Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Pengakuan Keluarga.


__ADS_3

"Aku rasa begitu, tapi Papa yakin Robby akan menuntut balik, apalagi jika dia sudah menerima uang kompensasi?"


Handoko menarik napas panjang. "Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban ke depannya."


Setelah menikmati sarapan Handoko pamit dan pergi ke rumah sakit bersama Brian.


"Siapa saja yang menjaganya?" tanya Handoko begitu Brian memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit. Sebelum masuk Handoko menghubungi seseorang di balik telepon.


"Istrinya baru saja pergi. Sekarang ada anak lelakinya yang sedang berjaga."


"Baik, aku akan segera ke sana. Kalian tidak boleh ke mana-mana sampai Robby keluar dari rumah sakit ini."


"Siap, Bos."


Handoko memutuskan panggilan. "Ayo, Brian, kita masuk."


Brian menurut dan mengekor di belakang Handoko. Tanpa hambatan mereka berjalan menuju ruang ICU.


"Selamat pagi," sapa Handoko saat melihat seorang laki-laki duduk sambil menunduk. Laki-laki usianya seperti Niko dan Handoko yakin itu pasti anaknya Robby.


Pria itu menoleh. Dengan tatapan bingung ia berdiri, membalas uluran tangan. "Pagi."


"Kenalkan, aku Handoko Lais. Apa benar Anda putranya pak Robby Lamber?"


"Iya, benar. Maaf, Anda siapa?"


Handoko sudah memikirkan alasannya jauh sebelum itu. "Aku nasabah setia beliau. Aku mendapat kabar, bahwa beliau dirawat di rumah sakit ini sejak lama. Maaf, aku baru mendapat kabar kemarin."


"Oh, tidak apa-apa," senyum di wajah pria itu terlihat, "Aku Devon. Silahkan duduk."


"Terima kasih," Handoko menurut dan langsung ke intinya, "Apa yang terjadi? Aku dengar papamu kecelakaan. Apa itu benar?"


Bahagia di wajah pria itu berganti sedih. Ia menunduk sambil menjelaskan.


"Mobil papa ditemukan di pinggir jalan dengan kondisi rusak. Menurut polisi papa kecelakaan, tapi dari cedera yang dialami kata dokter itu bukan luka kecelakaan. Kami masih menyelidiki masalah ini, tapi sampai sekarang belum ada titik terang."


"Bukan karena kecelakaan bagaimana maksudmu?"


Devon menatap Handoko. "Entalah, yang jelas papa begini bukan karena kecelakaan, pasti ada seseorang yang menyabotase papa. Kami berharap papa bisa cepat sadar, agar bisa membantu pencarian pelaku."

__ADS_1


"Kalian sudah membawa masalah ini ke pihak yang berwajib?"


"Sudah, Om, tapi mereka seakan tak peduli dan mengabaikannya. Kalau kami tidak mengajukan pertanyaan mereka takkan memberi kabar."


Handoko mengendus. "Pasti pelakunya orang yang kuat. Kalau respon pihak berwajib demikin, bisa jadi dia sudah ...."


Handoko tak meneruskan kata-katanya. Ia yakin Devon paham apa kelanjutan dari ucapan itu.


"Om benar, tapi kami tidak mau terjadi apa-apa kepada papa selain berdoa dan pasrah. Kalau kami melakukan penyerangan, orang itu pasti akan mencelakai papa. Bersyukur dia tidak langsung membunuh papa hari itu."


Handoko menatap serius. "Om sangat mengenal papamu. Om akan membantu papamu mendapatkan keadilan. Katakan, apa yang perlu om lakukan?"


"Terima kasih banyak, Om. Aku sangat menghargai bantuan om Handoko. Namun, untuk saat ini lebih baik kami tidak melakukan apa-apa, kami akan menunggu sampai papa sadar."


'Kalau papamu tidak sadar, bagaimana?' pikir Handoko. Ingin sekali ia melontarkan pendapat itu kepada Devon.


"Sebagai anak jelas aku tidak senang papa diperlakukan begini, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya. Biarkan saja mereka bebas di luar sana. Mereka juga pasti tahu kondisi papa sekarang. Tidak ada perlawanan membuat mereka yakin pihak papa sudah kalah. Mereka salah, Om. Aku akan menunggu waktunya dan membalas apa yang mereka lakukan terhadap papa."


Apa yang dikatakan Devon benar. Menghadapi orang seperti Jefry sudah benar untuk mengambil keputusan mengalah. Melakukan perlawanan hanya akan membuat keluarga Robby sengsara.


