
Wulan melirik Fanny yang sedang menunduk. Ia tertawa. "Aku tidak hamil, Ma. Akhir-akhir ini memang nafsu makanku sedang meningkat."
"Yang benar? Apa kamu sudah pergi ke dokter?"
"Untuk apa ke dokter, Mama? Aku kan tidak hamil. Orang baru selesai datang bulan kemarin."
Fanny menahan tawa.
Handoko dan Angelina saling bertatap sesaat.
"Kalau begitu kapan kalian akan memberikan kami cucu, hah?" ucap Handoko.
"Iya," tambah Angelina, "Mama sendirian di rumah. Kalau bisa berikan cucunya dua, ya? Satu untuk mama, satu untuk papa Handoko."
Mereka tertawa.
"Mama ini ada-ada saja," kata Wulan, "Mama pikir membuat cucu segampang membuat roti."
"Memang tidak gampang, Sayang. Tapi, kamu dan Niko harus berusaha menghasilkan anak kembar untuk kami. Yang mama tahu kalau ingin anak kembar bisa mengikuti prosedur medis seperti, inseminasi atau fertilisasi in vitro. Iya kan, Fan?"
Fanny terkejut lalu tersenyum. "Iya, Tante. Kata saudaraku juga, gejala anak kembar biasa terlihat dari nafsu makan yang meningkat dan peningkatan berat badan dari si calon ibu."
Wulan menatap marah.
Mereka semua tertawa ketika Viona dan Deril muncul.
Wulan berdiri dan memeluk Viona. "Selamat, Viona. Aku tak menyangka kamu adalah istri dari bos kami sekarang."
Viona menangis. "Aku bahagia, Wulan. Aku bahagia. Terima kasih kalian sudah datang. Terima kasih kalian mau meramaikan pernikahanku malam ini. Kalian semua sudah seperti keluarga bagiku. Kita semua sekeluarga, kan? Hanya kalian yang kupunya di sini, aku tidak punya siapa-siapa selain kalian."
"Iya, Sayang," tambah Angelina sambil mengusap bahunya, "Kita semua keluarga. Kamu dan Fanny sudah tante anggap seperti anak sendiri. Kita adalah keluarga."
Semua orang terharu. Angelina, Wulan dan Fanny ikut menangis. Kondisi wajah yang bermasalah dan tanpa keluarga yang menghadiri pernikahannya, membuat antusias Viona tak berkurang. Ia bisa melewati hari ini dengan penuh kebahagiaan.
"Ada kabar gembira lagi untuk kalian," ucap Viona.
"Apa itu?"
Semua orang menyimak.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Deril akan menjadi ayah. Kamu, Niko, Fanny dan Darius akan menjadi pamannya. Om Handoko dan tante Angelina akan menjadi kakek dan neneknya. Kalian mau kan mengurus anakku jika aku tidak ada?"
Semua orang terkejut termasuk Deril.
"Tidak ada, apa maksudmu, Sayang?"
"Iya, apa maksudmu berkata begitu?" tambah Angelina.
Fanny dan Wulan menatapnya penasaran.
Viona kembali menangis. "Aku takut anak ini tidak mau menerimaku sebagai ibunya. Aku takut dia membenciku karena wajahku seperti ini. Kalau itu demikian, mau tidak mau aku harus menjauh dari dia. Aku ingin kalian menjaganya jika dia tidak menginginkanku."
__ADS_1
Angelina memeluknya. "Itu tidak mungkin, Nak. Jangan berpikir terlalu jauh."
"Benar," tambah Handoko, "Sejelek-jeleknya wajahmu, kamu tetap ibunya, Viona. Kamu tidak boleh bicara begitu."
Angelina melepaskan pelukan.
Deril memeluknya. "Dia akan menerimamu seperti aku menerimamu. Percayalah, aku dan anak kita akan selalu mencintaimu sepenuh hati."
Semua orang terharu kecuali Wulan, pikirannya saat ini tertuju kepada Niko. Apakah Niko akan mencintainya seperti cinta Deril kepada Viona? Sikap Niko sekarang yang sering mengabaikannya membuat Wulan ragu. Buktinya pria itu meninggalkan istrinya dan menemui wanita lain.
"Tidak," kata Wulan dalam hati, "Apa pun yang terjadi, aku harus mempertahankan rumah tanggaku dengan Niko. Sekalipun akhirnya ketahuan Niko selingkuh dengan Gloriana karena ada yang salah pada diriku, aku harus menerima dan mengubahnya menjadi lebih baik. Aku harus membahagiakan Niko. Aku harus menjaga Niko, agar dia tidak jatuh ke tangan Gloriana."
Di sisi lain.
Niko hampir setengah jam mengendarai mobilnya. Ia sengaja berlama-lama agar Wulan percaya kalau dirinya menemui Gloriana.
Karena perutnya sudah lapar, Niko memutuskan untuk kembali ke pernikahan Viona dan Deril. Ia baru sadar, sejak pergulatan yang menguras tenaga di kamar mandi ia belum mengisi perutnya dengan makanan.
Niko pun akhirnya tiba di kediaman Lamber. Ia segera memasuki rumah dan mencari Wulan.
Wulan masih di posisi yang sama dengan Fanny. Karena semua orang sudah pergi dan asik sendiri dengan yang lain, ia dan Fanny duduk manis sambil membicarakan soal kehamilannya.
