
Niko tidak pernah bertemu Fanny, tapi ia tahu Fanny dari Wulan. Pacarnya itu sering menceritakan Fanny kepadanya. Ia pun ingat waktu dirinya menyuruh Brian untuk mencaritahu tentang Wulan, Fanny-lah orang yang memberitahu semua tentang Wulan.
"Kenapa dengan Wulan? Kau di mana, aku akan ke sana."
"Aku ada di caffe dekat kantor. Kumohon jangan beritahu Wulan soal ini. Ini demi keselamatannya."
"Baik, aku akan segera ke sana."
"Ada apa?" tanya Handoko ketika Niko memutuskan panggilan.
"Entalah. Sahabatnya Wulan ingin bertemu denganku, katanya ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku soal Wulan," Niko berdiri, "Papa jangan ke mana-mana, tunggu aku kembali."
"Tidak, papa harus ikut."
"Baiklah. Darius, kamu kembali saja ke kantor, biar Brian yang mengantarku dan papa ke sana."
"Baik, Pak."
***
Mendapat kabar dari Jefry bahwa hari ini adalah hari terakhir Wulan di rumah, Ulan segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang. Ia berencana mengadakan pesta kecil untuk dirinya dan Wulan. Jadi, sebelum pulang Ulan mampir ke super market untuk membeli bahan-bahan makanan.
"Ma, kak Wulan mana?" tanya Ulan begitu masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Angelina sedang membaca majalah.
"Belum pulang, mungkin sebentar lagi," mata Angelina mengarah ke kantong plastik di tangan Ulan, "Apa yang kamu beli, Sayang? Itu ada sayuran, kenapa kamu beli sayur?"
Setelah meletakkan belanjaannya, Ulan mengambil posisi di samping Angelina.
"Aku mau barbeque dengan kak Wulan. Ini kan malam terkahir aku bersamanya."
Angelina setuju. "Sebenarnya mama juga mau membuat acara kecil-kecilan, hanya saja papamu tidak setuju."
"Tidak setuju kenapa?"
"Kata papamu mengadakan acara sama saja dengan berpisah selamanya dengan kak Wulan."
"Papa ada-ada saja. Ya sudah, aku ke atas dulu. Aku mandi dulu ya, Ma."
"Iya, Sayang."
***
Saking asik bersama teman-temannya, Wulan baru sadar kalau sekarang sudah pukul delapan malam. Mereka hanya makan dan mengkonsumsi soft drink, tapi topik pembicaraan mereka tak pernah selesai. Seandainya salah satu ponsel dari mereka tidak berbunyi, mungkin mereka tidak akan bubar sampai larut malam.
"Aku harus pulang. Wulan, jaga dirimu, ya? Jangan lupakan kami, ya? Cepat kembali."
"Benar. Jangan lupakan kami kalau kamu sudah dapat teman baru."
"Cowok-cowok di sana kan ganteng-ganteng, carikan satu untukku, ya? Tidak usah kaya, cukup sekolega saja aku sudah senang."
Mereka terbahak.
"Aku pasti akan merindukan kalian. Makanya doakan aku, ya? Aku minta doa kalian, agar tugasku cepat selesai."
"Sip, itu pasti."
__ADS_1
"Okey. Aku pulang dulu, ya. Sampai nanti."
"Iya, aku juga harus pulang. Kabari kami kalau sudah sampai ya, Wulan."
"Besok kamu berangkat jam berapa, siapa tahu kami bisa mengantarmu ke bandara?"
Wulan terharu. "Terima kasih untuk kalian semua. Sayangnya aku belum tahu jadwal pesawatnya kapan. Kepala bank bilang hari ini akan mengirimkan boardingnya ke aku, tapi sampai sekarang belum ada informasi dari beliau."
"Ya Tuhan, semoga saja tiketnya batal. Semoga saja Wulan tidak jadi berangkat."
"Aamiin," seru semuanya.
Wulan terkekeh. "Terima kasih banyak, ya. Aku pasti akan sangat-sangat merindukan kalian."
Drttt... Drttt...
Bunyi getaran ponsel membuat Wulan terkejut. Saat ia meraih benda itu dari dalam tas, teman-temannya langsung berpamitan dan meninggalkannya.
Dilihatnya nama Fanny tertera di layar ponsel. "Fanny, bukannya dia tadi ...."
Wulan menatap sekeliling mencari Fanny.
"Bukannya dia tadi bersama kita. Kenapa sekarang dia menelepon?"
Saking asik bicara Wulan tak sadar kalau Fanny tak kembali semenjak wanita itu ijin pergi ke toilet.
"Halo, kamu di mana? Aku mencarimu, tapi kamu tidak ada? Kamu bohong ya pergi ke toilet?"
