
Wulan memperbesar foto itu. "Ini kan Ulan, kenapa Niko memeluk Ulan?"
Rasa sakit menyerang hati Wulan. Dengan cepat ia mencari kontak Niko lalu menghubunginya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Wulan memutuskan panggilan. Kemudian mencoba lagi. Karena jawabannya sama, Wulan dengan cemburu memuncak langsung kembali bergabung bersama yang lain.
Teman-teman yang tidak terlalu memperhatikan Wulan tak menyadari perubahan yang terjadi.
Sang atasan yang kebetulan belum menikah bernama Deril ternyata memperhatikan perubahan di wajah Wulan.
Ia yang kebetulan duduk di samping Wulan langsung mendekat dan berbisik, "Kamu berbohong, ya. Kamu tidak baik-baik saja, kan?"
Wulan terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa. Sejak awal masuk kantor ia sudah merasa tidak nyaman dengan perlakulan Deril yang terlalu perhatian kepadanya. Menurut Wulan tindakan pria itu terlalu berlebihan.
"Saya baik-baik saja, Pak."
Deril sadar tindakannya berlebihan. Ia terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Wulan. Sejak bertemu wanita itu Deril sudah menyukainya.
Tahu Wulan belum menikah, Deril melakukan pendekatan seperti itu untuk merebut hatinya. Deril sadar tindakannya itu membuat Wulan tak nyaman. Tak ingin Wulan menjauhinya, Deril memilih diam dan bercerita dengan karyawan yang lain.
Di sisi lain.
Niko akhirnya tiba di kediaman keluarga Tanujaya. Ia tak peduli meskipun Ulan sudah bermohon untuk tidak mengantarnya ke rumah, Niko tetap membawa gadis itu pulang sebagai bentuk tanggung jawab.
Niko tidak tahu harus membawa Ulan ke mana jika ia menuruti permintaannya. Selain itu, Niko khawatir terjadi sesuatu jika ia tidak mengembalikan Ulan ke rumahnya.
Ting! Tong!
Bunyi bel pintu di tekan Niko. Ulan yang terlihat teler berdiri di samping sambil memegang lengan pria itu. Kepalanya pusing, sehingga ia terus memejamkan mata sampai sosok cantik muncul dari balik pintu.
"Selamat malam, Tante," sapa Niko sambil tersenyum samar, "Aku ingin mengantar Ulan pulang."
Angelina terkejut. "Ulan, kamu mabuk lagi?"
Ulan hanya menyapa kemudian masuk ke dalam. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun kepada Niko.
Angelina penasaran. "Apa yang terjadi, Nak?"
"Tadi aku ke club malam. Kebetulan pemilik itu adalah temanku. Aku dan dia sedang berbincang-bincang saat Ulan dan Viona bertengkar. Mereka membuat keributan di sana. Jadi, aku membawa pulang Ulan ke sini dan itu membuatnya marah. Dia takut om Jefry akan marah padanya karena mabuk."
"Benar, akhir-akhir ini dia sering mabuk. Aku rasa Viona telah mempengaruhinya, dia tidak pernah mabuk sebelumnya."
__ADS_1
"Lebih baik Tante suruh Ulan menjaga jarak dengan Viona. Wanita itu punya pengaruh buruk terhadap Ulan."
Angelina menyipitkan mata. "Kamu mengenal Viona?"
Niko terdiam sesaat. "Dia wanita yang tidak beres. Kalau tidak ingin Ulan menjadi korbannya, lebih baik suruh Ulan menghindarinya sejak sekarang."
"Terima kasih banyak, Nak. Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Wulan, kalian baik-baik saja, kan?"
Angelina sengaja melontarkan petanyaan itu untuk mengetahui perkembangan hubungan mereka. Jujur Angelina sedikit takut Wulan dan Niko akan putus.
"Hubungan kami baik-baik saja, Tante. Waktu pulang kantor aku menghubungi Wulan. Katanya dia akan makan malam bersama atasan dan beberapa karyawan yang lain. Mungkin sebentar lagi mereka selesai."
"Baiklah Niko, terima kasih banyak sudah membawa Ulan pulang. Sekali lagi terima kasih."
"Tidak perlu begitu, Tante. Lagi pula sebentar lagi Ulan akan menjadi adik iparku."
Entah harus senang atau tidak, saat ini perasaan Angelina campur aduk.
"Baiklah, aku permisi dulu. Sampai nanti."
