
Hari yang dinantikan Ulan dan Jefry akhirnya tiba. Ulan bangun lebih awal saking bersemangat menyambut hari pernikahannya dengan Niko.
Jefry juga demikian. Walau semalam ia tidur sangat larut karena sibuk mencaritahu identitas orang yang mengirim pesan misterius kepada putrinya, Jefry akhirnya bisa bangun pagi dengan tubuh yang kurang bersemangat.
Berbeda dengan Jefry dan Ulan, Angelina bangun dengan keadaan terpaksa. Angelina berharap sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi harus terjadi hari, agar pernikahan Ulan dan Niko dibatalkan.
Sebagai orang tua jelas Angelina tidak terima putrinya dikhianati oleh suami dan anak tirinya sendiri. Ingin menunjukkan bukti rekaman yang diberikan Fanny tempo hari, Angelina khawatir Jefry atau Ulan akan melakukan sesuatu untuk menyakiti Fanny. Selain itu Angelina belum mendapatkan bukti nyata untuk membongkar kesalahan suami dan anak tirinya.
Di sisi lain Niko dan Handoko sedang duduk bersama di ruang tamu. Orang lain mungkin akan bergembira menyambut hari bersejarah dalam hidup. Berbeda dengan Ulan dan Jefry yang begitu antusias menyambut hari ini, Handoko dan Niko justru sangat tidak bersemangat. Mereka bahkan masih mengenakan jubah tidur sambil menikmati kopi dan sarapan pagi.
"Seandainya bisa, aku akan menyuruh Darius mewakilkanku duduk di pelaminan," kata Niko lalu menatap pria yang selalu rapi dan berdiri tak jauh darinya, "kau mau menggantikanku menikahi Ulan?"
Handoko, Niko dan Brian tertawa.
Dengan wajah merah karena menahan tawa Darius menjawab, "Apa pun itu, dengan ikhlas aku akan melakukan seandainya bisa, Tuan."
"Kamu serius?" ledek Niko, "Kamu tidak menyukai Ulan, kan?"
"Tentu saja tidak, Tuan. Seandainya bisa dan Anda benar-benar ingin aku melakukan itu, aku siap melakukannya demi Anda."
Handoko memang tidak salah mempercayakan Darius memegang perusahannya sebelum dialihkan kepada Niko. Darius orang yang bertanggung jawab dan jujur. Dia terkenal rela berkorban demi menyelamatkan orang terdekatnya.
Tak hanya Handoko, Niko yakin Darius tidak pernah main-main dengan ucapannya. Itu lah kenapa ia memilih Darius sebagai tangan kanan sekaligus supir. Selain Brian yang sudah layaknya pensiun karena usianya tidak muda lagi, Darius orang yang lebih cekatan dan paling tahu soal perusahan.
"Sebaiknya kita bergegas, Niko," kata Handoko, "papa tidak mau berlama-lama di sana. Jadi, sebaiknya kita pergi sekarang, biar acaranya cepat selesai."
"Percuma Papa menghinar, nanti malam masih ada resepsi dan papa harus hadir di sana."
Sambil berdiri Handoko berkata, "Aku harap sesuatu terjadi hari ini. Pernikahan yang tidak direstui Tuhan pasti tidak akan terjadi."
Niko hanya diam dengan harapan yang sama. Entah kenapa tiba-tiba wajah Wulan muncul dalam benaknya. Rasa rindu terhadap wanita itu tiba-tiba meluap dalam hatinya.
'Maafkan aku, Sayang. Seandainya kamu tahu aku melakukan ini demi menyelamatkanmu, kau pasti akan tahu betapa besarnya cintaku padamu.'
__ADS_1
***
Di salah satu gedung yang begitu besar dan mewah sudah dipenuhi oleh khiasan bunga dan khiasan lainnya. Para tamu undangan dari kalangan atas maupun menengah sudah memenuhi bangku dengan riasan dan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Tidak sedikit orang yang bertanya-tanya soal Ulan dan Niko. Di kalangan atas, banyak para orang tua yang ingin menjodohkan Ulan dengan putra mereka. Kenapa tidak, walaupun bukan orang kaya seperti Jefry, tapi status mereka cukup layak untuk menjadikan Ulan sebagai menantu kesayangan mereka.
Saking jengkel karena keinginannya tidak terwujud, wanita tua itu melontarkan komentar rendah terhadap Niko.
Secara umum Niko memang tidak dikenal oleh mereka. Keberadaan Handoko dan beberapa perusahan yang dirahasiakan oleh publik membuat mereka merendahkan Niko.
"Pasti laki-laki itu hanya ingin mengincar harta mereka."
