
Wulan syok mendengar itu. Sesaat ia terpaku di tempat duduk.
Melihat keterkejutan Wulan, kepala bank itu langsung mengajukan pertanyaan, membuat Wulan sadar dari kyalannya, "Maafkan saya Wulan. Saya tidak bisa memperjuangkanmu, ini perintah pusat. Jadi, kamu harus menyetujuinya."
Wulan masih diam.
"Seandainya bisa membantu, lebih baik kamu menerima penaikan jabatan kemarin daripada mutasi ke luar kota."
"Memangnya saya akan di mutasikan ke mana, Pak?"
"Ke Manado."
Wulan senang dengan kota itu. Selain karena banyak tempat wisata untuk bepergian, di sana banyak makanan enak yang membuat nafsu makan Wulan semakin meningkat.
Namun, mengingat statusnya sekarang adalah pacarnya Niko, kesedihan pun melanda Wulan. Ia tak ingin menjauhi pria itu. Rasanya ia tak mau berjauhan dengan Niko. Entah apa alasannya, jelas Wulan enggan meninggalkan kota Jakarta untuk sekarang ini.
"Bagaimana, kamu setuju, kan di mutasikan ke sana?"
Wulan menatap skeptis. "Seandainya saya menolak, apa ada konsekuensi yang harus saya terima?"
"Saya ragu mengatakannya. Kemungkinan jika menolak, kamu harus mengundurkan diri."
Wulan terkejut. Mengundurkan diri? Tidak, ia tidak ingin berhenti. Walau pun orangtuanya sanggup membiayai kehidupannya secara menyeluruh, ia tidak ingin kehilangan pekerjaan itu.
"Baiklah," kata Wulan lemah, "saya bersedia di mutasi, Pak."
Senyum di wajah kepala bank begitu lebar. "Saya yakin kamu tidak akan mengecewakan kami. Terima kasih banyak, Wulan. Kamu boleh kembali."
Wulan berdiri dan pamit. "Saya permisi dulu, Pak. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Saya akan menyampaikan kabar ini kepada kepala cabang, beliau pasti gembira mendengar ini."
Dengan ekspresi lesuh Wulan meninggalkan ruangan.
Begitu wanita itu menghilang di balik pintu, ekspresi kepala bank langsung berubah. Lelaki itu meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, Pak Jefry. Saya sudah berhasil membujuk Wulan. Rencana kita berhasil."
"Bagus. Saya akan segera mengirim uang yang saya janjikan kepada Anda dua kali lipat."
"Terima kasih banyak, Pak Jefry. Terima kasih banyak."
Di sisi lain.
Suasana hati yang berubah drastis membuat Fanny penasaran, saat menatap sahabatnya kembali.
"Ada apa?"
Wulan tak menjawab. Ia duduk bersandar di kursinya kemudian memijat kepala.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu, Wulan? Apa ada masalah dengan laporannya?"
Wulan menatap lemas. "Aku di mutasi. Besok hari terakhirku di kantor ini."
"Apa?!"
Suara Fanny yang keras membuat Wulan dan beberapa orang tersentak.
"Pelankan suaramu, Fanny," titah Wulan.
Fanny menurut. "Kenapa kamu di mutasi? Yang di mutasi itu kan untuk orang yang melakukan kesalahan. Kamu tidak melakukan kesalahan, kan?"
Wulan menjelaskan seperti alasan kepala bank. "Begitu aku berhasil mendidik mereka, aku akan kembali ke sini."
"Memangnya tidak ada yang bisa mengajarkan mereka? Kenapa harus kamu?"
"Entalah, ini permintaan kepala cabang. Kalau menolak, aku harus siap untuk mengundurkan diri."
Mata Fanny membulat kaget. "Mereka pasti sengaja membuat aturan itu, agar kamu setuju."
"Maybe. Dan sekarang waktu kita hanya hari ini dan besok. Lusa kamu tidak akan melihatku lagi."
Mata Fanny berkaca-kaca. "Jangan berkata begitu, kamu kan tidak akan lama. Makanya, kamu harus cepat mendidik mereka, biar kamu bisa cepat kembali bersamaku. Memangnya, kamu tidak takut meninggalkan Niko sendirian?"
Mendengar nama itu membuat Wulan bersedih. Ia kembali bersandar dan menatap dinding kantor.
"Aku tidak tahu dia akan setuju atau tidak."
"Entalah. Aku pusing sekali, Fanny. Aku bingung harus menjelaskan padanya."
"Ini kan bukan keinginanmu. Kalau kamu berterus terang, aku rasa dia bisa mengerti."
Wulan tersenyum sedih.
"Sekarang makan lah, sejak tadi kamu belum makan."
Dengan patuh Wulan menurut. Sedangkan Fanny membantu Wulan membuka makanan itu dan menyajikannya.
