
Jendry yang tadinya di atas tubuh Ulan langsung dilanda kepanikan. Ia hendak turun, tapi Ulan mencegahnya.
"Maafkan aku, aku ...."
Ulan menarik tubuh Jendry, hingga wajah mereka sangat berdekatan. "Aku tidak marah. Aku suka," Ulan menempelkan bibirnya ke bibir Jendry.
Jendry yang tubuhnya sejak tadi sudah panas segera membalas, ia melahap Ulan seperti singa yang kelaparan.
Jendry kemudian melepaskan bibirnya, menyerang leher, bagian subur, hingga perut Ulan.
Ulan menikmati setiap sentuhan bibir Jendry. Ia bahkan membantu lelaki itu melepaskan pakaian mereka. Ini pertama kali Ulan merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.
Setelah membuat Ulan terengah-engah , Jendry menyerang paha Ulan dengan kecupan lembutnya.
Ulan menggeliat, meremas seprai ketika rasa dingin menyerang semaknya yang lembab. Kakinya bahkan semakin dibuka ketika lingual Jendry begitu cepat dan kasar.
"Om Jendry ...."
Jendry kerasukan. Setan dalam diri seolah-olah membuat ia lupa siapa Ulan sebenarnya.
"Om ... Kumohon hentikan ... aku ingin ... aku ingin ...."
Jendry tak peduli. Ia semakin mempercepat gerakan hingga tubuh Ulan bergetar.
"Om ...."
Tak mau kenikmatan itu berakhir, Jendry menatap Ulan kemudian mencium wanita itu.
"Kamu suka?"
Ulan menutup muka karena malu.
Jendry tersenyum kemudian mendorong bagiannya yang besar ke pintu sempit milik Ulan.
Ulan kesakitan dan ingin menyerah. Namun, rasa nikmat ketika bagian Jendry berhasil masuk mengalahkan rasa sakit itu. Ia semakin menggeliat ketika pinggul Jendry mulai bergerak di atas tubuhnya.
"Om Jendry ... Om Jendry ...."
Jendry mempercepat gerakannya. "Ya, Sayang, aku di sini.
"Om, enak sekali ...."
"Benarkah?"
"Iya ...."
Mendengar sapaan itu membuat Jendry semakin cepat, cepat dan, "Oh, Ulan."
Ulan pun sama, ******* panjang keluar dari mulutnya dengan tubuh lemas tak berdaya.
Jendry tersenyum, mencium Ulan dengan tubuh masih menyatu. "Kamu sangat enak, Sayang. Kamu sangat enak."
"Om juga. Rasanya sangat sesak."
Perlahan Jendry memisahkan tubuh mereka dan terkejut melihat warna merah segar memenuhi seprai Ulan.
__ADS_1
"Kamu masih ....?"
Ulan mengangguk sambil tersenyum. "Om orang pertama yang melakukannya."
Rasa menyesal menyerang Jendry. "Maafkan aku, aku telah ... Papamu pasti akan marah padaku."
"Om menyesali malam ini? Bukankah Om sangat menikmatinya?"
Jendry berbaring, memeluk Ulan. "Seharusnya bukan seperti ini aku memperlakukanmu. Harusnya aku melamar dan menjadikan istriku sebelum melakukan ini. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
Ulan balas memeluk Jendry. "Kalau tidak begini, mana mungkin Om mau menikahiku. Aku hanya anak kecil yang menyusahkan Om saja. Mana mungkin Om akan tertarik padaku. Aku___"
Kata-kata Ulan terputus ketika bibi Jendry menyatu dengan bibirnya. Ia terkejut, tapi menikmati.
"Jangan berkata begitu? Kamu tidak menyusahkanku. Kamu itu segalanya bagiku. Mulai sekarang jangan panggil aku om."
"Kalau bukan om, siapa?"
"Sayang."
"Kalau begitu, apakah Sayang mau melanjutkan ronde ke dua bersamaku?"
Tanpa menjawab Jendry segera menyerang Ulan.
Erangan Ulan pun langsung memenuhi ruangan ketika Jendry kembali menyatuhkan tubuh mereka.
***
Di kediaman Lais yang sepi dan senyuk Handoko terlihat fokus dengan bacaannya. Sambil membuka lembaran berikut Handoko duduk di teras belakang.
"Oh, iya. Suruh Magdalena untuk membuatkan minuman."
"Baik, Tuan."
Handoko menunda bacaan kemudian menunggu besannya.
"Apa kabarmu, Besan?" Angelina menyapa sambil memeluk Handoko.
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu? Seminggu tidak melihatmu membuatku semakin rindu."
Angelina terkekeh. "Maafkan aku, beberapa hari ini aku sangat sibuk."
