
Hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari sudah muram dan Wulan terbangun. Hari ini entah kenapa ia merasa sangat malas. Ditambah sang suami lagi merajuk, Wulan menghabiskan waktunya seharian untuk tidur.
Tok! Tok!
"Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?"
Wulan yang baru tersadar segera beranjak. Ia duduk di ranjang.
"Masuk saja, Inem."
Pelayan itu masuk, melihat Wulan duduk di ranjang dengan mata bengkak akibat tidur setelah menangis.
"Nyonya baik-baik saja?"
Wulan tersenyum sayang. "Aku baik-baik saja, Inem. Entah kenapa seharian ini aku hanya ingin tidur."
"Memang begitu kalau sedang hamil, Nyonya. Apa Nyonya tidak ingin makan atau minum sesuatu?"
"Tidak Inem, terima kasih."
Inem melihat sisa rujak di atas nakas. Jumlah buah yang masih terlihat utuh membuat Inem penasaran.
"Tuan tidak memakan rujaknya, Nyonya?"
Wulan beralasan. "Hanya sebagian, tadi buru-buru ke kantor."
Mengingat kejadian itu membuat Wulan merasa sedih. Sejak meninggalkannya tadi pagi Niko tidak menghubunginya. Pria itu bahkan tidak memberikan perhatian seperti biasanya.
Inem menyadari, tapi ia tidak mau bertanya. Meskipun Wulan memberikan kebebasan padannya, ia cukup tahu diri untuk tidak mencampuri urusan pribadi sang majikan. Ia pun memikirkan alasan apa untuk mengalihkan pikiran Wulan.
"Nyonya belum makan siang. Apa Nyonya mau aku buatkan sesuatu untuk makan malam? Sebentar lagi aku akan memasak untuk makan malam."
Menyebutkan makan malam membuat Wulan teringat pesan Niko sebelum pria itu meninggalkannya.
"Tidak usah, Niko tidak akan makan malam di sini, dia akan makan di luar bersama klien," bohong Wulan, "Kamu masak saja makanan yang kamu inginkan. Kamu juga buatkan aku sup sayur, malam ini aku ingin makan sup sayur."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu aku ke dapur dulu."
Wulan menganggguk. Setelah Inem menghilang di balik pintu, ia membuang napas panjang lalu ke kamar mandi.
Di sisi lain.
Gloriana menghentikan mobilnya di depan gerbang besar berwarna hitam. Dari balik kaca ia menatap rumah besar dan ponsel secara bergantian.
"Apa benar ini rumah Niko?" wanita itu tidak yakin, "Pengusaha kaya, tapi kenapa rumahnya kecil sekali?"
Waktu melihat lokasi itu Wulan memang meminta Niko untuk tidak membangun rumah yang besar. Halaman yang sangat luas dijadikan Wulan sebagai tempat santai, kolam renang dan taman bunga.
Sekilas rumah itu terlihat kecil dari luar. Namun, ketika Gloriana mendekati penjaga keamanan dan mengintip ke halaman, ia terkagum-kagum dengan nuansa alam yang sangat kental dari beranda rumah. Estetikanya meluap melihat rumput gajah mini memenuhi halaman serta berbagai tanaman hijau yang memenuhi pekarangan.
"Maaf, ada yang bisa dibantu, Nona?"
Suara penjaga keamanan membuat Gloriana tersadar. Dengan sombong ia menatap. "Apa benar ini rumahnya Wulan, istrinya Niko?"
"Benar. Apa Anda temannya nyonya Wulan?"
Penampilan Gloriana cukup menarik perhatian si penjaga rumah. Terusan ketat berwarna terang dan bodi seksi membuatnya yakin, kalau wanita berwajah cantik bak model di depannya adalah teman si nyonya rumah.
__ADS_1
Dengan angkuh Gloriana menjawab. "Benar. Apa Wulan ada di rumah? Katanya dia sedang sakit. Jadi, aku ke sini ingin menjenguknya."
Sang penjaga keaman cukup kaget. Ia memang tahu sang nyonya rumah tidak ke kantor. Tapi, ia tidak tahu kalau si majikan ternyata sedang sakit.
Gloriana sendiri tahu hal itu dari Niko. Walaupun sebenarnya Niko tak mengatakan keadaan Wulan yang sebenarnya. Tapi, ia tahu kalau hari ini wanita yang dianggap saingannya itu tidak pergi ke kantor.
Ting! Tong!
Bel rumah berbunyi ketika Wulan tiba di ruang makan.
Ting! Tong!
"Inem, minta tolong buka pintunya."
"Baik, Nyonya."
Wulan melirik jam dinding. "Siapa yang datang itu, ya?"
Membayangkan Niko tak pulang membuat Wulan bersedih. Ini pertama kali ia makan malam sendiri tanpa ditemani suami. Seandainya kesendiriannya itu karena Niko keluar kota mungkin tak masalah.
