Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Cemburu Buta.


__ADS_3

Saking sakitnya Niko membuka akun bernama Deril06. Ia melihat-lihat postingan dan identitas yang tertulis di bio instagramnya.


"Oh, ternyata atasannya. Tapi kenapa harus berfoto seperti itu, apa Wulan tidak bilang padanya kalau dia punya pacar?"


Api dalam tubuh Niko seakan membara. Ia keluar dari aplikasi instagram dan mencari kontak Wulan. Ia menekan radial, tapi hasilnya masih sama.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


Niko memutuskan panggilan kemudian bangkit dari ranjang. Panas dalam tubuhnya membuat Niko keluar kamar dan mencari Handoko.


"Di mana papa?" tanya Niko begitu melihat Brian dan Darius bermain catur.


"Tuan besar di ruang kerja."


"Terima kasih. Lanjutkan pertarungan kalian."


Niko berjalan menuju ruang kerja. Tanpa mengetuk ia langsung masuk dan mendapati Handoko sedang membaca.


Handoko terkejut. Tidak biasanya Niko bersikap seperti itu. "Ada apa?"


Niko duduk. Tubuhnya gelisah. "Apa secepat itu dia melupakanku?"


Niko menatap bingung. "Dia siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan menantu kesayangan Papa."


Handoko menutup bukunya. "Kau cemburu?" ledeknya.


"Siapa tidak cemburu melihat dia bermesraan dengan pria lain," wajah Niko kusut.


Niko menunjukkan foto Wulan bersama Deril.


"Lihat, apa pantas wanita yang punya pacar berfoto seperti ini dengan pria lain?"


Handoko mengamati foto itu. "Di sini terlihat si laki-laki yang merangkul Wulan. Normal saja, toh Wulan tidak menggandengnya."


"Tapi dia bisa melarang pria itu, kan. Kalau pria itu tahu dia sudah punya pacar, tidak mungkin pria itu akan bersikap tidak sopan seperti itu."


"Kau sudah bicara dengan Wulan?"


"Ponselnya tidak aktif. Mungkin dia sedang asik dengan pria itu."


Handoko menggeleng kepala. "Cemburu boleh, tapi jangan berlebihan. Jangan menciptakan hipotesa seperti itu. Bicarakan dulu dengan Wulan. Dispersepsi seperti itu akan menghancurkan hubungan kalian di masa mendatang. Konversasi dulu sebelum mengambil keputusan."


Niko terdiam. Perkataan Handoko ada benarnya. Ia terlalu impulsif mengambil kesimpulan.

__ADS_1


Handoko bisa menebak apa yang dipikirkan Niko. Sikap diam putranya membuat Handoko yakin, kalau pria itu sedang mempertimbangkan ucapannya.


Sebagai laki-laki Handoko pernah di posisi Niko. Namun, baru kali ini ia melihat kecemburan yang konyol yang ditimbulkan oleh putranya. Apa mungkin begini seorang play boy kalau sedang cemburu?


Handoko menahan tawa. "Besok bicara baik-baik dengan Wulan. Atau tidak perlu besok, nanti malam pasti dia akan menghubungimu. Kalau demikian, bicaralah baik-baik dengannya, jangan emosional."


Niko setuju kemudian pamit. Ia pergi ke kamarnya untuk istirahat. Hatinya terasa sakit membayangkan Wulan bersama pria lain.


Mengingat perkataan Handoko, Niko menepiskan rasa sakit itu kemudian menghubungi Wulan. Sayangnya nomor yang dihubunginya mendapat jawaban sama seperti tadi.


Merasa kecewa karena diabaikan, Niko mematikan ponsel kemudian naik ke atas ranjang. Ia menarik selimut dengan kasar kemudian memadamkan lampu.


***


Merasa bersalah atas perbuatannya, Wulan meminta maaf kepada Deril.


"Seharusnya saya tidak mengijinkan Anda untuk memposting foto itu ke instagram, saya takut pacar Anda akan marah karena salah paham."


Saat ini Deril sedang dalam perjalanan pulang menuju kontrakan Wulan. Karena karyawan yang lain menggunakan mobil pribadi, Wulan tak bisa menolak ketika Deril menawarkan diri untuk mengantarnya.


"Tidak masalah, lagi pula aku tidak punya pacar."


