Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Aku tak Sendiri Lagi.


__ADS_3

Niko membawa Wulan dan Fanny ke restoran langganannya. Dulunya restoran itu sangat dibenci Niko karena masakan di sana mengandung banyak lemak.


Sebelum bertemu Wulan Niko sangat selektif dengan makanan. Bukan takut berat badan naik, Niko sangat menjaga kesehatan daripada penampilan.


Namun, konsistensi itu terhenti ketika ia mengenal Wulan. Niko bahkan tak peduli lagi bahaya yang terkandum dalam asupannya.


"Kamu yakin akan makan di sini?" tanya Fanny sambil melihat bentuk tubuh Niko yang atletis, "Tubuh terjaga begini pasti asupannya pun terjaga?"


Niko tersenyum menatap Wulan. "Tidak masalah, yang terpenting jangan kondorkan olahraga. Tujuanku olahraga, biar bisa makan enak."


Mereka semua masuk sambil tertawa. Setelah mendapatkan tempat dan memesan menu sesuai selera, Niko meminta penjelasan kepada mereka soal kejadian hari ini.


Fanny dan Wulan mendeklarasikan kejadian tersebut. Mereka juga terang-terangan menyebutkan siapa pelakunya.


"Tadi mamamu telepon," kata Niko sambil menatap Wulan, "ada dua polisi ke rumah untuk mencari Ulan. Apa kalian yang melaporkan dia?"


Fanny mengangguk. "Itu sepadan dengan perbuatannya."


"Kamu tidak keberatan, dia melaporkan adikmu ke polisi?" ledek Niko.


"Dia harus dihukum sesuai perbuatannya."


"Oh, iya," tambah Fanny, "kenapa kalian tidak melaporkannya ke polisi saja, dia kan sudah menjahati kalian?"


Niko dan Wulan duduk bersebelahan. Mereka menatap Fanny dengan ekspresi serius.


"Papanya sudah meninggal. Semoga itu akan menjadi pelajaran baginya," jelas Wulan.


Niko menggeleng. "Itu tidak mungkin. Buktinya dia mencelakai Viona, kan?"


"Berarti memang semesta ingin dia dihukum."


"Apa Deril tahu soal ini?" tanya Niko.


Fanny sudah tahu soal hubungan Deril dan Viona dari Wulan. Wulan juga sudah mengetahui hubungan asmara itu dari Deril langsung. Kedua wanita itu juga tahu keterikatan Niko dan keluarga Lamber. Jadi, mereka tidak terkejut saat Niko melontarkan pertanyaan itu.


"Deril akan datang besok. Pihak keluarga Lamber juga sudah tahu soal ini. Itu sebabnya mereka melaporkan Ulan ke pihak yang berwajib."


"Itu sudah seharusnya," balas Niko ketika pelayan datang membawa menu pesanan. Mereka bertiga pun makan sambil menanyakan pengalaman Wulan selama di Manado.


***


Seolah-olah tak punya dosa, Ulan kembali ke rumah tanpa rasa bersalah. Ia bahkan menanyakan kebaradaan Angelina kemudian menghampiri dan menyapanya yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.


Ingin menarik perhatian Angelina, Ulan membuat ekspresi menyedihkan, seolah-olah dia masih sangat sedih karena kehilangan Jefry.


Angelina tak percaya. Ia juga tak langsung menyerang Ulan berdasarkan berita yang diketahuinya. Angelina menatap Ulan dari ujung rambut hingga kepala.


"Kamu dari mana?"


Ulan duduk di depan Angelina. "Aku dari rumah teman, di rumah terus membuatku tak bisa melupakan papa."


Naluri seorang ibu membuat Angelina ingin memeluk Ulan. Namun, mengingat perlakuan yang mereka lakukan kepada putri kandungnya membuat Angelina jengkel.


"Bersihkan badanmu, dengan begitu kamu akan terlihat segar dan sehat. Sebentar lagi makan malam."

__ADS_1


Mendengar itu jelas membuat senyum Ulan melebar. Ia merasa semangatnya telah kembali. Walaupun ekspresi Angelina tidak meyakinkan, ia yakin wanita itu sudah memaafkannya.


"Terima kasih ya, Ma. Aku mandi dulu."


Angelina sengaja menunggu Ulan. Begitu wanita itu tak terjangkau lagi olehnya, ia beranjak keluar sendiri tanpa sepengetahuan siapa pun.


Di sisi lain.


Ulan begitu bahagia memasuki kamarnya. Ia menghamburkan tubuh kemudian meraih ponsel untuk menghubungi Imenk. Dengan senyum lebar dan hati kegirangan ia menunggu panggilannya tersambung.


"Halo, kamu di mana?" sapa Imenk dengan nada khawatir.


Ulan tak peduli dengan itu. "Kamu tenang saja aku sudah pulang dan tiba dengan selamat. Kamu tahu, Imenk ... dia sudah memaafkanku, mama Angelina sudah memaafkanku. Oh, Imenk, aku sangat bahagia, akhirnya aku tidak sendirian lagi. Aku mengira akan hidup sendiri selamanya setelah papaku tiada."


