Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Membantu Ulan.


__ADS_3

Di dalam kamar, sambil memeluk guling Ulan sedang menangis tersedu-sedu. Hatinya begitu sakit melihat sang kakak di jemput oleh pria yang disukainya. Rasa lapar yang ia rasakan langsung hilang seketika melihat Wulan dan Niko pergi bersama.


"Harusnya aku tidak melihat mereka. Seharusnya aku tidak peduli dengan mereka."


Ulan terus menangis. Saking besarnya rasa sakit yang ia rasakan, Ulan tidak sadar kalau Jefry sudah berada di dalam kamarnya sejak tadi.


"Tidak, aku tidak boleh cemburu. Wulan kakakku, Niko pacarnya. Jadi, aku tidak boleh merebut Niko dari kakakku."


Ulan bangkit kemudian menghapus airmatanya. Ia duduk di tepi ranjang membelakangi Jefry.


"Aku harus ikhlas. Aku harus menghilangkan perasaan ini. Aku tidak boleh menyukai Niko. Ingat, Ulan, kamu bukan wanita yang dicintai Niko, tapi kak Wulan."


Tak tahan mendengar tangis dan keluhan putrinya, Jefry akhirnya buka suara. "Kamu benar, Nak."


Ulan terlonjak. "Papa!" dengan cepat ia menghapus airmatanya, "Sejak kapan Papa di situ?"


"Sejak kamu bilang tidak mau melihat mereka."


Ulan mendekati sang ayah. Kesedihan pun kembali menyelimutinya saat Jefry memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku, Pa. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengambil Niko dari kak Wulan."


"Ini bukan salahmu, Nak. Papa lah yang salah, seandainya papa tidak menjodohkanmu dengan Niko, kamu pasti tidak akan menaruh rasa kepadanya."


Ulan melepaskan pelukan, menatap Jefry lalu berkata, "Aku ingin pergi jauh, menjauhi mereka pasti membuat perasaanku terhadap Niko akan hilang."


"Itu tidak perlu," Jefry menghapus air mata putrinya, "Papa tidak melarangmu mendekati Niko. Papa juga tidak akan menyuruhmu menjauhi dia. Bukankah mereka belum menikah? Papa rasa tidak masalah jika kalian bersaing secara sehat."


Ulan terkejut. "Maksud Papa?"


"Kalau kamu benar-benar sulit melupakan Niko, papa bisa membantumu mendapatkan dia. Kamu lupa kalau papa dan om Handoko bersahabat? Tidak susah bagi papa untuk menaklukan Niko demi kamu. Percayalah."


"Bagaimana dengan kak Wulan?"


"Dia bukan saudara kandung, dia saudara tiri."


Kesedihan di wajah Ulan lenyap. "Benar juga kata Papa. Tapi, aku tidak yakin Niko mau padaku. Niko hanya mencintai Wulan, bukan aku."


"Dia memang tidak bisa mencintaimu, tapi dia bisa menikahimu."


Ulan tercengang. Ia tak menyangka papanya tega melakukan itu. Wulan memang bukan saudaranya, tapi Angelina istrinya.


"Sekarang tidurlah," kata Jefry, "Biarkan papa yang mengurusnya. Kamu jalani saja harimu seperti biasa. Oke?"


Ulan memeluk Jefry erat-erat. "Terima kasih, Papa. Terima kasih banyak. Papa memang yang terbaik."


"Ingat," Jefry melepaskan pelukan, "jangan beritahu hal ini pada mama. Ini rahasia kita berdua."


"Siap, Papa tenang saja."


"Papa mau ingatkan," katanya pelan, "Lain kali kalau sakit hati pintunya jangan lupa ditutup. Papa masuk karena melihat pintumu tidak tertutup."


Setelah mengembalikan kepercayaan diri terhadap putrinya, Jefry keluar dari kamar dan meninggalkannya.


"Kamu di sini rupanya," suara Angelina mengejutkan Jefry, "Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu di sini."

__ADS_1


Jefry melirik ke pintu kamar Ulan, berharap wanita itu tidak keluar, agar Angelina tidak melihat matanya yang bengkak.


"Aku menyuruhnya untuk tidur. Bekerja terlalu keras tidak baik untuk kesehatan."


"Itu benar. Ayo, aku sudah menyiapkan kopi untukmu."


Sambil menuruni tangga Jefry bertanya, "Apa Wulan sudah pulang?"


"Belum. Biarkan saja, lagi pula ini belum larut."


Jefry senang. Ini kesempatannya memperbaiki keadaan. "Soal perjodohan Niko dan Ulan, ada baiknya kamu tidak usah memberitahukannya pada Wulan. Aku tidak ingin dia sakit hati."


Tepat di saat itu mereka tiba di teras belakang. Angelina mengambil posisi di depan Jefry.


"Aku juga berpikir begitu. Ada baiknya dia tahu sendiri soal itu. Rasanya aku tidak tega memberitahukan soal perjodohan itu kepadanya."


