
Wulan menatap Niko dengan pandangan melotot. Ia tak menyangka pacarnya akan senekad itu. Ekspresi di wajahnya begitu tenang, membuat Wulan semakin menggelengkan kepala.
Secara normal Niko benar, Wulan tidak perlu khawatir dengan keberadaan Ulan di restoran yang sama. Bagi Niko situasi seperti sekarang justru lebih bagus jika Ulan tahu kalau mereka menjalin hubungan.
Berbeda dengan Niko, nafsu makan Wulan hilang sejak tahu adik tirinya berada di restoran yang sama. Ia belum siap jika Ulan tahu kalau ia menjalin hubungan dengan pria incaran adiknya.
"Mau makan atau aku suapi?" tanya Niko kepada Wulan.
Sejak tadi Wulan hanya melamun, tanpa memperdulikan makanannya.
Melihat Niko hendak menyentuh makanannya, Wulan segera bergegas dan menyuapi makanannya sendiri.
"Jangan, biar aku saja."
"Begitu, dong. Lagi pula kamu tidak perlu memikirkannya, toh dia juga sudah tahu kalau kita makan bersama."
"Dia pasti akan menanyakannya. Dia pasti akan menanyakan kebersamaan kita sekarang."
"Bukankah lebih bagus kalau dia tahu kita punya hubungan?"
Wulan hanya menatap Niko. Percuma berdebat, Niko tetap keras kepala ingin mengakui hubungan mereka.
Tanpa Niko dan Wulan sadari, di pojok restoran Ulan sedang menatap mereka di balik dinding pembatas. Model berlubang dari dinding kayu tersebut membuat Ulan dengan leluasa menatap Niko dan Wulan begitu jelas.
"Ime," panggil Ulan kepada temannya, "coba lihat, menurutmu apa mereka punya hubungan atau tidak?"
Wanita di samping Ulan menoleh. "Itu kan Niko Lais. Hmmm, dilihat dari senyum kakakmu sepertinya tidak. Apa dia pacar kakakmu?"
Ekspresi Ulan semakin terkejut. "Kau mengenalnya?"
"Yep, dia kepala pemasaran di BK Group. Dia juga pemilik perusahan properti terbesar di kota ini."
"Kau tahu dari mana?"
"Sepupuku bekerja di BK Group. Tempo hari waktu mengadakan acara, dia mengundang Niko ke acara itu. Dia pria yang tampan dan sangat kaya, Ulan."
Ulan melamun. Ia merasa ketinggalan berita tentang Niko. Setahu ia kakaknya Wulan baru bertemu Niko kemarin malam. Kalau hari ini mereka terlihat bersama, berarti kemungkinan besar sudah lama kakaknya itu mengenal Niko.
Begitu juga Ime. Sudah lama mereka menjadi kolega, kenapa baru sekarang temannya itu menceritakan soal Niko.
"Hei, apa yang kau pikirkan?"
__ADS_1
Suara Ime mengejutkan Ulan. "Aku ingin tanya satu hal padamu."
"Soal apa?"
"Memang ada ya laki-laki yang menyukai kita, tapi memilih menjauh daripada mengungkapkan perasaannya kepada kita?"
"Ada. Laki-laki seperti itu biasanya takut ditolak. Mereka mendekati orang terdekat wanita itu untuk mencaritahu informasi tentang wanita yang disukainya."
"Oh, begitu."
Jawaban dan ekspresi Ulan membuat Ime penasaran. "Memangnya siapa?"
"Pria yang bersama kakakku. Menurut papaku, dia menyukaiku, tapi coba kau lihat ... dia terlihat sangat dekat dengan kakakku. Kalau memang dia menyukaiku, kenapa dia tidak mengajakku duduk bersama mereka?"
"Mungkin saja dia sedang mencari informasi tentangmu melalui kakakmu. Dia sengaja tidak mengajakmu duduk bersama mereka, karena dia tidak ingin kau tahu topik yang akan dia bahas bersama kakakmu."
"Kira-kira topik apa ya yang mereka bahas, kakakku terlihat murung?"
"Entalah, mungkin ada kata-katanya yang menyinggung kakakmu."
Ulan terus menatap mereka. "Kak Wulan pernah bilang padaku, kalau dia itu pria play boy. Apa mungkin dia sedang menggoda kakakku?"
"Itu dia masalahnya, Ime. Kalau benar Niko menyukaiku, kenapa dia tidak pernah menghubungiku?"
"Maksudmu, dia tidak pernah meneleponmu?"
"Bagaimana mau telepon, kontaknya saja tidak ada padaku."
