
Akibat pergulatan yang tak henti-hentinya membuat tubuh Wulan sulit digerakan. Dengan sangat pelan ia memiringkan badan ketika matahari menyapanya di pagi hari.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Inem begitu masuk ke kamar, "Ini aku bawakan teh hangat untuk Nyonya."
Wulan sudah menjadwalkan pelayan itu untuk membersihkan kamar setiap pukul sembilan pagi. Entah ada sang pemilik atau tidak, sudah tanggung jawab Inem masuk ke kamar setiap jam sembilan pagi.
Wulan terkejut melihatnya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam sepuluh, Nyonya."
Inem sengaja tidak masuk tepat waktu karena sang tuan sudah menyampaikan kondisi sang nyonya sebelum dia berangkat ke kantor.
"Nyonya ingin sarapan apa?"
Wulan masih terbaring. "Kenapa Niko tidak membangunkanku, aku kan harus ke kantor."
Sambil membereskan pakaian yang berserakan di lantai Inem menjawab, "Kata tuan nyonya sedang tidak enak badan. Tuan juga sudah berpesan, kalau Nyonya bangun buatkan teh hangat kesukaan Nyonya."
"Padahal kalau datang jam sembilan kamu bisa membangunkanku. Aku bisa ke kantor hari ini."
"Maaf, Nyonya, aku tidak mau mengganggu istirahat Nyonya."
Wulan ingin bangun, tapi tubuhnya sakit sekali. Ia sedikit meringgis akibat perih di bagian sensitifnya.
"Inem, bisa bantu aku?"
Spontan pelayan itu segera mendekat, membantu Wulan duduk, kemudian menyodorkan teh kesukaan Wulan.
"Minumlah sedikit, tubuh Nyonya pasti akan segar."
"Terima kasih, Inem," Wulan menurut. Pagi ini ia merasa tenggorokannya kering.
"Nyonya, apa tubuh Nyonya sakit karena tuan?"
Wulan hampir saja melepaskan cangkir di tangannya. Ia menatap pelayan itu dengan wajah menahan tawa.
"Dari mana kamu bisa berpikir begitu, Inem?"
"Dari ruang tamu yang berantakan dan ini," Inem memperlihatkan pakaian dalam Wulan yang berserakan di lantai, "Pasti tuan tidak memberi Nyonya ampun, ya?"
Wulan ingin marah, tapi tidak bisa. Mungkin majikan lain akan marah karena ketidaksopanannya.
Berbeda dengan mereka, Wulan ingin membentuk pertemanan antara dirinya dan Inem. Ia tidak ingin merendahkan wanita itu hanya karena status mereka yang berbeda.
"Tuanmu sangat ganas tadi malam. Tidak biasanya dia seperti itu, Inem. Semalam dia seperti singa lapar dan aku dianggap mangsanya. Secara normal Niko tidak begitu. Tapi, tadi malam dia sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya."
Inem terkekeh. "Aku sudah curiga waktu tuan menyuruh Brian menjemputku. Tapi, menurutku itu normal, Nyonya. Apalagi usia pernikahan yang masih sangat muda adalah masa-masa panas bagi pengantin baru."
"Kamu ada-ada saja."
"Aku juga begitu, Nyonya. Sayangnya, pernikahanku tak bertahan lama dengan suamiku."
Ekspresi Wulan sedih. Sebelumnya ia sudah mendengar latar belakang Inem yang ternyata berstatus janda. Namun, meskipun ingin membangun kedekatan dengan wanita itu, Wulan tidak ingin masuk campur atau mencaritahu urusan pribadinya. Biarkan Inem sendiri yang akan mengatakannya.
Inem adalah kerabat Magdalena. Inem ditinggal suami karena insiden dalam bertugas. Suami Inem pekerja konstruksi, dia meninggal akibat tertindas bangunan yang runtuh.
"Sampai sekarang mereka menyuruhku menikah. Kata mereka usiaku masih muda dan masa depanku masih panjang."
"Benar kata mereka, kamu tidak bisa hidup begini selamanya, kamu harus punya pasangan untuk menemani masa tuamu nanti."
"Untuk sekarang aku lebih senang hidup sendiri dan menikmati hasil kerjaku, Nyonya. Dibanding menikah, aku lebih memilih bekerja."
Wulan senang bertemu Inem. Selain cerewet, rajin, jujur dan bertanggung, Inem sangat perhatian kepada Wulan.
__ADS_1
"Oh, iya, Nyonya," kata Inem sambil menatapnya, "Hasil dokter semalam, bagaimana?"
Wulan teringat sesuatu. Ia menatap sekeliling untuk mencari sesuatu.
Inem peka. "Cari apa, Nyonya?"
"Tasku, Inem. Sepertinya tas kerjaku ketinggalkan di mobil."
Wulan ingat, semalam ia dibopong Niko masuk ke rumah tanpa membawa apa-apa.
"Tidak, Nyonya. Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya."
Wulan sedikit bingung. Ia diam sambil melihat Inem keluar kamar.
"Ini, Nyonya," Inem memberikan tas hitam kulit bertali emas, "Tadi pagi tuan menyuruhku membersihkan mobil dan mengambil tas ini. Karena Nyonya masih tidur, aku menyimpannya dulu di kamarku."
