Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Siaran Langsung.


__ADS_3

"Cepat lakukan, Viona!"


Suara lantang Niko mengejutkan Viona. Ia menangis dengan rasa takut tak tertahankan.


"Kumohon, Niko. Jangan paksa aku melakukan itu, aku____"


Niko meraih botol dan memecahkannya.


Viona terdiam dengan tubuh gemetar. Wajahnya pucat menatap botol pecah di tangan Niko.


"Kau mau melakukannya atau tidak, hah?" tanya Niko.


"Kumohon, Niko. Kumohon ampuni aku."


Niko mendekat dan menarik rambut Viona.


"Akh! Niko, sakit."


Beberapa pria di sekeliling ingin membantu, mereka tak tega melihat Niko memperlakukan Viona seperti itu.


"Hei, kalau berani jangan pada perempuan. Sini lawan aku!"


Niko menoleh dan menatap pria itu. Namun, sebelum ia mengalihkan perhatiannya kepada pria itu, Petrix langsung mendatangi pria itu dan mengusirnya.


"Lebih baik kau jangan ikut campur. Enyalah dari sini."


Niko kembali menatap Viona. "Kau sudah membuatku kehilangan Wulan, kan?"


"Bukan aku yang melakukannya," Viona berusaha menggeleng kepalanya dalam genggaman Niko, "Aku tidak melakukan apa-apa, sumpah. Foto itu idenya Ulan, dia yang menyuruh orang mengambil gambar kalian dan mengirimnya kepada Wulan."


Niko semakin marah. "Kau mendukungnya, kan? Hanya karena dua puluh miliar kau bekerja sama dengan mereka. Aku kecewa padamu, Viona. Aku tak menyangka kau lebih memilih mereka daripada aku. Aku sudah menganggapmu teman, tapi ternyata kau berkomplot dengan orang lain dan menghancurkanku."


"Maafkan aku, Niko, aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku____"


"Diam! Aku tidak mau mendengarmu lagi."


Viona tak punya pilihan selain menurut. Ia menangis dengan suara pelan.


Niko melepaskan tangannya dari rambut Viona dengan kasar. "Berikan ponselmu."


Viona menggeleng. "Tidak ... Jangan lakukan itu, Niko."


"Berikan ponselmu."


Nada dingin Niko membuat Viona menurut. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas dengan tangan gemetar.


Niko merampasnya, mencari-cari aplikasi instagram kemudian mencari fitur yang ia inginkan. Niko membuka fitur siaran langsung.


"Sebelum memulai, aku ingin kau melakukan seperti yang kuperintahkan tadi. Anggap saja ini permintaan maaf atas kesalahan yang kau lakukan."


"Ini tidak adil, Niko. Harusnya kau melakukannya kepada Ulan, bukan padaku."

__ADS_1


"Dia akan mendapat giliran. Seandainya dia di sini, aku akan menyuruh kalian yang melakukannya."


Viona terdiam.


"Ayo, sekarang lakukan seperti yang kukatakan. Anggap saja kau sedang melayani tamu seperti yang dulu kau lakukan padaku."


"Tidak, Niko, aku tidak mau."


Niko mengendus kesal. Kesabarannya sudah habis. "Darius?"


"Iya, Pak?"


"Bawa wanita itu dan buang dia ke jurang. Pastikan dia mati sebelum kau meninggalkannya."


Viona semakin gemetar. "Tidak, aku tidak ingin mati."


"Kalau begitu mana kau pilih, melakukan siaran langsung atau jatuh ke jurang?"


Viona tak menjawab, tapi langsung bertindak. Perlahan-lahan ia mendekati pelayan di sampingnya dan mulai mengodanya.


Niko tersenyum puas. Sebelum mengaktifkan siaran langsung di akunnya Viona, ia menepuk bahu pelayan itu dan berbisik, "Aku akan memberikanmu satu miliar. Lakukanlah dengan profesional."


Mendengar itu pelayan pun langsung menarik Viona ke atas tubuhnya seperti orang kelaparan.


Viona terkejut, tapi tak bisa menolak. Ia pasrah dengan serangan bibir pria itu yang kasar dan menjijikan.


"Darius, jaga mereka sampai selesai. Pastikan siaran langsung ini ditonton oleh banyak orang."


Setelah mengatakan itu Niko beranjak bersama Petrix.


Sebagian dari para pengunjung yang tadinya menonton sekarang kembali beraktivitas. Suara musik elektro yang tadinya terhenti sekarang kembali terdengar.


"Kalau tahu akan dibayar satu miliar, aku sudah menawarkan diri tadi."


"Benar. Wanita sangat cantik. Pelayan itu sangat beruntung bisa menikmati tubuh wanita itu."


