Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Aku Hamil.


__ADS_3

Karena panggilannya terus ditolak sang istri, Niko menghubungi Handoko dan Angelina.


"Pa, apa Wulan di sana?"


"Tidak ada. Ada apa, kenapa nadamu seperti itu?"


Niko frustasi. "Ya, Tuhan, ke mana aku harus mencarinya."


"Ada apa, Niko? Apa yang terjadi dengan Wulan?"


"Terakhir kami bicara dia ada di butik. Begitu aku menghubunginya lagi dia menolak panggilanku berkali-kali. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, Pa."


"Kamu di mana sekarang?"


"Di rumah. Kata Inem dia keluar dari jam dua belas tadi dan sampai sekarang belum pulang."


"Wulan tidak masuk kantor?"


"Tidak, Pa."


"Papa akan coba menghubunginya."


"Baik. Kabari aku kalau dia di mana."


"Hmmm."


Niko memutuskan panggilan. Ia bersandar di sofa dengan wajah sangat frustasi. Ia sendiri bingung harus mencari Wulan ke mana lagi.


"Fanny," ingatnya. Dengan cepat Niko mencari kontak Fanny kemudian menghubunginya.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


Tut! Tut!


Inem yang masih berdiri di sana langsung ke kamar untuk mengambil ponsel. Ia berinisiatif menghubungi sang nyonya untuk membantu si tuan.


"Di rumah. Kenapa, Pa?"


Suara yang sangat dikenalinya membuat Niko berdiri. "Sayang! Kamu dari mana saja, hah?" ia memeluk Wulan.


Wulan berdiri di depan pintu. "Aku tidak apa-apa, Pa. Terima kasih. Maaf sudah membuat Papa khawatir."


Niko melepaskan pelukannya, menatap Wulan yang masih berbicara dengan orang yang ia yakin adalah Handoko.


"Iya, Pa. Terima kasih."


Setelah memutuskan panggilan Wulan menatap Niko. Rasa kecewa yang begitu dalam membuat matanya kembali berair.


Niko terkejut. "Sayang, kamu kenapa?"


Bukannya marah Wulan memeluk Niko dan mengangis.


Niko balas memeluknya, mengusap punggung dan mencium kepalanya. "Kenapa menangis, hah? Apa yang terjadi?"


Perlahan Wulan melepaskan tubuh kemudian menatap Niko.


Niko mengusap air mata di wajah istrinya. "Ada apa, kenapa istriku menangis, hah?"


"Apa aku punya salah padamu? Kalau aku punya salah, aku minta maaf."


"Salah?" Niko bingung, "Kamu tidak salah, Sayang."


Wulan kembali menangis.


"Hei, ada apa ini, hah?" Niko memeluknya, "Ayo, kita bicara di kamar."


Inem muncul dan langsung melihat kedua majikannya naik ke tangga. Ia senang melihat sang nyonya sudah pulang.


"Syukurlah nyonya sudah tiba. Tapi, kenapa nyonya menangis, ya?" Inem berpikir, "Ah, mungkin nyonya sedang berakting untuk memberitahukan kehamilannya pada tuan Niko," Inem terkekeh.


Di dalam kamar Niko mendudukkan Wulan di ranjang. "Ada apa, hah? Kenapa kamu menangis?"

__ADS_1


"Kamu tidak mencintaiku lagi, hah?"


Niko terkejut. "Kenapa pertanyaanmu begitu? Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu lebih dari apa pun."


"Pembohong!" Wulan berdiri mendekati jendela, "Kamu tadi menemui Gloriana, kan?"


Zet!


Kepala Niko seperti dihantam batu.


"Kamu bilang menemui klien laki-laki. Padahal aku melihatmu menjemputnya di butik kemudian pergi entah ke mana."


Niko langsung berdiri, memeluk, mencium Wulan dan minta maaf berkali-kali.


"Maaf sudah melanggar janji, aku hanya tidak ingin menyakitimu lagi. Aku memang menemuinya di butik. Tapi, kami hanya bicara di mobil kemudian aku mengantarnya lagi."


"Bohong, kamu pasti pergi ke suatu tempat bersamanya."


Niko membalikkan tubuh Wulan. "Tidak, Sayangku. Buktinya waktu kamu telpon aku mengangkatnya, kan?"


Wulan terdiam.


"Aku bersumpah, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Kalau menjalin hubungan dengannya, tidak mungkin semalam aku bisa seganas itu."


Waja Wulan memerah. Rasa kecewa, sedih dan marah berganti rasa malu.


Niko tersenyum, mengusap sisa air mata kemudian mencium bibirnya.


Wulan yang awalnya diam saja perlahan menggerakkan bibirnya. Ia mulai membalas ciuman lembut Niko dan melupakan masalah yang terjadi.


"Mau mandi bersama?"


Di sisi lain.


Sehabis mandi dan keramas Ulan duduk di ruang tamu dengan gauh tidur berwarna hitam. Karena sudah hampir pukul tujuh malam ia menyuruh sang pelayan untuk membuatkan susu.


"Nyonya, ada yang mencari Anda," penjaga keaman menyampaikan.


