Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Wulan Meninggal.


__ADS_3

Setelah memastikan Darius membawa Fanny dengan mobilnya, Wulan masuk ke mobil bersama Niko.


"Kita mau ke mana?" tanya Wulan begitu Niko menjalankan mobilnya.


"Kita akan ke rumah, papa menunggumu. Papa ingin menghabiskan waktu bersamamu."


Wulan sedih. "Rasanya aku tidak ingin meninggalkan kalian. Seandainya bukan karena pekerjaan, aku tidak akan mau meninggalkan kalian."


"Kan kita sudah buat kesepatakan, satu bulan kamu harus segera kembali."


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel Wulan membuat suasana hening. Niko terus menyetir, sedangkan Wulan meraih benda itu dari dalam tasnya.


Dilihatnya nama kepala bank sebagai pemanggil. Ia pun mengatakan kepada Niko lalu menyambungkan panggilan.


"Halo, selamat malam, Pak."


"Malam Wulan. Maaf menganggumu malam begini."


"Tidak apa-apa, Pak. Apa ada tugas tambahan untuk saya?"


Wulan berharap begitu, agar keberangkatannya besok bisa tertunda. Itu artinya ia masih punya waktu lagi bersama Niko dan Handoko.


"Tidak, Wulan. Saya ingin tanya, apa kamu sudah beli tiket untuk besok?"


Wulan terdiam menatap Niko. Niko yang sedang menyetir sesekali melirik ke arah Wulan.


"Belum Pak, saya pikir kantor akan memberikannya. Jadi, saya sengaja belum membeli, karena takutnya kantor sudah menyediakan."


"Kamu benar, seharusnya begitu. Saya yang salah, karena tidak menyampaikannya padamu. Saya sudah memesan tiketnya, hanya saja saya lupa memberikannya padamu tadi waktu masih di kantor. Bisakah besok sebelum ke bandara untuk mengambil tiketnya?"


"Boleh, Pak. Jam berapa jadwal penerbangannya Pak, biar saya ke sana dua jam sebelum waktu take off?"


"Kamu benar, perjalanan ke bandara cukup jauh. tiket penerbangan malam pukul delapan."


Alis Wulan berkerut. "Jam depalan, kenapa jadwalnya malam, Pak?"


"Jadwal yang kosong untuk besok hanya di jam itu, Wulan. Penerbangan pagi ada, tapi jam empat pagi."


"Itu terlalu pagi, Pak."


"Benar. Saya sengaja tidak mengambil jam itu, karena kepindahamu tidak buru-buru. Jadi, tidak perlu kamu mengambil jam terbang sepagi itu. Sisa waktunya kamu bisa gunakan untuk istirahat, biar pagi berikutnya kamu bisa bangun dengan enak."


Wulan tersenyum menatap Niko. Itu artinya ia punya waktu banyak bersama pria itu. Lagi pula Wulan belum mengatur bawaannya ke koper, ia berencana malam ini akan mengatur barangnya setelah pertemuan dengan Niko.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak. Besok saya akan ke kantor untuk mengambil tiketnya."


"Sama-sama, Wulan."

__ADS_1


Setelah panggilan terputus Wulan menatap Niko dengan senyum yang lebar. Ekspresi datar pria itu membuat Wulan sedih.


"Wajahmu kok gitu. Kamu marah, ya?"


"Asal kamu bahagia, lakukan saja apa yang kamu mau."


Wulan memeluk lengan Niko. Tangan Niko yang sedang diam pun segera menyentuh paha Wulan.


"Aku kan sudah janji, aku tidak akan lama. Oke?" Wulan teringat. Ia melepaskan lengan Niko dan menatapnya bahagia, "Jadwal penerbanganku besok malam. Berarti besok kita punya waktu seharian."


"Malam, kenapa harus malam?" ekspresi Niko masih sama datar.


"Kata beliau jadwal yang kosong besok hanya di jam itu dan jam empat subuh. Untung beliau ngerti. Jadi, beliau mengambil jadwal malam agar sisa waktunya bisa digunakan untuk istirahat."


"Tadi aku dengar kamu akan ke kantor untuk mengambil tiketnya. Kenapa tidak kirim melalui pesan saja boadring-nya, kenapa harus ambil di kantor?"


"Aku tidak tahu, Sayang," kata Wulan pelan. Ia melihat ekspresi Niko tak kunjung berubah, "Kamu jangan marah dong, Sayang. Kan besok kita bisa menghabiskan waktu bersama. Aku akan menemanimu di kantor kalau kamu mau."