Wulan senang. Ia membongkar tas dan mencari-cari.
Inem sedikit khawatir. Meskipun ia tidak melihat isi dalam tas itu, tetap saja ia yang akan disalahkan jika ada sesuatu yang hilang.
"Syukurlah," Wulan memperlihatkan testpack dan wadah bening, bulat padanya, "Ini yang diberikan dokter kemarin padaku, Inem. Kata dokter aku harus mengeceknya pagi ini."
"Benar, Nyonya. Untung saja Nyonya ingat. Apa tuan tahu soal itu?"
Ekspresi Wulan berubah. "Apa dia yang memberikan tas ini padamu?"
"Tidak, Nyonya, aku sendiri yang membuka mobil dan mengambilnya."
"Aman berarti, aku tidak ingin Niko tahu soal ini."
Inem bingung. "Kenapa, Nyonya? Kan tuan suami Nyonya. Kalau tahu Nyonya hamil, tuan pasti sangat senang."
"Tidak, Inem," Wulan tersenyum, "aku akan merahasiakan ini darinya sampai hasilnya keluar."
"Belum, Inem. Bisa bantu aku ke kamar mandi?"
"Tentu saja."
Dengan antusias Inem memegang tangan Wulan.
Tubuh Wulan bisa digerakan, tapi persendiannya terasa ngilu setiap kali bergerak. Sebab itu ia meminta Inem untuk membantunya ke kamar mandi.
Di sisi lain.
Niko sedang berkutat dengan pekerjaannya di depan laptop.
Darius masuk. "Pak?"
"Ada apa, Darius?"
"Pak Deril ingin bertemu Anda."
Niko menghentikan aktivitasnya. "Suruh dia masuk."
"Baik, Pak."
Niko menyandarkan punggung di kursi sambil menunggu.
Darius dan Deril masuk. "Halo, Niko. Maaf mengganggumu."
Niko berdiri dan menyapa. "Tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu. Apa kabar? Silahkan duduk."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Kau ingin minum apa, teh, kopi atau?" tanya Niko.
"Tidak usah, aku ke sini hanya ingin mengundangmu. Malam ini pernikahanku dengan Viona. Kemarin sudah kusampaikan kepada Wulan. Aku khawatir kamu tidak akan datang. Jadi, aku datang ke sini untuk menyampaikannya secara langsung."
Niko terkekeh. "Tidak seharusnya kau melakukannya, aku pasti akan datang bersama Wulan."
"Sebelum ke sini aku ke rumah papamu. Beliau juga berjanji akan datang ke pernikahanku."
"Sudah seharusnya begitu. Kau sudah seperti keluarga bagi kami. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Viona?"
"Kabarnya baik. Dia sangat bahagia akhir-akhir ini. Kau tahu, Niko?"
"Apa?"
"Aku tahu kamu pernah ada masa lalu dengan Viona. Tapi, kata-kata ini bukan maksud menyinggungmu. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan."
"Jangan berpikir begitu. Aku rasa Viona sudah bilang padamu soal hubungan kami, aku dan Viona tidak punya hubungan spesial di masa lalu. Sekarang aku sudah punya Wulan dan aku sangat mencintainya."
"Aku tahu," Deril tersenyum, "Viona sedang hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Aku bahagia sekali."
Niko tersenyum lebar. "Aku ikut bahagia untuk kalian. Semoga kesehatan Viona terus terjaga sampai dia melahirkan."
"Aku ingin sekali mengadakan pesta besar, mengundang banyak orang untuk mempublikasikan kebahagian kami. Hanya saja Viona tidak mau, dia malu orang-orang melihat wajahnya yang rusak."
"Dia tidak mau operasi?"
"Aku yang tidak mengijinkannya. Aku lebih senang Viona yang sekarang. Kalau dia selalu cantik, dia pasti akan meninggalkanku setelah bosan."
Niko tertawa. "Kamu harus buat dia tergila-gila padamu. Dengan begitu, dia tidak akan pernah bosan padamu."
Mereka terbahak.
"Kalau begitu aku pergi dulu," Deril berdiri, "aku akan menemui mertuamu."
Niko mengantarkan Deril keluar. Mereka berdiri di depan pintu.
"Terima kasih sudah repot-repot datang ke sini. Seharusnya kau tidak perlu datang."
"Aku khawatir kau tidak akan datang. Aku tahu kau sangat sibuk."
"Aku dan istriku pasti datang."
"Viona sangat berharap kedatangan kalian di pernikahan sederhana kami."
"Itu pasti."
Setelah berpamitan Darius mengantar Deril ke parkiran. Niko masuk ke dalam ruangan, sedangkan Imenk terkejut lalu mengambil ponsel. Ia membuka gelembung obrolan Ulan kemudian mengirimnya pesan.
***
Setelah berapa menit menunggu Wulan akhirnya tak sabar lagi melihat hasil tespack pagi ini.
"Tanganku gemetar, Inem."
Inem tak kalah sabar. "Cepat dilihat Nyonya. Garis merahnya berapa, satu atau dua?"
Dengan gemetar Wulan mengeluarkan benda panjang itu dari dalam wadah. Dilihatnya garis di tengah benda itu menunjukkan warna merah.
"Inem hasilnya ...."
"Hasilnya berapa, Nyonya?"
Bersambung____
__ADS_1