
Niko ikut berpikir. Walaupun ia tidak tahu sedekat apa Handoko dan Jefry di masa lalu, ia bisa merasakan adanya ketidakberesan dalam pertemanan mereka.
"Jefry mau kau menikahi Ulan," kata Handoko, "Papa tidak mengerti soal itu. Dia tidak ingin kau menikahi Wulan, sedangkan status Ulan dan Wulan sekarang kakak-beradik. Apa bedanya?"
"Apa kekayaan om Jefry sepenuhnya miliknya? Bukankah Papa pernah bilang, semua aset om Benny telah dijual istrinya dan mereka pindah ke luar negeri. Buktinya sekarang istrinya menikah dengan om Jefry, bukan di luar negeri."
Handoko setuju. "Menurutmu, apa ada sesuatu yang Jefry rahasiakan dari papa?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi setelah mendengar penjelasan Papa sekarang dan sebelumnya, aku rasa om Jefry sengaja menyuruh Papa melenyapkan om Benny, agar dirinya terbebas dari tuduhan, seandainya suatu saat rahasia itu terbongkar. Ke dua, om Jefry sengaja tidak memberitahukan pernikahannya dengan mamanya Wulan, agar Papa tidak menuntut lebih. Bisa saja kan, om Jefry berpikir kalau Papa akan memerasnya dengan memprovokasi tante Angelina."
"Kalau itu tidak mungkin, kontribusi Jefry ke papa sangat banyak. Salah satunya Kitten Corporation dan ...," Handoko tak meneruskan lagi. Ia sadar dirinya salah, karena sudah menyembunyikan perusahan itu kepada Niko, "Papa minta maaf soal BK Group."
"Lupakan saja, itu sudah terjadi. Yang ingin aku tanyakan adalah ... apa BK Group dan Kitten Corporation milik om Benny Irawan?"
"Tidak, itu murni perusahan papa, Nak. Om Jefry memberikan ratusan triliun kepada papa untuk membangun BK Group dan Kitten Corporation."
"Tidak ada yang tahu__ selain om Jefry__ kalau uang triliun itu ternyata hasil penjualan aset perusahan milik om Benny Irawan."
Handoko berpikir.
"Aku tahu sekarang kenapa om Jefry ingin aku menikahi Ulan."
Handoko menatapnya.
"Om Jefry memberikan uang triliun itu tidak gratis, Pa. Coba Papa pikir ... kalau aku menikahi Wulan dan rahasia itu tiba-tiba terbongkar, semua aset yang bersangkutan dengan keluarga Tanujaya akan disita. Om Jefry akan jatuh miskin dan Ulan tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi, kalau aku menjadi suami Ulan, sekalipun rahasia itu terbongkar, om Jefry tidak akan jatuh miskin dan Ulan akan tetap kaya. Om Jefry pasti akan menuntut bagiannya, karena merasa telah membantu Papa di masa lalu."
"Aku tidak meminta semua itu, Jefry sendiri yang memberikannya."
"Itu dia yang kumaksud, Pa. Tanpa Papa sadari om Jefry berinvestasi melalui kontribusinya untuk biaya masa depannya. Pernakah Papa terpikir, om Jefry tidak akan meminta kembali uang triliun yang dia berikan suatu saat nanti?"
Handoko terdiam.
"Aku rasa mulai sekarang Papa harus jaga jarak dengan om Jefry. Sekarang mungkin dia menganggap Papa temannya, suatu saat nanti dia akan memusuhi Papa. Percaya padaku. Kekayaan yang dihasilkan seperti itu tidak akan abadi. Apalagi dia telah membunuh suami dari istrinya yang sekarang. Aku yakin, suatu saat nanti kalau rahasia itu terbongkar, Papa lah yang akan disalahkan olehnya."
"Kamu benar, Nak. Mulai sekarang papa akan menjaga jarak dengannya. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Wulan?"
Niko tersenyum. "Aku akan bicara padanya. Aku harus jujur soal kesalahpahaman ini."
"Kau tidak akan membongkar masa lalu, kan?"
"Itu tidak akan. Papa tenang saja."
"Papa akan membantumu. Ajak dia ke sini, biar papa yang jelaskan kesalahpahaman ini."
"Aku rasa begitu lebih baik, biar dia lebih percaya."
__ADS_1
Di sisi lain.
Di ruang tamu keluarga Tanujaya, Jefry duduk di sofa panjang menghadap Wulan. Mereka duduk dengan ekspresi masing-masing.
Karena Angelina dan Ulan belum muncul, Jefry membuka topik kepada Wulan dengan melontarkan beberapa pertanyaan tentang Niko.
"Papa lihat kau begitu akrab dengan Niko. Apa kalian sudah lama saling kenal?"
Wulan tersenyum malu. "Aku bertemu Niko minggu lalu. Kejadiannya sehari sebelum aku ambil cuti, Pa. Waktu itu dia kecelakaan dan aku yang membawanya ke rumah sakit."
"Minggu lalu, baru beberapa hari berarti. Kelihatannya kalian sangat dekat, apa kalian berpacaran?"
Wajah Wulan terasa panas. Ia sangat malu saat Jefry menatapnya dengan tatapan menggoda. Malam ini rasanya terlalu cepat jika ia mengungkapkan hubungannya dengan Niko.
