
"Serius kau calon istrinya Niko Lais?"
Ulan penasaran. "Kau mengenalnya?"
Viona menyesap setengah gelas dari minumannya. "Dia mantan kekasihku. Eh, bukan mantan kekasih tepatnya. Kami sering tidur bersama, tapi tidak ada validasi dalam hubungan."
"Teman tidur? Niko sering tidur denganmu?"
Viona sedikit takut menjawab. Ia menatap Ulan sambil mengangguk pelan.
"Ini benar-benar mengejutkan, Viona. Ini benar-benar mengejutkan."
Viona bingung melihat ekspresi bahagia di wajah Ulan. "Kenapa kau tertawa? Harusnya kau marah bukan tertawa."
"Kapan terakhir kalian tidur bersama?"
"Berapa bulan lalu. Kejadiannya sebelum dia kecelakaan."
Mata Ulan melotot. "Kenapa kamu bisa tahu Niko kecelakaan berapa bulan lalu?"
"Aku mendapat informasi itu saat bertemu supirnya di pusat perbelanjaan. Sejak itu aku dan dia tidak pernah lagi kontak sampai sekarang. Maaf, waktu itu aku tidak tahu kalau dia sudah dijodohkan denganmu."
Ulan menarik napas panjang. "Sebenarnya bukan aku, tapi kakakku."
"Kakakmu, maksudmu kak Wulan?"
"Iya. Waktu Niko kecelakaan kak Wulan menemukannya. Kak Wulan membawanya ke rumah sakit dan membayar biayanya. Karena kak Wulan tidak menunggu sampai Niko sadar, besoknya kak Wulan cuti dan langsung ke luar kota. Aku rasa dia mencaritahu identitas kak Wulan dari sumber yang salah."
"Sumber yang salah bagaimana maksudmu?"
"Pas om Handoko bicara dengan papaku, om Handoko tidak menanyakan siapa yang menolong putranya. Om Handoko langsung meminta papaku untuk menjodohkan putranya dengan putri papaku. Karena aku satu-satunya putri Jefry Tanujaya, papaku langsung setuju dan mengumumkan perjodohan itu."
"Lalu, bagaimana reaksi kakakmu?"
"Dia tidak bilang apa-apa, waktu pertama kali Niko dan om Handoko datang ke rumah malam itu, kak Wulan dan Niko belum menjalin hubungan. Tapi setelah itu, om Handoko mengaku ada kesalahan informasi yang dia sampaikan ke papaku. Wanita yang dia cari kak Wulan, bukan aku."
"Berarti sekarang mereka sudah dijodohkan? Lalu, kenapa kau bilang Niko calon suamimu?"
Ulan terbahak. "Aku menyukai Niko, Viona. Salah papanya membeberkan perjodohan itu tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Aku sudah terlanjur membuka hati untuk Niko. Lagi pula waktu pertemuan itu, Niko dan kak Wulan belum menjalin hubungan. Berarti, bukan salahku dong kalau perasaanku terhadap Niko tidak akan hilang."
Viona menggeleng kepala. "Tapi kau kan tahu Niko tidak mencintaimu."
"Papaku bukan orang biasa, Viona. Papa dan om Handoko bersahabat. Hal sekecil itu papaku bisa mengatasinya."
Viona sedikit jengkel kepada Ulan. Walaupun hubungannya dengan Ulan cukup dekat sejak di masa kuliah, Viona tidak suka melihat kesombongan Ulan yang selalu mengandalkan papanya sebagai senjata.
"Aku pikir kau sudah berubah. Kesombonganmu tidak hilang sejak dulu."
__ADS_1
Ulan terbahak. "Aku bukannya sombong, Viona. Siapa suruh mereka menjodohkanku dengan Niko. Andai mereka tak memberitahu soal perjodohan itu sebelum tahu yang sebenarnya, aku tidak akan membuka hati sekalipun Niko itu sangat tampan. Salah mereka mengumumkan perjodohan itu sebelum tahu yang sebenarnya."
"Lalu kak Wulan di mana, apa dia tahu soal ini?"
Ulan tersenyum licik. "Papaku menyuruh atasannya untuk memindahkan kak Wulan ke luar kota. Ini kesempatanku untuk mendekati Niko. Kau mau bekerja sama denganku? Aku ingin membuktikan pada kak Wulan, bahwa Niko yang dia cintai adalah pria yang paling brengsek."
"Kau jahat, Ulan."
Ulan terkejut. "Sejak kapan kau menjadi baik begini, hah?"
"Dulu aku memang jahat, tapi semenjak kejadian itu aku sudah bertobat. Aku telah meninggalkan dunia gelap itu sejak berapa bulan yang lalu."
Ulan terbahak. "Kenapa, apa kau sudah tidak laku?"
Viona marah. "Kau meremehkanku, ya? Apa kau ingin aku merusak hubungan papamu dan mama tirimu? Apa kau akan percaya kehebatanku setelah mereka berpisah?"
