Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Susah Dihubungi.


__ADS_3

Keesokan hari di ruang makan Angelina, Jefry dan Ulan sedang sarapan bersama. Jefry dan Ulan terlihat bahagia, sedangkan Angelina hanya diam dengan rasa penasaran yang masih menyelimutinya.


"Terus, kapan acara lamarannya?" Angelina membuka suara.


Jefry berdeham. Ulan hanya mengunyah sambil menatap papanya.


"Hari ini Handoko tidak bisa. Besok kami akan bertemu dan membicarakan soal itu," jawab Jefry.


Angelina menatap Ulan. "Kamu ingin kapan pelaksanaannya?"


"Aku terserah papa dan Niko, Ma. Mana hari baik untuk mereka, itu berlaku juga untukku."


"Apa kamu yakin ingin menerima lamarannya?"


Pertanyaan Angelina membuat Jefry terkejut. Ia tak menjawab, tapi menatap Angelina dengan datar.


"Aku yakin, Ma."


"Kamu tahu kan, Niko___"


"Angelina," sergah Jefry. Ekspresinya sangat marah, "kamu tidak usah ikut campur soal itu. Ulan yang menjalani, dia tahu apa risikonya."


Angelina terkejut, tapi diam. Ia tak menyangka Jefry membela putrinya dibanding dirinya.


Ulan menyudahi makanannya. Ia tersenyum menatap Angelina. "Mama jangan khawatir, keputusanku sudah bulat. Mama sendiri tahu kan betapa aku mencintai Niko. Kalau pun dia tidak tulus mencintaiku, lama-kelamaan dia pasti akan berubah."


Angelina tak mengatakan apa-apa. Ia melanjutkan sarapan dengan pikiran yang berbeda.


Ulan berdiri dan pamit. Melihat wajah Angelina yang tak senang membuatnya ingin menjauh.


Jefry juga demikian, tak mau diserang pertanyaan yang akan merusak suasana hatinya, ia pamit lalu pergi ke kantor.


Angelina pun sendirian. Sikap Jefry yang tak biasa membuatnya sangat bingung sekaligus sakit hati. Ia merasa suaminya tidak menghargainya. Ayah dan anak itu seolah-olah bekerja sama untuk menindasnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Wulan, aku harus menanyakan hal ini kepada Wulan."


Angelina meraih ponsel di sebelahnya kemudian menghubungi Wulan.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


"Aneh, dari semalam ponsel Wulan tidak aktif. Kenapa, ya?"


***


Di ruang kerja besar yang suhu ruangannya begitu dingin sosok Niko sedang duduk di sofa panjang sendirian. Ekspresinya datar dan pikiran bercampur aduk.


Tok! Tok!


Niko hanya melirik ke arah pintu kemudian membalas lemah. "Masuk."


Sosok yang muncul di balik pintu sedikit terkejut melihat pemandangan di depannya. Niko terbawa oleh pikiran, sehingga ia tak menyadari siapa yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Ada apa, apa yang membebanimu?"


Suara tak asing di telinga membuat Niko tersentak. Ia berdiri, mendekat kemudian memeluk Handoko.


"Papa! Papa kembali. Papa tidak apa-apa?" Niko memeriksa semua tubuh Handoko, "Apa yang mereka lakukan pada Papa, apa mereka melukai Papa?"


Handoko tersenyum mendengar rentenan dan nada khawatir putranya.


"Duduklah, ada sesuatu yang ingin papa bicarakan."


Niko menurut dengan rasa khawatir tak kunjung hilang. "Tapi tidak apa-apa, kan? Penculik itu tidak menyakiti Papa, kan?"


"Lihat," Handoko menunjuk dirinya, "apa papa terlihat sakit? Apa papa terlihat sedih?" Handoko tertawa.


Niko bingung. Detik itu juga matanya menyelidiki setiap inci tubuh Handoko. Bobot tubuh Handoko bahkan terlihat naik. Pipinya lebih lebar dan perutnya sedikit buncit. Terlalu banyak masalah membuat pikiran Niko sangat kacau.


"Aku terlalu mengkhawatirkan Papa."


"Papa tahu, tapi ada yang belum kau tahu."


Niko menyimak.


"Papa tidak diculik, Nak."


Niko terkejut. "Maksud, Papa?"


Handoko menceritakan rencananya dengan Rudi. "Teman papa bernama Rudi tempo hari mendatangi papa. Dia memberitahukan soal tugas yang diberikan Jefry kepadanya."


"Jefry menyuruh Rudi untuk melenyapkan papa. Jefry memberikan lima kali lipat, asalkan Rudi bisa melenyapkan papa."


"Kenapa dia tidak melakukannya?"


