Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Bertemu.


__ADS_3

Viona senang mendengar itu. Walau pun belum bertatap muka langsung bersama Wulan, berkat penjelasan Deril tadi membuat Viona memihak kepadanya.


"Apa kau dan papamu tidak membuat rencana lagi, bukankah kalian bisa melakukan apa pun yang kalian inginkan?"


Ulan tersenyum meremehkan. "Papa sudah mengatur sesuatu. Aku berharap si tua itu menghilang dari bumi ini secepatnya, aku tidak mau dia menggagalkan semuanya."


"Apa kalian tidak takut ya melakukan hal seperti itu? Kalian tidak takut kalau Tuhan akan membalasnya?"


Ulan terkejut. "Kau membelanya?"


"Aku tidak membelanya, aku berbicara soal kebenaran. Setiap perbuatan pasti ada balasan, bukan?"


"Kau berkata begini karena masih marah padaku, kan?"


Viona menatap malas. "Aku tidak perlu menjawabnya."


"Baiklah, aku akan bicara pada Niko untuk meminta maaf padamu. Aku akan buat dia berlutut dan memohon di depanmu, Viona."


Viona bergumam kemudian menatap Ulan. Ekspresinya marah. "Apa yang ingin kau sampaikan sudah selesai, kan?"


Cukup lama Ulan menatap Viona lalu akhirnya mengangguk.


Viona berdiri, menarik tas kemudian mendorong bangku yang ia tempatkan tadi ke belakang.


Ulan ikut berdiri. "Pernikahanku tinggal 4 hari. Tak peduli kau masih marah kehadiranmu sangat berarti buatku."


Tanpa membalas Viona meninggalkan Ulan sedirian.


Setiap kali ingin marah Ulan tetap saja tidak bisa. Apa yang dialami Viona memang seharusnya tidak pantas didapatkannya. Mengingat Niko tidak melakukan apa-apa membuat Ulan bahagia.


"Aku yang melakukannya, Viona yang menerima balasannya. Niko ... aku semakin cinta padamu."


***

__ADS_1


Dua hari kemudian semua orang terlalu sibuk dengan kesibukan mereka. Jefry dan Angelina sibuk mempersiapkan pernikahan Ulan dan Niko. Meski tak setuju dengan hari bahagia itu, Angelina harus mengikuti apa yang diinginkan suami dan anak tirinya. Walaupun terlihat bahagia di depan mereka, Angelina berharap keajaiban terjadi agar pernikahan itu gagal.


Berbeda dengan keluarga Tanujaya, Handoko justru sibuk memikirkan rencana untuk menggagalkan pernikahan putranya. Keterangan Robby yang sangat diharapkan justru tak mendapat dukungan dari anak dan istri Robby.


Devon dan Amanda sudah melupakan kejadian yang menimpa ayah sekaligus suami mereka. Mereka tidak akan menuntut orang yang telah menyakiti Robby, menurut mereka yang terpenting sekarang Robby tidak apa-apa dan bisa kembali beraktivitas.


Di sisi lain Wulan sangat sibuk dengan tanggungjawabnya. Tugas yang dialihkan Deril untuk sementara waktu sangat menguras tenaga. Walaupun banyak menyita waktu istirahatnya, Wulan melaksanakan tugasnya dengan sepenuh semangat.


Wulan tahu hari bahagia Niko dan adiknya tinggal dua hari lagi, tapi ia mengabaikan hal itu dan menyibukkan diri dengan melaksanakan tugasnya dengan baik.


Berbeda dengan Wulan dan lainnya, Viona justru sangat bahagia, hari ini Deril akan tiba di Jakarta. Karena jadwal penerbangan Deril sore hari Viona bangun lebih awal dan memanjakan dirinya disalah satu salon terkenal di kota Jakarta. Tak peduli Deril bisa atau tidak, Viona harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melayani sang pujaan hati.


Memakan waktu lima jam Viona akhirnya keluar dari pusat kecantikan tersebut. Body treatment and hair care menjadi pilihan Viona untuk aktivitasnya hari ini. Selain agar lebih percaya diri ketika menghadapi Deril, Viona ingin terlihat cantik ketika bertemu keluarga Deril.


Seperti yang sudah dijanjikan pria itu padanya, saat ini Viona dan Deril berada dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tanpa memberitahu lokasi yang akan di kunjungi kepada Viona, Deril mengemudikan mobil sedan mahal milik wanita yang sekarang membuat bernama lengkap Deril Hartanto Lamber menjadi penasaran.