"Benarkah?"


"Iya. Ekspresinya sedikit cuek. Tidak masalah, aku yakin dalam hatinya kasih sayang yang masih tersimpan yang selama ini dia berikan padaku."


"Kamu jangan senang dulu, Ulan."


Ekspresi bahagianya hilang. "Kenapa?"


"Apa kakakmu sudah pulang?"


"Kak Wulan? Tidak, dia tidak ada di sini. Mama juga tidak bilang apa-apa soal dia."


"Kejadian tadi dia melihatmu. Dia juga yang membantu Viona dan membawa Viona ke rumah sakit."


"Maksud kamu Wulan ada di sini?" Ulan terkejut, "Tidak mungkin, sebelum melakukan itu aku melihat tidak ada orang yang kukenal selain kamu di sana."


Ulan bangkit dari ranjang. "Mereka ... Wulan muncul dengan siapa, Imenk?"


"Dengan temannya. Aku tidak kenal, yang jelas dia juga wanita."


Ulan sedikit khawatir. Ia mondar-mandir di depan ranjang. "Aku pikir dia muncul bersama Niko. Kalau itu benar, Niko pasti akan melaporkanku ke polisi."


"Apa polisi tidak mendatangimu?"


"Tidak."


"Syukurlah. Aku sangat khawatir soal itu, aku pikir kakakmu akan marah dan melaporkanmu ke polisi."


"Itu tidak akan terjadi, mana mungkin dia rela mengirim adiknya ke sana. Apalagi dia tahu papaku sudah meninggal. Kalau pun benar, dia tidak punya hak menuntutku ke sana, dia bukan siapa-siapanya Viona. Mengenal Viona saja tidak, apalagi ikatan."


"Aku senang mendengarnya, yang aku khawatirkan hanyalah itu."


Ulan tersenyum. "Aku mandi dulu, makan malam sudah tersedia, aku tidak ingin mama hilang respek lagi padaku."


"Baiklah. Kalau butuh sesuatu, kau tinggal bilang saja padaku."


Tanpa membalas ucapan Imenk, Ulan langsung memutuskan panggilan. Dengan senyum lebar ia menatap diri di depan cermin.


"Hari ini adalah hari buatku. Aku harus meninggalkan masa lalu dan menjalani kehidupan baru."


Tok! Tok!

__ADS_1


Bunyi ketukan pintu mengejutkannya. "Siapa?"


"Bibi, Non."


"Ada apa, Bi? Aku belum mandi. Bilang mama sebentar lagi aku turun."


"Ini bukan soal nyonya, Non."


Dengan alis berkerut dan penasaran Ulan membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Bi?"


"Di depan ada dua orang yang mencari Non Ulan. Mereka bertubuh besar dan tinggi. Pakaian mereka tidak rapi, tapi mereka mengenal tuan Jefry."


"Siapa dan dari mana mereka?"


"Mereka tidak memberitahu, Non. Mereka bilang ingin bertemu Anda."


Ulan semakin penasaran. "Apa mama tahu?"


"Nyonya bersama mereka di depan."


"Baiklah, aku turun sekarang."


Dengan antusias dan rasa penasaran tinggi Ulan menuruni tangga. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa mereka. Ulan berharap mereka bukan anak buah Jefry yang datang untuk meminta imbalan.


"Ma ...," sapa Ulan begitu tiba di depan rumah. Dilihatnya dua pria tampan bertubuh tinggi berdiri di depan Angelina.


Angelina berbalik. "Kamu belum mandi?"


"Aku baru mau mandi saat bibi mengetuk pintu kamarku," Ulan menatap pria-pria itu, "Apa benar mereka mencariku?"


"Benar," balas pria yang satu, "Anda harus ikut kami sekarang Nona Ulan."


"Aku ... untuk apa?"


Angelina mendekatinya. "Kau tidak lupa kan, apa yang kau lakukan pada Viona hari ini?"


Wajah Ulan menjadi pucat. "Vi-Viona?"


"Anda dilaporkan atas kekerasan terhadap nona Viona di sebuah restoran tadi sore."


"Dilaporkan ... Siapa yang melaporkannya?"


"Anda akan tahu nanti, banyak saksi mata yang melihat Anda melemparkan air keras ke wajah nona Viona tadi sore. Ayo, ikut kami, Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi."


Ulan menatap Angelina. "Ma, tolong aku ... aku tidak salah, aku hanya membalas apa yang dia lakukan padaku."


Angelina tak menjawab, ia menatap ke dua pria itu lalu mengodekan kepala.


Mereka pun dengan tegas membawa Ulan ke mobil polisi yang sudah siap di depan gerbang.


"Ayo, cepat."


"Ma, tolong aku! Aku tidak salah! Aku tidak bersalah, Mama!"


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2