
Niko yang menyaksikan tangisan Wulan waktu itu merasa bersalah untuk meneruskan rencananya. Selain mengerjai sang istri sebelum ulang tahunnya, Niko sebenarnya ingin tahu seberapa tulus cinta Wulan padanya.
Dan seperti yang sudah ia niatkan sebelumnya, kali ini Niko semakin terbuka soal kebersamaannya bersama Gloriana. Hari ulang tahun Wulan tinggal seminggu dan Niko ingin membuat istrinya marah.
"Maafkan aku, Sayang. Hari ini aku tidak bisa makan siang bersama, Gloriana memintaku makan siang bersamanya. Mohon pengertiannya ya, Sayang. Kalau bukan investor terbesar di kantor kita, aku tidak mau berhadapan dengan wanita itu."
"Baiklah, aku bisa makan siang bersama Fanny."
"Terima kasih untuk pengertianmu, Sayang. Aku cinta kamu."
"Ya sudah, aku cari makan dulu bersama Fanny."
"Iya. Hati-hati ya, Sayang. Pulang nanti aku jemput, ya?"
"Iya."
Wulan menatap Fanny setelah panggilannya terputus. Wanita itu ternyata sudah menatapnya sejak tadi.
"Kenapa, dia tidak bisa?" tanya Fanny.
"Iya, wanita itu mengajaknya makan siang bersama."
Fanny jengkel. "Atau jangan-jangan waktu itu yang kamu lihat benar adalah Niko. Kalau tidak, mana mungkin sekarang dia mengajak Niko makan siang. Benar-benar suami tidak tahu diri, bukannya menemani istri makan, malah menemani wanita lain."
"Sudahlah," Wulan berdiri, "Ayo, aku tak sabar lagi ingin makan cumi bakar buatan Empok."
Fanny menurut dan mereka berjalan bersama menuju lift.
"Kamu tidak marah suamimu makan dengan wanita lain?"
"Mau bagaimana lagi? Marah tidak akan memperbaiki keadaan. Walaupun aku tidak setuju tapi jika Niko mau, bagaimana?"
"Hati kamu terbuat dari apa, sih? Untung kamu, kalau aku, sudah kudatangi dan kulabrak wanita itu. Jelas-jelas dia tahu Niko punya istri."
Tepat di saat itu lift terbuka. Fanny dan Wulan hendak keluar dan terkejut melihat sosok tampan sedang berdiri di depan mereka.
"Halo, Nona-Nona cantik."
"Eh, Pak Deril," sapa Fanny.
Wulan tersenyum. "Apa kabar, Pak?"
"Baik. Kalian mau ke mana?"
"Mau makan siang, Pak."
"Kebetulan, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian. Ayo, kita makan siang di mana?"
"Di depan, Pak," ucap Fanny.
"Oke. Aku yang traktir, ya."
Mereka terkekeh.
***
Deril, Wulan dan Fanny tiba di tempat makan depan kantor.
Zet!
Warung makan itu tidak buka.
Wulan kecewa, hari ini ia ingin sekali makan siang cumi bakar ala pemilik warung makan itu. Namun, sayangngnya niat itu harus tertunda.
"Bagaimana ini?" tanya Fanny menatap Wulan, "Apa kita cari cumi bakar di tempat lain saja?"
Deril menoleh. "Kamu ingin makan cumi bakar?"
"Iya, Pak."
"Aku tahu tempat yang cocok untukmu. Kalian tunggu di sini, aku ambil mobil dulu."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Deril meninggalkan Fanny dan Wulan. Selama berapa bulan ini Deril sangat sibuk dengan profesi juga tanggung jawabnya yang lain. Setiap pulang kantor ia tak berkumpul lagi dengan bawahannya karena sibuk mengurus Viona.
Wulan dan Fanny sudah tahu soal itu. Namun, wampai sekarang mereka masih penasaran ingin melihat Viona. Sayangnya, wanita itu tidak mau ditemui oleh siapa pun pasca keluarnya dari rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Viona, Pak?" Wulan memulai. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju tempat makan.
Wulan duduk di depan sesuai permintaan Deril. Fanny di belakang, sedikit mencondongkan badan, agar bisa menyimak pembicaraan mereka.
"Kabarnya baik. Itu sebabnya aku ingin memberitahu kalian, kami akan menikah."
Fanny dan Wulan senang.
"Kapan resepsinya, Pak?"
"Wah, Pak Deril akan melepas masa lajang," ledek Wulan, "Aku dan pak Deril sudah, kamu kapan, Fan?"
"Tunggu saja undangannya."
Mereka semua tertawa.
Deril membelokan mobil ke restoran khas laut di tepi kota. Entah kenapa Wulan tiba-tiba teringat soal Niko. Ia menatap sekeliling, mencari mobil suami yang mungkin saja sedang makan siang di tempat itu.
"Pesanlah sesuka kalian," kata Deril begitu mereka duduk.
Wulan dan Fanny duduk bersebelahan. Sedangkan Deril duduk di depan mereka.
"Bagaimana keadaan Ulan, apa dia masih berkeliaran?"
Deril tidak takut dengan pemberitaan tempo hari, di mana Ulan sudah bebas tanpa embel-embel.
Walaupun wanita itu dan ayahnya telah melakukan kesalahan besar terhadap ayah dan calon istrinya, Deril yakin kalau wanita itu tidak akan mengganggu kehidupan mereka lagi. Apalagi dia sudah bebas.
"Sampai sekarang ini aku tidak pernah melihatnya," balas Wulan, "Aku berharap sekarang dan selamanya pun dia tidak akan mengganggu kehidupanku lagi."
