
Wulan berpikir. Saran Fanny ada benarnya. Sebelum Ulan menaruh rasa kepada Niko semakin dalam, ada baiknya ia jujur soal hubungan mereka.
"Sebelum ayahnya Niko mengklarifikasi soal kesalahpahaman itu dengan papa kalian, ada baiknya kau juga mengklarifikasi hal itu dengan Ulan. Dia mungkin akan sakit. Tapi itu lebih baik, daripada penolakan Niko."
Fanny benar. Ulan pasti akan marah jika perjodohan itu dibatalkan.
"Kau benar. Nanti malam aku akan bicara dengannya," Wulan pun bergegas, "Kau bisa kan antar aku pulang, aku tidak bawa mobil."
"Tentu saja."
***
Karena sore ini Wulan tidak ingin pulang bersamanya, Niko segera ke rumah dan mencari Handoko.
"Magdalena, di mana papa?"
"Di taman belakang, Tuan."
"Terima kasih."
Niko bergegas dan menemukan Handoko sedang duduk membaca koran.
"Pa?"
Lelaki itu menoleh. Dilihatnya wajah kusut Niko saat pria itu menarik kursi di depannya kemudian duduk.
"Ada masalah apa?"
"Aku ingin Papa segera melamar Wulan. Aku tidak ingin menundanya lagi, Pa. Aku tidak peduli om Jefry setuju atau tidak, aku ingin Papa ke rumah mereka dan meminta Wulan kepada ibunya. Aku ingin pernikahan kami dipercepat, Pa."
Handoko melipat koran, meletakkan, kemudian menatap putrnya. "Kau belum menidurinya, kan?"
Zet!
Niko tercengang. "Apa yang Papa pikirkan? Mana mungkin aku merusak sesuatu yang sangat berharga bagiku."
"Kalau begitu apa alasanmu mendesak papa untuk segera melamarnya? Kita akan melakukannya, tapi belum sekarang. Tunggu sampai kondisi sudah aman, baru papa akan bertemu Angelina untuk meminang Wulan. Percuma papa bicara dengan Jefry, dia tidak akan mengubah keputusannya. Jadi, jalan satu-satunya adalah bertemu Angelina dan mengatakan yang sebenarnya."
Niko sedikit lega mendengar itu. Namun, penolakan Wulan tadi sore untuk mengantarnya pulang membuat Niko tak terima.
"Tadi siang kami bertemu Ulan di restoran. Karena pertemuan itu Wulan tidak ingin aku menemuinya berapa hari ini. Aku tidak mau itu terjadi, Pa."
"Apa Wulan mengkhawatirkan Ulan?"
"Dia akan menunggu sampai Papa mengklarifikasi kesalahpahaman ini pada om Jefry, sedangkan dia tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi."
Handoko berpikir sejenak. Setelah memutuskan hasilnya, ia menatap Niko dan berkata, "Tidak ada pilihan lain selain menemui Angelina. Besok Papa akan menemui wanita itu dan bicara. Kau tenang saja, secepatnya akan papa urus soal itu."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Di sisi lain.
Wulan yang baru saja tiba langsung di sambut oleh Angelina.
"Sayang, ada yang ingin mama bicarakan denganmu."
Melihat ekspresi ibunya membuat Wulan penasaran. "Soal apa?"
"Kita ke kamar saja, mama tidak ingin mereka menguping pembicaraan kita."
Tibanya mereka di kamar Wulan segera mengunci pintu.
"Ada apa, Ma? Ada masalah apa?"
"Papa mulai curiga. Tadi pagi saja dia menanyakan siapa yang sering antar dan jemput kamu setiap hari."
"Terus Mama jawab apa?"
"Mama bilang Fanny."
Wulan terkekeh.
"Sebenarnya mama tidak masalah soal itu, Sayang. Tapi biar tidak mengundang kecurigaan dan pikiran buruk tentangmu, ada baiknya kau suruh pria itu datang ke rumah untuk bertemu mama dan papa. Tidak masalah jika dia belum ingin melamarmu. Asalkan setiap kali menjemputmu dia harus berpamitan langsung kepada mama ataupun papa."
"Ada apa, Sayang?" tanya Angelina. Ia menangkap ekspresi halu di wajah Wulan.
"Tidak apa-apa, Ma."
"Kenapa, apa kamu tidak suka dengan saran mama? Wajar kan seorang pria mengajak keluar anak perempuan harus sepengetahuan orangtuanya? Kalau terjadi sesuatu kepada kalian, bagaimana?"
