Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Undangan Makan Malam.


__ADS_3

Di usia Niko yang ke dua puluh dua tahun, Handoko membangun bisnis properti di kota Jakarta tanpa sepengetahuan Niko. Begitu Niko lulus kuliah, ia terkejut mendapat tanggung jawab mengelola perusahan tersebut.


Niko ingin menolak, tapi keputusan Handoko sudah bulat dan ia harus menjalaninya. Meskipun Niko marah pada Handoko waktu itu, ia merasa tugas itu harus dijalani untuk membiayai kehidupannya. Toh, siapa lagi yang akan mengurus perusahan itu selain dirinya, putra tunggal dari Handoko Lais.


Lima tahun setelah mengurus perusahan properti milik papanya, Niko mendapat tawaran dengan gaji dan fasilitas mewah untuk menjadi kepala pemasaran di BK Group.


Menyuruh orang kepercayaannya mengelolah perusahan properti itu, Niko menerima tawaran BK Group untuk memasarkan prodak mereka.


BK Group bergerak di bidang furniture. Jurusan Bisnis dan Managemen yang diambil Niko sangat cocok dengan pekerjaannya.


Karena usaha Niko di bidang properti, ia sering mereferensikan bisnisnya kepada pelanggan yang ingin memiliki bangunan mewah dan perabot rumah yang kualitasnya bagus.


Berkat kolaborasi itu omset BK Group dan penghasilan bisnis Niko pun tak main-main. Angka rekening yang BK Group capai melebihi sepuluh setiap bulannya. Alhasil, sekarang mereka ingin Niko menjadi pimpinan di BK Group.


"Kamu kan punya orang untuk mengurus bisnismu. Papa rasa tidak masalah kalau kamu menjadi pimpinan di sana. Kamu pasti bisa."


Alis Niko berkerut. "Sampai sekarang aku tidak tahu siapa pemilik BK Group, Pa. Sudah bertahun-tahun aku bekerja di sana, aku tidak pernah melihat pimpinannya."


Handoko mengalihkan pembicaraan. "Malam ini kita akan ke rumah mereka."


Niko terkejut. "Ke rumah siapa, ke rumah pimpinan BK Group?"


"Bukan, Niko," Handoko terkekeh, "kita akan ke rumah Wulan. Om Jefry mengundang kita makan malam pukul delapan. Ini hanya makan malam biasa. Dia ingin mengenalmu lebih dekat."


Niko tahu pemilik Bebbi Residence adalah orang terkaya nomor satu di kota Jakarta. Namun, tak pernah terbesit dalam pikirannya kalau pemilik perumahan elit itu adalah teman papanya.


"Lalu, kapan Papa akan melamar Wulan untukku?"


"Secepatnya. Malam ini kesempatan mereka untuk menilaimu, baik dari visual maupun sikapmu. Papa harap kamu tidak mempermalukan papa, Niko."


"Itu tidak akan terjadi, Pa. Tenang saja."


Niko bahagia. Saking bahagianya ia segera berdiri tanpa memperdulikan keberadaan Handoko.


Lelaki itu bingung. "Mau ke mana kau?"


"Aku ke kamar dulu, aku ingin membagikan kabar bahagia ini pada Wulan."


"Bukankah lebih bagus kalau kau memberinya kejutan?"


Niko berpikir sejenak. "Apa om Jefry sudah membahas tentangku padanya?"


"Entalah. Kamu kan sering bertemu dengannya, apa dia tidak membahas soal itu padamu?"


"Tidak."


"Mungkin om Jefry masih merahasiakannya. Kita lihat saja nanti malam. Mungkin dia akan kaget melihatmu datang bersama papa."


Membayangkan itu membuat Niko terkekeh. Ia kemudian melirik jam tangan lalu berpamitan kepada Handoko.


"Aku siap-siap dulu."


Handoko tak melarang. Ada rasa bahagia dalam dirinya melihat perubahan Niko yang sekarang. Anak itu lebih sopan dan banyak bicara. Padahal sebelumnya Niko pelit kata-kata, meskipun Handoko berbicara panjang lebar.


Di sisi lain.


Dalam perjalanan pulang ke rumah Wulan tampak bahagia saat dirinya sedang mengendarai mobil.

__ADS_1


Sejak menjalin kasih dengan Niko Lais beberapa hari lalu Wulan lebih sering tersenyum daripada biasanya. Ia selalu dibuat bahagia oleh pria itu. Dan Wulan semakin yakin, kalau Niko adalah pria yang cocok menjadi suaminya.


Drttt... Drttt...


Getaran telepon membuat Wulan terkejut. Ia memelankan musik kemudian menyambungkan panggilan yang ternyata dari Ulan.


"Halo, Ma?"


"Sayang, kamu di mana?"


"Aku dalam perjalanan pulang, Ma."


"Papamu mengundang temannya makan malam di rumah kita. Cepat pulang, ya."


Ekspresi Wulan berubah. "Teman papa ... apa aku juga harus ikut makan malam bersama mereka?"


"Maafkan mama, Sayang. Mama tahu kamu pasti punya janji dengan temanmu. Mama hanya menyampaikan pesan papa, papa ingin kita semua hadir malam ini."


"Baiklah. Lima belas menit lagi aku tiba."


Wulan sedih. Walaupun beberapa hari ini Angelina tahu ia sering pergi makan malam bersama seorang pria, Wulan belum memberitahukan identitas pria itu dan status mereka kepada Angelina.


