Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Suasana yang Berbeda.


__ADS_3

Betapa terkejutnya Wulan dengan kata-kata Niko. Ia ingin protes, tapi pria itu keluar dan membuka pintu untuknya.


Wulan pun mengabaikan rasa protesnya dan berjalan bersama Niko.


'Niko ingin menelanjangiku?' katanya dalam hati. Matanya membulat, 'Untung saja adegan tadi hanya di mobil. Kalau di rumah, pasti dia akan benar-benar menelanjangiku. Tidak, itu tidak boleh. Niko tidak boleh melakukan itu sebelum menikahiku.'


Pikiran yang terus terganggu membuat Wulan tidak sadar, bahwa Magdalena dan Brian menyambut mereka. Ia bahkan tidak mendengar perkataan Niko saat pria itu menanyakan Handoko.


"Tuan besar ada di halaman belakang. Beliau sedang membakar ikan untuk menu makan malam."


Saat itulah Wulah tersadar. "Papamu memasak sendiri?"


"Kata papa, itu menu spesial untuk calon menantunya."


Mereka berdua pun berjalan menuju taman belakang diikuti Brian dan Magdalena.


Begitu melihat Niko dan Wulan, Handoko segera menyambut mereka dengan senyum bahagia.


"Selamat datang anak-anakku. Kemarilah, papa sedang memasak untuk kalian."


Wulan terlena untuk mendekatinya. "Om tidak perlu melakukan ini. Lihat, tubuh Om di kelilingi asap."


"Om?" protes Handoko, "Kenapa kamu memanggil dengan sebutan om, Nak? Panggil aku papa."


Niko menahan tawa, sedangkan Wulan langsung merah akibat malu melandanya. Ia jadi teringat sebutan Niko kepada ibunya. Ia pun dengan senyum lebar menatap Handoko dan menjawab, "Baik, Papa. Sini, biar kubantu."


"Tidak, Nak. Biarkan aku yang melakukannya. Kamu temani Niko saja. Sebentar lagi ikannya matang. Duduk lah di sana."


"Aku ingin menemanimu, Papa. Aku sudah bosan bertatapan dengan Niko. Sekarang aku ingin menatap Papa sepuasnya."


Handoko terkejut. "Hei, Niko! Kau dengar apa yang dia katakan?"


Wulan sengaja menggoda mereka.


"Aku tidak mendengarnya!" seru Niko yang sedang duduk di kursinya. Ia sengaja tidak bergabung karena hasrat yang masih menggebu dalam dirinya sejak tadi tak kunjung padam. Berdekatan dengan Wulan justru semakin membuat tubuhnya panas.


"Dia bosan menatapmu, dia ingin menatapku sampai puas."


Handoko tahu Wulan hanya bergurau. Jadi, ia juga ikut bergurau, membuat suasana malam ini semakin hangat. Ia tidak ingin menimbulkan jarak antara mereka. Sebab itu ia selalu membuat suasana menjadi hangat, agar Niko dan Wulan selalu nyaman setiap kali bersamanya.

__ADS_1


Setelah ikan bakar buatan Handoko masak, ia dan Wulan bergabung bersama Niko.


"Kamu kenapa duduk di sini, kenapa kamu tidak bergabung?" tanya Handoko kepada Niko.


Wulan juga baru sadar. Ia merasa sedikit kesal karena Niko mengabaikannya.


"Aku tadi sedang berkomunikasi dengan Darius. Aku baru ingin bergabung, tapi Papa sudah selesai."


Kekesalan Wulan sedikit berkurang. Meskipun sedang bicara dengan Handoko di jarak yang sedikit jauh dari Niko, sesekali ia melirik pria itu dan kedapatan berbicara melalui telepon.


"Ayo, makan, kalian pasti sudah lapar," kata Handoko. Lelaki itu duduk di kepala meja, "Wulan, ini spesial untukmu. Papa sengaja memilih yang paling besar karena Niko pernah bilang, kalau kamu sangat menyukai ikan bakar."


Di meja itu sudah terdapat berbagai menu olahan ikan bakar. Tidak hanya ikan, ayam dan sayur pun tersedia di sana.


Magdalena muncul dengan nampan berisi minuman kesukaan mereka.


Handoko mengambil sayur kemudian meletakkannya ke piring Wulan dan Niko sebelum meletakkan ke piringnya sendiri.


Wulan terharu. Ia menatap ke dua laki-laki itu secara bergantian. "Terima kasih banyak, Papa. Ikan ini terlalu besar, aku tidak bisa menghabiskannya."


