Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Tanggal Pernikahan.


__ADS_3

Handoko dan Niko tiba di rumah keluarga Tanujaya. Mereka disambut hangat oleh Jefry dan Angelina.


Meski sedang tersenyum, Angelina menyimpan emosi yang hanya ia sendiri yang tahu. Angelina sudah mendengar rekaman itu. Namun, untuk sekarang ia memilih diam sampai waktunya tiba.


Saat ini mereka semua sedang menikmati makan malam. Niko dan Ulan duduk berdampingan. Angelina di depan mereka, sedangkan Handoko dan Jefry di posisi kepala meja sambil berhadapan.


"Bagaimana, kapan rencana pernikahan mereka?" tanya Jefry tak sabar.


Ekspresi di wajah suaminya membuat Angelina muak. Seandainya ia sudah mengetahui alasan Jefry melakukan ini, ia sudah mempermalukan laki-laki itu di depan Niko dan Handoko.


"Aku terserah Niko dan Ulan," balas Handoko, "lebih baik mereka yang memilih tanggalnya."


Ulan terlihat malu-malu, sedangkan Niko tampak biasa saja dengan pikiran yang tak karuan. Otaknya dipenuhi rasa penasaran oleh panggilan Wulan. Niko tidak ingin mengabaikannya, tapi hubungan mereka sudah berakhir.


"Niko, kamu tepatkan saja tanggalnya. Kamu ingin menikah tanggal berapa?" usul Jefry.


Ponsel Niko tiba-tiba bergetar. Ia meminta maaf kemudian memeriksa panggilan itu.


Ulan yang duduk di sebelahnya tak mau ketinggalan. Ia mengintip dan melihat nama Wulan terpampang di layar kaca.


'Dasar penganggu,' kata Ulan dalam hati, 'Berani-beraninya dia menelepon Niko saat ini.'


Seketika ide muncul di kepala Ulan. Karena Niko tidak menjawab pertanyaannya, dengan cepat ia tersenyum dan membalas, "Bagaimana kalau minggu depan?"


Suara Ulan mengejutkan mereka semua.


"Apa itu tidak terlalu cepat?" kata Handoko, "Kita tidak hanya menyiapkan pernikahan, kita juga harus menyiapkan acara seserahan."


"Benar," timpa Jefry, "Bagaimana kalau awal bulan depan?"


"Itu terlalu lama, Papa. Aku ingin segera menikah agar tidak ada lagi yang mengganggu Niko. Papa tahu, di luar sana banyak yang menyukainya. Kalau sudah menikah, mereka pasti tidak akan mengganggunya. Lagi pula Papa kan bisa menyewa orang untuk mempersiapkan semuanya. Aku yakin, minggu depan semuanya pasti sudah selesai."


Angelina tersinggung tapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu kata-kata yang dilontarkan Ulan barusan ditujukkan oleh Wulan.


Niko juga sama. Ia tak berkata apa-apa, bahkan tidak menatap Ulan sama sekali. Ponselnya terus bergetar dan itu membuatnya gelisah.


"Maaf, aku terima telepon dulu."


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Ulan, "Kamu lebih memilih panggilan itu ya daripada pernikahan kita?"

__ADS_1


Niko terdiam tanpa kata. Dalam hati ia mengeluarkan sumpah serapah kepada Ulan.


Handoko menatapnya, memberi kode, sehingga Niko duduk kembali.


Jefry tersenyum licik. "Bagaimana menurutmu, Niko? Sebaiknya minggu depan atau bulan depan?"


"Aku terserah Ulan saja. Dia benar, kalau kita bergerak dari sekarang semuanya akan cepat terselesaikan."


Angelina sedikit terkejut menatap Niko. 'Niko tahu tidak ya kalau dia dijebak? Kalau aku memberikan video ini padanya, pasti dia akan langsung membatalkan pernikahan ini.'


"Kalau begitu keputusannya minggu depan," balas Jefry, "Besok aku akan menyuruh orang untuk mempersiapkannya. Gedung dan lokasinya tidak perlu dikhawatirkan, aku punya referensi bagus untuk masalah itu. Soal designer kalian juga tidak perlu pusing. Besok kalian persiapkan diri saja untuk fitting baju penganting."


Angelina terkejut mendengar itu. 'Sepertinya dia sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuanku. Tuhan, jika niat mereka tidak baik, tolong gagalkan pernikahan ini. Rasanya aku tak sanggup melihat putriku menderita.'