Di ruangan remang dan kedap suara, sosok Niko dan Petrix sedang berhadapan.


Niko meminta minuman kemudian menghabiskannya dalam satu tenggakan. Ia meminta lagi, tapi Petrix tak memberikannya.


"Wulan pasti tidak akan suka melihat kau seperti ini."


"Sekali saja."


Petrix menuangkan minuman itu kemudian menyimpannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Niko menceritakan semua detailnya kepada Petrix. Ia juga memberitahu pria itu tentang ancaman Jefry.


"Aku tak punya pilihan, Petrix."


Petrix sangat kaget mendengar itu. Bisa dibilang Petrix, Handoko dan Niko bukanlah orang yang lemah di mata Jefry. Kekayaan dan status mereka pun sebanding dengan kekayaan Jefry.

__ADS_1


"Minggu ini akan berakhir. Kita harus melakukan sesuatu untuk mencegah Jefry," saran Petrix.


Niko menggeleng. "Seandainya tidak ada sangkutpaut dengan papaku, malam ini aku akan menemui dan menghabisinya dengan tanganku sendiri."


"Kita bisa membayar orang untuk melakukannya, Niko."


Niko menatap pria di depannya. Tatapannya begitu dalam. "Ada sesuatu yang kamu tidak tahu."


Petrix diam, menyimak.


"Orang yang menghabisi Benny Irawan adalah papaku. Orang yang melenyapkan papanya Wulan adalah papaku sendiri."


Petrix tercengang.


"Yang paling memberatkan adalah ... sebagian harta yang dia rebut dari Benny diberikan kepada papa. Menurut papa uang dari kontribusi itu dibangun BK Group. Seandainya suatu saat rahasia Jefry terbongkar, BK Group pasti akan direbut kembali olehnya."


"BK Group bukan perusahan biasa, Niko."


Niko mengangguk. "Itu sebabnya dia tidak ingin aku menikahi Wulan. Usianya akan sia-sia kalau aku memperistri Wulan."


"Licik juga manusia itu. Yang ditakutkan, suatu saat jika hal itu terbongkar, keluarga Benny pasti mengira semua kekayaan kalian adalah hasil dari kontribusi Jefry. Kalian harus punya bukti soal itu. Kehilangan BK Group tidak seberapa dibanding kehilangan semuanya."


"Itu dia yang kukhawatirkan, aku yakin Jefry akan mengatakan hal demikian jika rahasia itu diketahui Angelina dan Wulan. Dia tidak mau disalahkan, sudah pasti dia akan memfitnah papa."


"Kau dan papa harus mencari bukti sejak sekarang sebelum rahasia itu terbongkar. Ini kesempatan kalian untuk mendekati Jefry dan membuat bukti dengannya."


***


Seakan ingin mencari harta karun, Handoko bangun lebih awal dari jam biasanya. Kabar soal kepala bank di mana Wulan bekerja sebelumnya membuatnya tak tidak nyenyak.


Handoko menuruni tangga dengan pakaian rapi. Ia meminta kopi dan terlihat buru-buru.


Niko yang baru saja selesai jogging terkejut melihat papanya.


"Papa kau ke mana, tumben pagi-pagi sudah rapi?"


Saat ini mereka berada di ruang terbuka belakang rumah. Hembusan angin pagi yang sejuk membuat mereka terasa segar.


"Robby Lamber koma. Papa telah menyuruh orang menyelidikinya. Dia dirawat di Bebbi Hospital. Papa akan mengunjunginya dan melihat keadaannya. Papa penasaran, apa yang membuatnya menjadi begitu."


Alis Niko berkerut. "Maksud papa kepala bank di kantornya Wulan?"


"Ya. Semalam setelah kau pergi, Wulan mengirim pesan kepada papa. Papa juga menghubunginya dan menanyakan detailnya. Menurut informasi yang didapat Wulan, Robby tidak masuk kantor sehari setelah keberangkatan Wulan."


Handoko dan Niko sama-sama mengerutkan alis. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Papa ingin menjenguknya. Papa harap dia akan hidup, hanya dia yang bisa bersaksi di depan polisi dan Angelina atas kejahatan yang dilakukan Jefry."


"Kalau dia tidak mau bicara, bagaimana? Atau dia meninggal sebelum sadar, bagaimana?"


"Kita berdoa saja, Nak. Hanya Robbin yang bisa membantu kita. Hanya Robbin yang bisa bersaksi di depan mereka. Rudi pun bisa, tapi Rudi tidak punya alasan untuk menyerang balik. Sementara Robby, dia punya alasan untuk menyerang Jefry kembali. Dia bahkan bisa mencobloskan Jefry ke dalam penjara jika benar keadaannya sekarang karena Jefry."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2