"Kami baru saja bertemu. Butuh waktu yang lama untuk masuk ke tahap itu, Pa."
"Berarti kalian tidak punya hubungan apa-apa?"
Wulan hanya menggeleng. Tepat di saat itu Ulan dan Angelina muncul.
Jefry protes. "Dari mana saja, Kalian?"
"Aku dan Ulan sedang membicarakan sesuatu hal di kamarnya," kata Angelina. Ia duduk di samping Jefry, "Ke mana Handoko dan putranya?"
"Mereka sudah pulang."
Zet!
Wulan terpaku di tempat duduk.
Angelina tersenyum lebar, sedangkan Jefry melirik Wulan kemudian menjawab, "Kenapa, kau berubah pikiran, ya?"
Lagi-lagi tubuh Wulan terpaku. 'Ulan dijodohkan dengan Niko? Berarti pria yang dikatakan Ulan itu adalah Niko?'
"Dia tampan. Aku menyukainya," balas Ulan.
Angelina menimpali, "Kami di kamar membahas soal Niko. Ulan sudah mengaku, kalau dia jatuh cinta pada Niko."
Dada Wulan terasa sesak. Ia tak sanggup mendengar topik yang diperbincangan keluarganya malam ini.
"Kalau memang dia pria yang ingin Papa jodohkan denganku, aku tidak akan menolak, aku ingin menikah dengannya, Pa."
Jefry tersenyum puas, seakan tak peduli perasaan Wulan. Ia bahkan mengarang cerita, membuat Wulan sesak nafas dan ingin menangis.
"Papa akan memberitahu om Handoko soal ini. Dia pasti senang mendengarnya, sudah lama dia ingin menjodohkan Niko denganmu."
__ADS_1
"Kakak?" panggil Ulan.
Dengan terpaksa Wulan menatapnya.
"Benar yang Kakak bilang, tidak ada salahnya mencoba dulu. Menurut Kakak bagaimana, Niko sangat tampan, bukan?"
Wulan tersenyum paksa. "Iya, dia sangat tampan. Kalian sangat cocok."
Perkataan Wulan tak sesuai dengan isi hatinya. Sesak di dadanya semakin bertambah setelah mendengar pengakuan Ulan.
"Kalau Niko ingin mempercepat pernikahan, apa kau sudah siap menjadi istrinya?"
"Tentu saja, Ma. Pa, suru om Handoko mempercepat pernikahan kami, aku tidak ingin ada wanita lain yang merebut Niko dari aku."
"Tenang saja, besok papa akan bicara dengan om Handoko. Niko kan sangat menyukaimu, dia pasti mau mempercepat pernikahan kalian."
Tak ingin airmatanya tumpah di depan mereka, Wulan berpamitan dengan alasan tubuhnya lelah.
"Ini sudah larut, aku mau istrirahat."
"Aku juga," kata Ulan, "Besok pagi ada meeting penting di kantor."
"Mimpi indah ya untuk kalian," balas Angelina.
Jefry hanya diam dengan senyum puas di wajahnya. Ia telah berhasil memprovokasi Wulan. Ia berharap dengan topik malam ini Wulan akan membenci Niko dan menjauhinya.
"Kak, apa kamu sudah mengantuk?" tanya Ulan penuh semangat. Malam ini ia sangat senang. Jadi, sayang kalau kebahagiaan itu hanya dipendam sendirian, "Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan. Kalau Kakak tidak keberatan, aku ingin bicara dengan Kakak soal Niko."
Wulan ingin menolak. Namun, rasa penasaran hal apa yang ingin dibicarakan Ulan tentang pacarnya, ia pun setuju dan mengajak Ulan ke kamarnya.
"Kakak, tahu? Kata papa Niko sangat menyukaiku. Aku sebenarnya tidak percaya, karena kami belum pernah bertemu sebelumnya."
Wulan hanya diam dan menyimak. Keceriaan yang biasa ia pancarkan saat ini hilang ditelan malam.
"Papa juga bilang kalau aku telah menolong Niko dan membawanta ke rumah sakit. Menurut Kakak, apa papa sengaja berkata begitu agar aku mau dijodohkan dengan Niko?"
Wulan terkejut. "Kau membawanya ke rumah sakit?"
"Iya. Kata papa Niko kecelakaan dan aku yang membawanya ke rumah sakit, padahal bertemu dia saja aku tidak pernah. Ini pertama kali aku melihatnya," Ulan terbahak, "Aku rasa papa sengaja mengarang cerita itu, agar aku setuju dan mau bertemu Niko."
'Niko kecelakaan ... membawanya ke rumah sakit ... Itukan aku.'
Rasa sedih di wajah Wulan lenyap. "Siapa yang bilang begitu?"
"Papa. Kata papa sih om Handoko yang bilang. Aku tidak percaya, karena aku sendiri tidak pernah bertemu Niko sebelumnya setelah malam ini. Papa pasti sengaja menggunakan alasan itu agar aku tidak menolak. Kakak tahu kan papa seperti apa, papa tidak mau dibantah dan keinginannya harus tercapai."
__ADS_1
'Sepertinya ada yang salah. Niko! Aku harus bicara dengan Niko.'
Bersambung____