
Handoko tahu betul sikap anaknya. Tak mau membahas hal yang akan menyinggung Wulan, Handoko segera mengalihkan pembiacaraan tentang Niko.
"Ikan bakarnya selesai. Menu hari ini ikan kakap merah bakar rica dan tumis kangkung."
"Kangkungnya mana, Pa?"
Magdalena muncul dengan nampan berisi cah kangkung yang masih mengeluarkan uap.
"Itu dia kangkungnya."
Wulan semakin ngiler melihat warna kangkung yang masih segar.
Fanny tak tergoda. "Sepertinya aku akan makan banyak sore ini, Om."
Mereka semua tertawa.
"Tidak masalah, Nak," sahut Handoko, "Om masak semua ini spesial untuk kalian."
"Nyonya dan Non Fanny mau minum apa?" Magdalena menawarkan diri.
"Aku es jeruk nipis saja, Mom," kata Wulan.
Sejak tahu wanita itu sudah sejak kecil mengurus Niko, ia selalu memanggil wanita tua itu dengan sebutan mom. Niko maupun Handoko tidak keberatan, meski Magdalena sendiri yang tak merasa nyaman dipanggil seperti itu. Biar bagaimanapun Wulan adalah nyonya rumah.
Sikap dan perbuatannya kepada Magdalena sangatlah berbeda dari nyonya-nyonya rumah yang lain. Wulan sangat menghormati dan menyayangi Magdalena. Karena tidak pernah merasakan kasih sayang nenek, Wulan menganggp Magdela seperti neneknya sendiri. Wanita tua itu pun tak keberatan dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada Wulan.
Tak terasa hari sudah gelap. Wulan dan Fanny pun berpamitan kepada Handoko.
"Pa, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku harap hari-hari berikutnya Papa tidak akan menolak untuk direpotkan."
"Tentu saja tidak, Sayang. Apa pun untukmu, Papa tidak akan direpotkan."
Fanny senang melihat interaksi Wulan dan Handoko. Ia merasa Handoko benar-benar tulus memberikan kasih sayangnya kepada Wulan. Ia juga berpamitan dan mereka pun meninggalkan Handoko.
Handoko yang sejak tadi penasaran dengan nama Gloriana segera mengambil ponsel untuk menghubungi putranya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Handoko mengumpat. Ia mencoba lagi menghubungi nama Niko, tapi jawabannya masih sama.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Handoko melarang pelayan muda membereskan gelas di depannya. "Biarkan itu. Bereskan yang lain saja."
Sambil membawa gelas berisi air putih Handoko berjalan ke ruang tamu. Ketika ia hendak duduk, sosok Niko muncul dengan pakaian khas seorang pemimpin.
"Pa, Wulan mana?"
Handoko mendekat dan ....
Buk!
Niko sontak terkejut. Rasa sakit ketika tinju Handoko mengenai wajahnya bahkan tak terasa saking terkejutnya.
"Apa-apaan ini?" protes Niko.
"Siapa Gloriana?"
__ADS_1
Niko pun paham apa yang membuat emosi papanya meledak. "Papa tenang dulu, aku bisa menjelaskan."
Sayangnya emosi Handoko tak terkendali. Ia terus menyerang Niko dengan umpatan-umpatan yang membuat Niko terkejut. Ia tak pernah melihat Handoko semarah ini. Baru hari ini ia melihat emosi dalam diri papanya meledak.
"Papa tidak mau kau kembali seperti dulu, Niko. Papa berjanji, papa akan membunuhmu sampai kau menduakan Wulan. Bersyukur mereka tidak menghukum papa karena sudah membunuh Benny. Jika papa tahu kau menyakiti Wulan, papa akan menyakitimu melebihi kau menyakitinya."
Niko tak membatah, ia tahu dirinya salah. Setelah Handoko tenang ia pun mulai menjelaskan.
"Aku membayar orang untuk membuat Wulan cemburu, Pa. Aku tidak punya maksud apa-apa, aku hanya ingin membuatnya kesal sebelum hari ulang tahunnya. Di samping itu, aku ingin tahu seberapa besar cintanya padaku, jika dia tahu aku punya wanita lain."
Brak!
Ponsel Handoko mengenai tubuh Niko.
Niko tak melawan. Ia kesakitan karena ponsel itu mengenai lututnya.
"Bukan seperti itu cara menguji istrimu. Kenapa kamu tidak tidur di jalan saja dan suruh Darius menabrakmu sampai mampus?"
"Kalau aku mati berarti Wulan menjanda. Aku tidak mau dia menikah dengan pria lain, Pa."
Handoko menggeleng kepala. "Rencanamu tidak lucu. Dia wanita. Logika dan perasaan wanita seperti Wulan satu banding satu. Kamu mau perasaannya terhadapmu hilang hanya karena kekonyolanmu itu?"
"Aku tahu, Pa. Tapi, kan ini tidak akan berlangsung lama. Ulang tahunnya tinggal seminggu lagi. Setelah hari spesialnya aku dan Gloriana akan minta maaf padanya."
