Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Ketinggalan Pesawat.


__ADS_3

Niko lemas. "Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia tida bilang kalau dirinya sedang hamil?"


Inem menjelaskan, "Tuan masih ingat waktu nyonya pergi ke dokter?"


"Iya," ia dan Handoko menyimak.


"Malam sebelumnya nyonya bukan hanya tidak enak badan, nyonya muntah-muntah dan pusing. Aku ingin memberitahu Tuan, tapi nyonya melarangku. Begitu juga hasil kehamilan itu, rencana nyonya akan memberitahu kabar baik itu setelah mendapat hadiah ulang tahun dari Tuan. Tapi, semuanya batal."


Inem mengeluarkan kotak kemudian memberikannya pada Niko.


"Ini titipan sebelum nyonya pergi."


Niko mengambilnya, membuka bungkusan kemudian melihat isinya.


Handoko bertanya, "Inem, apa Wulan memberitahu dia mau ke mana?"


"Tidak, Tuan, rencana Nyonya mendadak. Begitu tuan Niko dan Gloriana pergi, nyonya Wulan langsung menyuruhku mengatur koper."


Niko terharu melihat dua garis merah di testpack itu. Kemudian ia membuka kertas kecil yang terselip di bawahnya.


'Awalnya aku ingin memberi hasil test ini setelah kita bertukar kado. Tapi, begitu Gloriana datang aku berpikir untuk menyembunyikannya, aku tidak ingin membebanimu. Namun, sebagai ibu aku tidak mau egois, anakku membutuhkan ayah. Aku tidak mau apa yang kurasakan di masa lalu akan terjadi pada anakku. Aku juga berharap meskipun kau tak mencintaiku lagi, kau bisa mencintainya sepenuh hati. Bukti ini ... Bukti ini kuberikan agar suatu saat kau tahu bahwa kau punya anak dengan wanita yang tidak bisa memuaskanmu. Sebagai orang yang sangat mencintaiku, aku tidak akan memberi batasan baginya untuk mengenalmu. Aku juga tidak akan memberitahu apa yang kau lakukan padaku. Tapi, satu lagi yang kuminta darimu, Niko ... meskipun kau tak menyayangiku seperti kau menyayangi Gloriana, sayangilah dia seperti kau menyayangi anaknya Gloriana.'


Niko lemas dan terduduk di sofa. "Itu tidak benar, Wulan ... itu tidak benar, aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu. Aku tidak menyayangi Gloriana, hanya kamu yang kucintai."


Handoko mengambil kertas itu dan membacanya. "Ini salahmu sendiri. Sekarang mau menjelaskannya pun sudah terlambat."


"Fanny," seru Niko, "Fanny pasti tahu di mana Wulan berada."


Dengan cepat ia mengambil ponsel lalu menghubunginya.


"Halo?" sapa Fanny dari seberang telpon.


"Fan, di mana Wulan? Apa kau tahu dia pergi ke mana?"


"Pergi ke mana, kenapa?"


"Jangan basa-basi, Fanny. Katakan, di mana Wulan, aku akan menjemputnya?"


"Aku tidak tahu, sumpah. Memangnya apa yang terjadi?"


Nada khawatir Fanny membuat Niko percaya. Ia pun menjelaskan kejadian yang terjadi semalam.


Inem terkejut. Dalam hati ia berkata, "Suami gila. Sesabar apa pun seorang istri kalau dikerjai seperti itu jelas akan marah. Untung terjadi pada nyonya, kalau terjadi padaku, aku akan langsung minta cerai."


"Sebenarnya sudah lama ia mencurigaimu. Tapi, dia diam dan mengalah demi hubungan kalian."


"Aku yang salah, aku yang membuat dia pergi."


"Itu jelas!" bentak Handoko, "Kalau kau tidak menemukan dia secepatnya, papa tidak akan pernah mengampunimu."


Niko merengek. "Fanny, kumohon beritahu aku di mana dia, aku tidak bisa hidup tanpa dia."


"Sumpah, aku tidak tahu dia di mana. Aku sendiri baru tahu kabar ini darimu."


"Inem bilang dia keluar kota. Seandainya aku tahu di mana, sekarang pun aku akan langsung mencarinya."


"Level kekecewaannya berarti sudah memuncak. Wulan memang baik, tulus dan bijaksana. Tapi, kalau sudah kecewa seperti inilah dia."


Handoko marah. "Ini semua karenamu! Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, kau akan tahu akibatnya."


Handoko menghubungi kontak Wulan.

__ADS_1


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Handoko berdecak. "Di mana kamu sebenarnya, Nak?"


"Kau sudah menanyakannya pada tante Angelina?" tanya Fanny.


"Tidak, mama mungkin belum tahu soal ini. Aku juga tidak berani menanyakannya."


"Aku akan coba menghubunginya. Kalau ada kabar aku akan langsung menghubungimu."


Niko senang. "Kumohon bantu aku. Kabariku aku secepatnya, Fanny."


"Iya, kamu tenang saja."