"Sampai nanti, Nak. Hati-hati di jalan, ya."
"Terima kasih, Tante."
Di posisi lain Ulan sedang kegirangan. Kondisi mabuk yang terlihat saat di club dan di depan Angelina seketika hilang.
Dengan tubuh terbalut jubah mandi dan handuk terbungkus kepala, Ulan meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, Viona," sapanya begitu panggilan terhubung, "Kau di mana, apa kau kasih di sana?"
"Aku sudah pulang. Anak buah pemilik bar itu mengantarku pulang."
Ulan terbahak. "Menurutmu apa rencana kita berhasil?"
"Aku yakin berhasil, tapi sumpah ... tamparanmu tadi sakit sekali. Pipiku bengkak sampai sekarang."
Ulan duduk di ranjang. "Aku minta maaf, kalau tidak begitu mereka pasti akan percaya kalau adegan tadi itu hanya sandiwara. Tapi kau jangan khawatir, besok aku akan mentraktirmu belanja, oke?"
"Tapi harapanmu Niko akan mengantarmu pulang gagal."
"Jangan khawatir, aku sudah menyuruh orang untuk mengirim fotoku dan Niko kepada Wulan. Dia pasti sudah melihatnya. Besok dia pasti akan menghubungiku dan menanyakannya."
"Foto, foto apa?"
__ADS_1
"Waktu di parkiran aku memeluk Niko. Dan seperti rencana kita, kameramen itu mengambil foto itu dan mengirimnya padaku. Hasilnya bagus dan aku yakin Wulan pasti cemburu."
"Mungkin juga, apalagi dia tahu kau menyukai Niko."
Ulan tersenyum licik. "Akan lebih baik kalau kau juga terlibat. Aku ingin kau juga melakukan hal yang sama, memeluk Niko. Kalau bisa kau rayu dia dan cium dia."
"Kalau itu kau tenang saja, toh kau sudah memberiku sepuluh miliar. Begitu sisanya sudah kau bereskan, aku akan membuat Niko tidur denganku. Kau tenang saja."
Ulan tersenyum licik. "Aku tak sabar melihat respon Wulan begitu melihat itu. Dia pasti akan marah dan memutuskan Niko."
"Kita harus mengatur rencana lagi untuk ke depan. Usahakan beberapa hari ini kita jangan bertemu dulu. Kita buat seolah-olah orangtuamu melarang kita bertemu. Dengan begitu aku bisa menemui Niko dan menggodanya, kalau ada kau dia pasti enggan menunjukkan sikapnya yang dulu."
"Kau atur saja, aku percaya padamu."
***
Setelah membersihkan seluruh badan Niko berbaring di tempat tidur. Ia meraih ponsel dan memeriksa notifikasi dari seseorang yang ia harapkan. Faktanya tidak ada sama sekali notifikasi yang masuk ke ponselnya.
Melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Niko mencari kontak Wulan dan menghubunginya. Sambil menunggu panggilan terhubung Niko menatap foto Wulan dan dirinya di ponsel yang lain.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Niko memutuskan panggilan dengan alis berkerut.
"Tidak biasanya dia mematikan ponsel."
Tak mau menyerah, Niko mencoba lagi dan jawabannya masih sama. Niko memutuskan untuk menghubungi kontak Wulan yang lama. Siapa tahu kontak itu sudah aktif, tapi ia tidak tahu.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Sedikit khawatir dengan kondisi sekarang, Niko membuka instagram untuk memastikan kapan terakhir Wulan sedang online.
"Tiga jam yang lalu. Mungkin ponselnya kehabisan batrei."
Niko berpikir positif terhadap itu. Ia sangat merindulan Wulan, tapi saat itu ia tak bisa mendengar suara wanita itu.
Ia memutuskan untuk melihat feed-nya Wulan. Dan saat ia melihat-lihat postingan tandai di instagram Wulan, Niko terkejut melihat seseorang telah menandai Wulan beberap menit yang lalu. Di postingan pertama terlihat Wulan sedang berfoto bersama teman-temannya. Di foto ke dua Wulan sedang tersenyum dan saling merangkul dengan seorang pria tampan yang tidak tahu siapa namanya.
Wajah Niko seketika berubah melihat kedekataan Wulan dengan pria itu. Apalagi tempat yang mereka kunjungi adalah tempat di mana Wulan dan teman-teman kantornya mengadakan makan malam.
"Deril ... Deril06, siapa dia?"
Bersamanya____
__ADS_1