Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Kamu Begitu Sabar.


__ADS_3

Di ruangannya Wulan tampak tersenyum. Meskipun hatinya sakit karena Niko tak bisa menemaninya ke dokter, ia berusaha kuat agar kekecewaannya tak terlihat.


"Kamu mau ke mana setelah ini?" tanyanya kepada Fanny.


Fanny yang paling tahu sabahatnya langsung bisa menebak. "Alasan apa lagi yang dia katakan?"


Wulan menjelaskan sesuai yang dikatakan Niko padanya. "Kamu bisakan menemaniku? Kata Niko, Darius yang akan mengantar kita."


Meskipun senang sang kekasih akan bersama mereka, Fanny tidak senang Niko memperlakukan sahabatnya seperti itu.


"Kamu tidak curiga dia berdua dengan wanita lain? Bukan ingin memprovokasi, ya. Tapi, coba kamu pikir ... Darius yang akan mengantar kita? Apa kamu tidak curiga sama sekali?"


Wulan menarik napas. "Istri mana sih yang tidak curiga kalau suaminya seperti itu. Bukannya tidak marah, aku hanya menghindari sesuatu yang akan menimbulkan masalah. Selama tidak ada bukti aneh dan Niko selalu jujur, aku tidak akan mempermasalahkannya."


"Dia memang jujur. Tapi, bagaimana kamu bisa mendapatkan bukti, kalau kamu hanya berdiam diri tanpa berusaha mencaritahu?"


"Aku tidak ingin melihat hal yang tidak diinginkan, Fan. Mungkin aku wanita terbodoh di dunia ini, membiarkan suamiku bersama wanita lain. Tapi, itu kulakukan demi menjaga hubunganku dengan suamiku.


"Jauh sebelum menikah aku sudah memikirkan risikonya. Cepat atau lambat risiko itu pasti akan terjadi. Asalkan Niko tidak mengabaikan dan meninggalkanku saja, aku tidak masalah. Dia mau bersama wanita mana pun aku tidak akan keberatan. Tapi, jangan harap aku mau melepaskannya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya."


Fanny menggeleng kepala. "Kamu begitu sabar. Aku berharap bisa menjadi sepertimu setelah menikah."


Seorang penjaga keamanan muncul. "Permisi."


Wulan dan Fanny menoleh kemudian menyapa.


"Ada yang menunggu nyona Wulan dan nona Fanny. Kalau tidak salah namanya Darius."


"Oh, iya. Terima kasih ya, Pak," sahut Wulan.


"Sama-sama, Nyonya."


Kedua wanita itu pun membereskan meja kemudian meninggalkan kantor.


Di sisi lain.


Gloriana baru saja selesai berdandan. Terusan merah yang terbuka membuatnya terlihat sangat menawan dan seksi.


"Aku harus berhasil memikat Niko. Malam ini aku harus berhasil membuatnya mabuk."


Ting! Tong!


Bunyi bel rumah membuatnya terkejut. "Itu pasti dia."


Dengan langkah anggun tanpa alas ia mendekati pintu dan membukanya.


Clek!


"Selamat malam."


Jantung Gloriana bergetar mendengar suara berat Niko. "Malam, Pak. Ayo, masuk."


Niko mengangguk, kemudian masuk ke dalam.


Gloriana sedikit jengkel, karena pria itu tidak memberikan komentar apa pun soal penampilannya.


"Langsung saja ke ruang makan, Pak."


Niko mengikutinya. Melihat penampilan Gloriana yang menurutnya berlebihan membuat Niko berkata, "Ini hanya makan malam biasa, kan?"


"Tentu saja, Pak."


"Kalau begitu, kenapa kamu harus berdandan secantik itu?"


Hati Gloriana berbunga-bunga. 'Cantik, Niko mengatakanku cantik,' katanya dalam hati, 'Oh, Gloriana, malam ini kamu harus berhasil, kamu harus berhasil mendapatkan Niko.'