"Bukan begitu, Ma. Apa yang Mama bilang benar. Hanya saja ...."
"Hanya apa?"
Wulan menarik napas. "Pria yang kuceritakan ke Mama. Pria yang kuceritakan akan segera melamarku dan sering menjemput dan mengantarkanku itu adalah Niko. Niko, calon suaminya Ulan."
"Apa?!"
"Om Handoko salah orang, beliau mengira hanya Ulan anaknya papa. Jadi, begitu Niko menyampaikan ingin menikahiku, om Handoko langsung meminta papa untuk menjodohkan putrinya dengan Niko. Wanita yang menolong Niko saat dia kecelakaan adalah aku, bukan Ulan."
"Ya, ampun. Apa papa sudah tahu soal ini?"
"Kalau sudah papa pasti akan menyampaikannya kepada kita. Kata om Handoko beliau akan mengklarifikasi masalah ini dengan papa secepatnya."
"Lalu Ulan bagaimana, apa dia sudah tahu soal ini? Dia pasti akan sangat kecewa."
Wulan menatap sedih. "Tadi siang kami bertiga makan di restoran yang sama. Aku tidak melihatnya, tapi Niko memberitahukan padanya, kalau aku dan Niko makan siang bersama."
__ADS_1
"Astaga, berarti kalian bertiga terpisah meja?"
"Iya."
Angelina menatap sedih. "Cepat atau lambat dia harus tahu. Sebelum perasaannya semakin dalam terhadap Niko, ada baiknya dia tahu soal ini."
"Kalau pun aku mengikhlaskan hubungan mereka, Ulan tidak akan bahagia, Niko tidak mencintainya, Ma."
"Kamu benar, Sayang. Pernikahan tanpa cinta tidak akan bahagia."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu mengejutkan mereka.
"Kak, apa kamu di dalam?!"
Suara Ulan membuat Wulan dan Angelina saling bertatap.
"Mungkin dia ingin membahas soal kejadian tadi siang di restoran," kata Wulan.
"Kalau begitu mama keluar dulu, ya. Kalau dia tanya mama sedang apa di sini, jangan bilang kalau mama sudah tahu soal itu."
Wulan mengagguk kemudian berdiri. Ia membuka pintu, melihat Ulan dengan ekspresi terkejut menatap dirinya dan Angelina.
"Mama! Maaf, apa aku mengganggu kalian?"
Meskipun sudah menjadi anggota keluarga, Ulan selalu menghargai dan tidak ingin ikut campur soal pembicaraan antara Wulan dan ibu kandungnya. Selama tidak melibatkan dirinya, Ulan enggan bergabung atau mencari tahu hal-hal pribadi tentang ibu dan anak itu.
"Tidak," jawab Angelina, "Mama ke dapur dulu, mama akan buatkan makan malam untuk kalian."
Begitu Angelina pergi, Wulan menatap Ulan dan tersenyum. "Masuklah."
Ulan menurut. Ia mengambil posisi di sofa panjang kemudian menatap Wulan.
"Kau ingin menanyakan Niko, kan?" Wulan memulai. Ia tahu Ulan suka gak enakkan terhadap semua orang. Jadi, daripada basa-basi terlalu banyak, Wulan sengaja melontarkan pertanyaan itu agar Ulan langsung ke intinya, "Kenapa aku tidak melihatmu di sana, kenapa kamu tidak bergabung dengan kami dan makan siang bersama?"
Ulan yang awalnya ingin meminta penjelasan soal kedekatan wanita itu dengan calon suaminya, terkejut mendengar pertanyaan Wulan.
"Niko tidak mengajakku. Jadi, aku tidak enak menawarkan diri sepihak. Kakak juga tidak ada waktu itu. Kalau ada, mungkin Kakak yang akan mengajakku bergabung bersama kalian."
"Niko memberitahuku soal keberadaanmu. Aku mencari-cari, tapi tidak menemukanmu."
Otak Ulan tertuju soal tujuannya bertemu Wulan. "Aku ingin tanya satu hal ke Kakak."
"Soal apa?" jawab Wulan. Ekspresinya sengaja dibuat biasa, agar Ulan tidak curiga.
"Sejak kapan Kakak mengenal Niko? Kenapa Kakak tidak pernah bilang, kalau Kakak mengenal calon suamiku?"
Bersambung____
__ADS_1