Itu sebabnya Handoko tidak pernah membalas apa yang dilakukan Jefry terhadapnya. Jefry memang licik. Jadi menghadapi orang seperti Jefry pun harus dengan cara yang licik.


"Ini kartu nama om. Kalau butuh sesuatu atau apa pun yang terjadi terhadap papamu, hubungi saja om kapan saja kau inginkan."


***


Karena libur, Wulan berniat menjelajahi kota Manado bersama teman-temannya. Taman laut yang direferensikan mereka membuat Wulan penasaran.


Wulan suka pantai. Ia hendak mengunjungi taman laut itu tempo hari, tapi waktu cutinya tidak cukup. Selain itu Wulan hanya sendiri, rasanya tidak seru jika bepergian sendirian.


Wulan mengenakan pakaian putih untuk melindunginya dari paparan sinar matahari yang terik. Tidak hanya feminin, Wulan terlihat lebih percaya diri, anggun dan feminin dengan terusan panjang sopan yang cocok untuk dikenakan di pantai.


Paduan topi lebar berwarna cokelat dan aksesoris pantai membuat Wulan semakin terlihat memikat dan sangat cantik.


Sambil melihat teman yang lain, Wulan duduk di kursi menghadap laut. Cuaca yang begitu panas membuat Wulan menurunkan niatnya untuk menyelam.


"Kau yakin tidak mau ikut?" tanya temannya.


"Nanti saja kalau panasnya sudah redah."

__ADS_1


"Dia akan menyelam bersamaku setelah ini."


Suara Deril mengejutkan Wulan. Ia menoleh dan tersenyum kepadanya.


"Anda ingin menyelam? Apa Anda tidak takut kulit Anda akan hangus?"


Deril terkekeh kemudian mengambil posisi di samping Wulan.


"Tentu saja tidak. Bukan laki-laki tulen kalau hanya berdiam diri terus-terusan di dalam ruangan ber-AC tanpa terkena matahari."


Drtt... Drtt...


Ponsel berdering membuat Wulan terkejut. Dilihatnya nama Fanny sebagai pemanggil. Mengingat Fanny sangat menyukai pantai, Wulan dengan senyum lebar menyapa sahabat sekligus dan meledeknya.


"Halo, Fann? Fann, kalau kau ada di sini, kau pasti akan senang."


"Kedengarannya kau sedang bahagia."


"Tentu saja. Mulai sekarang dan seterusnya aku akan membahagiakan diriku sendiri. Kau tahu, hari ini aku akan ke Taman Laut Bunaken bersama rekan kerjaku."


Merasa terabaikan, Deril berdiri menjauhi Wulan. Hatinya sedikit sakit melihat Wulan terbahak-bahak dengan seseorang di balik telepon.


Bukannya sedih karena Wulan mengabaikannya, Deril merasa kecewa setiap kali kepedulian dan kasih sayang yang ia tunjukkan selalu diabaikan Wulan.


Tak mau memikirkan itu, Deril teringat akan wanita yang selalu menghiburnya. Wanita yang selalu menjadi pusat perhatiannya sebelum mengenal Wulan. Tak ingin Wulan mendapatinya berbicara di telepon dengan wanita lain, Deril membuka akun instagramnya kemudian mencari nama wanita itu.


Deril tersenyum melihat postingan-postingan wanita cantik itu. Namun, senyumnya lenyap ketika membuka siaran langsung yang dilakukan akun bernama Viona06 kemarin malam.


'Oh, Viona, kau sangat seksi. Aku sangat menginginkanmu.'


'Aku juga sudah tak tahan. Bagaimana kalau kita pergi dari sini, kita tuntaskan semua ini di luar sana?'


Dada Deril sakit melihat Viona duduk di atas pangkuan pria lain. Bukannya hanya itu, hati Deril teiris-iris melihat tubuh Viona yang basah kuyup bersentuhan dengan pria lain.


"Susah memang menghilangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging."


Dengan emosi yang meluap Deril berdiri dan membuka kaosnya. Tanpa menggunakan sunblock dan peduli betapa panasnya matahari hari ini, Deril langsung ke pantai dan menceburkan diri ke sana.


Wulan yang melihatnya pun terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia terus berbicara dengan Fanny dan menceritakan tentang keindahan Taman Laun Bunaken.

__ADS_1


Bersambung___


Jangan lupa hadiah dan vote-nya, ya.


__ADS_2