Wulan terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Sulit untuk dipercaya kalau pria yang memiliki rambut hitam, kulit putih mulus, hidung mancung, berbibir tipis dan semapan Deril tidak ada yang memiliki. Tubuhnya yang provokatif jelas sangat mudah untuk mendapatkan wanita. Bahkan baru sehari di kantor itu, Wulan sudah banyak mendengar karyawan wanita yang selalu membicarakan keterikan mereka kepada kepala cabang muda itu.


"Kenapa kamu berkata begitu, apa kamu menyesal?" suara Deril begitu lembut.


Pembohong! Dalam hati ia menyesal karena melihat tanda online Niko aktif beberapa menit yang lalu. Wulan yakin Niko sudah melihat postingan itu. Karena postingan itu Niko pasti tidak menghubunginya.


'Apa mungkin Niko marah?' tanya wulan dalam hati, 'Aku tidak bermaksud menyakitinya, aku hanya ingin membalas apa yang dia lakukan dengan Ulan.'


"Wulan?"


Wanita itu terlarut dalam pikirannya. Ia memandang lurus dengan pandangan kosong.


Deril menoleh dan tersenyum. Ia yakin Wulan sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tak mau memanggilnya lagi, Deril meraih sebelah tangan Wulan.


Spontan Wulan terkejut dan menarik tangannya.


"Maaf, maafkan aku," sesal Deril, "Aku memanggilmu, tapi kamu tidak menjawab."


Wulan merasa bersalah. "Maafkan saya Pak, saya tidak mendengarnya."


"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah. Ngomong-ngomong jangan bersikap formal padaku di luar kantor. Posisi kita sama di luar jam kerja."


Wulan hanya diam sambil menunduk. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman berada di dekat Deril. Apa karena hatinya sedang galau atau karena ia risih berdekatan dengan pria yang tidak dicintainya?

__ADS_1


Mobil sedan hitam Deril berhenti di depan gerbang besar berwarna hitam. Wulan tersenyum menatap Deril.


"Terima kasih Anda untuk malam ini, Anda sudah mentraktir makan malam dan mengantarkan saya pulang."


Deril tersenyum. "Jangan formal padaku."


"Maaf, aku belum terbiasa."


"Mulai sekarang harus dibiasakan, ya."


Wulan hanya mengangguk kemudian pamit dan masuk ke dalam. Begitu tiba di kamarnya, ia segera meraih ponsel dan menghubungi Niko. Rasa gelisah dalam dirinya membuat Wulan tak nyaman.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah____"


Wulan memutuskan panggilan dan mencoba lagi. Berkali-kali jawaban dari balik ponsel adalah sama, Wulan memutuskan untuk menghubungi Fanny.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


Wulan merasa tak berdaya. Ia melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


"Semua orang pasti sudah tidur, tapi kenapa Niko tidak menghubungiku? Apa dia marah karena foto itu atau sedang asik bersama Ulan?"


Dada Wulan sesak membayangkan pria yang dicintainya bersama wanita lain. Pria yang beberapa hari lalu membuatnya terbaring lemah di atas ranjang.


Wulan meneteskan air mata, membayangkan perlakuan Niko pada dirinya hari itu diperlakukan juga kepada Ulan. Airmatanya semakin deras ketika membayangkan Ulan dan Niko melakukan hal yang lebih dari hari itu.


"Kenapa aku percaya padamu. Seorang play boy mana mungkin bisa berubah."


Wulan menyesali perasaannya. Ia terus menangis membayangkan Ulan berteriak-teriak di bawah tubuh Niko.


"Pasti Ulan akan meminta tanggung jawab kepada Niko. Mau tidak mau Niko harus bertanggungjawab dan itulah yang diinginkan papa."


Sesak di dada membuat Wulan terus menangis hingga tubuhnya lelah dan terlelap.


***


Pagi hari dengan cuaca yang mendung, Niko duduk di ruang tamu sambil melamun. Karena tak bisa tidur memikirkan Wulan, ia duduk diam di sana ditemani dua cangkir kopi yang sudah kosong dan satu lagi yang masih menguap, yang baru saja disajikan oleh Magdalena.


Sekarang sudah pukul tujuh pagi, tapi tidak ada satupun notifikasi atau panggilan dari Wulan. Niko kesal dan hendak melemparkan ponselnya ke dinding.


Brak!


Emosinya tak tertahankan lagi. Sesak di dada memikirkan Wulan bersama pria tampan semalam membuat api dalam dirinya membara.


"Kalau tahu kau akan meninggalkanku seperti ini, seharusnya kurebut kesucianmu malam itu dan menanamkan benih di sana sebanyak mungkin."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2