Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Cemburu.


__ADS_3

Di sisi lain Wulan tampak diam di tempat duduknya.


Fanny yang menyadari hal itu segera mendekat dan bertanya, "Ada apa?"


Wulan tidak pernah menyembunyikan hal-hal pribadinya dari Fanny. Karena sudah berbeda status, Wulan harus memilih hal-hal apa saja yang boleh ia ceritakan dan tidak.


Meskipun Fanny bisa menjaga rahasia dan sudah mengetahui semua yang terjadi pada dirinya, Wulan tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui orang lain sekalipun Fanny.


"Tidak apa-apa."


Fanny percaya dan langsung kembali ke tempatnya.


Berbeda dengan Wulan, yang wajah dan visualnya terlihat fokus di layar komputer, pikiran Wulan ternyata tidak.


'Kamu tidak apa-apa? Sini biarku bersihkan.'


'Dadaku, Pak ... Dadaku panas.'


"Suara perempuan di dalam ruangan bersama suamiku?" katanya pelan, "Dokumen ... Apa wanita itu yang membuat dokumen itu? Tapi, bukannya Darius asisten sekaligus tangan kanan Niko?"


Wulan menepiskan rasa penasaran itu untuk sementara. Ia berniat menanyakan hal itu kepada Niko saat makan siang. Dengan pikiran tak jelas Wulan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hal itu ternyata di sadari Fanny. Ia mendekati Wulan dan meminta penjelasan, "Jujur saja, siapa tahu aku bisa bantu."


Sudah lama bersama membuat Fanny sangat tahu perubahan yang terjadi kepada Wulan. Senang maupun bahagia, Fanny tahu ekspresi dan tindakan Wulan jika sedang menyembunyikan sesuatu.


Wulan tahu hal itu akan terjadi. Karena kecurigaannya belum jelas, Wulan mengalihkan pertanyaan agar Fanny tak menuntut penjelasan lagi.


"Menurutmu, mantan-mantan Niko akan cemburu jika tahu aku sudah menjadi istrinya?"


"Kamu memikirkan mantannya?"


"Aku takut mereka muncul dan merusak hubunganku dengan Niko."


"Membangun rumah tangga itu tidak gampang, memang. Kamu dinikahi Niko bukan berarti kamu sudah memang. Bukan berarti kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ingat, kamu harus berusaha melakukan apa saja untuk mempertahankan hubungan kalian.


"Kamu sendiri tahu apa yang harus kamu lakukan, agar mereka tidak merebut atau mengganggu Niko. Kamu sendiri tahu kan, zaman sekarang wanita-wanita perebut suami orang merajalela di mana-mana. Jangan biarkan mereka melakukan itu padamu, ya?"


Wulan sedikit tenang mendapat pencerahan dari Fanny. Benar kata sahabatnya itu, ia harus menjaga dan melakukan apa saja agar Niko tidak berpaling kepada yang lain. Apalagi status mereka sekarang sudah menikah, jelas akan banyak ujian yang akan dihadapi pria sukses seperti Niko.


Di sisi lain Niko sudah siap-siap makan siang bersama istrinya. Ketika ia hendak berdiri dari tempat duduk bunyi ketukan pintu terdengar.


"Masuk," jawab Niko kemudian duduk kembali.


Imenk masuk sambil membawa nampan berisi makan siang.


Niko terkejut. Ia pikir yang mengetuk pintu adalah Darius.


"Apa yang kau lakulan?"


"Saya membawakan makan siang untuk Anda, Pak?"


Niko berdiri. "Sejak kapan aku menyuruhmu?"


Sejak mengenal Wulan sikap Niko terhadap wanita lain menjadi sarkas. Ia tak peduli seberapa cantik dan baik wanita itu, ia tidak ingin bersikap lembut kepada mereka.


"Ini sudah jam makan siang. Mungkin saja Anda ingin makan siang, Pak."


"Bawa keluar."


Imenk kecewa, tapi tidak menyerah. "Ini makanan kesukaan Anda, Pak. Saya memesannya di restoran langganan Anda, Pak."


Niko marah. "Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Bawa makanan itu keluar, sekarang."

__ADS_1


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu membuat pandangan Niko teralihkan. Dengan suara lantang ia menyuruh sosok di balik pintu itu masuk.


Clek!


Darius masuk. Ia terkejut melihat Imenk ada di ruangan itu dengan tangan memegang nampan.


Niko marah. "Besok aku tidak ingin wanita ini masuk lagi ke ruanganku, Darius."


"Baik, Pak. Maafkan aku, Pak."


Niko keluar tanpa kata.


Darius menunduk hormat tanpa suara. Begitu Niko keluar ia menatap Imenk dan memarahinya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Maafkan saya, Pak, saya hanya ingin menawarkan makan siang untuk pimpinan."


"Kau itu asistenku, bukan sekertarisnya pak Niko. Kalaupun demikian, harus ada perintah terlebih dahulu dari beliau baru kau lakukan."


Imenk menunduk.


