
"Seharusnya begitu," Handoko setuju, "Meskipun ada sedikit keberatan karena papa belum menemui orangtuanya untuk mengklarifikasi, Wulan pasti akan senang kalau tindakanmu lebih cepat terbukti dibanding janjimu yang manis."
Niko terkekeh.
Handoko berdiri. "Papa pulang dulu, hari ini benar-benar melelahkan. Papa ingin istirahat."
Niko juga ikut berdiri. "Aku akan mengantar Papa."
"Tidak perlu, Nak. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Ingat, pimpinan yang bertanggungjawab harus memprioritaskan pekerjaannya di banding kehidupan pribadinya."
"Aku hanya ingin mengantar Papa."
Handoko tertawa. "Tidak perlu. Lanjutkan saja pekerjaanmu, papa bisa pulang sendiri."
"Aku akan menyuruh supir mengantar Papa."
Handoko pasrah. Niko tak bisa dibantah. Jadi percuma saja menolak putranya yang keras kepala itu.
***
Baru sehari menjadi pimpinan Niko sampai lupa waktu. Ia tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul enam sore.
Pintu ruangan Niko berbunyi.
"Masuk!"
Sosok pria tampan berusia lima tahun lebih tua dari Niko masuk dengan setelan rapi dan lengkap. Pria itu lah yang dulunya menangani BK Group sebelum tugasnya dialihkan kepada Niko. Sekarang pria itu bertugas menjadi tangan kanan, supir, sekaligus tangan kanan Niko.
"Pak, hari sudah gelap. Bukan kah Anda ada janji dengan nona Wulan?"
Niko tersentak, melihat ke dinding kaca kemudian melirik jam tangan.
"Untung Anda mengingatkan saya."
Niko bergegas, membereskan pekerjaannya kemudian meninggalkan ruangan diikuti Darius di belakangnya.
Meski sudah beralih jabatan menjadi pimpinan, Niko tetap menghormati Darius layaknya seorang pimpinan. Darius sudah melarang Niko untuk bersikap formal padanya, tapi Niko menolak dan tetap formal padanya. Niko merasa kaku dan ia memang sangat menghargai orang yang lebih tua.
Darius pun pasrah, karena ia tahu pimpinannya itu sangat keras kepala dan tidak bisa dibantah.
"Bisakah Anda mengantarkanku ke toko," kata Niko yang duduk di samping pria itu. Ia bahkan tidak mau duduk di bangku belakang meskipun posisinya sekarang adalah atasannya Darius, "saya ingin membeli cincin untuk Wulan."
"Tentu saja, Pak Niko."
__ADS_1
Saat mobil sedan Niko melewati deretan pertokoan, matanya yang indah menangkap sosok cantik yang sedang berdiri di pinggir jalan dari jarak yang tak begitu jauh.
"Bisakah Anda menepikan mobilnya? Hentikan mobilnya di dekat wanita yang berdiri di sana."
Darius melirik Niko dari spion. Melihat sang atasan menengok ke samping, dengan cekat Darius menepikan mobilnya.
"Tunggu sebentar, aku akan menemui wanita itu."
"Baik, Pak."
Dengan cepat Niko keluar dari mobil dan mendekati wanita itu.
Karena langit sudah gelap dan kondisi mata yang sudah tak bersahabat, wanita itu tak menyadari bahwa Niko mendekatinya. Berkat pantulan cahaya lampu wanita itu akhirnya mendapati Niko mendekatinya.
"Kamu ...," katanya sambil tersenyum lebar, "Sedang apa kamu di sini, Nak?"
Niko menyalami wanita yang ternyata adalah Angelina. "Aku baru pulang kantor, Tante. Tante sendiri sedang apa berdiri di sini?" Niko menatap belanjaan Angelina yang begitu banyak, "Aku rasa Tante butuh bantuan. Apa Tante mau pulang, aku bisa mengantarkan. Mobilku ada di sana. Ayo, biar kubantu."
Melihat arah pandang Niko membuat Angelina terkekeh malu. "Sebenarnya om Jefry akan menjemput tante, karena ada rapat mendadak mengharuskan tante harus naik taksi. Tante sebenarnya bisa menghubungi Wulan dan Ulan, tapi ponsel mereka berdua sama-sama tidak aktif."