"Kamu pasti mampu menghabiskannya," ledek Niko, "ikan bakar buatan papa enak sekali. Kamu coba saja dulu, pasti kamu akan minta lagi."


Wulan merasa bahagia. Suasana hangat malam ini membuatnya rindu kepada sang ayah yang sudah tiada. Sikap Handoko malam ini benar-benar membuatnya rindu kepada Benny.


Wulan meanggap suasana itu tidak akan terjadi lagi setelah sang ayah meninggal. Namun, saat ini Handoko berhasil menciptakan suasana itu yang sama persis dengan suasana waktu itu.


Airmatanya pun tak bisa tertahan. Bulir kristal berhasil lolos membasahi pipinya tanpa sepengetahuan mereka. Pantulan lilin di atas meja tidak membuat Niko dan Handoko tahu kalau Wulan sedang menangis.


"Bagaimana pekerjaamu, Nak?" tanya Handoko tanpa menatap Wulan, "Kalau sudah menikah dengan Niko, kamu tidak perlu bekerja lagi, ya? Kamu cukup di rumah, mengurus Niko dan cucu-cucuku."


Wulan terkekeh. "Papa ada-ada saja."


Mereka berbicara sambil makan.


Niko tak mau kalah. "Papa benar, Sayang. Kamu tidak boleh bekerja lagi setelah kita menikah."


Wulan merasa sedih ketika mengingat besok adalah hari terakhirnya di kota ini. Ia semakin bingung ingin menyampaikan kabar itu kepada mereka dengan cara seperti apa.


Ia pun hanya tersenyum dan terus mengunyah. Ikan bakar buatan Handoko sangat enak, tapi rasa nikmat itu tak mampu menghalaukan hatinya yang sedang galau.

__ADS_1


Melihat ekspresi Wulan yang tidak biasanya, Niko sedikit mengerutkan alis dengan rasa penasaran. Sebagai pacar ia bisa menebak ekspresi bahagia dan tidak dari seorang Wulan.


'Apakah Wulan sudah tahu soal pernikahan itu?' katanya dalam hati, 'Apa jangan-jangan ibunya sudah mengatakan yang sebenarnya?'


Penasaran dengan isi kepalanya Niko menyuapi Wulan, agar makannya cepat selesai.


Handoko yang tak mau kalah juga beberapa kali memberikan potongan sayur ke piring Wulan. Walaupun terlihat cuek, Handoko bisa menebak kalau suasana hati Wulan sedang kacau. Ia pun berinisiatif untuk melakukan itu, agar Wulan sedikit terhibur. Ia bahkan menceritakan pengalaman lucunya dan membuat mereka tertawa.


Hal itu membuat suasana hati Wulan sedikit membaik. Ia merasa bahagia bersama Niko dan Handoko. Meskipun Jefry baik padanya, tapi ia tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika bersama Jefry.


Setelah sesi makan malam selesai, Magdalena dan beberapa pelayan langsung membereskan meja.


Handoko, Niko dan Wulan pindah ke sudut taman yang sudah disediakan untuk mereka bersantai.


"Anak-anak, tunggu sebentar, papa ke dalam dulu."


Akibat banyak mengkonsumsi cabai perut Handoko terasa mulas.


Niko mengambil kesempatan. Ia meraih tangan Wulan dan menggenggamnya.


"Apa yang kamu pikirankan? Sejak tadi kamu terlihat gelisah."


Wulan tak bisa berbohong. "Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu."


"Soal apa?"


"Soal ...," Wulan menghentikan perkatannya, "Aku____"


"Tunggu, jangan diteruskan," sergah Niko. Ia yakin Wulan pasti akan menjelaskan soal topik yang sama seperti yang Angelina katakan padanya. Jadi, ia sengaja menahan ucapan itu dan mengeluarkan kotak biru dari dalam celana, "Sebelum lanjut, aku akan memberikan sesuatu padamu."


Wulan melihat aktivitas Niko. Ia meantap tangan pria itu dengan ekspresi penasaran.


"Apa itu, Sayang?"


Kotak itu kecil, sehingga Wulan tak bisa menebak, karena tangan besar Niko berhasil membungkus kotak itu.


"Coba tebak, apa ini?" ledek Niko. Ia meletakkan tangannya di depan Wulan.


Wulan melihat-lihat cela di tangan Niko untuk mengintip genggamannya. Namun, penerangan yang minum membuatnya sulit menebak.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Apa ini, Sayang? Jangan membuatku penasaran. Apa ini kejutan yang kamu maksud?"


Bersambung___


__ADS_2