"Nyonya," kata Inem begitu tiba di ruang makan, "Ada wanita cantik mencari Nyonya. Dia ingin bertemu Nyonya."
"Wanita cantik ... Siapa?"
"Namanya Gloriana. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarannya kepada Nyonya."
Wulan terkejut. Dalam hati ia berkata, "Untuk apa dia menemuiku?" Wulan tersadar. Tatapannya ke mangkuk sup yang baru saja ia penuhi, "Inem, tolong simpan ini. Setelah bicara aku akan memakannya."
"Baik, Nyonya."
"Di mana dia?"
Wulan beranjak. "Dia kliennya Niko. Buatkan minuman untuk dia."
"Baik, Nyonya."
Dengan gaun panjang yang mewah Wulan menuju ruang tamu.
"Halo," sapanya santun.
Gloriana terkejut melihat pesona Wulan. Ia merasa iri melihat kecantikan alami yang dipancarkan wajah tanpa polesan.
Ia berdiri dan menyapa. "Aku Gloriana, temannya Niko."
Wulan tak kalah kaget. Teman? Bukannya dia kliennya Niko?
Pertanyaan itu nyaris terlontar. Namun, Wulan tetap diam dan menyambut Gloriana dengan senyum terbaiknya.
"Silahkan duduk, Gloriana."
Mereka sama-sama duduk. Wulan mengambil posisi di depan Glorinana, menghadap pintu masuk. Sementara Gloriana duduk menghadap sang nyonya rumah.
"Aku ke sini ingin memberitahu sesuatu ... Sesuatu yang sangat penting buatku."
Wulan menyimak dengan anggun.
"Mungkin selama ini Niko bilang padamu aku adalah kliennya. Iya, kan?"
__ADS_1
"Iya, benar."
Wulan mulai merasa ada yang tidak beres. Namun, ia harus bersikap tenang untuk menyimak semuanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin ke sini dan memberitahukannya padamu. Tapi, aku rasa penting untuk disampaikan karena ini menyangkut masa depanku."
Wulan menatap tajam. Ekspresinya serius dan jantungnya berdetak. "Masa depan, apa maksudmu masa depan?"
Gloriana tersenyum sinis. "Maafkan aku, Wulan. Tapi, aku harus memberitahukannya padamu. Aku hamil anaknya Niko."
Brak!
Bunyi baki terjatuh membuat Gloriana dan Wulan terkejut.
Inem ... Inem menjatuhkan baki dan gelas berisi teh manis untuk Gloriana.
"Maafkan aku, Nyonya. Maafkan aku. Aku akan membersihkannya."
Gloriana menatap jengkel. Jantungnya hampir keluar karena bunyi baki itu.
Pikiran Wulan dipenuhi ucapan itu. Jadi, ia tidak terlalu peduli dengan Inem dan kembali menatap Gloriana.
"Kamu hamil anak suamiku?"
"Benar. Sebenarnya aku bukan kliennya suamimu, aku adalah kekasih gelapnya."
Tubuh Wulan bergetar. Dadanya sesak dan sulit bernapas. Niko dan Gloriana ... Gloriana hamil anaknya Niko?
Inem yang sedang membersihkan lantai ikut gemetar. Dalam hati ia memaki-maki Niko dan Glorina.
Wulan tersadar dari lamunan. "Sebelumnya aku minta maaf, Gloriana. Aku bukannya tidak percaya, tapi wanita sepertimu banyak di luar sana. Mereka berpura-pura hamil untuk memanfaatkan suami-suami kaya seperti suamiku."
"Sayangnya aku tidak memanfaatkan suamimu demi uang, aku punya uang yang banyaknya seperti uang suamimu. Aku dan Niko menjalin hubungan jauh sebelum kalian menikah."
"Sebelum menikah?" pikir Wulan, "Berarti Gloriana ...."
"Aku dan Niko merasa cocok dari segi seksualitas," lanjut Gloriana, "Maaf-maaf saja, Wulan ... kata Niko dia masih menginginkanku karena tidak pernah puas denganmu. Itu sebabnya kami masih menjalin hubungan, meskipun dia sudah menikah."
Air mata Wulan menetes.
Gloriana merasa menang. "Aku minta maaf harus mengatakan ini. Tapi, jika kau ingin bukti aku akan memberikannya."
Dengan hati sakit dan mata berair Wulan melihat Gloriana mengacak ponselnya.
"Halo, Sayang?"
Zet!
Suara berat yang sangat dikenalinya membuat Wulan terkejut. Niko ... itukan suara Niko. Sayang ... Niko memanggil Gloriana dengan sebutan sayang?
"Kau di mana? Aku di apartemenmu."
"Aku di rumahmu, Sayang."
"Rumahku? Untuk apa kau ke sana?"
"Untuk memberitahu Wulan ... Aku sedang mengandung anakmu, Niko."
__ADS_1
Bersambung____