"Papa heran dengan cara berpikirmu. Harusnya kamu bersyukur dia tidak membencimu karena punya ayah seorang pembunuh."
"Maatkan aku, Pa. Aku berjanji, setelah itu aku akan minta maaf dan tidak akan lagi mengerjai dia."
"Terserah kamu. Tapi, kalau ada apa-apa jangan cari papa."
Niko tersenyum kemudian mengambil ponselnya.
"Ini kan rumahku, sesukaku mau berapa lama di sini. Aku akan menunggu di sini sampai jam sepuluh. Aku akan mengerjai Wulan. Aku akan bilang padanya malam ini aku ada makan malam bersama Gloriana."
Handoko menggeleng kepala. "Aku tak menyangka putranya segila ini."
Niko terbahak. "Ayolah, Pa ... Bekerja samalah dengan putramu."
"Tidak! Lihat saja nanti, kalau terjadi sesuatu pada Wulan, papa tidak akan segan-segan menyakitimu."
"Tapi aku anaknya Papa."
"Aku tidak punya anak gila sepertimu."
Niko terbahak.
***
Setelah membersihkan diri Wulan kembali ke ranjang. Tubuhnya wangi, bersih dan segar. Ia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan.
"Kenapa Niko belum pulang?" ia teringat perkataan sore tadi, "Apa jangan-jangan dia sedang makan malam bersama Gloriana?"
Rasa mual tiba-tiba menyerang Wulan. Ia kembali ke kamar mandi kemudian mengeluarkan semua isi perutnya.
Sang pelayan yang kebetulan dipercayakan untuk membawakan teh hangat yang diminta Wulan ke kamar langsung bertindak. Ia ke kamar mandi dan membantu Wulan.
"Nyonya! Nyonya tidak apa-apa?"
__ADS_1
Wulan terus mengeluarkan isi perutnya.
Sang pelayan panik. Ia segera berlari, mencari minyak angin dan mengambil air putih. Begitu ia kembali Wulan sudah membilas mulutnya.
"Nyonya minum dulu."
"Terima kasih."
Wulan menenggak sedikit kemudian mengambil minyak angin yang disondorkan pelayan itu.
"Nyonya tidak apa-apa? Wajah Nyonya pucat."
"Aku juga tidak tahu, Inem. Tiba-tiba saja aku merasakan ini."
Inem membantu Wulan ke ranjang. "Ini teh hangat yang diminta Nyonya. Minumlah sedikit."
Wulan menurut.
"Apa Nyonya butuh sesuatu?"
"Tidak. Terima kasih, Inem."
"Apa saya hubungi tuan saja dan beritahu ini? Saya khawatir terjadi sesuatu pada Nyonya, wajah Nyonya sangat pucat."
"Tidak usah, Inem. Kamu juga jangan beritahu dia soal ini, aku tidak apa-apa."
"Baiklah. Kalau begitu Nyonya istirahat saja. Kalau butuh sesuatu, Nyonya panggil saja saya."
"Terima kasih banyak ya, Inem."
Pelayan itu masih khawatir. "Apa Nyonya pusing?"
"Tidak, Inem," Wulan tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
"Baiklah. Nyonya istirahat, ya. Cium minyak angin ini kalau rasa mual kembali menyerang Nyonya."
"Iya. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Inem."
Begitu Inem keluar Wulan menghidupkan ponselnya. Beberapa pesan dari Niko masuk, tapi ia mengabaikannya. Rasa jengkel terhadap sang suami membuat Wulan malas mencaritahu tentangnya.
Jemarinya yang lembut mencari kontak Fanny. Ia kemudian menceritakan semua kejadian yang baru saja menimpanya.
"Besok kamu harus ajak Niko ke dokter kandungan. Aku yakin, kamu pasti hamil, Wulan."
Kesal mendengar nama itu membuat Wulan menolak. "Dia pasti lebih mementingkan Gloriana daripada aku. Kamu sendiri sudah lihat, kan?"
"Beda kasus. Tidak mungkin Niko mengabaikanmu, apalagi ini soal bayi kalian."
"Semoga saja besok dia tidak bersama Gloriana. Tapi, kalau dia sibuk dengan wanita itu lagi, kamu mau kan menemaniku?"
"Tentu saja. Kalau begitu aku akan mengecek jadwal dokter kandungan yang terbaik dulu. Aku akan mengabarimu besok, ya?"
"Iya. Terima kasih ya, Fan."
"Untuk apa berterima kasih, kita sudah seperti keluarga. Sudah seharusnya aku begini. Istirahatlah, sampai ketemu besok."
Setelah memutuskan panggilan Wulan pesan dari Niko. Tidak pedulinya terkalahkan dengan rasa penasaran yang tinggi.
__ADS_1
"Aku akan makan malam bersama Gloriana. Tidak usah menungguku."
Bersambung____