"Anda pria terhormat. Bukankah di depan Anda aku harus menjaga penampilan?"


Respon Niko biasa saja. Ia menarik kursi kemudian duduk tanpa menunggu perintah.


Gloriana kesal. Namun, kekesalan itu harus ditahan agar rencananya bisa berhasil.

__ADS_1


"Apa istri Anda tahu Anda datang ke apartemenku untuk makan malam?"


"Ya. Dan sesuai janji, aku tidak akan lama-lama di sini."


"Tentu saja. Anda tidak ingin mencoba anggur ini?"


Gloriana sebenarnya jengkel harus bersikap formal. Tapi, demi tidak menarik kecurigaan targetnya ia harus bersikap sopan dan formal di depan Niko.


Niko adalah mantan alkoholic. Menelan satu-dua gelas anggur tidak akan membuatnya mabuk. Ia tidak menolak anggur pemberian Gloriana.


"Bagaimana bisnismu?" tanya Niko basa-basi.


Meski sebenarnya ia tak mau tahu soal Gloriana, ia tak mungkin diam saja bersama sang tuan rumah. Sambil menikmati makan malam yang tidak sesuai selera Niko melontarkan beberapa pertanyaan untuk membuka topik.


"Bisnisku lancar, Pak. Rencana uang dari Anda kemarin akan kubuat usaha lagi."


"Bagus kalau begitu."


"Risiko hidup sendiri seperti ini, Pak."


Niko menunduk. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pengakuan Gloriana.


"Kenapa kamu tidak menikah? Hidup bersama bukankah jauh lebih baik?"


"Memang. Tapi, daripada salah pilih, lebih baik hidup sendiri."


Niko menyudahi makanannya.


Gloriana terkejut. "Kenapa tidak menghabiskannya, Pak?"


Selain tidak berselera, Niko merasakan tidak nyaman pada dirinya. Ia merasa panas dan ingin segera bertemu Wulan.


"Sebelum kau aku sudah janji makan malam bersama istriku," bohongnya, "Dia sudah mengijinkanku ke sini, bukan berarti aku melewatkan makan malam bersamanya, kan?"


Gloriana tersenyum pahit. "Anda memang suami yang bijaksana. Tidak masalah," ia menungkan anggur ke dalam gelas Niko dan dirinya.


Niko tak keberatan dan langsung menenggaknya. Setelah menelan habis isi gelasnya, ia berdiri.


"Sama-sama, Pak."


Dengan perasaan kecewa Gloriana mengantar Niko ke depan. "Jika Anda tidak keberatan, kapan-kapan bisa kan Anda lebih lama lagi di sini?"


"Terima kasih untuk itu. Tapi, aku rasa kamu tahu statusku apa. Kedetakan kita kemarin juga karena perjanjian kerja, bukan?"


Wajah Gloriana terasa panas. Seandainya Niko bukan terget selanjutnya, ia sudah menyerang pria itu dengan ciuman yang ganas. Sayangnya, ia harus menahan keinginan itu demi menjaga nama baiknya.


Ia terkekeh. "Maafkan aku, sepertinya aku terlalu lama sendiri sampai terbawa suasana."


Niko hanya tersenyum. "Aku pergi dulu."


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih."


Niko hanya mengangguk kemudian meninggalkan apartemen itu.


"Dasar wanita ******, dia pikir dia bisa menjebakku, hah?!"


Niko bisa merasakan ada sesuatu di anggur itu. Begitu rasa panas akan gairah yang bergolak dalam diri semakin meningkat, ia tersadar dan mengakhiri pertemuan itu. Niko yakin Gloriana sudah merencakan sesuatu kepadanya.


Dengan tubuh bergairah ia mengambil ponsel menghubungi Wulan. Sambil mengemudi ia menunggu panggilannya tersambung.