"Aku akan menaruhnya di dalam kotak. Begitu dia memberi ucapan dan hadiah, aku akan memberikan kotak itu padanya."
Niko muncul. "Kotak apa, Sayang?"
Fanny dan Wulan terkejut.
Niko duduk di sampingnya. "Sejak kamu bilang akan memberikan kotak itu padanya. Kotak apa dan pada siapa?"
Wulan bersyukur Niko melewatkan pembicaraan soal bayi. Dengan senyum lebar ia memegang pipi Niko.
"Viona, aku akan memberikan kotak hadiah itu padanya. Rencana malam ini aku akan memberikannya. Tapi, setelah di pikir-pikir, mungkin ada baiknya besok saja aku memberikan kotak itu kepada Deril."
"Kotak hadiah ... perasaan kamu tidak membungkus hadiah untuk mereka, Sayang."
Fanny mengambil alih. "Hadiahnya ada padaku. Aku akan membawanya besok dan memberikan hadiahnya di kantor."
Niko tak peduli. Ia merengek seperti anak kecil di bahu Wulan. "Aku lapar. Aku ingin makan, asal kamu yang menyuapiku."
Melihat itu spontan membuat Fanny menahan tawa.
"Kamu ingin makan apa?" Wulan mengambil piring dan sendok di depan mereka yang masih bersih.
Niko berbisik, "Aku ingin memakanmu."
Fanny tertawa.
Wajah Wulan merah padam. Ia tak menyangka suaminya akan bermanja-manja seperti itu di depan umum. Namun, sebagai istri ia justru senang Niko bersikap begitu.
Tahu makanan kesukaan suaminya adalah ayam, Wulan mengambil ayam dan sayuran di depannya kemudian menyuapi Niko.
__ADS_1
Handoko dan Darius muncul.
Spontan Fanny berdiri dan mempersilahkan Handoko duduk di samping Wulan. Ia duduk di depan mereka dan Darius duduk di sampingnya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Handoko, "Wulan, biarkan dia makan sendiri, dia bukan anak kecil lagi."
Wulan tersenyum. "Aku senang menyuapinya, Papa."
Niko tersenyum meledek kepada Handoko. Ia merasa senang Wulan membelanya.
Angelina muncul. "Niko, kamu dari mana? Kenapa baru kelihatan?"
Ekspresi kaget di wajah Niko membuat Handoko, Wulan dan Fanny menahan tawa.
"Aku keluar sebentar tadi, Ma."
Angelina duduk di samping Fanny. "Keluar atau menemui Gloriana?"
Niko menatap Wulan. "Kamu memberitahu mama?"
Baru hendak menjawab Angelina langsung memotong, "Memangnya kenapa kalau Wulan memberitahu mama? Kamu takut mama tahu, hah?"
Niko menelan ludah. "Tidak apa-apa, Ma. Aku kaget saja sama Mama tahu nama itu."
"Lain kali ajak istrimu kalau bertemu klien di luar sana. Apalagi ini sudah malam, sangat tidak pantas suami orang sepertimu bertemu wanita lain tanpa ditemani istri."
"Maafkan aku. Aku janji kejadian itu tidak akan terulang."
Angelina belum puas. "Mama penasaran, sepenting apa wanita itu sampai kamu meninggalkan Wulan di sini sendirian, hah? Beda cerita kalau kalian tidak menghadiri pernikahan. Apa kamu tidak bilang padanya, kalau kamu sedang menghadiri pernikahan atasannya Wulan?"
Niko terdiam.
Wulan juga baru sadar. Kalau memang Niko memberitahu soal keberadaan mereka, mana mungkin Gloriana akan menghubunginya. Itu artinya Gloriana sangat penting di bading dirinya.
Angelina berlanjut, "Mama yakin pasti kamu tidak memberitahunya. Kalau iya, mana mungkin dia berani mengganggu waktumu dan istrimu."
Fanny dan Handoko mengutuk Niko dalam hati. Mereka senang Angelina memarahinya.
Niko malu. Ia menyesal telah melakukan itu di waktu yang salah, seharusnya ia mengerjai Wulan setelah pulang dari pernikahan. Dengan begitu Angelina tidak akan memarahinya seperti ini.
Wulan membela. "Sudahlah, Mama. Niko sudah kembali, kan? Jangan buat napsu makan suamiku berkurang Mama."
Angelina belum puas. "Sekali lagi mama tahu kamu meninggalkan Wulan demi investor itu, mama akan mencari wanita itu dan melabraknya."
"Papa juga," tambah Handoko, "papa akan memutuskan kontrak kerja dengannya dan membuat dia keluar dari kota ini."
Ucapan Handoko membuat Wulan dan Fanny terkejut. Mereka tahu siapa sosok Handoko Lais di kota ini. Apa pun yang kehendaki lelaki itu pasti akan terjadi.
Berbeda dengan mereka, Niko justru tak berkata apa-apa, ia tahu Handoko marah karena tidak setuju ia mengajak Gloriana untuk mengerjai Wulan. Toh, lusa ia akan mengakui semuanya di depan Wulan. Jadi, tidak akan ada lagi drama-drama seperti ini di kemudian hari.
Bersambung____
__ADS_1