
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Niko menolak ketika Wulan mengajaknya jalan-jalan. Karena hari ini libur, Wulan ingin memanjakan diri ke pusat perbelanjaan bersama suami tampannya. Sayangnya Niko menolak.
"Kamu bisa mengajak Fanny, Sayang."
"Aku tidak mau, aku ingin bersamamu."
Saat ini Niko sedang berbaring di ranjang, menatap Wulan yang sedang berpakaian.
"Bajumu terlalu seksi, ganti," ketus Niko. Ia tak suka melihat Wulan mengenakan dress ketat yang membuat lekuk tubuh montoknya terukir.
Wanita itu berbalik. "Kan aku pergi bersama suamiku. Kamu tidak bangga, mendapatkan istri secantik dan sesemok diriku, hah?"
"Karena aku tidak ikut, makanya aku tidak ingin kamu mengenakan dress itu. Ganti bajunya."
Wulan merengek. "Ayolah, aku sudah mau selesai, Sayang."
Niko sebenarnya tak ingin istrinya pergi sendirian. Ia tak mau mata pria-pria di luar sana menatap istrinya penuh nafsu. Namun, ia sudah merencanakan hal yang tidak diketahui Wulan. Walaupun tak tega mendengar rengekan manja sang istri, Niko harus menjalankan rencananya sampai berhasil.
"Maafkan aku, Sayang. Sumpah, mood aku tidak enak hari ini."
Di luar rencananya untuk mengerjai sang istri Niko merasa hari ini tubuhnya benar-benar tak bersemangat.
Rencana Niko akan muncul di mall yang bersama bersama Gloriana, agar Wulan melihat mereka. Namun, rasa lelah yang awalnya hanya bercanda kini muncul seperti nyata.
"Maafkan aku, Sayang, hari ini aku benar-benar tidak ingin ke mana-mana."
Wulan mendekati, menempelkan tangan di dahi dan leher Niko. "Kamu sakit, Sayang?"
"Entalah, hari ini aku benar-benar tidak enak."
Wulan memaklumi. Jam kerja suaminya akhir-akhir ini memang melewati batas. Sudah waktunya bagi Niko untuk beristirahat.
"Baiklah, aku akan pergi dengan Fanny. Kalau kamu ingin sesuatu, hubungi saja aku."
Niko duduk dan memeluk pinggang Wulan. Sambil menyandarkan kepala ke perut sang istri ia berkata, "Kamu jangan lama-lama, aku tidak mau jauh darimu."
"Iya," Wulan menjawab sambil mengelus kepala Niko. Ia sangat senang Niko bersikap manja seperti itu.
Niko mendongak. "Aku akan mengtransfer uang di rekeningmu, beli lah apa yang kamu suka."
"Tidak usah, uang jajan yang kamu beriman kemarin masih ada."
"Jangan, itu sudah tugasku sebagai suami."
"Serah kamu," Wulan menunduk, mencium kedua pipi suaminya, "Aku pergi dulu. Jangan lupa, kalau ingin sesuatu kabari aku."
"Iya."
Niko menatap Wulan sampai tubuh seksinya menghilang di balik pintu. Dengan seringai lebar ia mengambil ponsel kemudian menghubungi Gloriana.
"Kau di mana?" tanya Niko begitu panggilan tersambung.
__ADS_1
"Di apartemen, Pak."
"Aku akan menjemputmu sepuluh menit dari sekarang."
"Kita mau ke mana, Pak?"
"Ke mall."
***
Setelah sesi belanja selesai Wulan dan Fanny mencari tempat makan favorit mereka. Memiliki kecanduan yang sama terhadap makanan membuat mereka cepat tergoda.
"Fan, Fan, kita makan di sana saja," kata Wulan ketika matanya menangkap tempat makan siap saji dalam mall.
Fanny terkejut. "Bukannya kamu ingin makan sate?"
"Tiba-tiba saja aku ingin makan bakso. Ayo, kita ke sana."
Fanny yang fleksibilitas tinggi menurut saja. Ia tak masalah mau makan apa yang penting perutnya terisi.
"Kamu pesan apa, Fan?" tanya Wulan begitu duduk, melihat catatan menu di tangannya.
"Aku bakso urat saja."
"Yakin itu saja?" tanya Wulan tanpa menatapnya, "Minumnya?"
"Iya. Minum es teh manis."