"Benar. Lagi pula meskipun perjodohan itu sudah diumumkan, sebagai orang tua kita hanya bisa melaksanakan. Yang berhak menentukan mereka berjodoh atau tidak adalah Tuhan. Aku tidak mau menghendaki keinginan-Nya, biarlah sang pencipta yang mengatur segalanya."


Angelina menatap Jefry. Ia merasa jatuh cinta untuk kesekian kalinya terhadap lelaki itu.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Angelina?"


"Suamiku sangat bijaksana."


"Selamat malam," suara Wulan mengejutkan mereka. Ia sedikit terkejut melihat Jefry, "Aku mencari Mama, ternyata Mama di sini."


"Gimana kencanmu, Nak?"


Pertanyaan Jefry mengejutkan Wulan.


Melihat ekspresi putrinya Angelina berkata, "Papa sudah tahu, Nak. Kamu tidak usah khawatir."


"Wulan?"


Suara Jefry mengejutkannya.


"Ya, Pa?"


"Kamu belum menjawab pertanyaan papa. Kamu baik-baik saja, kan?"


"Aku baik-baik saja. Kencanku juga lancar."


"Tadi ke mana saja?" tanya Angelina, "Kenapa pulang terlambat?"


"Tadi kami makan malam di rumah om Handoko. Beliau memasak ikan bakar spesial untuk kami."


Angelina senang. "Benarkah, dari mana beliau tahu kamu suka ikan bakar?"


"Siapa lagi kalau bukan Niko yang memberitahunya."


Ekspresi Jefry sedikit berubah. Ia kesal mendengar sikap Handoko seperti itu. Seandainya Wulan tahu Handoko yang membunuh ayahnya Wulan, mungkin wanita itu tidak akan mau lagi berhubungan dengan mereka.


Tak ingin membahas tentang keluarga Lais, Jefry mengangkat topik lain. "Bagaimana pekerjaamu, Nak? Sejak menjadi pacar Niko kamu tidak pernah lagi membicarakan soal aktivitasmu kepada papa dan mama. Benarkan, Ma?"


Angelina membenarkan. "Iya, papamu benar."

__ADS_1


Wulan bersedih. "Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan kepada kalian."


"Soal apa?" tanya Angelina.


"Aku di mutasikan ke Manado."


"Apa?!" seru Angelina, "Kenapa? Kapan?"


Jefry pura-pura. "Kamu tidak melakukan kesalahan kan, Sayang?"


Wulan menggeleng.


"Lalu kenapa kamu di mutasi?" desak Angelina.


"Kepala cabang memintaku untuk melatih karyawan di sana beberapa waktu. Begitu tugasku selesai, aku akan kembali bertugas di kota ini."


Angelina lega. "Mama pikir kamu melakukan kesalahan. Mama sangat khawatir."


"Tidak, Mama. Mama tenang saja, aku tidak akan lama, kok."


"Apa Niko tahu?" tanya Jefry.


"Iya, Pa. Aku memberitahu mereka saat makan malam."


"Apa reaksinya?"


"Awalnya dia keberatan. Setelah aku mendeklarasikan alasannya, dia akhirnya setuju. Dia memberiku waktu sebulan."


"Sebulan?" pekik Angelina, "Itu terlalu cepat, kan?"


Wulan terkekeh. "Justru itu terlalu, Mama. Batas seseorang mempelajari program itu dua minggu. Maximalnya sebulan."


"Benar," timpa Jefry, "dua minggu seharusnya orang itu sudah menguasai semuanya."


"Awalnya Niko memberiku waktu dua minggu, aku keberatan. Jadi, dia memberiku waktu selama sebulan."


Angelina menggodanya. "Pasti dia tidak berjauhan denganmu."


Seandainya Jefry tidak mengambil kebijaksanaan untuk merahasiakan perjodohan Ulan dan Niko, Angelina tidak akan menggoda putrinya dengan kata-kata itu. Ia tak perlu menjaga perasaan Jefry sebagai ayahnya Wulan. Toh kata Jefry jodoh di tangan Tuhan.


"Ini sudah larut. Sebaiknya kamu tidur saja, Sayang," kata Jefry pada Wulan, "Kalau kamu butuh sesuatu nanti beritahu papa, ya?"


"Iya, Pa."


"Berarti besok hari terkahirmu di kantor, ya?" tanya Angelina.


"Iya, Ma."


"Bagaimana kalau kita rayakan acara kecil-kecilan di rumah ini? Kita undang Handoko, Niko dan teman-teman kantormu."


"Jangan, Mama."


"Kenapa, Sayang? Kan mama hanya mengadakan acara kecil-kecilan sebelum kamu berangkat."


"Aku tidak ingin berpisah dengan kalian. Kalau Mama mengadakan acara, sama saja Mama ingin berpisah denganku."

__ADS_1


"Wulan benar," kata Jefry, "Kita tidak harus melaksanakan perayaan, karena itu lebih bagus."


Bersambung____


__ADS_2