Niko mengelus pahanya, membuat Wulan menggigit bibir ketika rasa geli menimpanya.


"Kita akan menghabiskan waktu bersama besok. Kamu mau kita ke mana, hah?"


"Besok kan kamu harus kerja."


"Tenang, kan ada Darius."


"Bagaimana kalau bersama papa saja? Kita habiskan waktu bersama papa di rumah. Papa pasti akan senang."


Wajah Wulan merah padam.


Niko tersenyum. "Kenapa? Malam ini kan kita akan menghabiskan waktu bersama papa. Besok waktu untuk kita berdua."


Perasaan Wulan bercampur aduk, apalagi saat ini tangan Niko bergerak-gerak lembut di bagian paha dalam yang sedikit lagi akan menyentuh area terlarangnya. Entah kenapa ia sangat nyaman dengan perkaluan Niko.


"Besok aku akan mengantarmu ke bandara. Tadi aku dengar kamu akan mengambil tiket di kantor, jam berapa?"


"Terserah kamu saja. Yang jelas sebelum jam operasional berakhir."


"Bagaimana kalau pagi pas kantor buka? Takutnya siang atau sore kepala bank sibuk dan lupa. Aku tidak masalah kalau itu terjadi, aku akan lebih senang."


Wulan terkekeh. "Kamu ini. Kalau begitu kapan saja kamu bisa, aku mengikuti saja."


Tepat di saat itu mereka tiba di rumah keluarga Lais. Namun, ketika mobil Niko terhenti, ponsel Wulan kembali bergetar. Ia melihat nama Angelina sebagai pemanggil.


"Mama telepon."


"Angkat saja," kata Niko setelah mematikan mesin mobilnya. Bukannya diam melihat Wulan, Niko mendekati Wulan dan menyerang paha wanita itu dengan ciuman.


Wulan terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Ia mencoba fokus bicara dan menetralisirkan suara ketika rasa gelisah menyerangnya.

__ADS_1


Niko tak berhenti, ia semakin mengangkat rok Wulan dan terus menyerang.


Wulan protes setelah panggilannya terputus. Ia marah, tapi nadanya begitu lembut.


"Kamu tidak sopan, Sayang."


Pria itu menatapnya dengan sayu. "Maaf, aku terlalu menginginkanmu."


Pada dasarnya Niko tidak ingin melakukan itu kepada wanita yang dicintainya. Namun, ia harus melakukan itu agar perasaan Wulan terhadapnya semakin besar.


Niko bahkan berencana ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Wulan semakin memikirkannya.


"Kamu marah?" tanya Niko, melihat Wulan hanya diam.


Wulan tersenyum sambil menggeleng.


Niko merasa inilah kesempatannya. Ia segera menunduk, berbisik di depan wajah Wulan.


"Kalau besok kita berdua menghabiskan waktu di vila, bagaimana?"


Sikap Niko sekarang spontan membuat Wulan menatapnya dengan mata melotot.


"Kamu tidak akan merusak diriku, kan?"


Niko menggeleng. "Tentu saja tidak, aku tidak merusak milikku sebelum kita menikah."


Wulan senang. Ia juga ingin berlama-lama dengan Niko di dalam mobil. Namun, teringat ucapan Angelina di telepon tadi, ia segera mengecup bibir Niko seolah-olah ingin mencarikan suasana.


Niko paham dan menurut. Ia mencium dahi Wulan lama sekali kemudian ******* bibir wanita itu cukup lama, sebelum akhirnya ia mengajak Wulan masuk ke dalam.


"Ayo, lama-lama di sini akan membuat pikiranku melayang."


"Melayang bagaimana, maksudmu?" ledek Wulan.


"Aku akan melepaskan rokmu. Mau?"


Di sisi lain.


Saat ini Ulan berada di taman belakang. Wanita itu sedang meletakkan menu-menu barbeque yang tadi dibelinya atas meja.


Jefry muncul. "Papa dengar dari mama, kamu melakulan ini untuk Wulan, benar?"


"Iya, Pa. Aku ingin merayakan hari terakhir aku bersamanya."


Jefry tersenyum samar kemudian duduk menghadap Wulan. "Papa ingin tanya satu hal."


"Tanyakan saja, Pa."


"Kalau Wulan meninggal, apa kamu akan menyesali kepergiannya?"

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2