
Angelina berdecak. "Kau pikir aku tidak tahu, hah? Wanita yang dicintai Niko bukan Ulan, kan? Kau membohongiku, Jeff. Semalam kau bilang sudah memberikan kontak Niko pada Ulan, nyatanya dia sama sekali tidak menerima kontak Niko dan Niko pun tidak pernah menghubunginya. Perjodohan macam apa ini?! Dan untuk apa kau ikut campur dengan urusan Wulan. Dia mau dijemput dan diantar siapa pun itu urusannya."
"Dia putriku juga, Angelina."
"Dia putriku, bukan putrimu!"
Angelina sakit hati karena Jefry membohonginya. Beberapa tahun lalu Jefry telah berjanji akan selalu jujur kepadanya. Mengetahui Jefry membohonginya membuat Angelina murka. Ia tidak suka dengan kebohongan!
"Kenapa kau memarahiku? Ada apa denganmu, Angelina?"
"Kau yang kenapa?! Kau tahu aku paling tidak suka dibohongi. Tadi pagi aku sudah bicara dengan Ulan. Kau tidak memberikan apa-apa padanya. Kenapa kau membohongiku, Jefry?!"
Berapa tahu mereka menjalin rumah tangga, baru kedua kalinya Angelina semarah ini. Jefry pun tak mau kemurkaan Angelina membuat dirinya kehilangan segalanya.
Angelina adalah mantan kekasih Jefry. Sejak sekolah menengah atas, Jefry dan Angelina menjalin cinta layaknya pasangan kekasih yang tak bisa terpisahkan. Angelina adalah cinta pertama sekaligus wanita yang merebut keperjakaannya. Tidak heran kenapa Jefry sangat tergila-gila padanya. Angelina telah mengajarkan banyak hal kepada Jefry.
Angelina anak orang kaya dan pergaulannya sangat bebas. Namun, begitu mereka masuk ke bangku universitas Angelina bertemu pria tampan, berwibawa dan sopan. Pria itu adalah Benny Irawan, putra semata wayang dari keluarga kaya raya yang ternyata sahabatnya Jefry.
Sakit hati Angelina memutuskan cintanya dan memilih Benny yang baru dikenalnya, Jefry diam-diam menyimpan dendam kepada pria itu dan berniat menyingkirkannya. Tujuan Jefry menyingkirkan Benny pun akhirnya tercapai dengan melibatkan Handoko dalam kejahatannya.
Seakan dirinya tak bersalah dan tidak tahu soal itu, Jefry menemui Angelina dan berlagak seperti pahlawan. Berbagai cara dilakukan Jefry untuk merebut kembali hati Angelina.
Alhasil, bukan hanya hati Angelina yang berhasil direbutnya kembali, Jefry juga membujuk Angelina untuk mengelolah harta dan menjual semua aset perusahan Benny untuk membangun perumahan elit yang sekarang menjadi usaha bersama.
Tak mau Angelina marah dan meninggalkannya, Jefry mengubah ekspresinya menjadi sedih.
"Maafkan aku, Angelina. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku melakukan ini karena terpaksa."
"Terpaksa?! Kau tahu kan akibat pernikahan yang terjadi secara paksa?"
"Aku tahu, tapi aku melakukan ini bukan karena keinginanku. Aku tahu risikonya akan fatal, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya."
Alis Angelina berkerut, menyiratkan minat.
"Sebelum meninggal mamanya Ulan memintaku untuk menjodohkan putri kami dengan Niko. Aku juga sudah berjanji akan menepati janjinya itu."
Angelina terdiam.
"Aku sudah tahu wanita yang diincar Niko adalah Wulan. Dari interaksi Wulan dan Niko malam itu aku sudah bisa menebak. Pembicaraan awal aku dan Handoko adalah patokan. Dia meminta Niko dijodohkan dengan Ulan, aku pun menggunakan kesempatan itu untuk menepati janjiku kepada mendiang mamanya Ulan."
"Handoko akan menemuimu dan mengklarifikasi kesalahpahaman ini."
__ADS_1
Jefry menatapnya. "Kau tahu dari mana soal itu?"
"Wulan, dia sudah menceritakan yang sebenarnya. Dia juga sudah mengakui hubungannya dengan Niko."
'Brengsek,' kata Jefry dalam hati, 'Niko dan Wulan tidak boleh menikah. Mereka tidak boleh bersama. Kalau mereka menikah dan rahasia itu terbongkar, aku tidak akan mendapatkan apa-apa.'
"Kemungkinan Handoko akan meminta Wulan untuk menikah dengan Niko."
Ekspresi Jefry dibuat-buat. "Kalau memang itu sudah takdir mereka aku tidak bisa menghalangi. Kau benar, pernikahan terpaksa dampaknya sangat besar. Mungkin lebih baik aku mengingkar janji kepada mendiang istriku daripada menyatuhkan dua orang yang tidak saling mencintai."