"Mungkin kalau papa tidak menolongnya tempo hari, kita tidak akan bisa bertatap muka seperti sekarang ini. Singkat cerita, Rudi, papa dan Jefry adalah teman sekolah. Kami bertiga selalu bersama. Karena papa tinggal di luar negeri tempo hari, Jefry mengalihkan tugas papa kepada Rudi. Begitu mendengar perintah dari Jefry, dia ke sini dan membocorkan rencana itu. Kami berdua mengatur strategi untuk memanipulasi Jefry."


"Memanipulasi?"


"Iya. Rudi menerima uangnya, tapi tidak menjalankan tanggung jawabnya. Rudi menjalankan tugas dan meminta papa untuk bekerja sama."


"Berarti Jefry tidak tahu kalau Rudi membohonginya?"


Handoko menggeleng. "Rudi memberikan masukan kepada Jefry, bahwa dengan melenyapkan papa tidak akan bisa menyatuhkan kau dengan Ulan. Rudi menyarankan untuk menyembunyikan papa sampai kau mau menyetujui pernikahan itu. Dan seperti yang kita bicarakan, rencana itu berhasil. Kau mendatangi Jefry dan meminta agar dia mengembalikan papa. Karena papa sudah kembali, kau tidak perlu menyetujui kesepakatan itu. Kalau pun Jefry ingin memberikan tugas lagi kepada Rudi, Rudi hanya akan memorotinya tanpa menjalankan tanggungjawabnya."


Niko menunduk sesaat lalu berkata, "Aku sudah berjanji akan menikahi Ulan, Pa."


"Kau bisa mengingkarinya, Nak."


"Tidak, Pa. Aku tidak akan mengingkari, aku akan menikahi Ulan."


Handoko terdiam cukup lama. Ia ingat ucapan Darius kemarin malam. "Apa benar kau dan Wulan sudah tidak punya hubungan?"


"Dia sudah punya pria lain dan dia mengakuinya."

__ADS_1


Handoko ingin mengatakan sesuatu, tapi Niko segera berdiri dan membelakanginya. Dengan terpaksa Handoko menelan kata-kata itu dan menyimak penjelasan putranya.


"Mungkin aku bukan yang terbaik baginya. Uang dan status tidak menjamin kebersamaan kita."


Handoko menggeleng. "Pasti ada salah paham di antara kalian. Pikiranmu itu disebabkan oleh cemburu yang berlebihan."


"Tidak, Pa," Niko menatap papanya, "Wulan sendiri yang mengaku, malam itu dia sengaja mematikan ponsel karena sedang bersama pria itu. Dia lebih memilih Deril daripada aku, Pa."


Hati begitu sakit, membayangkan Wulan lebih memilih Deril daripada dirinya. Soal status jelas Niko yang lebih tinggi, begitu juga uang. Soal ketampanan pun Niko tak jauh berbeda dengan Deril. Ia tak habis pikir sampai sekarang, kenapa Wulan rela meninggalkannya demi pria itu.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengejutkan keduanya. Niko menatap ke ponselnya, begitu juga Handoko. Benda yang bergetar itu ternyata milik Handoko.


Niko berbalik, membelakangi Handoko seakan memberikan privasi untuk ayahnya.


"Ada apa?" sapa Handoko kepada sosok di balik telepon, "Benarkah? Coba diselidiki, mungkin saja kalian salah," Handoko menyimak, "Baiklah, terima kasih."


Tut! Tut!


Dengan ekspresi kecewa Handoko menatap punggung Niko. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"


Niko berbalik. "Aku akan menikahi Ulan."


"Baiklah, malam ini kita akan ke rumah mereka. Tidak usah memberitahu, kita akan memberikan kejutan untuk mereka."


Tanpa membalas Niko kembali duduk. Pikiran dan hatinya benar-benar melayang. Ia tidak tahu apakah keputusan menikahi Ulan benar-benar jalan terbaik atau tidak.


Namun, mengingat perkataan Wulan melalui pesan waktu itu membuat Niko sakit hati. Seseorang yang tulus mencintai tidak seharusnya menlontarkan kata-kata seperti itu.


***


Di ruangan kerja yang dingin sosok Fanny terlihat gelisah. Sejak kemarin ia ingin menghubungi Wulan dan menceritakan yang sebenarnya. Terakhir kali saling menghubungi, Fanny ingat kalau nomor Wulan masih aktif. Sayangnya harapan itu kandas ketika panggilan otomatis dari ponsel Wulan terus berteriak.


"Ke mana sih ni anak, dari kemarin ponselnya tidak bisa dihubungi. Apa yang terjadi padanya?"


Tak mau berpikir macam-macam, Fanny memutuskan panggilan kemudian menghubungi Angelina.


"Selamat siang, Tante?"


"Siang, Fanny. Ada bisa dibantu, Nak?"


Fanny menjelaskan tujuannya.


"Bukan hanya kamu, tante juga sejak kemarin menghubunginya tapi tidak aktif. Tante benar-benar khawatir padanya."


"Apa dia sudah tahu Niko akan menikahi Ulan?"


"Dari mana kamu tahu soal itu Fanny?"


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2