
Begitu handle pintu terbuka Jefry menatap sambil tersenyum. Ia melihat Niko masuk dengan wajah merah padam. Pria itu terlihat sangat emosi.
"Selamat datang, Calon menantuku."
Niko tak menggubris dan langsung mendekat. Ia menarik dan mencengkeram kemeja Jefry begitu kuat. "Katakan, di mana kau sembunyikan papaku?"
Jefry terkejut, tapi tidak takut. Ia terkekeh dengan ekspresi sombong. "Kau menantangku? Kau lupa siapa aku, aku bisa mengirimmu ke penjara jika kumau."
Niko tak terintimidasi. Ia semakin mengeratkan kemeja Jefry hingga buku-buku di tangannya memutih.
"Tentu saja aku tidak lupa," katanya penuh penekanan, "Kau Jefry Tanujaya, kau orang yang membunuh Benny Irawan."
Muka Jefry menjadi pucat. Seandainya bukan Handoko orang yang ia perintahkan untuk melakukannya, mungkin ia masih bisa membela dirinya sendiri.
Jefry menyesal telah menceritakan hal itu kepada Handoko. Seandainya ia tahu Handoko akan memberitahu hal itu kepada Niko, ia takkan menceritakan apa penyebab ia menyingkirkan Benny.
"Kenapa diam?" gertak Niko, "Di mana kau menyembunyikan papaku, hah?!"
"Aku akan mengatakannya, asal lepaskan tanganmu dari bajuku."
Niko melempar tubuh Jefry hingga terdorong ke belakang. "Cepat katakan, di mana papaku?"
Jefry tak langsung bicara. Ia merapikan kemejanya kemudian duduk di kursi.
Niko terheran-heran dengan sikapnya. 'Apa manusia ini tidak ada rasa takut, hah? Kenapa juga papa bisa berteman dengan manusia seperti ini.'
"Aku akan memberitahu di mana papamu, tapi ada satu syarat."
Niko marah. "Syarat? Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Aku tidak akan memberitahu."
"Bagaimana dengan Benny Irawan, hah? Bagaimana kalau Wulan dan Angelina tahu, kalau yang membunuh orang tercintah mereka adalah kau."
Jefry terbahak. "Kau pikir mereka akan percaya, hah? Kau punya bukti apa soal itu? Bahkan Handoko sekali pun tidak punya bukti kuat menyelahkanku."
Niko terdiam. Jefry benar, ia tidak punya bukti untuk mengungkapkan kebenaran itu.
"Bagaimana, apa kau mau menuruti syarat yang kuminta? Aku tidak menyusahkanmu, aku hanya ingin kau menikahi Ulan."
Niko mengepalkan tangan. "Kau sengaja kan tidak ingin aku menikahi Wulan, agar hartamu tidak direbut? Kalau aku menikahi Wulan, jelas semua hartamu akan diambil alih oleh Wulan dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa."
__ADS_1
"Kau benar. Itu sebabnya kau tidak kuijinkan menikahi Wulan."
Niko ingin melawan, tapi ia tidak punya bukti kuat untuk menuduh Jefry. Sekarang yang terpenting adalah Handoko. Hanya Handoko yang ia miliki sekarang. Niko berencana akan menyuruh polisi untuk membuka lagi kasus kematian Benny Irawan. Niko akan mencari kebenaran dan hanya Handoko yang bisa memberi kesaksian di depan semua orang ketika kasus itu masuk ke pengadilan.
Niko berdeham. "Aku akan menerima syaratmu, tapi kembalikan papaku."
"Kau serius?"
"Aku tidak perlu menjawabnya."
"Baiklah," Jefry berdiri, "Besok pagi papamu akan kembali. Begitu papamu kembali, kita harus membicarakan soal pernikahanmu dengan Ulan. Aku tidak mau menunggu lagi, aku ingin kau dan Ulan segera menikah."
"Baik. Aku tunggu besok pagi."
Selepas mengatakan itu Niko berbalik lalu keluar. Niko tak punya pilihan lagi selain menyetujui permintaan itu. Baginya Handoko yang terpenting dari yang lain.
Jika Handoko bisa bersaksi di depan pengadilan, Angelina dan Wulan pasti akan menyeret Jefry ke penjara. Meskipun papanya juga terlibat dan berisiko masuk penjara, setidaknya Niko bisa memberikan keadilan kepada Wulan dan Angelina.