Ingin sekali Angelina keluar dari ruangan itu dan berteriak. Ia ingin cepat-cepat menghubungi putrinya dan memberitahukan semuanya. Ia tahu Wulan sekarang sedang menderita karena masalah ini. Angelina beranggapan ketidakaktifan ponsel Wulan pasti ada kaitannya dengan masalah ini.


Dulu waktu kehilangan Denny, Angelina tak sanggup melihat kesedihan putrinya. Lama setelah kejadian itu Wulan akhirnya pulih dari dukanya. Sekarang setelah kebahagian itu muncul lagi di wajah putrinya, bukan orang lain yang merebut kebahagian itu, melainkan suami dan anak tirinya.


***


Dalam perjalanan Niko terus diam. Ia tak banyak bicara meskipun Handoko mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Tatapannya terus keluar jendela dengan pikiran yang begitu membebaninya.


Saat itulah ia menatap Handoko. "Aku yakin, Pa. Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini."


"Kamu hanya menghawatirkan papa, kan? Kamu menyetujui permintaan Jefry, karena takut dia mencelakai papa, kan? Papa tidak apa-apa, Niko. Jangan karena papa kamu mengorbankan kebahagianmu. Menikah dengan orang yang tidak kamu cintai sama saja dengan memilih asupan yang tidak kau sukai."


"Kalau Wulan yang sudah tidak mencintaiku lagi, bagaimana? Apa aku harus memaksakan dia untuk melanjutkan pernikahan?"


Handoko diam tanpa kata.


Niko menatap jendela. Tepat di saat matanya menangkap sebuah toko ponsel, ia memerintahkan Darius untuk berhenti.


"Mau ke mana?" tanya Handoko.


"Tunggu di sini saja, aku tidak lama."


Handoko menggeleng kepala melihat anaknya keluar menuju toko itu. Sikap dingin yang tak ingin ia lihat sekarang kembali. Handoko yakin Niko terpaksa mengambil keputusan ini. Namun, ia tak punya cara lain untuk menjelaskan kepada Niko.


Drtt... Drtt...

__ADS_1


Getaran ponsel mengejutkan Handoko. "Halo?"


"Tuan, kami sudah berhasil menyelidikinya. Pria yang mendekati nona Wulan adalah anak pengusaha di pertambangan Sulawesi. Dia menyukai nona Wulan, tapi nona Wulan tidak menyikainya."


"Berarti mereka tidak memiliki hubungan apa-apa?"


"Tidak, Tuan. Mereka hanya sebatas rekan kerja, pria itu adalah kepala bank di kantor nona Wulan bekerja sekarang."


Handoko memutuskan panggilan. "Darius?"


"Iya, Tuan?"


"Wulan dan Deril tidak punya hubungan apa-apa. Tidakkah kau berpikir, kalau Niko terlalu impulsif?"


"Menurut saya begitu, tapi Anda sendiri tahu kan bagaimana sikap keras kepala tuan Niko?"


Handoko berpikir. "Karena mengkhawatirkanku dia mengabaikan kebahagiaannya. Aku tidak percaya kalau Wulan tidak mencintainya. Wulan sangat mencintainya, begitu juga dia."


Niko muncul kemudian masuk ke bangku belakang.


Darius menjalankan mobil.


Handoko menatapnya. "Kau sedang apa di toko itu?"


"Aku mengganti nomorku," Niko memberikan kontak barunya kepada Handoko, "Hubungi aku di nomor itu."


Handoko terkejut. "Kau sedang menghindar Wulan, ya?"


Niko tak menjawab. Dengan ekspresi datar ia menatap keluar jendela.


"Menurut papa kau terlalu cepat mengambil keputusan. Kalau ternyata Wulan tidak terbukti punya hubungan dengan Deril, bagaimana? Apa kau tidak akan menyesal meninggalkannya dan menikahi Ulan?"


"Keselamatan Papa jauh lebih penting dibanding wanita itu. Aku tidak ingin membahas ini lagi. Wulan bukan siapa-siapa lagi bagiku, dia sudah memilih Deril."


"Tapi kau____"


"Aku tidak mau berdebat, Papa. Sekali lagi aku tekankan, keputusanku sudah bulat, aku akan menikahi Ulan Tanujaya apa pun yang terjadi. Jadi, Papa tolong jangan bahas Wulan lagi di hadapanku, karena sebentar lagi aku akan menjadi suaminya Ulan."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2