"Aku tidak bohong, Lan. Pas di toilet tadi aku ditelepon pacarku. Dia mengajakku ketemuan di caffe dekat kantor. Aku ingin minta ijin, tapi tidak enak sama yang lain."
"Kalau begitu aku akan ke sana, sekaligus mengambil barang-barangku."
"Ya sudah, aku tunggu."
"Oke."
Wulan memutuskan panggilan. Belum berapa detik panggilannya berakhir, panggilan dari Niko langsung menggetarkan kembali ponselnya. Dengan senyum lebar ia pun menyapa Niko.
"Halo, Sayang?"
"Sayang, aku ingin mengajakmu keluar. Kamu bisa, kan?"
"Bisa, tapi aku masih di kantor sekarang."
"Jam berapa sekarang?"
Nada bicara Niko terdengar marah. Tak mau sang pujaan hati salah sangka, Wulan segera menejelaskan.
"Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan tadi. Hanya makan-makan biasa, tapi pembicaraan kami merambat sampai akhirnya lupa waktu. Aku minta maaf tidak mengabarimu."
"Tidak masalah, aku juga baru pulang kantor. Kamu masih di sana? Aku jemput kamu, ya?"
"Nanti aku suruh Darius membawanya. Kamu ikut denganku saja ke mobilku."
Fanny muncul.
__ADS_1
"Tapi, aku bersama Fanny ini. Dia juga ada di sini bersamaku."
"Tidak masalah, kita akan mengantarnya pulang."
"Siapa?" tanya Fanny berbisik.
"Baiklah. Aku tunggu, ya. Hati-hati."
"Hmmm."
Begitu panggilan terputus suara Fanny terdengar keras. "Siapa itu, kenapa kamu menyebut namaku?"
"Niko. Dia baru pulang kantor dan ingin menjemputku."
"Kamu kan bawa mobil sendiri. Bagaimana dengan mobilmu?"
"Dia akan menyuruh Darius mengemudikannya. Kami juga akan mengantarkanmu lebih dulu."
Fanny tersenyum nakal. "Darius, siapa itu? Apa dia tampan?"
Wulan melemparkan bekas kerupuk pada Fanny. "Kamu ini! Baru saja bertemu dengan pacar berapa menit yang lalu, sekarang menanyakan pria lain. Tidak boleh!"
"Kenapa, kan masih pacaran? Wajar dong kalau aku memiliki banyak koleksi. Memilih mana yang terbaik itu wajib hukumnya sebelum menikah."
"Bagaimana kamu mau tahu dia yang terbaik, kalau kamu sendiri belum menuntaskan hubunganmu dengan yang satu."
Fanny hendak membatah saat ponsel Wulan berbunyi.
"Niko, dia pasti sudah di depan. Ayo," kata Wulan.
Fanny pun bergegas dan langsung mengikutinya di belakang. Ia merasa bersalah karena sudah membohongi Wulan. Ia sempat khawatir Wulan tidak akan percaya pada alasannya. Namun, ini demi keselamatan Wulan, sekali-sekali berbohong kan tidak masalah.
Mereka berdua pun tiba di depan gedung bank. Di sana berdiri Niko dengan tatapan menggoda dan Darius di belakangnya.
Melihat Darius membuat Fanny terpesona. Ia ingin mengutarakan ketertarikannya kepada Wulan, tapi pikirannya langsung tertuju pada omelan Wulan yang tadi. Ia pun menelan kembali keinginan itu tanpa menoleh sedikit pun dari Darius.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu," kata Wulan seraya menghabur ke pelukan Niko.
Niko balas memeleluk dan mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Fanny mengambil kesempatan. "Kalau kamu pulang dengan Niko, bagaimana dengan mobilmu?"
"Kan sudah kubilang tadi," kata Wulan sambil melepaskan pelukan, "Darius akan membawa mobilku."
Fanny sengaja melontarkan pertanyaan itu, agar Niko membelanya. "Lalu aku, bagaimana?"
"Kami akan mengantarmu."
"Bagaimana kalau Darius saja yang mengantarku? Kalian mau kencan, kan? Kalau kalian mengantarku dulu baru berkencan, waktunya akan terbuang percuma. Ingat, malam ini terakhir kali kalian bersama. Tunggu berapa bulan lagi baru kalian bisa bersama."
"Fanny benar," kata Niko, "Mana kunci mobilmu, Darius akan mengantarkan Fanny."
Tatapan tajam Wulan mengarah ke Fanny. "Jangan macam-macam kamu, Fan."
Fanny terkikik. "Tenang, aku tidak akan mencabulinya."
__ADS_1
Bersambung____