***
Dengan ekspresi sedih Niko duduk di ruang kerjanya. Setelah menemui Jefry Niko menenangkan dirinya di kantor. Masalah yang ia hadapai saat ini benar-benar membuatnya tidak bersemangat.
Memikirkan itu membuat Niko teringat Wulan. Ia meraih ponsel kemudian menatap foto Wulan yang terpajang di layar ponsel. Kenangan yang mereka buat sebelum berpisah melintas di benaknya.
"Kau begitu menginginkanku, kenapa sekarang kau menjauhiku, apa salahku?"
Mengingat foto Wulan bersama Deril malam itu kontan mengunggah emosi dalam diri Niko bergolak. Ia membuka kontak Wulan kemudian mengirim pesan.
"Siapa pria yang makan malam bersamamu tempo hari? Sepertinya kalian sangat dekat sampai kamu lupa mengabariku. Atau dia sudah berhasil mencuri hatimu sampai-sampai kamu mengabaikanku."
Selepas menulis rentenan kata itu di papan keyboard, Niko membaca lagi sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Ia tak berharap Wulan akan menjelaskan siapa pria itu. Mengakui kesalahan karena mengabaikannya berapa hari saja sudah cukup menenangkan bagi Niko.
Sayangnya harapan Niko, bahwa Wulan akan minta maaf dan menjelaskan kesalahannya salah.
"Dia atasanku. Namanya Deril Hermanto. Kamu juga terlihat sangat sibuk beberapa hari ini. Jadi, sebaiknya aku tidak mengganggumu dulu."
Niko sakit hati. Dengan emosi meluap ia membalas pesan Wulan.
"Oh, aku yang sibuk atau kamu? Aku menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Tidak usah beralasan. Mulai sekarang kalau kau memang ingin berduaan dengan atasanmu silakan, aku tidak akan melarang."
Niko menekan tombol kirim kemudian berdecak lidah. "Dia menyalahkanku? Dasar wanita egois! Nomornya yang tidak aktif dan sekarang dia menyalahkanku. Dasar wanita."
__ADS_1
Ting!
Bunyi notifikasi mengejutkan Niko. Dengan cepat ia membuka pesan itu dan membacanya.
"Terima kasih. Semoga kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku yakin pasti banyak wanita di luar sana yang lebih baik dariku."
Niko tercengang. Ia tak menyangka Wulan akan membalas seperti itu. Apa dia benar-benar sudah tidak menginginkan Niko? Dia bahkan tidak mengakui kesalahannya. Niko menekan radial untuk berbicara langsung dengan Wulan, tapi Wanita itu menolak panggilannya.
Ekspresi marah dan gemetar Niko membalas pesan Wulan, "Aku sudah menemukannya. Kau tidak perlu mendoakanku. Aku juga tidak akan mengganggumu lagi."
Setelah mengirim pesan itu Niko membuang ponselnya.
Di saat bersamaan Darius masuk dan terkejut melihat Niko melemparkan benda itu di dekatnya.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Niko terkejut. Dengan suara lemas ia menyuruh sosok di balik pintu untuk masuk.
"Anda baik-baik saja, Pak?"
Niko mengendalikan emosinya. "Aku baik-baik saja, Darius. Jangan khawatir."
Darius yakin sikap Niko pasti karena Handoko. Tak ingin atasannya khawatir, Darius berniat ingin memberitahu yang sebenarnya di saat Niko berdiri dari tempat duduk.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Pertanyaan Niko spontan membuat Darius terdiam. Ia menelan kembali kata-kata yang hampir saja terlontar dari mulutnya.
"Magdalena masih frustasi. Dia takut terjadi sesuatu kepada Anda dan tuan Handoko."
Niko menatap Darius. "Jefry pelakunya. Jefry Tanujaya yang menyuruh orang untuk menculik papa. Tapi kalian tidak usah khawatir, dia sudah berjanji besok akan mengembalikan papa."
Darius sedikit legah. "Bagaimana dengan nona Wulan, apa sudah ada kabar darinya?"
Niko beranjak keluar. "Mulai sekarang aku bukan lagi pacarnya."
"Tapi, Pak___"
"Jangan bahas dia lagi, aku tidak ingin mendengar namanya."
Bersambung___
__ADS_1