau mengancamku? Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu, hah? Keputusanku sudah bulat, dan aku tidak akan pernah menikahi Ulan."
Tanpa menunggu balasan Niko membuka pintu, keluar, kemudian membantingnya dengan keras.
Jefry mengepalkan tangan. "Lihat saja apa yang akan kulakukan."
***
Panik dengan ancaman Jefry, Niko langsung menghubungi sang ayah sejak ia keluar dari gedung itu. Kesal dan takut bercampur menjadi satu. Niko tak menyangka Jefry berani mengeluarkan ancaman itu kepadanya.
"Heran, kenapa juga papa mau menjadi temannya."
Sambil mengemudi Niko terus menempelkan ponsel ke telinga.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Niko mengakhiri panggilan. Karena sudah banyak kali ia menghubungi Handoko tapi hasilnya sama, ia memutuskan untuk menghubungi Darius. Tak berapa lama suara Darius terdengar.
"Halo, Pak Niko."
"Darius, apa papa di kantor?"
"Tidak ada, Pak."
"Kalau begitu pergilah ke rumah dan cek keberadaan papa. Pastikan papa selamat dan tidak apa-apa."
"Baik, Pak."
"Siap, Pak."
***
Karena hari ini mereka harus berpisah dengan Wulan, semua karyawan membuat acara kecil-kecilan untuk menghibur rekan mereka yang akan berpindah tugas.
"Kamu jangan melupakan kami, ya?"
"Iya, kamu jangan lama-lama di sana. Awas, jangan sampai kepicut hati pria di sana, ya."
Wulan terkekeh dengan komentar-komentar rekannya.
"Benar, pria-pria Manado kan tampan-tampan. Tapi tak masalah, siapa tahu salah satu dari mereka adalah jodohmu."
"Itu tidak mungkin," protes Fanny, "Dia sudah ada yang punya. Wulan, kamu jangan macam-macam di sana. Awas kalau kau macam-macam."
"Kalian ini ada-ada saja. Aku ke sana untuk bertugas, bukan mencari jodoh."
"Siapa tahu jodohmu di sana."
"Tidak," Fanny protes. Ia menatap marah ke arah wanita di depannya, "Jodoh Wulan ada di sini. Jodohnya sudah terikat dan tidak akan terlepas."
__ADS_1
Mereka semua terbahak.
"Kamu bukan Tuhan, Fanny," kata Wulan, "Kamu tidak bisa menentukan jodohku siapa."
Fanny ingin tertawa, tapi rasa tak enak di perutnya tiba-tiba menyerang.
"Aku ke toilet dulu. Jangan dulu bubar, kita belum selesai."
Akibat terlalu banyak minum Fanny merasa kantong kemihnya penuh. Ia berjalan menuju toilet yang cukup jauh dari keramaian.
Toilet wanita hanya berhadapan dengan toilet pria. Suasana kantor juga sudah sepi karena jam operasional sudah habis.
Fanny masuk dan menuntaskan hajatnya. Karena tak mau sepatunya basah, Fanny mengganti sepatu hak hitamnya dengan sandal kuning yang sering ia gunakan di kantor sebelum menuju toilet.
Begitu selesai Fanny hendak keluar. Namun, saat ia mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalinya sedang menyebutkan nama Wulan dengan keras, Fanny enggan keluar dan menguping pembicaraan itu. Matanya bahkan terus melotot setiap kali mendengar sepatah kata yang terlontar dari laki-laki itu.
***
Dengan perasaan khawatir tingkat tinggi Niko memasuki rumahnya. Setelah mendapat kabar dari Darius bahwa Handoko ada di rumah, ia segera ke sana untuk memeriksa kondisinya.
"Papa, Papa baik-baik saja, kan?" nada Niko gemetar.
Handoko yang sejak tadi kebingungan langsung bertanya, "Papa baik-baik saja. Kenapa kamu mengirim Darius untuk menjaga papa?"
Niko lega. Ia duduk kemudian menjelaskan apa yang membuatnya khawatir. Ia menceritakan pertemuan dan ancaman Jefry kepada Handoko.
"Dia memberiku pilihan, menikahi Ulan atau Papa meninggal."
Wajah Handoko merah karena marah. "Jefry benar-benar kelewatan. Dia pikir bisa segampang itu melenyapkanku, hah?! Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan menemuinya dan membuat perhitungan dengannya."
"Tidak usah, Pa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Papa. Yang terpenting sekarang Papa harus aman dan menjauh darinya."
"Papa benar-benar menyesal telah mengenalnya. Sumpah, Niko. Seandainya papa tahu masa depanmu akan begini, papa tidak akan pernah mau mengenal laki-laki bernama Jefry Tanujaya. Jujur, Niko. Jangankan menjadi besannya, mengenalnya saat ini pun papa rasanya tak sudi. Sungguh."
"Kita jalani saja, Pa. Mungkin ada hikmahnya di balik semua ini. Anggap saja kita sedang membantu Wulan dan tante Angelina untuk mendapatkan keadilan."
Handoko menatapnya. "Lalu apa rencanamu, kamu tidak akan menikahi Ulan, kan?"
"Aku sedang memikirkannya, yang terpenting adalah keselamatan Papa."
Drttt... Drttt...
Getaran ponsel Niko mengejutkan mereka. Dengan cepat ia meraih kantong jas kemudian melihat nama di depan layar.
"Siapa?" tanya Handoko saat melihat alis Niko berkerut.
"Aku tidak tahu, ini kontak baru," dengan ekspresi datar Niko menghubungkan, "Halo?"
"Halo, Niko? Ini aku Fanny, temannya Wulan. Kamu di mana? Aku ingin bertemu, ada sesuatu yang harus kukatakan soal Wulan."
__ADS_1
Bersambung____