Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Seandainya Aku Selingkuh.


__ADS_3

Wulan tak keberatan. Ia tahu Niko memiliki napsu yang tinggi. Ia membiarkan sang suami menyerang tubuhnya sampai gairah keduanya bergolak-golak minta dituntaskan.


"Sayang, kalau ada yang lihat, bagaimana?" tanya Wulan khawatir. Dadanya naik turun ketika pandangan melihat sekeliling.


"Ini sudah malam, tidak ada yang melihat. Apalagi kaca mobil kita gelap."


Niko mengangkat rok Wulan, melepaskan celana kemudian menyapu bagian basah milik Wulan.


Wulan mendesah saat jemari Niko dengan lembut bergerak di sana. Sayangnya ia sedikit tak nyaman karena posisi mereka yang sempit.


"Sayang, apa sebaiknya kita lanjutkan di rumah saja?"


"Tanggung. Kamu akan merasakan nikmatnya bermain di posisi ini."


Niko melepaskan panties Wulan, mengarahkan Wulan untuk memasukinya.


"Oh, Niko."


"Bagaimana ... enak, kan?"


Sama-sama dilanda gairah Wulan menggerakan tubuhnya begitu cepat.


Niko mengerang, memejamkan mata sambil menikmati.


Wulan sedikit heran melihat tingkah suaminya sekarang. Tidak biasa Niko akan sepasrah seperti ini.


Sambil bergerak Wulan menunduk lalu berbisik, "Sebegitu inginkah dirimu sampai sepasrah ini?"


Niko menatapnya, meremas tubuh Wulan, kemudian berkata, "Lebih kencang lagi, Sayang. Kita tuntaskan ronde pertama ini."


Wulan tersenyum. Ia bergerak begitu cepat ketika rasa dingin menyerang dadanya secara bergantian.


"Sayang ... aku ...."


"Keluarkan, Sayang. Keluarkan."


Wulan semakin cepat, cepat dan ... Wulan ambruk di tubuh suaminya.


Niko memeluk, mengusap kepala, lalu menciumnya. "Bagaimana?"


"Pahaku sakit," rengek Wulan. Ini pertama kalinya ia melakukan adegan di ruangan sempit seperti mobil.


Niko menatap wajah Wulan, ******* bibir Wulan sampai dirinya puas.


"Ayo, kita lanjutkan di rumah. Kita akan lembur malam ini."


Niko bahkan tak memindahkan Wulan ketika ia menyalakan mesin mobil. Tubuh yang masih menyatuh pun tak terpisahkan saking kelelahan. Sambil mengemudi Niko memeluk Wulan dengan posisi koala.


Untung saja rumah sakit dengan rumah baru mereka jaraknya tidak jauh. Jadi, begitu berhenti di garasi rumah, Niko segera menyerang Wulan kembali. Tubuh yang masih dipengaruhi obat perangsang membuat keperkasaan Niko terus mengeras di dalam tubuh Wulan.


"Sayang," keluh Wulan. Suara lembut penuh kenikmatan itu lolos ketika Niko menggerakan pinggulnya.

__ADS_1


Tak puas seperti itu, Niko membaringkan Wulan di jok depan kemudian memasukinya. Sambil bergerak cepat di atas tubuh Wulan, Niko menatap sang istri seperti mangsa.


Untung saja Wulan memiliki napsu yang sama. Jadi, ia bisa mengimbangi Niko meski tidak biasanya pria itu seperti ini.


Belum sempat terlampiaskan Niko memisahkan tubuh mereka. "Ayo, kita lanjutkan di kamar."


Wulan yang merasa aneh sejak tadi belum langsung keluar. Ia duduk dan bertanya, "Kamu kenapa, Sayang? Hari ini kamu lain sekali?"


Secara normal permainan Niko akan lembut, meskipun napsu menguasainya. Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini sang suami terlihat begitu liar dan buas. Wulan merasa ia seperti mangsa dan Niko adalah singa kelaparan.


"Kamu kesakitan?" Niko memeluk dan menciumnya, "Maafkan aku, pasti kamu kesakitan karenaku."


"Aku tidak kesakitan, Sayang. Hanya saja tidak biasanya kamu seperti ini. Kamu minum, ya? Mulutmu bau anggur."


"Iya. Tadi aku minum dua gelas di apartemen Gloriana. Aku ingin menolak, tapi dia menawarkan."


Wulan sakit hati mendengarnya. Nafsu yang tadi membara dalam diri segera hilang mendengar nama itu. Bukan karena sang suami mengonsumsi minuman, tapi nama Gloriana membuatnya panas.


"Apa dia sudah menikah?"


"Belum. Kenapa?"


"Apa pantas wanita yang belum menikah mengajak makan malam pria yang sudah menikah?"


Meskipun ekspresi Wulan biasa saja, Niko yakin istrinya dilanda cemburu.


"Aku janji tidak akan bertemu dengannya lagi."