Niko memutuskan panggilan. Ia menatap testpack di tangannya. "Anakku sayang, ke mana kamu membawa mamamu, hah?"


"Sinting!" ketuk Handoko, "Memangnya benda itu bisa menjawabnya?"


"Aku harus mencari Wulan di mana, Pa?"


"Pikirkan sendiri! Semua ini karenamu, kalau kau tidak mengerjainya mana mungkin dia pergi."


Niko teringat. "Bunaken ... Wulan pasti ke Bunaken, dia pernah bilang ingin ke sana, masih ada pulau yang ingin dia jelajahi."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Cepat beli tiket dan cari dia!"


Di sisi lain.


Silau mentari pagi membangunkan Wulan. "Jam berapa sekarang?" ia mengambil ponsel di bawah bantal, "Jam sembilan."


Wulan bermalas-malasan. Ia kemudian membuka kunci layar untuk memeriksa jadwal pesawat. Saat ini Wulan berada di hotel berbintang di kota Jakarta. Karena ketiduran, Wulan terlambat pesawat sehingga tak bisa ikut penerbangan.


Wanita itu terkekeh melihat mode pesawat yang masih aktif di layar ponselnya. Ia kemudian menonaktifkan internetnya.


Banyak notifikasi masuk ke ponselnya. Melihat deretan nama yang mengirimkan pesan membuat Wulan malas.


"Niko, Fanny, Handoko dan Inem," Wulan membaca nama-nama itu. Tak mau mereka mengganggunya, Wulan mengabaikan kemudian mencari aplikasi penerbangan.


Drtt... Drtt...


Ponsel Wulan bergetar. Nama Fanny terpampang di layar ponsel. Wulan dengan malas mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


"Kamu di mana?! Apa yang terjadi, hah?"


Wulan memiringkan badannya, memeluk bantal, menatap dinding kaca yang cerah.


"Niko pasti sudah menceritakannya, kan?"


"Dia menghubungiku pagi tadi. Dia bilang kamu pergi tak bilang-bilang."


Wulan mengendus. Rasa sakit kembali melanda ketika membayangkan peristiwa kemarin.


"Dia tidak pernah mencintaiku, Fan."


"Kata siapa? Jangan percaya dulu."


Air mata Wulan menetes. "Gloriana sedang hamil, Fan."


"Itu tidak benar, Wulan. Niko sudah mengakuinya, dia hanya mengerjaimu. Dia hanya ingin mengetes kesabaranmu."

__ADS_1


Wulan berdecak. "Dibayar berapa kamu sama Niko? Dia pasti menyuruhmu untuk membujukku, kan?"


"Tidak, dia tidak membayarku. Aku justru kasihan padanya, dia seperti orang gila."


Wulan diam.


"Dia juga sudah mengakui kesalahannya. Rencana hari ini dia dan Gloriana akan mengakui semuanya di depanmu."


"Suami sinting."


Fanny tertawa. "Aku dengar mertuamu memarahinya. Beliau mengancamnya, kalau tidak menemukanmu atau terjadi sesuatu pada kalian dia akan membunuh Niko."


"Aku tidak peduli, Fann."


"Apa yang kamu lakukan ini sudah benar, kamu harus memberinya pelajaran."


"Rencana dua atau tiga bulan aku di sini."


"Tiga bulan?" Fanny tertawa, "Niko pasti mati sengsara karenamu. Tadi saja dia nyaris menangis waktu menghubungiku."


Wulan terkekeh. "Salah sendiri."


"Suamimu itu gila."


"Memang."


"Lalu, di mana kamu sekarang?"


Wulan tersenyum. "Aku tidak bisa memberitahumu. Maafkan aku."


"Percayalah, aku tidak akan memberitahu Niko."


Wulan bangkit dari ranjang. "Aku di hotel. Semalam aku ketinggalan pesawat."


"Kenapa bisa?"


"Mengantuk. Jadwalku jam dua malam. Aku ketiduran dari jam satu sampai jam tiga."


Fanny tertawa. "Itu tandanya kamu tidak boleh ke mana-mana. Lagi pula Gloriana kan tidak benar-benar hamil."


"Aku tak peduli. Itu sebanding dengan apa yang dia lakukan. Toh, dia juga yang mau aku pergi."


"Tapi jangan lama-lama. Dua atau tiga bulan itu lama sekali."


Wulan tertawa. "Terserah aku. Ya sudah, aku pesan tiket dulu, ya. Nanti aku akan menghubungimu lagi."


"Selamat ulang tahun, ya. Seandainya kamu di sini, aku akan mengajakmu ke mana pun kamu inginkan."


Wulan berubah pikiran. "Benarkah?"


"Iya."


"Baik, aku tidak jadi berangkat. Tapi, berjanjilah padaku."


"Janji apa?"


"Jangan beritahu Niko di mana aku berada, aku akan memberinya pelajaran."


"Tenang saja, aku tidak akan memberitahunya. Jangankan Niko, Darius pun tidak akan kuberitahu."


"Oke. Pulang kantor kamu jemput aku, ya."

__ADS_1


"Oke."


Bersambung____


__ADS_2