"Jangan lakukan itu, Viona!" ketus Ulan, "Aku tahu kau cantik, tapi jangan pernah kau sentuh papaku."
"Papamu kan sangat kaya," ledek Viona, "Semua wanita di dunia ini pasti mengejar papamu."
Ulan mendapat ide. "Bagaimana kalau kau kubayar untuk mengganggu Niko? Aku hanya ingin membuktikan pada kak Wulan dan mama tirinya, bahwa Niko bukanlah pria yang baik. Dengan begitu aku akan leluasa mendekati Niko."
"Kau mampu membayarku berapa?"
"Berapa yang kau inginkan?"
"Dua puluh miliar, bagaimana?"
"Oke, deal."
***
Bunyi alarm mengejutkan Wulan. Matanya yang terasa berat dipaksakan ketika bunyi itu terus terdengar. Tangannya yang lembut dan lemah meraih ponsel itu dan menatap layar.
"Sayang, sudah jam lima. Ayo, bangun."
Niko berbaring di samping Wulan. Meskipun matanya tertutup, ia tak bisa tidur, menahan gejolak dalam dirinya yang belum tertuntaskan. Ia tak menjawab Wulan, tapi ia memeluk wanita itu dan mendekapnya.
"Kamu tidak ingin mengulangnya?" bisik Niko tepat di telinga Wulan. Ia menunduk, mencium leher Wulan seakan membangkitkan libidonya.
Wulan mendesah. "Bukannya aku tidak mau, aku kasihan padamu. Kamu membuatku enak, tapi kamu sendiri menahannya demi aku."
Saat ini posisi mereka tanpa busana. Wulan membuka semua pakaiannya agar tidak kusut untuk dikenakan ke bandara.
Berbeda dengan Wulan, Niko tak melepaskan boxer dan **********. Ini pertama kali ia merasakan penderitaan yang mematikan dalam hidupnya.
"Tidak masalah, aku rela menahannya, asalkan kamu senang. Aku ingin kamu mengingatku selamanya."
__ADS_1
Tujuan Niko memang itu. Ia memberikan kenikmatan kepada Wulan agar wanita itu sulit melupakannya.
"Tanpa begitu pun aku tidak akan pernah melupakanmu," Wulan berbalik menatap Niko, "Aku takut kehilanganmu."
Niko mencium dahi Wulan lama sekali. "Aku juga. Aku harap selama di sana kamu tidak akan melirik pria lain."
"Begitu juga dirimu, jangan melirik wanita lain selama aku tidak ada."
Niko ******* bibir Wulan. "Aku janji itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah."
"Aku percaya."
"Kalau begitu, ayo kita mandi sama-sama. Aku akan melakukannya lagi di kamar mandi, aku ingin kamu merasakan sensasinya sambil berbaring di atas wastafel."
Wulan merasa bersalah tidak bisa memberikan kenikmatan seperti yang Niko berikan padanya. Seandainya ia tahu soal itu, ia akan membuat hal yang sama seperti yang Niko berikan padanya berapa jam yang lalu.
Sudah dua kali Niko membawanya mencapai puncak kenikmatan hanya dengan lingualnya. Niko telah membuatnya melayang, sedangkan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa kepada Niko.
"Kamu memang suka ya menyiksa dirimu sendiri, ya?"
"Menyiksa diri bagaimana, hah?"
Mata Niko mengarah ke bagian subur yang mulus dan besar. Tak tahan dengan godaan itu, ia menyetuh pucuk yang menegang itu dengan punggung jemarinya.
Wulan menahan geli. "Menyiksa dirimu seperti ini. Kamu pasti sangat tersiksa, kan?"
"Tidak, aku bisa mengatasinya. Aku bisa melakukannya sendiri kapan-kapan."
Wulan mendapat ide. "Bagaimana kalau kamu memanduku di kamar mandi? Kamu ajarkan aku bagaimana membuatmu enak, bagaimana?"
"Itu tidak perlu, Sayang. Aku bisa menahannya. Aku akan menyibukkan pikiranku dengan pekerjaan."
"Itu tidak adik, Sayang. Ayolah, ajari aku, ya?"
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Melihat ekspresi Wulan membuat Niko merasa bersalah. Seandainya ia tidak memberikan kenikmatan kepada Wulan hari ini, Wanita itu pasti tidak akan merssa bersalah. Wulan tidak harus berbalas budi.
"Sayang," panggil Wulan, "Bagaimana, kamu mau kan mengajarkanku cara menanganinya? Lihat, dia sudah bangun sejak tadi. Dia pasti gelisah."
Wulan memberanikan diri menyentuh bagian itu. Bagian yang besar dan keras, yang membuat bagian bawah tubuhnya kembali lembab.
Niko mengerang saat tangan lembut Wulan menyusup ke balik celananya. Tak tahan dengan gejolak itu, Niko langsung menyerang Wulan dengan ciuman dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau sudah menyentuhnya, kau harus tanggung jawab."
__ADS_1
Wulan terbahak dan pasrah saat Niko membaringkannya di atas wastafel.
Bersambung___