"Dari mana kau mendapatkan mobil ini?"


Viona tersinggung, intonasi dan pertanyaan Deril seakan mengejeknya. Walapun hatinya sakit mendengar pertanyaan itu, Viona tersenyum dan menjawab pertanyaannya.


"Yang membuatmu galau, kan?"


"Mobil ini kompensasi karena aku telah membantunya."


Viona tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Jika dia jujur soal uang dua puluh miliar itu kepada Deril, bisa-bisa hubungan yang baru terjalin beberapa menit yang lalu itu akan putus dan tak bisa disambungkan lagi. Deril telah menyatakan cintanya ketika Viona berdiri di depan pintu bandara.


Deril terkejut menatap Viona. "Aku jadi penasaran, seperti apa pria yang ingin direbut temanmu itu."


"Namanya Niko Lais. Dia anak pengusaha kaya ke dua di kota ini. Papanya bersahabat dengan papanya Ulan, orang terkaya nomor satu di kota ini."


"Apa dia tampan?"


"Tentu saja, tapi menurutku kamu jauh lebih tampan dirinya."

__ADS_1


Viona sengaja menggoda Deril agar pria itu tak melontarkan banyak pertanyaan.


Deril tak ingin mengorek lagi. Tak perlu ditanya ia sudah yakin apa yang menyebabkan Viona dan Niko saling mengenal satu sama lain. Namun, sayangnya pikiran Viona untuk tidak melanjutkan jawaban sia-sia.


"Kalau orang tua mereka bersahabat, seharusnya Ulan tidak perlu menyogokmu dengan mobil ini, bukan? Lagi pula saingannya kakaknya sendiri. Apa dia sudah tidak waras ingin merebut calon kakak iparnya sendiri?"


"Kalau soal itu aku tidak tahu hanyak. Yang aku tahu mereka bukan saudara kandung."


"Kalau begitu dia bukan teman yang sehat. Mulai sekarang jauhi dia."


Viona tersenyum menatap Deril. "Jangan marah-marah begitu, aku jadi takut melihatmu."


"Aku tidak suka kamu menjalin pertemanan dengannya. Mungkin saja hari ini dia memanfaatkanmu demi seorang pria. Besok-besok dia akan menjualmu kepada orang yang tak bertanggungjawab demi anak. Siapa tahu di masa depan dia menikah dengan pria yang dia inginkan, tapi tidak dikaruniai anak. Memanfaatkanmu demi mempertahankan hubungan yang tidak layak itu bisa saja terjadi, Viona. Apalagi dia tahu kehidupanmu seperti apa. Hari ini mobil ... besok-besok dia akan memberikanmu rumah, aset atau apa saja dan kamu akan meninggalkanku."


Viona tak menyangka Deril akan berpikir begitu. Tak mau panjang lebar soal topik itu, Viona menggoda Deril dengan mengelus pahanya.


"Malam ini kamu tidur di tempatku, kan?"


"Tentu saja."


Mobil Viona akhirnya tiba di rumah sakit. Deril memarkirkan mobil dan mengajak Viona masuk.


Viona terkejut. "Ini kan rumah sakit ... Untuk apa kita ke sini?"


"Papaku dirawat di rumah sakit ini," ekspresi Deril menjadi sedih, "Berbulan-bulan papaku mengalami koma akibat kecelakan yang menimpanya," Deril tersenyum, "Syukurlah sekarang beliau sudah sadar dan kondisinya sudah membaik. Aku rasa papa ingin bicara karena masalah tempo hari."


Viona benar-benar terkejut, tak menyangka kalau orang tua Deril ternyata ada di satu kota yang sama dengannya. Seandainya ia tahu sejak lama, mungkin setiap hari Viona akan ke sini untuk membesuk orang tua dari orang yang ia cintainya.


Deril tersenyum menatap Viona. "Ayo, kita masuk."


Meski sedikit gugup Viona harus memberanikan diri untuk itu. Ia menjadi takut saat membayangkan reaksi orang tua Deril melihat dirinya datang bersama putra mereka.


'Semoga orangtuanya Deril mau menerimaku, ya Tuhan. Semoga mereka tidak memandang fisik dan latar belakang.'

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2