Angelina juga tak menuntut. Baginya sudah cukup Wulan mau membuka hati lagi kepada pria lain setelah berapa tahun putus dari mantannya. Pasti ada waktunya Wulan akan memberitahu soal pria identitas pria itu kepadanya.


Dua detik setelah panggilan Angelina terputus, Wulan mencari kontak Niko kemudian menghubunginya.


Sambil mengemudikan mobil ia menatap jalan dan menunggu panggilan itu terhubungan melalui bluetooth audio.


"Halo, Sayang?"


"Sayang," balas Wulan dengan ekspresi sedih. Sebelumnya ia sudah menghubungi Niko untuk memberitahukan kepulangannya, "Malam ini papa kedatangan tamu. Papa mau kita semua ikut makan malam bersama. Sepertinya malam ini kita tidak bisa makan malam bersama."


"Aku tidak tahu, Sayang. Kamu tidak marah, kan? Aku tidak ingin ikut, tapi mama barusan menghubungiku dan menyuruhku cepat pulang."


"Teman papamu itu punya anak laki-laki, papamu tidak berniat menikahkan dirimu dengan pria lain, kan?"


Wulan terkekeh. "Pikiranmu terlalu jauh, Sayang. Aku saja tidak tahu teman papa yang mana yang akan datang malam ini. Aku tidak mau tahu dan tidak ingin tahu."


Niko balas terkekeh. "Aku tidak keberatan, asalkan kamu harus berjanji padaku."


"Janji apa?"


"Kamu harus menjaga pandanganmu dari pria lain. Seandainya teman papamu membawa putranya, kamu tidak boleh memandang atau berinteraksi dengannya. Kamu juga tidak boleh memperlihatkan senyummu yang manis itu."


Wulan terbahak. "Kamu keterlaluan, Sayang."


"Aku tidak ingin berbagi, Sayang. Kamu milikku, semua tentangmu adalah milikku."


Hati Wulan berbunga-bunga. "Baiklah. Aku akan mengirim pesan kalau sudah tiba."


"Ingat perjanjian kita, tidak boleh berinteraksi dan tersenyum padanya."


"Iya, iya."


Wulan tertawa kemudian memutuskan panggilan. Tiga detik panggilan Niko terputus, ponselnya kembali bergetar. Dilihatnya nama Ulan sebagai pemanggil.


"Halo, Lan?"

__ADS_1


"Kakak! Kakak di mana?" sosok di balik telepon menangis.


"Sebentar lagi aku sampai rumah. Ada apa, Lan? Kenapa kamu menangis?"


"Ceritanya panjang, Kak. Cepat ke sini, aku ingin bicara."


"Iya, iya."


Dengan cepat Wulan memutuskan panggilan, kemudian menginjak pedal gas semakin dalam. Rasa penasaran terhadap hal itu membuatnya ingin segera sampai.


Hanya lima menit Wulan akhirnya sampai ke rumah.


"Halo, Ma," sapa Wulan begitu melihat Angelina, "Ulan mana?"


"Ulan di kamar. Ada apa, kenapa wajahmu terlihat panik?"


"Tidak apa-apa, aku ingin bicara dengannya."


Wulan tahu adik tirinya itu sangat introvert soal pribadinya kepada siapa pun keculi dirinya. Ia pun segera ke kamar Ulan, tanpa memberitahu Angelina soal tangis Ulan yang didengarnya tadi.


Tanpa mengetuk pintu kamar Wulan langsung masuk ke kamar Ulan.


"Kakak!" Ulan berlari dan menangis dalam pelukan Wulan. Wanita itu bahkan masih mengenakan pakaian kantornya.


Wulan bingung. Ia membalas pelukan Ulan dan mengusap punggungnya. "Ada apa, kenapa kamu menangis?"


Ulan melepaskan pelukan kemudian duduk di ranjang. "Aku mau dijodohkan. Papa ingin menjodohkanku dengan anak teman papa."


"Ya ampun, aku pikir kenapa."


"Masalahnya aku belum ingin menikah, Kakak. Aku bahkan tidak tahu wujud pria itu seperti apa."


Wulan tersenyum. "Dijodohkan bukan berarti langsung menikah, bukan?"


"Tetap saja aku tidak mau. Aku ingin menikah dengan pria pilihanku, Kakak. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa."


"Dicoba saja dulu, siapa tahu kalian cocok satu sama lain."


Ulan menggeleng. "Aku tidak mau. Pokoknya aku mau menikah, kecuali dengan pria yang kucintai."


"Memangnya kamu tahu dari siapa perjodohan ini?"


"Papa sendiri yang bilang. Berapa hari lalu, papa bilang dia akan menjodohkan diriku dengan anak temannya. Yang aku heran, kata papa pria itu sangat menyukaiku, padahal aku tidak pernah bertemu dengannya, Kakak."


Wulan terkekeh kemudian memeluk Ulan. Walaupun saudara tiri, ia sangat menyayangi Ulan seperti adik kandungnya sendiri.


"Kau tidak mau karena belum melihatnya, kan? Bagaimana kalau kau melihatnya terlebih dahulu? Siapa tahu setelah melihatnya perasaanmu langsung tumbuh."


"Itu tidak mungkin, Kakak."


"Itu mungkin."


Ulan hanya diam.


"Sekarang bersiaplah. Malam ini kita harus menghadiri makan malam, teman papa akan datang. Jadi, kita harus terlihat cantik."


"Baiklah."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2