"Aku rasa demikian. Dia sudah bebas, pasti dia sudah belajar dari pengalaman yang sebelumnya."
***
Sore hari Wulan tiba-tiba berkeinginan makan ikan bakar buatan Handoko. Karena jam operasional sudah selesai ia menghubungi Niko dengan posisi duduk bersandar di ruangannya.
"Halo, Sayang?" sapa Niko begitu panggilan tersambung.
Wulan tersenyum. "Hari ini papa sibuk tidak, ya? Sudah lama aku ingin makan ikan bakar buatan papa."
"Coba kamu telpon papa."
"Kamu saja yang telpon, aku tidak enak bilang ke papa."
"Kamu saja, kan kamu sekarang menantunya. Aku masih sibuk ini, sebentar lagi aku akan menghadiri meeting bersama Gloriana."
Mendengar nama itu spontan membuat Wulan kesal. "Gloriana terus. Makan siang bersamaku kamu tolak demi dia. Sekarang ...."
"Sayang, aku minta pengertiannya, ya? Ini juga demi kamu juga, kan? Kalau perusahanku sukses besar kan kamu yang menikmatinya."
Wulan tak mau berdebat. "Kalau begitu sekalian saja kamu makan malam bersamanya, aku akan makan malam bersama papa."
"Tapi aku____"
Tut! Tut!
Wulan memutuskan panggilan sesaat.
Fanny menoleh dari tempat duduknya. "Gloriana lagi?" ia tadi mendengar Wulan menyebutkan nama itu.
"Mereka mau meeting."
"Sepertinya mereka bukan hanya sekedar klien, deh. Coba kamu selidiki dulu."
Wulan menatap Fanny. "Coba kamu tanya Darius, dia kan asistennya Niko."
__ADS_1
"Aku akan coba. Tapi, kecil kemungkinan kita akan mendapatkan jawaban yang tidak sesuai, secara Niko yang menggajinya. Mana mungkin dia mau mengaku, apalagi dia tahu aku sahabatmu."
"Iya juga, sih. Biarkan saja, toh kalau memang benar dia selingkuh suatu saat pasti akan terbongkar."
Fanny menatap Wulan lekat-lekat. "Akhir-akhir ini kamu tidak biasanya. Apa kamu sudah ke dokter?"
"Tidak biasanya, bagaimana?"
"Coba perhatikan, tadi kamu makan cumi banyak sekali. Sekarang kamu tiba-tiba ingin makan ikan bakar. Akhir-akhir ini kamu sering mengkonsumsi masakan yang dibakar, Lan."
Wulan menyadari. "Aku juga merasa akhir-akhir ini badanku cepat lelah."
"Kamu periksa ke dokter dulu."
"Iya, nanti aku akan bilang ke Niko."
"Aku rasa ada yang tidak beres denganmu. Jangan-jangan kamu hamil, Lan."
Senyum di wajah Wulan melebar. "Aku sih berharap begitu. Hanya saja, kalau aku hamil Niko tak akan mengijinkanku kerja lagi. Kita tidak akan bersama lagi."
"Kan aku bisa main ke rumahmu."
"Iya, sih. Tapi, jangan dulu sekarang, aku masih ingin kerja dan masih ingin bersama kalian di sini."
Fanny tersenyum. "Cepat hubungi mertuamu sebelum dia sibuk."
Wulan tersadar dan langsung menghubungi Handoko. "Halo, Pa?"
"Halo, Sayang. Apa kabar menantu papa?"
"Papa, aku ingin makan ikan bakar buatan Papa. Bisakah Papa buatkan untukku?"
"Oh, tentu saja. Kapan kamu ke sini?"
"Sekarang, Pa. Rencana pulang kantor ini aku dan Fanny akan ke sana."
Fanny terkejut. "Kamu saja, aku tidak ikut," bisiknya.
Wulan tak peduli. "Tidak apa-apa kan aku mengajak Fanny, Pa?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Ya sudah, papa akan menyiapkan bahannya sekarang, ya."
"Oke. Terima kasih banyak, Pa. Maaf ya sudah merepotkan Papa."
"Tidak apa-apa, Sayangku."
Setelah memutuskan panggilan Fanny melotot kepada Wulan. "Kenapa kamu menyebut namaku."
"Kamu harus menemaniku, Fan. Lagi pula kamu belum mencoba ikan bakar buatan mertuaku, kan? Aku yakin, kamu pasti ketagihan."
Drtt... Drtt...
Ponsel Wulan bergetar. Dilihatnya nama Niko sebagai pemanggil. Bukannya merespon, Wulan mengabaikannya. Ia juga mematikan ponsel agar Niko tak mengganggunya.
"Ayo, aku tidak mau papa menunggu. Kita harus ke sana untuk membantunya."
Hanya memakan waktu lima belas menit mereka sampai di rumah Handoko.
Handoko yang sedang sibuk membakar langsung tersenyum melihat Wulan. "Halo, anak-anakku. Duduklah, sebentar lagi ikannya selesai."
Aroma bumbu khas membuat Wulan semakin tergiur. "Papa, aromanya membuatku lapar.
Handoko terkekeh sambil menatap ke arah pintu. "Sebentar lagi masak, Sayang. Oh, iya, mana Niko?"
Wulan kesal, tapi tidak menunjukkan ekspresinya. "Dia ada meeting dengan investor terbesar perusahan. Jadi, dia tidak ikut."
"Investor?"
"Kata Niko sih begitu, Pa. Kalau tidak salah namanya Gloriana."
Bersambung____
__ADS_1