"Teman Anda, Nyonya. Kalau tidak salah ingat namanya non Imenk."


Ulan tersenyum lebar. "Suruh dia masuk."


"Baik, Nyonya."


Tepat di saat itu pelayan wanita muncul dengan nampan berisi segelas susu putih. "Ini Nyonya."


"Terima kasih ya, Bi."


"Sama-sama, Nyonya. Apa Nyonya ingin makan sesuatu?"


"Tidak, Bi. Terima kasih."


"Kalau begitu bibi ke dapur dulu. Kalau Nyonya butuh sesuatu panggil saja bibi."


"Temanku baru saja datang. Buatkan dia susu putih, ya?"


"Baik, Nyonya."


Imenk muncul. "Hei!" ia terkejut melihat Ulan tampak bersinar, "Baru seminggu tidak bertemu kamu semakin cantik saja."


Ulan terkekeh. "Ayo, duduk."


"Ke mana suamimu?" ia menatap segelas susu di atas meja, "Kamu tahu saja ya aku mau datang."


Baru hendak mengambil gelas itu Ulan mencegahnya.


"Punyamu sedang diproses, itu susuku."


"Susumu, sejak kapan kamu suka susu putih?"


Ulan mengelus perutnya. "Aku hamil."

__ADS_1


"Hamil?" Imenk melotot senang, "Kamu serius?"


Ulan mengangguk sambil tersenyum.


"Wah, sebentar lagi kamu dan Jendry akan jadi orang tua," Imenk menatap sekeliling, "Ke mana suamimu?"


"Dia di luar kota. Lusa dia kembali."


"Pantas sudah ada penjaga keamanan di depan."


"Iya, dia takut meninggalkanku sendiri. Jadi, dia menugaskan penjaga keamanan dan pelayan di rumah ini. Sejak tahu aku hamil dia melarangku melakukan ini dan itu."


Imenk ikut senang. "Sejak kapan?"


"Tiga hari lalu. Aku sengaja tidak memberitahumu lewat telpon, aku ingin memberitahumu secara langsung."


"Ngomong-ngomong Viona tidak mengundangmu, malam ini dia dan si bosnya Wulan akan menikah?"


Ulan tertawa. "Mana mungkin dia mengundangku. Mungkin dia pikir aku sudah mati."


Mereka tertawa.


"Aku senang Jendry melarangku keluar rumah, aku ingin membuat mereka semua berpikir, bahwa aku tidak tinggal lagi di kota ini. Aku sudah berjanji, Imeni ... Jika sudah waktunya aku akan membalas mereka semua."


"Itu harus. Tapi, dengar-dengar resepsinya tertutup. Kalau tidak salah dengar waktu itu Viona tidak ingin pesta meriah. Kemungkinan hanya kerabat dan relasi suaminya yang hadir."


Ulan berdecak. "Pasti dia malu orang melihat wajahnya yang rusak."


"Itu pasti. Aku dengar juga mantan ibu tirimu diundang bersama papanya Niko."


"Biarkan saja mereka, aku sudah merencanakan sesuatu untuk membalas mereka."


Si pelayan datang. "Ini, Non."


"Terima kasih."


Setelah pelayan pergi Ulan menatap Imenk lagi. Ia tersenyum dengan ekspresi penasaran.


"Bagaimana kabar Niko, apa pacarnya sering ke kantor?"


"Tidak lagi. Aku rasa mungkin Niko sudah melarangnya. Secara dia pasti takut Wulan mengetahuinya."


Ulan terkekeh. "Niko begitu berani. Aku rasa cepat atau lambat hal itu akan terbongkar. Tapi, kalau Niko sudah berani menampakkan wanita itu di depan umun, berarti dia sudah siap terima risiko."


"Benar. Mungkin permainan Wulan tidak seenak wanita itu."


Mereka tertawa.


"Aku bisa bayangkan penyesalan Wulan jika Niko meninggalkannya," ucap Ulan, "Jika Niko menceraikannya karena wanita itu, aku orang pertama yang akan menemui dan menertawakannya."


"Itulah alasan aku tetap bekerja di sana, aku akan mencaritahu informasi-informasi tentang mereka untukmu."


"Kamu memang satu-satunya orang paling berharga buatku. Kuharap kamu tidak akan pernah meninggalkanku, Imenk."


"Tentu saja tidak."


Di sisi lain.


Setelah pergulatan hampir satu jam di kamar mandi akhirnya Niko dan Wulan keluar. Niko mengenakan handuk di pinggang, sedangkan Wulan mengenakan jubah mandi dan handuk di kepalanya.


"Sudah hampir jam delapan. Cepat, kita akan terlambat. Deril dan Viona pasti akan marah kalau kita terlambat."


Niko memeluk Wulan dari belakang, mencium lehernya dan meremas dadanya. "Seandainya bukan atasanmu yang menikah, aku akan mengurungmu di sini dan mengikatmu di atas ranjang."


Wulan terkekeh. "Kamu masih ingin?"


"Aku selalu menginginkanmu, Sayang. Selalu."


"Kita lanjutkan nanti, ya? Sekarang ayo bergegas, mama dan papa pasti sudah di sana."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2