"Duduklah."
"Terima kasih," katanya lembut. Angelina mengambil posisi di depan Handoko.
"Mengurus perusahan sendiri pasti sangat merepotkan."
"Ya, tapi mau bagaimana lagi? Wulan tidak mau meninggalkan pekerjaannya."
"Benar. Niko sudah menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mau."
Handoko tersenyum.
"Aku ke sini untuk membahas Ulan."
__ADS_1
Ekspresi Handoko berubah. "Buat ulah apalagi dia?"
"Tidak, dia tidak berulah. Kita juga membicarakan ini sebelumnya, kita tidak akan memperdulikan dia lagi selama dia tidak mengganggu kita. Hanya saja aku masih penasaran, siapa orang yang membantunya selamanya ini. Aku takut dia akan balas menyerang kita, Handoko."
Magdalena muncul membawa nampan berisi teh melati kesukaan Angelina.
"Ini, Nyonya."
"Oh, Magdalena, terima kasih banyak."
Handoko melanjutkan, "Sejak kamu bilang dia sudah bebas dari penjara, aku sudah menyuruh Rudi menyelidikinya. Rudi mendapatkan informasi yang kuminta. Aku juga ingin memberitahukanmu waktu itu, hanya saja kamu sendiri yang meminta untuk tidak membahasnya lagi. Aku juga sudah menyuruh Rudi mencaritahu di mana dia sekarang, dan dia sudah memberitahuku."
"Di mana dia sekarang, Handoko?"
Handoko menarik napas. "Dia tinggal bersama Jendry Setiawan. Dia orang yang sama juga dengan orang yang mengeluarkan Ulan dari penjara."
"Jendry Setiawan ... Siapa dia, Handoko?"
"Dia salah satu kerabat kami. Jendry meninggalkan kota ini kemudian melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Yang aku ingat terakhir kali sebelum aku ke sini, Jefry bilang padaku dia ingin melamar Ulan, tapi Jefry menolaknya."
Angelina terkejut. "Dia ingin melamar Ulan ... Apa dia tidak sadar Ulan sudah seperti anaknya?"
"Entalah, yang jelas dia ingin menikahi Ulan, tapi Jefry tidak setuju."
"Lalu ke mana saja dia selama ini, kenapa Jefry tidak pernah menceritakannya padaku?"
"Sejak tahu tujuan papanya Ulan menikahimu karena tujuan buruk dia menjauhi mereka. Setahu aku waktu itu dia keluar negeri untuk bekerja. Mungkin dia sudah dengar kabar tentang Jefry, karena itu dia datang ke sini dan melindungi Ulan."
Angelina menyesap sedikit teh buatan Magdalena. "Memangnya dia kerja apa, kenapa Jefry menolaknya?" Angelina terkikik, merasa lucu, lelaki matang seperti Jendry sangat menyukai putri sambungnya.
"Dia pengacara hebat di luar negeri. Dia juga membuka jasa konselor di kota ini."
Angelina mengangguk. "Aku rasa Jefry punya satu alasan menolak dia."
"Benar."
"Seandainya tidak ingin merebut harta suamiku, pasti dia setuju putrinya dinikahi lelaki matang seperti Jendry."
Handoko tersenyum. "Apa Ulan masih mengganggu kalian?"
"Tidak lagi. Sejak turun dari rumah aku tidak pernah bertemu dengannya."
"Begitu Rudi memberikan informasi tentang Jendry aku langsung beranggapan, bahwa dia lah yang menghasut Ulan dan memberitahu yang sebenarnya."
"Mungkin sudah takdir kita untuk tidak bisa diprovokasi. Sebelum dia mengatakan itu padaku, Rudi menemuiku dan menceritakan semuanya."
Handoko menunduk sesaat. "Seandainya aku tahu koper yang aku bawa waktu itu adalah peledak, aku tidak akan menyerahkan itu kepada Benny."
"Tidak perlu sesali, kita ambil hikmahnya saja. Kalau bukan kamu yang melakukannya, sampai sekarang pasti aku tidak akan tahu kalau Jefry pelakunya. Kamu besanku, mertua putriku. Mengirimmu ke penjara suamiku tidak mungkin bisa hidup. Aku yakin, semua ini adalah cara Tuhan mempertemukan kita semua."
Handoko terharu. "Soal Ulan kamu tidak perlu khawatir lagi, aku yakin dia tidak akan mengganggu kita. Jendry pasti sudah menceritakan yang sebenarnya, dia pasti sudah semuanya."
"Aku berharap juga begitu, aku tidak mau anak-anak kita menjadi korban masa lalu. Aku ingin Niko dan Wulan bahagia seumur hidup mereka."
Bersambung_____
__ADS_1