"Sayang, kamu di mana?" sapanya begitu panggilan terhubung. Suaranya terdengar berat akibat gairah yang kian hari kian meningkat.


"Masih menunggu. Tinggal satu antrian lagi baru giliranku. Kamu di mana, Sayang?"


"Aku dalam perjalanan. Aku akan ke sana sekarang."


"Cepat sekali."


"Sesuai janjiku padamu. Aku tak sabar lagi ingin menerkammu."


Wulan terkekeh. "Kalau begitu kamu langsung pulang saja. Tunggu aku di rumah."

__ADS_1


"Tidak mau, aku akan menjemputmu. Biarkan Darius mengantarkan Fanny pulang. Kita akan pulang bersama."


"Baiklah. Hati-hati, ya."


"Hmmm."


Di sisi lain.


"Nyonya Wulan Lais?" suara perawat terdengar.


Wulan menyapa. "Saya, Suster."


"Silahkan masuk."


"Terima kasih, Suster."


Wulan mengajak Fanny.


Begitu tiba di ruangan berAC itu interkasi antara pasien dan dokter langsung terlaksana. Wulan mengatakan keluhan yang akhir-akhir ini sering dirasakannya.


"Kapan terakhir Anda datang bulan?"


Wulan berpikir. "Bulan kemarin, Dokter. Bulan ini belum," Wulan tersadar melihat lingkar merah di kalender di depannya, "Ini sudah tanggal dua puluh, ya? Seharusnya tiga hari lalu sudah waktunya, Dokter."


"Nah, kan," kata Fanny, "Kamu pasti hamil."


Dokter wanita itu tersenyum. "Saya akan memberikan ini kepada Anda. Besok pas bangun pagi Anda harus mengeceknya. Jika dua garis, berarti Anda positif hamil."


"Aku hamil," Wulan terkejut, "Dokter yakin?"


"Dari hasil dan keluhan Anda tadi jelas itu tanda-tanda kehamilan. Dan untuk lebih akurat lagi, Anda lakukan sesuai yang saya perintahkan."


Fanny senang. "Niko akan menjadi ayah."


"Pak Niko pasti senang," tambah si dokter.


Wulan malu. "Kan belum pasti. Kalau misalkan garisnya satu, berarti hasilnya negatif ya Dokter?"


"Benar. Dan kalau hasilnya positif, saya sarankan Anda kembali lagi ke sini, saya akan memperkenalkan Anda kepada dokter kandungan terhebat di rumah sakit ini."


Wulan semakin malu. Meski dirinya senang mendengar pendapat mereka, hasil yang belum pasti membuatnya deg-degkan.


Wulan berdiri. "Aku akan melakukan sesuai perintah Anda, Dokter. Terima kasih banyak ya, Dokter."


"Sama-sama."


Setelah keluar Fanny berkata, "Niko pasti akan senang mendengar ini."


"Tidak, aku akan merahasiakan ini sampai hasil nyata keluar."


Mereka pun keluar menuju parkiran. Fanny terkejut melihat Niko berdiri di samping Darius.


"Suamimu sudah datang. Tumben cepat sekali."


"Sudah kubilang, kan? Dia itu setia," Wulan terkekeh.


"Iya, iya."


"Fanny, terima kasih sudah menemani istriku. Darius akan mengantarmu pulang. Wulan akan pulang bersamaku."


Fanny senang. "Kamu benar-benar suami pengertian. Darius, kalau kita berjodoh kamu harus menjadi suami pengertian seperti Niko, ya?"


Mereka tertawa kemudian masuk ke mobil masing-masing.


Wulan masuk ke mobil. Baru saja menutup pintu di sampingnya, Niko segera menarik dan membawa Wulan ke pangkuan.


Wulan terkejut. "Sayang, kamu kenapa?"


"Aku tak tahan lagi, Sayang. Aku tak tahan lagi ingin memakanmu."


Bersambung_____

__ADS_1


__ADS_2