Alis Wulan berkerut. "Bukannya dia investor terbesar di perusahanmu?"


"Tidak boleh begitu," ucap Wulan sambil mengelus wajah Niko, "orang sepertimu memang sudah seharusnya bersikap profesional. Selama kamu jujur padaku dan memang tidak punya hubungan selain bisnis, aku tidak akan melarang kalian untuk bertemu. Tapi, kamu juga harus tahu batasan."


Niko ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, tapi tidak bisa. Melihat ekspresi sang istri spontan sesuatu pun muncul dalam benaknya.


"Aku boleh tanya satu hal padamu?"


"Tentu."


"Seandainya aku ketahuan selingkuh, apa yang akan kamu lakukan?"


Wulan terkejut. Pertanyaan Niko membuat jantungnya berdetak cepat.


"Apa kamu akan menceraikanku dan menikahi pria lain?"


"Selingkuh adalah perkara yang tidak bisa dihindari dalam rumah tangga. Entah selingkuh karena masalah atau ujian dari Tuhan, suatu saat itu akan terjadi. Jadi, sebagai individu yang membangun rumah tangga bersama, kita harus bisa membedakan mana selingkuh karena masalah dan mana selingkuh karena ujian."


"Kalau itu terjadi, kamu akan menceraikanku?"


Wulan menggeleng pelan.


"Berarti kamu tidak marah kalau aku selingkuh?"

__ADS_1


Wulan tersenyum. "Istri mana yang tidak marah suaminya selingkuh, hah? Pasti marah, Sayang. Tapi, marah bukan solusi yang baik, marah justru akan lebih memperburuk masalah. Paling aku keluar kota untuk menenangkan diri."


"Kamu akan meninggalkanku, ya?" Niko mengambil tangan Wulan kemudian menciumnya berkali-kali.


Wulan menikmati. "Di saat emosi hal yang paling penting adalah menghindar. Kalau tidak, hal-hal yang tidak diinginkan justru akan terjadi."


"Kira-kira berapa lama?"


"Paling setahun atau dua tahun. Tergantung masa tenangku sampai kapan. Begitu ketenanganku kembali, aku akan datang dan meminta penjelasan. Kalau memang ternyata kamu selingkuh karena masalah, kita cari solusi bersama."


"Kalau tidak ada solusinya, bagaimana?"


"Tergantung kasus. Kalau penyebabnya perkara emosional atau tidak menjalankan tugas dengan baik, aku rasa itu masih bisa diperbaiki."


Niko mengecup jari Wulan. "Lalu, yang bagaimana selingkuh yang tak ada solusinya menurutmu, hah?"


"Banyak faktor sih menurutku. Pertama, selingkuh karena seksualitas yang tidak normal atau mungkin fantasi seksual yang berlebihan. Ke dua, pernikahan yang terjadi karena paksaan. Menikah secara paksa itu bukan berarti jodoh, bisa jadi selingkuh adalah jalan untuk berpisah."


Niko tersenyum sayang. "Tuhan, aku benar-benar beruntung menemukan wanita ini. Tidak hanya cantik dan pekerja kerjas, wanita ini sangat bijaksana."


Wulan balas tersenyum.


"Menurutmu, suami yang bertanggung jawab itu seperti apa?"


"Bukannya kita sudah pernah membahasnya?"


"Aku ingin mendengar lagi."


Wulan menarik napas panjang. "Suami yang bertanggung jawab adalah suami yang mampu mewujudkan semua keinginan istrinya."


"Katakan, apa keinginanmu yang harus kuwujudkan?"


"Serius?"


Niko terkekeh, ekspresi Wulan lucu. "Tentu saja serius."


"Hanya satu yang kuinginkan."


"Apa?"


"Aku hanya ingin kamu setia dan mencintaiku selamanya. Cintamu, tubuhmu, rambutmu, sayangmu hanya untukku seorang. Tak peduli kamu bilang egois, pokoknya semua yang ada padamu hanya milikku. Niko Lais hanya milikku, milikku dan milikku."


Tanpa menjawab Niko segera keluar dari mobil, membuka pintu penumpang kemudian membopong Wulan ke dalam rumah.


"Sayang, bajuku tidak terkunci. Kalau Inem melihatnya, bagaimana?" keluh Wulan ketika Niko menggendongnya seperti beras.


"Biarkan saja, kan Inem juga perempuan."


Wulan tertawa. Ia tak bisa membantah dan pasrah saja ketika Niko membawanya ke lantai dua kamar mereka.


Wulan bersyukur suaminya cepat mengakhir pertemuan dengan Gloriana. Jika tidak, mungkin Niko akan mabuk dan bermalam bersama wanita itu. Membayangkan nafsu Niko seperti tadi bersama Glorinana membuat hati Wulan sakit.

__ADS_1


'Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha membuat suamiku senang. Aku akan memberikannya kenikmatan yang tak bisa diberikan wanita lain.'


Bersambung____


__ADS_2