***
Setelah resmi menjadi pimpinan perusahan, Niko begitu sibuk seharian sampai lupa waktu. Ia bahkan tidak sadar saat Handoko masuk ke ruangannya dan duduk di depannya.
"Sepertinya kau begitu sibuk."
Saat itulah Niko terkejut. "Eh, Papa. Sejak kapan Papa di situ?"
"Baru sajaa."
Handoko memperhatikan kerja keras Niko saat pria itu memeriksa lembaran-lembaran dokumen yang menumpuk di depannya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak salah papa mengangkatmu menjadi pimpinan."
Niko tersenyum kemudian menghentikan aktivitasnya. Ia bersandar di kursi pimpinan dan menatap Handoko.
"Bukankah pimpinan yang bertanggungjawab harus begitu? Aku bahkan sudah membuat konsep untuk kegiatan ke depannya."
"Konsep, konsep apa itu?"
Ekspresi Niko serius. "Sebelumnya kan perusahan pimpinan BK Group dirahasiakan. Bahkan aku dan hampir semua karyawan lain mengira, bahwa pimpinan BK Group tidak bertanggungjawab, beliau tidak pernah muncul di hadapan kami. Jadi, walau pun ada keluhan atau sejenisnya, mereka tidak bisa mengutarakan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab kami sebagai pihak perusahan."
Handoko terus menyimak.
"Aku sudah memutuskan untuk terlibat dalam segala hal. Meskipun sudah ada pihak-pihak yang ditugaskan sesuai keahlian mereka, sebagai pimpinan yang bertanggungjawab, aku harus menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Aku harus mencaritahu keinginan mereka, karena tanpa mereka BK Group tidak akan seperti sekarang."
"Papa senang mendengarnya. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh pimpinan yang bertanggungjawab. Dalam lingkungan ini kamu tidak hanya pimpinan bagi mereka, kamu adalah ayah mereka, toh kamu yang menggaji mereka, kamu yang memberi makan mereka. Jadi, sudah sepantasnya sebagai ayah kamu membahagiakan anak-anakmu."
"Papa benar. Dan mulai besok aku harus terlibat dengan pekerjaan mereka. Karena sebelum aku tahu perusahan ini milik Papa, aku sempat mendengar ada yang mencari muka. Aku harus mencaritahu dan menyingkirkan orang-orang yang berkhianat kepada kita."
"Memangnya ada yang seperti itu?"
"Ada, Pa. Itu lah alasan aku ingin terlibat dengan mereka. Mungkin karena mereka pikir pimpinan perusahan ini tidak pernah muncul. Dan sekarang mereka sudah tahu siapa pimpinannya. Aku harap aku tidak akan mendapatkan pengkhianatan di balik laporan-laporan ini."
"Kalau menemukannya kamu bisa langsung memecat dia. Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu sebijaksana ini? Perasaan papa tidak pernah mendidikmu menjadi seperti ini."
Niko berdecak. "Papa pikir aku tidak punya otak? Papa tidak mengajarkan bukan berarti aku harus menjadi orang bodoh selamanya, bukan?"
"Papa tahu," ledek Handoko, "pasti Wulan."
Mendengar nama itu membuat wajah Niko merah padam. "Dia sangat sibuk hari ini. Saking sibuknya dia menolak makan siang bersamaku."
"Kamu tidak boleh kurang hati, itu sudah tanggungjawabnya dalam pekerjaan. Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama jika demikian, bukan?"
Niko mengangguk.
Handoko berdeham. "Tadi papa ke rumah om Jefry. Papa mencari Angelina, tapi wanita itu tidak ada."
"Berarti Papa belum bertemu dengannya?"
Handoko mengangguk. "Kata orang rumah Jefry dan istrinya menghadiri acara penting di luar kota. Mereka akan kembali besok."
"Apa Papa percaya? Aku rasa om Jefry sudah mencium rencana kita."
"Terserah dia. Sampai kapan pun dia menghindar papa akan tetap menemui Angelina."
"Aku punya ide, Pa. Bagaimana kalau kita urus saja pernikahanku dan Wulan secepatnya? Kan aku dan Ulan tidak akan menikah. Daripada menunda-nunda, lebih baik kita siapkan saja pernikahan itu mulai sekarang. Begitu semua selesai, aku akan menemui tante Angelina dan melamar Wulan."
"Papa setuju dan lebih baik memang begitu. Kau mau semeriah apa pestamu, hah? Papa akan menyiapkan segalanya sebelum papa kembali ke luar negeri."
"Nanti malam aku akan mengajak Wulan makan malam. Aku akan membahas soal ini padanya. Dia pasti akan keberatan, tapi ... aku akan berusaha meyakinkannya, biar dia percaya kalau aku benar-benar serius ingin menikahinya."
__ADS_1
Bersambung___