Darius kesal. "Bawa makanan itu keluar. Kau makan saja itu. Dan ingat, jangan pernah masuk ke sini jika tidak ada yang menyuruhmu."


Imenk menurut tanpa kata.


Darius menggeleng kepala. Dalam pikirannya Imenk pasti akan menggoda Niko. Ketampanan dan wibawa Niko memang tak bisa diragukan. Wanita mana saja yang melihatnya pasti akan terpesona.


Tak ingin asistennya kena masalah, Darius menemuinya. "Pak Niko sudah menikah. Jadi, jangan mimpi untuk mendapatkannya."


Tanpa menunggu jawaban Darius langsung meninggalkannya.


***


Seperti yang sudah direncanakan, Wulan dan Niko makan siang bersama di restoran langganan. Setelah memesan makanan kesukaan, mereka mengambil posisi di dekat jendela.


Sambil duduk berhadapan dan menggenggam tangan, Niko bertanya, "Bagaimana harimu? Selesai kontak, aku tidak akan mengijinkanmu kerja lagi."


Wulan tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya. Walau hatinya masih penasaran dengan suara perempuan yang didengar melalui ponsel Niko, ia tak mau merusak suasana makan siang bersama pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Kamu bisa melakukan hal menyenangkan lain, selain bekerja di kantor."


"Aku sudah nyaman di sana, Sayang."


"Aku bisa menyediakan ruangan dan fasilitas di kantorku jika kamu mau."


Wulan menggeleng. "Kita lihat nanti, ya."


Ting!


Bunyi notifikasi dari ponsel Niko membuatnya terkejut. Tanpa melepaskan tangan Wulan ia membuka pesan yang baru saja masuk.


Wulan memperhatikan. Penasaran apa yang menyebabkan suaminya tersenyum saat membaca pesan tersebut, ia melontarkan pertanyaan dengan wajah cemberut.


"Siapa?"


Niko tersenyum sambil memperlihatkan isi pesannya. "Klien. Sore nanti aku ada pertemuan dengannya. Beliau ingin membangun hotel di kawasan."


Wulan percaya. Ia bahagia Niko sangat peka terhadapnya. Menjadi istri pria tampan dan kaya jelas tidak mudah bagi Wulan. Ia harus lebih banyak pengertian dan perhatian agar suaminya bisa bertahan.

__ADS_1


"Aku teringat Ulan. Bagaimana keadaannya, ya? Kita tidak pernah melihatnya sejak itu. Apa dia baik-baik saja?"


Pesanan mereka datang.


Niko melepaskan tangan Wulan. "Kalau kamu mau, besok kita akan melihatnya."


"Benarkah?"


Niko mengangguk. Demi wanita yang dicintainya, ia akan melakukan apa saja demi membahagiakan Wulan. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk selalu membuat istrinya tertawa.


"Biar bagaimana pun dia adikku, meski bukan sedarah, dia pernah sayang padaku."


"Kasih sayangnya palsu."


"Jangan berkata begitu, Sayang. Dia begitu karena papanya."


Niko tak menjawab.


"Aku heran, kenapa ya om Jefry tega melakukan itu padaku?"


Niko menyuapi ikan bakar ke Wulan. "Tidak usah memikirkan hal yang sudah lewat, Sayang. Makanlah. Kamu harus banyak makan, biar tidak kelelahan seperti semalam."


Wajah Wulan memerah, membuat Niko semakin jail menggodanya.


"Malam nanti, bagaimana kalau kita coba suasana di pinggir kolam?"


"Setuju. Tapi, sebelum mulai bagaimana kalau kita minum anggur bersama?"


"Ide bagus."


***


Di balik jeruji besi Ulan sedang merenung nasibnya. Baru beberapa hari di sana tubuh dan penampilannya tidak terawat. Tanpa selimut dan kasur yang empuk membuat Ulan tidur tak nyaman.


"Ulan, ada yang ingin bertemu denganmu."


Khayalan Ulan hilang ketika suara lantang petugas kepolisian terdengar. Ia tampak bingung.


"Siapa?"


"Temanmu."


Siapa lagi kalau bukan Imenk. Ulan ingin senang, tapi juga bingung temannya datang di waktu seperti ini.


"Ini kan bukan jam berkunjung, kenapa dia ke sini?"


"Pergilah, dia menunggumu di tempat biasa dengan seorang lekaki."


Ulan menurut dan menemui Imenk. Betapa terkejutnya ia melihat temannya itu bersama lekaki berjas yang tampaknya seperti orang kaya.


"Imenk?"


"Hei, bagaimana keadaanmu?" Imenk sedih melihat penampilan Ulan, "Kamu semakin kurus. Duduklah, ada kabar bahagia untukmu."


Ulan duduk depan mereka. Matanya yang besar dan dipenuhi lingkar hitam tak henti-hentinya melihat lelaki di samping Imenk.


"Kenalkan, aku Alfred, aku adalah pengacara sekaligus kerabat papamu."


Mata Ulan berbinar. "Kerabat papa?"


"Benar. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu keluar dari sini."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2