Walau pun sedikit penasaran karena ucapan Angelina soal ponsel Wulan tidak aktif, Niko lebih tertarik dengan alasan Jefry kepada istrinya.
"Apa om Jefry tahu Anda sudah berdiri lama di sini sendirian?"
Niko senang bisa bertemu Angelina di tempat ini. Ia berkesempatan untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Angelina.
"Ayo, aku akan mengantarkan Tante pulang."
"Tidak usah, Nak. Tante bisa naik taksi."
"Tidak masalah, Tante. Aku juga mau pulang, tapi aku mau mampir sebentar di toko perhiasan. Bisakah Tante membantuku untuk memilih cincin?"
Angelina terkejut dalam senyum. "Apa cincin itu untuk Ulan?" ledeknya.
Tidak sopan kalau Niko berkata jujur di situasi seperti sekarang. Ia hanya tersenyum kemudian membantu Angelina membawakan belanjaannya.
"Tante akan tahu nanti."
Angelina hanya tersenyum. Ia sudah yakin kalau pria itu akan membelikan cincin untuk putrinya. Namun, ia tidak mau membahas hal itu jika Niko tidak memulainya.
Hanya memakan waktu lima menit Angelina dan Niko tiba di sebuah toko perhiasan yang mewah.
Angelina yang terbiasa hidup sederhana sama sekali tidak terkejut dengan pemandangan di depannya.
__ADS_1
Niko mengajaknya masuk bersama. Niko bahkan tidak segan-segan menyuruh Angelina untuk menggandeng tangannya.
"Mereka pasti mengira kamu adalah simpanan tante," bisik Angelina saat mendapati mata-mata terkejut ketika ia dan Niko memasuki toko.
Niko hanya terkekeh kemudian mendekati penjaga toko. Ia bahkan melapisi tangan Angelina saat melewati pegawai-pegawai toko yang menatap mereka.
"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Aku ingin mencari cincin untuk calon istriku."
Pegawai wanita itu melirik Angelina. Dengan senyum lebar ia berkata, "Baik. Mohon tunggu sebentar ya, Pak."
"Kamu lihat, kan?" bisik Angelina, "dia pasti mengira tante ini calon istrimu."
Niko terkekeh. Sikap anggun dan diam Angelina memang sulit diartikan. Wajahnya yang cantik dan terawat sangat tidak pantas dengan usianya.
"Ini, Pak," wanita itu menunjukkan dua box cincin di hadapan Niko, "Ini adalah kualitas terbaik di toko ini. Harganya juga terjangkau. Yang ini cocok untuk usia di atas empat puluh tahun, sedangkan yang ini cocok untuk usia di bawah tiga puluh tahun."
Niko dan Angelina saling menatap sesaat sebelum akhirnya memilih.
"Mama, bisa kamu pilihkan cincin yang pas untuk putrimu?"
Karena tubuh Niko lebih tinggi, ia bisa melihat reaksi karyawan itu ketika mendengar perkataannya.
Angelina yang tahu Niko sedang mempertahankan harga dirinya pun langsung tersenyum lebar.
"Tentu saja, Nak."
"Sekalian pilih saja untuk Mama sendiri. Aku akan mentraktir Mama, karena sudah menemaniku malam ini."
"Itu tidak perlu, Nak. Mama ikhlas membantumu."
"Tidak masalah. Pilih saja yang mana Mama suka."
Angelina senang Wulan bisa mengenal Niko. Namun, mengingat penjelasan Jefry soal almarhumah istrinya yang menginginkan Niko menikahi Ulan membuat hati Angelina sakit.
Secara tidak sadar Angelina pun bertanya, "Cincin ini untuk siapa?"
Bukannya Niko, justru pegawai wanita itu lah yang terkejut. Awalnya ia mengira Angelina adalah kekasih Niko. Setelah mendengar Niko memanggil Angelina dengan sebutan mama, ia pun menyingkirkan mispersepsinya tentang Angelina. Sekarang, betapa bingungnya ia saat mendengar Angelina melontarkan pertanyaan itu.
'Bukankah calon istrinya putri tante ini ... kenapa tante ini balik bertanya untuk siapa cincin itu?' katanya dalam hati.
Dengan mantap Niko menjawab, "Untuk Wulan, Mama. Aku ingin membeli cincin untuk Wulan, bukan Ulan."
__ADS_1
Bersambung____