Wulan menatap sang pelayan. "Aku bakso urat komplit tanpa mie. Mie ayam komplit spesial dan es jeruk nipis tanpa gula."
Fanny tercengang. Ia tahu Wulan memiliki nafsu makan yang tinggi. Tapi, ini pertama kali ia mendengar sahabatnya memesan menu yang begitu banyak.
Biasanya Wulan memesan nasi seporsi dan lauk double. Tapi, sekarang ... Fanny benar-benar dibuat terkejut.
"Baik," si pelayan membaca kembali pesanan mereka, "Itu saja?"
"Iya."
"Baik. Mohon ditunggu, ya."
Fanny menyerang, "Banyak sekali pesananmu. Kamu lapar? Apa Niko tidak memberimu makan? Ini masih jam sepuluh pagi, Wulan."
"Aku juga heran, akhir-akhir ini nafsu makanku meningkat. Pengennya makan ini, makan itu."
"Jangan-jangan kamu ...."
Wulan terkekeh. "Itu tidak mungkin. Aku masih datang bulan, kok. Mungkin pengaruh hormon setelah menikah."
"Iya juga, sih. Biasanya setelah menikah orang cenderung naik badan. Sekarang sih masih oke. Tamba seksi, malah. Tapi, ingat, suamimu tampan dan kaya raya. Kamu jangan lupa untuk menjaga penampilan juga, kamu tidak mau kan suamimu direbut wanita lain?"
Sesuatu tiba-tiba menyerang Wulan. "Tenang saja, aku tidak akan lupa soal itu. Ngomong-ngomong aku ke toilet sebentar, ya."
__ADS_1
Fanny mengangguk kemudian memainkan ponselnya.
Wulan berjalan cepat menuju toilet. Ketika ia memasuki pintu, tubuhnya tanpa sengaja menabrak wanita cantik yang baru saja keluar.
"Maaf."
Wanita itu melihat Wulan dengan tatapan jengkel kemudian pergi.
Wulan terkejut dan mengingat-ingat. "Dia ... Aku seperti pernah melihatnya. Tapi, di mana, ya?"
Panggilan alam yang semakin terasa membuat Wulan masuk ke toilet dengan rasa penasaran yang tinggi. Untung tidak ada siapa-siapa. Jadi, Wulan dengan bebas memilih ruangan.
Sambil duduk mengeluarkan semua urin dalam tubuhnya Wulan kembali mengingat sosok wanita yang menabraknya. Ketika ingatannya menemukan siapa wanita itu Wulan terkejut.
"Dia kan wanita yang diajak Niko tempo hari. Astaga, dia kliennya Niko."
Wulan merasa bersalah tidak menyapa wanita itu. Biar bagaimana pun wanita itu relasi suaminya sendiri.
"Untung saja wanita itu tidak mengenalku. Kalau tidak, pasti dia akan melaporkan ketidaksopananku pada Niko."
Wulan tak peduli. Sekarang ia keluar, cuci tangan, kemudian kembali ke tempat makan yang sejak tadi sudah membuatnya lapar.
"Aku di toilet. Baik, aku akan ke sana."
Langkah Wulan terhenti di depan pintu keluar ketika mendengar suara berat yang sangat ia kenali.
"Itu kan suaranya Niko."
Wulan keluar, tidak langsung beranjak, bersembunyi di balik pembatas toilet untuk memastikan pemilik suara tersebut.
Zet!
Benar saja, sosok tampan yang baru saja keluar adalah suaminya.
"Kenapa dia di sini, bukannya dia bilang tidak enak badan? Apa dia sengaja ke sini untuk menjemputku?"
Pikiran Wulan langsung teralihkan ketika sosok wanita yang tadi menambraknya kini mendekati Niko.
"Dia ... Niko ke sini bersamanya?"
Sakit di dada Wulan mencuat ketika matanya melihat wanita itu menggandeng Niko. Ia berlari ke tempat makan di mana Fanny sudah menunggu.
"Kenapa lama sekali? Ayo makan, aku sudah lapar," kata Fanny.
Wulan meraih tas dan belanjaannya. "Kamu saja, aku ingin pulang."
"Lah," Fanny terkejut, "Makanan ini, bagaimana?"
Wulan tak bisa menahan tangis. Sambil berlari keluar mall ia terus menangis.
"Kamu jahat! Kamu menolak pergi denganku karena wanita itu. Kamu jahat, Niko!"
__ADS_1
Bersambung____