Angelina merasa kasihan. Ia menggenggam sebelah tangan Jefry kemudian berkata, "Kita serahkan semuanya pada Tuhan. Kalau memang berjodoh mereka pasti akan bersama. Contohnya kita berdua. Sekalipun aku telah memilih Benny, Tuhan tetap menyatuhkan kita, bukan?"
Jefry merasa menang. Ia pun memeluk Angelina dengan ekspresi licik saat wajahnya tidak terlihat.
***
Keesokan hari Handoko dan Niko sedang sarapan bersama.
"Papa sudah bertemu tante Angelina?" tanya Niko. Saat ini ia sedang menikmati roti lapisnya dengan pakaian eksekutif khas kantoran.
Karena Handoko sudah mengaku bahwa ia pemilik BK Group, mau tidak mau hari ini Handoko harus menunjukkan kepada semua karyawan, bahwa Niko lah pemimpin perusahan.
Tak kalah tampan dengan Niko, Handoko juga memakai setelan gelap yang membuat kulit putihnya begitu jelas.
"Mungkin om Jefry sudah tahu rencana Papa. Jadi, dia menjaga tante Angelina biar Papa tidak bisa bertemu dengannya."
"Papa tidak peduli apa yang direncakan Jefry. Papa harus bertemu Angelina dan mengatakan yang sebenarnya."
"Sebaiknya begitu, karena Wulan juga sudah menunggu Papa untuk mengklarifikasi salah paham tersebut."
Handoko terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "Papa sudah mengambil keputusan, setelah pengumumkan jabatanmu papa akan langsung menemui Angelina. Papa tidak peduli meskipun ada Jefry di sana, papa akan tetap bicara dan menjelaskan yang sebenarnya pada Angelina."
Di sisi lain.
Karena banyak pekerjaan yang menumpuk, Wulan menunda makan siang dan menyelesaikan tugasnya. Ia bahkan menolak makan siang bersama Niko saking banyaknya pekerjaan.
Fanny yang baru saja kembali dari makan melihat Wulan masih berkutat di depan komputer.
"Sebaiknya makan dulu. Nanti kalau sakit, aku juga yang repot," kata Fanny, "Ini, aku bawakan nasi ayam sama es teh manis."
Mendengar itu spontan membuat Wulan berhenti dan tersenyum. "Benarkah?"
__ADS_1
Fanny menunjukkan kantong plastik bening yang ada di tangannya. "Makanlah selagi hangat."
Tanpa banyak bicara Wulan segera meraih kantong itu dan mengintip isinya. "Sebenarnya aku tidak lapar, tapi baunya membuatku lapar."
Kedua wanita itu terbahak.
"Permisi!"
Suara cleaning service membuat Wulan dan Fanny menoleh. Mereka hanya tersenyum tanpa suara.
"Nona Wulan, Anda dipanggil pak kepala. Beliau menunggu Anda di ruangannya."
"Baik, saya akan segera ke sana. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Nona."
Begitu cleaning service pria itu berlalu, Fanny menatap Wulan dan bertanya, "Ada masalah apa?"
"Tadi beliau menyuruhku membuat ini," Wulan menunjukkan lembaran laporan neraca kepada Fanny, "Mungkin beliau ingin menanyakan ini. Syukurlah sudah selesai. Aku ke ruangannya dulu. Setelah kembali aku akan makan ayam goreng ini."
"Kalau begitu pergilah dan cepat kembali."
Dengan senyum lebar Wulan meninggalkan ruangan sambil membawa lembaran yang menurutnya dibutuhkan oleh kepala bank.
Begitu tiba di ruangan, Wulan segera masuk dan memberikan laporan itu.
"Laporannya sudah selesai, Pak."
Lelaki berkepala botak di depan Wulan hanya tersenyum kemudian mengambil lembaran itu dan meletakkannya di meja.
Wulan bingung. "Mohon di audit terlebih dahulu, Pak. Kalau ada yang perlu diralat, saya akan kembali melaratnya."
"Tidak perlu, pasti laporan ini sudah benar. Duduk lah, ada hal penting yang ingin saya bicaran."
Wulan menurut dan duduk di depannya. Dengan ekspresi serius ia menatap lelaki putih itu yang merupakan kepala bank di tempatnya bekerja.
"Kamu akan dipindahtugaskan, Wulan. Sebagai kepala bank, saya harap kamu tidak akan menolak permintaan ini."
Wulan terperanjat. Hampir berapa detik ia tertegun kemudian berkata, "Maksud Bapak, saya akan di mutasi."
"Benar, Wulan. Besok hari terakhir kamu di kantor ini. Lusa kamu akan berangkat, karena kepala cabang di sana membutuhkan orang sepertimu. Mereka tidak punya Account Officer sepertimu. Jadi, beliau memintamu ke sana beberapa bulan sampai kamu berhasil mendidik Account Officer di sana menjadi sepertimu."
__ADS_1
Bersambung____