"Iya, benar. Aku heran, kenapa sih pak Jefry mau menikahkan putrinya dengan orang yang tidak jelas."
"Hei, jaga mulutmu," kata wanita tua di sebelahnya, "Kalian tidak tahu, ya? Pria itu anak pemilik kawasan BK Group. Kalian pikir BK Group itu kecil, hah?"
Dua wanita itu menantangnya. "Dari mana kau tahu?"
"Anakku staf administrasi di BK Group. Dia yang memberitahuku, bahwa hari ini atasannya akan menikah."
"Kalian pikir pak Jefry bodoh, mau menikahkan putrinya dengan orang tidak jelas? Sebaiknya riset dulu sebelum bermemberi komentar."
Para undangan sibuk menceritakan tentang Niko dan Ulan, Niko sudah berada di depan altar dengan ekspresi sulit terbaca. Tatapan datarnya menuju ke pintu aula yang masih tertutup. Untung saja ia berwajah tampan, jika tidak, mungkin saat ini ia pria yang paling jelek yang pernah ada.
Handoko, Darius, Brian dan Magdalena berdiri dengan ekspresi yang sama. Seolah-olah menghadiri pemakaman, wajah mereka begitu sedih meskipun hari ini hari pernikahan Niko.
Di sisi lain Angelina sedang mengkhayal. Ia bahkan tidak sadar kalau musik sudah berbunyi ketika Ulan masuk bersama Jefry.
Para tamu yang tadi sibuk membicarakan mereka pun langsung terdiam dan mengagumi kecantikan Ulan.
"Pasangan yang cocok. Mereka sangat serasi."
"Benar. Seandainya putraku bisa menikah dengannya ...."
__ADS_1
"Jangan mimpi."
Angelina tersadar. Ia menoleh, melihat Ulan dan Jefry yang sedang tersenyum kepada tamu undangan.
'Kalian tertawa di atas penderitaan anakku,' katanya dalam hati, 'Aku bersumpah, Tuhan akan membalas apa yang telah kalian perbuat.'
Tepat di saat itu Jefry berhasil mendekati Niko. Dengan wajah haru ia meraih tangan Niko kemudian menaruhnya ke tangan Ulan.
"Mulai hari ini, kuserahkan putri tercintaku padamu, Niko. Dengan segala hormat, aku meminta padamu ... jangan pernah kamu sakiti dia. Tuntun dia menjadi istri yang baik. Kalau pun dia tidak bisa menjadi istri seperti yang kamu inginkan, kembalikan dia padaku. Jangan lukai dia. Jangan sakiti dia."
Air mata berjujuran di wajah semua orang kecuali Niko. Handoko dan Angelina bahkan ikut menangis melihat momen di depan mereka. Yang mereka tangisi bukanlah ucapan Jefry kepada Niko, membayangkan wanita itu bukan Wulan membuat mereka sangat bersedih.
Angelina sakit hati mengingat perbuatan Ulan dan Jefry terhadap Wulan. Begitu juga Handoko, ia bersedih membayangkan Niko rela mengorbankan cinta sejati demi menyelamatkan dirinya dan Wulan.
Setelah selesai mengucapkan nasehat kepada Niko, Jefry memberikan Ulan kepadanya. Ia bahkan tak peduli Niko mau menerima nasehat itu atau tidak. Ia juga tidak peduli Ulan akan disakiti atau tidak, yang terpenting hari ini Niko dan putrinya resmi menjadi suami istri.
Niko dan Ulan berdiri di depan altar dengan ekspresi berbeda-beda. Niko berwajah datar, sedangkan Ulan tersenyum bahagia karena sebentar lagi Niko akan menjadi suaminya.
'Seandainya kak Wulan dan Viona ada di sini,' kata Ulan dalam hati, 'mereka pasti sangat cemburu melihatku di sini."
Suara pendeta pun mulai terdengar. Ia memerintahkan kedua mempelai untuk mengucapkan janji suci.
"Niko Lais, apa kamu siap menerima Ulan Tanujaya menjadi istri untuk saling menjaga dari sekarang dan selamanya?"
Niko menatap Ulan lama sekali. Entah kenapa kata-kata yang hendak ia lontarkan tiba-tiba tak sanggup diucapkan.
"Tuan Niko," kata pendeta pelan, "Ayo, ucapkan janjimu sekarang, orang-orang sudah menunggu."
"Ayo, Sayang, kamu pasti bisa," ucap Ulan.
Niko tersadar. Dengan berat ia pun mulai mengucapkan janji suci yang sudah diajarkan sebelumnya dengan tubuh gemetar, "Saya mengambil engkau, Ulan Tanujaya, untuk menjadi____"
"Tunggu!"
__ADS_1
Bersambung____