"Kenapa bisa, bukannya kata papamu dia menyukaimu?"
"Itu lah yang membuatku bingung. Melihat interkasi kak Wulan dan Niko sekarang, aku yakin bukan aku wanita yang disukai Niko."
Ime semakin bingung. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Katamu papamu yang bilang dia menyikaimu, sekarang kenapa kau berkata bukan kau wanita yang dia sukai?"
Ulan mengendus. "Tempo hari papaku bilang dia akan menjodohkanku dengan anak temannya. Menurut penjelasan papaku, papanya Niko menemui papaku dan ingin menikahkan Niko denganku. Alasan Niko ingin menikahiku, karena dia menyukaiku. Alasan dia menyukaiku, karena aku telah menolongnya pasca kecelakaan dan membawanya ke rumah sakit. Anehnya, aku tidak pernah menolong dan membawanya ke rumah sakit. Aku bahkan baru pertama kali melihatnya setelah papaku mengatakan perjodohan itu. Apa menurutmu papaku salah orang?"
"Kalau dilihat dari interaksi mereka dan penjelasanku, bisa jadi papamu yang salah. Biar lebih jelas, coba kau tanya ke kakakmu."
"Kau benar, aku harus bicara dengan kak Wulan. Aku rasa papaku salah. Mana mungkin Niko menyukaiku, sedangkan aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya."
"Seandainya benar, apa kamu tidak keberatan pria setampan Niko akan jatuh ke tangan kakakmu?"
__ADS_1
Ulan tak menjawab. Ia menatap Niko dan Wulan dengan pandangan sedih.
Melihat ekspresi temannya Ime menambahkan, "Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, Ulan. Kapan kau bisa menikah dengan pria tampan dan kaya seperti Niko?"
Ulan diam dan menatap Ime.
"Kalau aku jadi kau, aku akan mendesak papamu untuk menjodohkanku dengan Niko. Siapa sih yang tidak mau dinikahi pria seperti Niko? Kau ... kau termasuk wanita yang beruntung mengenal Niko. Kalau ternyata benar kakakmu tidak menjalin hubungan Niko, aku sarankan kau segera mempercepat pernikahanmu dengan Niko."
Ulan ternganga. Ia tak menyangka Ime akan memberi saran seperti itu.
Jujur ia juga sudah jatuh hati kepada Niko. Kalau benar kakaknya punya hubungan dengan pria itu, pasti Wulan sudah mengakui hal itu sejak makan malam itu selesai. Nyatanya Wulan tidak berkata apa-apa soal kedatangan Niko, itu artinya ia berkesempatan untuk mendapatkan dan memikat hati Niko.
***
Hari sudah menunjukan pukul lima sore. Aktivitas kantor yang dikerjakan Wulan sudah selesai. Bukannya bergegas untuk pulang, Wulan malah duduk diam sambil melamun di kursinya. Kejadian tadi siang membuat beban di pikirannya.
"Hei, kau tidak mau pulang?" tanya Fanny. Ia duduk di depan Wulan. Ia terkejut melihat ekspresi Wulan yang terlihat sedih, "Sejak tadi aku perhatikan kau terus melamun. Ada masalah apa?"
Wulan menatapnya. "Tadi siang aku dan Niko bertemu Ulan. Kami makan di restoran yang sama."
Sebelumnya Wulan sudah menceritakan kepada Fanny soal kesalahapahaman yang terjadi.
"Lalu, apa kata Ulan?"
"Aku belum bertemu dengannya. Waktu makan siang pun aku tidak melihatnya. Niko yang bilang padaku, Ulan makan di restoran itu dan dia juga yang bilang pada kalau Ulan tahu kami makan siang bersama."
"Apa Ulan sudah menghubungimu?"
Wulan menggeleng.
"Lalu, apa yang kau khawatirkan? Selama dia belum tahu hubungan kalian, dia pasti akan berpikir itu normal."
"Masalahnya aku tidak pernah cerita padanya, kalau aku dan Niko saling kenal. Posisi sekarang dia sangat menyukai Niko, Fann. Tadi, Niko sendiri yang bilang padanya, kalau dia datang denganku di restoran itu. Jelas Ulan akan menyerangku dengan segala kecurigaan di dalam kepalanya, Fann. Dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak."
"Jalan satu-satunya kau harus jujur. Kau harus jujur soal hubunganmu dengan Niko."
"Aku tidak ingin menyakitinya, Fann."
"Semakin kau merahasiakan, justru kau semakin menyakitinya."
Bersambung____
__ADS_1